NOL SATU Weblog

Satu kata dalam perbuatan

BENTURAN DUA DUNIA, HASAN DALAM ATHEIS

Pendahuluan

Sungguh amat menarik dan menyenangkan membaca novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja yang pertama kali diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1949. Dua puluh tiga tahun kemudian, novel Athets diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh R.J. Maguire dan co-translator Achdiat K. Mihardja sendiri. Novel terjemahan bahasa Inggris itu kemudian diterbitkan di St. Lucia, Queensland, Australia (1972) oleh penerbit University of Queensland Press. Cukup membanggakan dan menggembirakan bahwa Atheis merupakan novel Indonesia yang pertama kali diterjemahkan oleh seorang warga negara Australia, se­orang wartawan dari Sidney yang sering mengunjungi In­donesia dengan tugas jurnalistiknya. Buku ini terbit sebagai seri Asian and Pa­cific Writing 1 dan dapat diterima dalam The Indone­sian Aeries of the Translations Collection of the UNESCO. Penerjemahan buku Indone­sia ke dalam bahasa Inggris dan terbit di luar negeri itu menandakan bahwa kesadaran dunia internasional terhadap negara-negara dunia ketiga telah tumbuh dan bangkit menjadi suatu penghargaan tersendiri.

Pemerintah Rl sendiri baru memberi peng­hargaan terhadap novel Atheis pada tahun 1969 sebagai Hadiah Tahunan Pemerintah Rl Kemudian, pada tahun 1974 Sjuman Djaja (almarhum) mengangkat novel Afheis ke layar lebar sebagai film nasional dan laku keras pada waktu itu. Beberapa pengamat den pengulas sastra dalam negeri, seperti Boen S. Oernarjati, Subagio Sastrowardojo, Panuti Sudjiman, Ajip Rosidi, dan H.B. Jassin memberi apresiasi baik terhadap novel Afheis. Tak ketinggalan para intelektual dari luar negeri seperti A. Teeuw, Hilgers-Hesse, Harry Aveli Claudin Salmon, Rene Carle, dan Ernst Ulrie Kratz telah ikut pula memperkenalkan novel Atheis ke penjuru dunia, misalnya Belanda, Australia, India, Jerman, Inggris, dan Perancis. Jasa-jasa mereka ikut memperkenalkan sastra Indonesia sebagai warga sastra dunia.

Benturan Dua Dunia bagi Hasan

Novel yang sangat menarik ini berlatar budaya ( daerah Priangan, Jawa Barat pada masa perang dunia kedua. Inti permasalah dalam novel ini menyajikan benturan dua dunia, yang antara “dunia lama” dengan “dunia modern”. Dunia lama diwakili oleh segolongan masyarakat yang masih menganut paham tradisional dengan pola pikir kosmosentris, taat beribah kepada Tuhan, dan sangat religi.

Dalam fragmen novel Atheis yang disajikan diwakili oleh orang tua Hasan. Dunia modia diwakili oleh sekelompok masyarakat yang menganut paham kebudayaan modern dengan pola pikir antroposentris agresif, dan Atheis. Golongan kedua ini diwakili oleh tokoh Anwar, Rusli, dan Kart. Posisi tokoh utama, Hasan, berada dalam situasi terjepit antara dua dunia dengan perangkat nilai yang berbeda.

Pada awalnya dunia yang dikenal oleh Hasan adalah dunia yang statis, penuh kedamaian, dan jauh dari huru-hara keramahan dunia. la terkenal sebagai anak yang saleh dan alim, dan taat beribadah kepada Tuhan ses dengan tuntunan agamanya. Sejak kecil Ha­san ta’at mengaji, bersembahyang, berpuasa, dan bahkan mengikuti aliran tarekat (sufi) yang didatangkan dari guru tarekat di Banten. Akan tetapi, setelah Hasan berkenalan dengan Anwar, Rusli, dan Kartini, ia kemudian terseret pula ke arus dunia modern yang dinamis dan penuh aroma petualangan. Mulanya Hasan berkeinginan hendak meluruskan kehidupan teman-temannya yang tidak beragama itu. Rusli dan Kartini beberapa kali diberi nasihat dan khotbah keagamaan oleh Hasan biar mereka sadar dan berjalan di jalan yang lurus dan benar. Namun, kemudian justru terbalik, Hasan tidak mampu mempertahankan dunia lama yang dibawanya dari lingkungan desanya, Panyeredan. Ketidakmampuan Hasan penyesuaikan diri dengan perubahan zaman yang penuh dinamika itu mencerminkan pula ketidakmampuan Indonesia yang feodal berdaptasi dengan dunia modern yang anarkis. Hasan adalah cerminan tokoh fenomenal yang tergilas oleh arus zaman tanpa memiliki lertahanan mental yang kokoh. Dia tidak rnemiliki mental kuat yang sekuat baja. Kepribadian Hasan sangat rapuh. la mudah dipengaruhi orang lain, terutama tokon Anwar dan Rusli, sehingga dirinya terombang-ambing antara dua dunia yang membenturnya secara keras. Hasan terseret oleh arus pemikiran material yang konkret tanpa memperkokoh diri dunia batinnya. Hanya persoalan sepele, rnasalah pilihan jodoh, Hasan berani menentang kehendak orang tuanya. Padahal, orang tuanya bermaksud hendak menjodohkannya dengan gadis pilihan yang seiman. Hasan melolak gadis pilihan orang tuanya itu karena terpikat oleh seorang janda muda, Kartini, ang kemudian menjerumuskan dirinya ke lembah kesengsaraan hidup.

Rumah tangga Hasan dan Kartini tidak bahagia dan sekaligus tidak berlangsung lama. Mereka sama-sama menjadi manusia modern yang ingin bebas bergaul dengan siapa saja tanpa batas-batas norma kesusilaan dan agama. Keretakan rumah tangga yang mereka bangun dapat hancur karena tidak memiliki pegangan keimanan kepada Tuhan. Akibatnya, Hasan kemudian menjadi sadar akan dosa-dosa yang diperbuatnya, baik terhadap Tuhan maupun terhadap orang tuanya. la memutuskan cerai terhadap Kartini dan meninggalkan kawan-kawannya yang murtad dan atheis. Hasan kembali ke kampungnya dan memohon ampunan orang tuanya. Namun, orang tuanya menolak permintaan maaf Ha­san itu hingga meninggal dunia.

Menghadapi kenyataan seperti itu, Hasan merasa hancur hatinya. Pada saat-saat ayahnya hendak menghembuskan nafasnya yang terakhir, ayahnya tetap saja tidak memaafkan dosa-dosa Hasan, la merasa sedih, kecewa, dan dongkol terhadap teman-temannya yang telah menjeruskan dirinya ke lembah dunia hitam. Kemudian, Hasan berpikir bahwa Anwarlah penyebab dari segala malapetaka bagi dirinya. Malam itu juga Hasan dengan nafsu membara hendak balas dendam mencari Anwar. Keadaan bahaya tidak ia hiraukan lagi. Sebelum bertemu dengan Anwar, beberapa butir peluru serdadu Jepang menembus tubuh Hasan. Seketika itu pula Hasan terkapar di atas aspal jalanan sambil berlumuran dorah. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, Hasan masih sempat mengucapkan kalimat suci yang terakhir kalinya: “Allahu Akbar!”.

la bergegas terus. Dalam gelap-gulita ….

Tiba-tiba… tar! tar! Aduh!

Hasan jatuh tersungkur. Darah menyebrot dari paha-nya. la jatuh pingsan. Peluru senapan menembus daging pahanya sebelah kiri. Darah mengalir dari lukanya, meleleh di atas betisnya. Badan yang lemah itu berguling-guling sebentar di atas aspal, bermandi darah. Kemudian dengar bibir bergegas kata “Allahu Akbar”, tak bergerak lagi …. (Karta Mihardja, 1981:232)

Novel karya Achdiat K. Mihardja ini memang berbicara masalah petualangan hidup Hasan yang menjadi atheis setelah mengenal dunia modern. Kata “Atheis” artinya tidak percaya akan adanya Tuhan. Mereka lebih mempercayai benda atau materi yang bersifat konkret, dapat dilihat oleh mata dan dapat diraba oleh pancaindera. Unsur ketuhanan diangqap oleh mereka sebagai belenggu yang mengekang gerak kebebasannya. Kemerdekaan mereka menjadi terbatas dengan hadirnya unsur ketuhanan dalam dirinya. Oleh karena itu, kaum athsis tidak mempercayai keberadaan Tuhan. Mereka para atheis menganggap agama sebagai belenggu dan racun dunia yang perlu dimusnahkan. Bahkan, mereka menganggap Tuhan telah mati.

Simpulan

Dialog Anwar berikut membuktikan paham atheisme yang dipegang teguh oleh tokph Anwar yang keras dan dipercayai pula oleh Hasan.

“Dan tahu Bung, apa yang harus kita insafi sebagai perintis jalan? Tidak tahu? lalah bahwa orang tua tidak selamanva benar…. Bukan begitu? (matanya tajam menatap ke dalam wajahku). Lihat saja pada Marx, Lenin!. Lihat juga pada Nietzsche, ya Nietzsche, Bakunin, dan Iain-lain. Mana bisa mereka menjadi penganjur dunia yang begitu hebat, kalau mereka mau nongkrong saja tunduk kepada kehendak orang tuanya (menggeliat) dengan kedua belah tangannya menjulur ke atas).Vooral Nietzsche! Ya, ya, Nietzsche! Heerlijk. Der Uebermens Nietzsche yang berani berkata kepada Sang Surya, gij grofe ster, wot zulf gij betekenen zonder mijl (menep-nepuk dada). Sesungguhnya, apa arti kamu, wahai bintang raya, kalau aku tidak ada?! Begitulah mestinya kita semua! Uebermensch! (membusungkan dada) Uebermensch yang berani merombak, menentang menghancurkan untuk kepentingan kepribadian kita sebagai manusia yang harus maju, harus hidup, harus berkembang!”

Karl Marx, Lenin, dan Nietzche adalah tokoh-tokoh dunia yang berpandangan pada materialisme sebagai upaya menaklukkan dunia. Pada dekade tahun empat puluhan tersebut, bahkan sampai akhir milenium kedua, pemikiran mereka menjadi suatu kekuatan dahsyat yang mempengaruhi pola piandang dalam kehidupan di dunia ini. Namun beberapa negara yang menganut paham keras pemikiran Marx, Lenin, dan Nietzche itu kemudian satu per satu hancur, runtuh berkeping-keping, membuktikan bahwa paham mereka hanya mampu bertahan sesaat. Dunia yang mereka anggap modern dengan paham materialisme dan atheis itu tidak akan abadi keberadaannya. Meskipun dunia lama yang mereka oleh para pemikir Barat anggap tradisional, kosmosentris, dan religius, tetap membuktikan adanya keabadian yang pernah tak lekang dihempas badai hujan dan terik matahari sepanjang waktu. Keimanan kepada Tuhan tetap membuka kecerahan hidup yang lebih baik dan mulia. Apalagi dalam menghadapi “zaman edan” (kata pujangga dari Jawa, Ronggowarsito) seperti sekarang ini, kesadaran keimanan kepada Tuhan mutlak diperlukan agar tetap “eling Ian waspada

About these ads

September 3, 2008 - Posted by | Sastra

Belum ada komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: