NOL SATU Weblog

Satu kata dalam perbuatan

HASAN DALAM NOVEL ATHEIS KARYA ACHDIAT KARTA MIHARJA DI ERA MILLENIUM

  1. PENDAHULUAN

Novel ‘’Atheis’’ karya Achdiat Karta Miharja merupakan salah satu novel yang mencoba keluar dari ritme kebesaran novel-novel sebelumnya. Acdiat mencoba membuka babakan baru yang tak pernah muncul sebelumnya. Novel’’Atheis’’ jenis novel yang telah keluar dari bentuk adat kebiasaan para pengarang-pengarang besar lainnya. Novel ini telah jauh dari kawin paksa, tentang adat kampung yang mengungkung kebebasan kaum muda atau yang membawa mudarat bagi masyarakat, juga tidak berbicara tentang emansipasi wanita.

Achdiat membuka pintu baru dalam novel ‘’Atheis’’ yang membicarakan tentang jiwa manusia karena pengaruh ajaran ( isme ) Di sinilah yang menjadi ciri khas Achdiat dalam novel ini. Sehingga novel’’Atheis’’ menjadi besar dalam sastra indonesia.Kebesaran novel ini terletak pada bentuk yang menggunakan teknik berbingkai. Bingkaian cerita masih berlapis, di mana tokohnya diperkenalkan lewat tokoh lain. Struktur novel’’Atheis’’ juga sangat kompleks. Hal ini tampak pada paparan para tokoh-tokohnya. Disamping itu juga, kebebasan novel ini terletak pada isinya yang membicarakan persoalan kehidupan dan kematian dengan paparan yang sangat simpatik

Achdiat juga membuka kebebasan baru pada penulisan bentuk karya-karya prosa.Ia tidak membatasi pada siapa kayanya dibasa, pada siapa karyanya dinikmati. Kebebasan dan kemerdekaan yang diberikan oleh seorang Achdiat melalui karya’’atheis’’ kini telah terkuak sekarang ini. Tokoh Hasan sebagai pelaku utama yang penuh ketidak pastian dalam hidupnya. Diri hasan yang tak pernah penuh dari sebuah bentuk jiwa manusia, kini telah menjelma menjadi sosok-sosok Hasan pola baru. Hasan yang jiwanya penuh gelombang , yang suatu saat dapat bergerak-gerak kemana arus mengalir.

Era milinium membentuk jiwa-jiwa Hasan baru dalam kehidupan di masyarakat kita sekarang ini. Masyarakat kini tidak percaya lagi dengan orang-orang yang mendapatjulukan kyai, pendeta , pastur, dan bedande maupun biksu. Mereka tidak menghiraukan itu semua. Masyarakat kita sekarang ini telah meracuni isme-isme baru yang datang dari negeri asing. Isme-isme baru datang tidak sekaligus, melainkan sedikit-sedikit dan selalu bergantian. Hasan-Hasan bentuk baru inilah yang lebih berbahaya daripada Hasan dalam ‘’Atheis’’. Hasan inilah yang mencetak dan melahirkan bentuk atheis yang lebih canggih. Sehingga pola yang dihasilkan pun beraneka ragam. Kita menyadari masyarakat sekarang ini mudah terpancing isu-isu yang datangnya tidak jelas sumbernya.

Lahirnya Hasan di era milenium membentuk manusia yang penuh dengan kecurigaan, tidak percaya, jiwa anarki, selalu menuntut dalam bentuk pemaksaan kehendak alias demonstrasi dan masih banyak lagi yang belum tercatat. Jiwa-jiwa manusia yang semacam ini bukan hanya dianut kaum tua dan kaum muda, melainkan anak-anak usia usia- sekolah.. Bentuk-bentuk kekerasan yang muncul sekarang ini beragam. Kita dapat melihat langsung atau pun melalui TV, juga membaca berita koran. Jenis atheis sekarang justru lebih berbahaya dibanding dengan atheis masa orde lama sehingga lahirnya Hasan-Hasan di era milinium memberikan rasa hangat dalam ketidaktentraman di negara Indonesia tercinta ini.

Bertolak dari uraian di atas penulis mencoba mengulas tentang Hasan dalam Novel Atheis karya Achdiat Karta Miharja di Era Milenium. Karena menurut pemikiran penulis bahwa karya Achdiat perlu dimunculkan kembali di era milenium. Harapan yang sangat mendasar adalah agar kita mendapat bahan penghayatan dan pemahaman baru bagi jiwa, disamping itu agar dapat melihat masa depan dengan tegar tidak akan tergoyang apapun bentuk dan jenisnya serta oleh siapapun.

  1. STRUKTUR NOVEL

Struktur novel’’Atheis’’ yang sangat komplek. Novel ini pengungkapan cerita menggunakan teknik berlapis. Dimana pengenalan tokoh utamanya ( Hasan ) melalui tokoh yang lain. Tokoh-tokoh dalam novel Etheis antara lain Hasan, kartini, Rusli, Anwar, Raden Wiradikarta ( Ayah Hasan ) , Haji Dahlan ( Guru Hasan), Fatimah.

Achdiat mengawali ceritanya dari bagian akhir. Hal ini memberikan kesan kepada kita bahwa Achdiat tidak mau tokoh utamanya diketahui pembaca. Perhatikan petikan berikut

‘’seponyongan Kartini keluar dari sebuah kamar dalam kantor Ken peite. Mata kabur terpancang dalam muka yang pucat. Selopnya terseret-seret di atas lantai gedung yang seram itu. Tangan kirinya berpegang lemah pada pundak Rusli yang membimbingnya, sedang saya memegang tangan kanannya.

Perempuan malang itu amat lemah dan lesu nampaknya, seolah-olah hanya seonggok daging layaknya yang tak berhayat diseret-seret di atas lantai…’’

Dari kutipan di atas kita tidak tau siapa Kartini, siapa Rusli, dan siapa saya. Begitulah cara Achdiat dalam mengulas para tokohnya untuk mewakili bentuk jiwa masing-masing pelakunya.

Teknik pelapisan yang disajikan oleh Achdiat dalam novel’’Atheis’’ adalah bentuk pengenalan pelaku utama Hasan oleh tokoh lain yaitu tokoh saya.. Perhatikan contoh kutipan berikut ini

‘’Ia bernama Hasan…( tapi baiklah saya ceritakan sekarang saja, bahwa itu sebetulnya itu bukan nama sebenarnya, dan juga orang-orang yang bersangkutan dengan dia, yang nanti akan ternyata kepada kita dari sebuah naskah yang diberikan kepada saya, bukanlah Kartini, Rusli, Anwar dan lain-lain melainkan mereka mempunyai nama yang lain sekali. Tapi biasa saja di dalam suatu cerita Dichtungund Wahrheit seperti yang dibikin Hasan itu, nama-nama sebenarnya diganti dengan nama lain).’’

Dari kutipan di atas membuktikan bahwa sebenarnya tokoh utama[ Hasan] diperkenalkan kepada para pembaca melalui tokoh saya, yang tiada lain sang pengarang sendiri. Bentuk pelapisan ini yang membuat kita berpikir lebih dalam, mengapa harus demikian ? Achdiat sendiri pun tidak tahu, menciptakan Hasan dalam Atheis secara tersembunyi ternyata melahirkan Hasan pula di era milenium ini. Hasan di era milenium juga demikian. Mereka tidak tahu dari mana, kapan, dan bagaimana Hasan datang. Alur cerita Atheislah yang membawa kita ke alam Atheis lama menjadi alam Atheis yang canggih. Inilah yang melahirkan manusia-manusia dari berbagai tipe.

Berdasarkan alur ceita yang disajikan oleh Achdiat bahwa novel ’’Atheis’’ menonjolkan tiga bentuk manusia, pertama manusia yang theis. Manusia ini adalah tipe manusia yang sangat teguh pendiriannya terhadap ajaran yang percaya adanya Tuhan Yang Maha Esa. Manusia semacam ini menunjuk pada diri raden Wiradikarta . Ia adalah ayah kandung Hasan.Ia sosok manusia yang percaya dan teguh terhadap ajaran. Baginya ajaran tak bisa dikompromikan. Tipe semacam ini juga terdapat pada para kyai seperti guru Hasan. Kedua, manusia yang Atheis yaitu manusia yang benar-benar tidak percaya adanya Tuhan.Yang menjadi contoh manusia tipe ini adalah Rusli yang berpaham marxisme dan Anwar yang berpaham anarkis. Sedangkan ketiga adalah tipe manusia yang tidak duanya, yaitu tidak theis dan juga atheis. Manusia tipe seperti ini ada pada diri Hasan. Ia terombang-ambingkan antara theis dan dan atheis. Ia ragu dan bimbang. Ajaran yang lama menjadi goyah dan ajaran yang baru belummeresap sepenuhnya.

Dari ketiga tipe manusia yang terdapat dalam novel’’Atheis’’ membawa Hasan ke alam milenium. Hasan dibentuk oleh Achdiat untuk mewakili sosok manusia yang jiwanya terombang-ambing di antara dua ajaran. Kedua ajaran sama-sama tidak mantap.

3. HASAN DI ERA MILENIUM

Hasan adalah salah satu tokoh novel Atheis dilahirkan dari keluarga Raden Wiradikarta . Ayah Hasan seorang pensiunan matri guru (Kepala SD).Hasan dilahirkan dari keluarga yang alim. Sejak kecil ia dididik dalam pendidikan Islam. Di sekolahnya, Hasan juga sempat disebut-sebut sebagai Kyai. Namun anehnya, Hasan tak pernah mau menerimanya

Dengan berbekal kemampuan agama yang serba sedikit Hasan mencoba keluar dari kungkungan keluarga. Setelah beranjak dewasa ia harus mengenal dunia luar. Dunia yang jelas-jelas berbeda dari lingkungan awal (linkungan keluarga yang fanatis islamis) Perkenalan Hasan dengan Anwar dan Rusli melalui Kartini, membawa pengaruh bagi dirinya. Ia mulai mengenal ajaran-ajaran yang menurutnya sangat berbeda bahkan perbedaannya 180o. Hal ini berarti Hasan harus mau dan mampu menerima ajaran-ajara yang diperoleh melalui Anwar sang Anarkis dan Rusli yang Marxisme. Dua aliran inilah yang membentuk jiwa Hasan semakin tak menentu. Ia sering melamun, berdiam diri, dan memikirkan serta membanding-bandingkan ajaran yang lama (islam) dengan ajran baru(Anarkis dan (Marxisme). Hal ini dapat kita lihat pada kutipan brikut:

‘’Sekarang saya sudah dewasa,’’kataku,’’ sudah cukup matang untuk mempunyai pendirian sendiri dalam soal-soal hidup. Ayah tidak boleh memaksa lagi kepada saya dalam hal pendirian saya, juga dalam pendirian saya terhadap agama.’’

Dan entalah, walaupun saya masih sangsi akan kebenaran teori-teorinya . Rusli dan Anwar tentang’’ketuhana bikinan manusia’’ itu namun dalam reaksi terhadap desakan-desakan ayah yang seperti biasa memuji aliran tarikat dan mistik pada umumnya, maka kutumpahkan segala teori Rusli dan Anwar itu. Seolah-olah sudah menjadi atheis pula. Atheis mutlak seperti kedua temanku.’’

Agaknya, tak ada pukulan yang lebih hebat bagi ayah daripada ucapan-ucapan itu.

Sekarang terasa benar olehku, betapa kejamnya perkataanku itu terhadap ayah dan ibu yang selama itu selalu megah akan diriku sebagai anaknya yang ‘’alim’’ dan ‘’saleh’’

.

Ini jelaslah bahwa Hasan telah memiliki ajaran yang baru dan belum mendalam. Berbekal ajaran baru, ia mulai melawan pada kedua orang tua dengan ucapan-ucapan yang menyakitkan yang dinilai sangat kejam. Perlakuan ini berlangsung dan berlanjut hingga dirinya menentukan pilihan pasangan hidupnya yaitu dengan Kartini.

Dalam novel Atheis, tokoh Hasan merupakan tipe manusia yang bersikap tidak punya pendirian, ia selalu bimbang, ragu tidak mudah percaya, cepat marah dan pencemburu. Hal ini tunjukan pada kutipan berikut :

‘’Ejekan Kartini biasanya disertai dengan tertawa kecil yang mencetus dari

mulutnya seperti anak kuda yang meringkik. Dan entahlah, tak tahan lagi aku,

kalau aku mendengar ringkikan kuda seperti itu. Sampai-sampai aku lupa. Kutempaleng Kartini sehingga ia menjerit’’…

‘’Besar kecurigaanku, bahwa orang itu tak lain tak bukan adalah Anwar sendiri. Dengan hilangnya kepercayaan dan timbulnya kecurigaan antara kami, maka api neraka sudah sampai kepada puncaknya.’’

Manusia seperti Hasan mudah dijadikan peluru yang setiap saat untuk ditembakkan kepada sasaran. Tokoh Hasan bersikap selalu mencurigai oang lain, tidak percaya, juga selalu mementingkan dirinya sendiri. Oleh karena itu Hasan sekarang ini diperbanyak jumlahnya. Kemampuan para Hasan pun ditingkatkan. Kesemuannya dengan tujuan untuk mempermudah sekelompok sekelompok dapat menggunakan sewaktu-waktu. Menurut Hamzah Yacup dalam Etika Islam bahwa :

‘’Perkembangan jiwa manusia dalam kondisi tidak stabil akan membuat dirinya tidak memiliki pendirian. Manusia semacam ini mudah dipengaruhi dari faktor luar dari dirinya. Yang dimaksut kondisi tidak stabil adalah suatu kondisi yang tidak seimbang. Faktor tidak seimbang dapat disebabkan kurang mantapnya kemampuan atau pemahaman seseorang terhadap sesuatu. (1985)’’

Dari pendapat Hamzah jelas bahwa seseorang yang dalam kondisi tidak stabil lebih mudah dipengaruhi daripada orang yang sudah mantap. Oleh karena sekelompok orang yang menginginkan kehangcuran bangsa kita, banyak menciptakan Hasan dengan tujuan untuk mempermudah jalannya

Jiwa Hasan.yang demikian merupakan bentuk perlawanan dirinya dengan orang di luar dari dirinya. Nilai-nilai yang terkandung adalah sikap tak menghormati kepada kedua orang tua.Hasan belum menyadari segala kekurangannya dari apa yang ia dapatkan setelah perkenalan dengan Rusli dan Anwar. Kita lihat petikan berikut ini :

‘’Baru sekali ini aku bertengkar dengan orang tua. Dan alangkah hebatnya pertengkaran itu pertengkaran paham, pertengkaran pendirian, pertengkaran kepercayaan.

Tapi ah, mengapa aku tidak bersandiwara saja ? mengapa aku harus berterang-terangan memperlihatkan sikapku yang telah berubah itu terhadap agama ? karena Anwar tidak setuju dengan sikap sandiwara itu. Dengan ‘’ huichelarij’’seperti katanya.’’

Bila dilihat dari sikap Hasan, maka dapat dikatakan sebagai sikap pemberontakan. Karena menganggap paham, pendirian dan kepercayaan yang ia ketahui adalh benar adanya. Sehingga segala sesuatu yang ia lakukan pun merupakan pencerminan dari kebenaran yang dimiliki. Sikap-sikap Hasan seperti itu mulai muncul di era mileniumsekarang ini. Sikap-sikap tersebut ditampilkan dalam bentuk tindak kekerasan Sehingga semakin jelas bahwa Hasan di era orde lama hanya satu dalam novel Atheis, sedangkan di era milenium bukan hanya satu melainkan ribuan bahkan jutaan dan siap menerkam manusia yang menghalangi langkah-langkahnya.

Sikap itu diaktualisasikan dalam bentuk yang lebih brutal tanpa melihat dan memikirkan siapa yang menjadi korbannya. Seperti peristiwa yang melanda belakangan ini di Indonesia, sangat meresahkan kita semua.. Pengeboman . pembantaian, pertikaian, aksi-aksi, demonstrasi semuanya sudah direkayasa oleh sekelompok manusia untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Perbuatan yang bersifat anarki dan maxisme mulai nampak ditahun perubahan milenium. Manusia bukan lagi sesuatu yang harus dihormati lebih dari seluruh mahluk lainnya di dunia. Namun manusia dibuat seperti kelinci percobaan bagi orang-orang yang hanya untuk mendapatkan yang mereka inginkan. Harga manusia tidak lebih tinggi dari sebuah sendok garpu. Menurutnya rasa kurang percaya pada orang lain, saling mencurigai mulai bermunculan.

Berdasarkan kenyataan yang ada sekarang ini jelaslah, bahwa ada kelompok yang sengaja membentuk tokoh Hasan dalam novel Atheis di era milenium. Sehinga dengan banyaknya Hasan akan lebih mudah untuk dipecundangi dan dijadikan alat untuk menuju sukses melicinkan jalannya. Namun dalam novel Athes tokoh Hasan akhirnya pergi meninggalkan teman-temannya. Ia mati mengenaskan, tidak diceritakan oleh Achdiat bagaimana dan siapa yang menolongnya, perhatikan kutipan berikut ini :

‘’Tiba-tiba… tar tar tar aduh

Hasan jatuh tersungkur. Darah menyerobot dari pahanya. Ia jatuh pingsan. Peluru senapan menembus daging pahanya sebelah kiri. Darah mengalir dari lukanya, meleleh di atas betisnya. Badan yang lemah itu berguling-guling sebentar di atas aspal, bermandikan darah. Kemudian dengan bibir melepas kata ‘’Allahu Akbar’’, tak bergerak lagi….

‘’Mata-mata ya Mata-mata Orang jahat bekeru

Dengan demikian harapan kita tokoh Hasan di era milenium akan mati dengan senjatanya sendiri. Namun semua ini tergantung dari diri kita, apakah kita mau dijadikan Hasan-hasan berikutnya? Tentu kita jawab tidak, karena kita punya sikap sendiriyang lebih baik. Kita masih tetap berpegang teguh pada iman dan ajaran agama yang kita anut. Semoga Tuhan selalu melindungi kita, bangsa dan negara tercinta ini.

4. PENUTUP

Dari keseluruhan uraian di atas dapat di simpulkan bahwa Achdiat Karta Miharja

Sebagai pengarang Atheis tidak menunjukkan secara langsung tokoh utama. Tokoh utamanya diperkenalkanmelalui tokoh lain. Seolah-olah Achdiat menyembunyikan sesuatu yang pada akhirnya kini muncul Hasan yang serupa dengan tokoh novel Atheis.

Sikap-sikap Hasan dalam Atheis teraktualisasikan di era milenium sekarang ini. Hasan mewakili dari sekian lambang perlakuan masyarakat kita, yang mudah terpengaruh terhadap isu-isu yang kurang jelas sumbernya. Sehingga kompensasinya pada perbuatan brutalisme tanpa melihat dan memikirkan korbannya. Para Hasan di era milenium sudah tertutup rasa perikemanusiaannya. Mereka bebas melakukan apa saja yang penting keinginanya tercapai walau harus mengorbankan jiwa orang lain.

Hasan yang ditutup dengan kematian yang mengenaskan tanpa pertolongan, memberikan gambaran kepada kita bahwa kita harus kembali berpegang pada iman dan ajaran agama yang kita anut.

About these ads

September 4, 2008 - Posted by | Sastra

3 Komentar »

  1. atheis…dimana bisa dicari novelnya..

    Komentar oleh nizar murthada (@nizar0415) | Januari 20, 2012 | Balas

  2. copas ya buat tugas…. thanks

    Komentar oleh Anneke Arifidanti | Februari 23, 2012 | Balas

  3. Good day! This is kind of off topic but I need some advice from an established blog.
    Is it very difficult to set up your own blog? I’m not very techincal but I can figure things out pretty fast. I’m
    thinking about setting up my own but I’m not sure where to start. Do you have any points or suggestions? Many thanks

    Komentar oleh Using Golf Gloves Both Hands | Juni 20, 2013 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: