GAYA BAHASA NOVEL AYAT-AYAT CINTA KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENGAJARAN SASTRA DI SMA
Oleh Mukhamad Khusnin
Abstrak
Novel merupakan karya seni yang sangat erat berhubungan dengan kehidupan manusia dan berupa gambaran perjalanan hidup manusia. Gaya bahasa dalan novel merupakan perwujudan penggunaan bahasa oleh penulis untuk mengemukakan gambaran, gagasan, pendapat, dan membuahkan efek tertentu bagi pembaca. Penelitian ini merupakan bagian dari langkah untuk memahami gaya bahasa berdasarkan jenis gaya bahasa, dominasi dan implikasi gaya bahasa terhadap pengajaran sastra di SMA. Novel Ayat-ayat Cinta (AAC) sebagai sumber penelitian adalah didasarkan atas kemunculan dan kesuksesan novel AAC karya Habiburraman El Shirazy. Novel itu lahir pada saat yang tepat.. Hal lain novel AAC sebagai sumber penelitian adalah bahasanya mudah dipahami dan mengandung sarat gaya bahasa.
Masalah yang diteliti adalah (1) gaya bahasa apa sajakah yang terdapat dalam novel AAC karya Habiburraman El Shirazy, (2) gaya bahasa apakah yang dominan, dan (3) bagaimana implikasi novel AAC terhadap pengajaran sastra di SMA Sedangkan tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi gaya bahasa yang terdapat dalam novel AAC karya Habiburraman El Shirazy, mendeskripsi gaya bahasa yang dominan, dan memaparkan implikasi novel AAC terhadap pengajaran sastra di SMA
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan stilistika. Pendekatan stilistika digunakan untuk menganalisis penggunaan sistem tanda yang mengandung ide, gagasan dan nilai estetis tertentu, sekaligus untuk memahami makna yang dikandungnya. Data penelitian ini berupa penggalan teks dalam novel AAC yang diduga berisi kalimat-kalimat bergaya bahasa tertentu.
Hasil yang didapat dalam penelitian ini adalah jenis gaya bahasa dalam novel AAC meliputi gaya bahasa klimaks, antiklimaks, paralelisme, antitesis, repetisi, hiperbola, silepsis, aliterasi, litotes, asonansi, eufemisme, pleonasme, paradoks, retoris, personifikasi, ironi, sarkasme, metafora, permpamaan/simile dan metonimia. Gaya bahasa yang dominan dalam novel AAC adalah gaya bahasa hiperbola. Implikasi gaya bahasa dalam novel AAC terhadap pengajarangan sastra di SMA adalah dititikberatkan pada sumber bahan ajar.
Penelitian gaya bahasa dalam novel AAC karya Habiburraman El Shirazy merupakan penelitian awal sehingga perlu penelitian lanjut. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sumbangan dalam pengembangan di dunia pendidikan terutama di bidang sastra. Gaya bahasa dalam novel AAC sangatlah berguna untuk pengembangan bahan ajar, khususnya terhadap pengajaran sastra SMA.
Kata kunci: gaya bahasa, novel, implikasi, pengajaran
- 1. Pendahuluan
Novel merupakan karya seni yang sangat erat berhubungan dengan kehidupan manusia dan berupa gambaran perjalanan hidup manusia. Sebagai karya seni, novel terdapat pelajaran bagi pembaca dan dapat dinikmati sebagai bahan referensi serta instrospeksi diri. Melalui bahasa, novel mudah dipahami dan dicerna oleh para pembaca karena gaya bahasanya.
Sebuah novel dapat dijadikan bahan untuk mempelajari kehidupan manusia yang sesungguhnya. Berbagai sifat manusia dan gambaran hidup terekam semua dalam sebuah novel. Gambaran hidup yang terekam dalam sebuah novel acap terwujud dalam bentuk konflik. Konflik tersebut berupa konflik antartokoh yang dipaparkan pengarang melalui gayanya sendiri. Secara umum dapat dijabarkan bahwa problem itu timbul apabila ada perbedaan atau konflik antara keadaan atau konflik antara keadaan satu dengan yang lain dalam rangka mencapai suatu tujuan. Oleh karena itu, melalui novel terdapat pesan-pesan atau hikmah lewat gaya bahasa yang dipungut dari kenyataan,
Gaya bahasa dalam novel merupakan perwujudan penggunaan bahasa oleh penulis untuk mengemukakan gambaran, gagasan, pendapat, dan membuahkan efek tertentu bagi pembaca (Aminuddin 1997:1). Aktivitas penulisan, keberadaan diksi (pilihan kata) merupakan unsur penting. Persoalan diksi bukan hanya menyangkut pemilihan kata secara tepat dan sesuai, melainkan juga persoalan gaya bahasa dan ungkapan. Hal ini dapat dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Sering dijumpai banyak orang kurang perbendaharaan kata sehingga mengalami kesulitan dalam mengungkapkan maksud (Wibowo 2001: 25).
Menurut Alwi et al (1991:11) penggunaan diksi harus berdasarkan tiga tolok ukur, yakni ketepatan, kebenaran, dan kelaziman. Memilih kata dengan tepat memungkinkan orang dengan cepat memahami apa yang dimaksudkan. Adapun kebenaran menyangkut pelafalan, pengejaan, atau pembentukan kata, sedangkan kelaziman adalah penggunaan bentuk bahasa tertentu yang terjadi karena pemakaian yang berulang-ulang.
Penelitian ini merupakan bagian dari langkah untuk memahami gaya bahasa berdasarkan jenis gaya bahasa, dominasi dan implikasi gaya bahasa terhadap pengajaran sastra di SMA. Kenyataannya bahan pengajaran yang disajikan guru kurang aktual. Hal ini berakibat siswa bosan, karena guru kurang kreatif dan inovasi dalam pengajaran sastra. Seperti yang dikemukakan oleh Muis bahwa (2007), guru harus mandiri dan kreatif. Guru harus menyeleksi bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran sesuai dengan kurikulum sekolahnya. Guru dapat memanfaatkan bahan ajar dari berbagai sumber (surat kabar, majalah, radio, televisi, internet, dsb.). Bahan ajar dikaitkan dengan isu-isu lokal, regional, nasional, dan global agar peserta didik nantinya mempunyai wawasan yang luas dalam memahami dan menanggapi berbagai macam situasi kehidupan.
Sudah barang tentu bahwa tuntutan kepada guru sebagai aktor di kelas sangat besar. Guru harus mampu mengembangkan Kompetensi Dasar yang terdapat dalam KTSP. Sejumlah kompetensi dalam KTSP tidak boleh dikurangi, akan tetapi dapat ditambah sesuai dengan pengembangan materi, tuntutan lingkungan setempat.
Kenyataannya, masih ada guru dalam mengajarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia khususnya sastra hanya terpaku pada buku-buku yang sudah ada di silabus, padahal banyak materi atau bahan ajar di luar silabus, seperti buku-buku dan novel yang aktual. Bahan ajar yang lebih aktual dapat memberikan daya tarik lebih kuat pada siswa. Apalagi teknik yang digunakan guru dalam menyampaikan materi pelajaran sangat menarik dan invovatif, tentunya siswa dapat terimajinasi yang menyenangkan. Seperti halnya novel dalam novel Ayat-Ayat Cinta (AAC) karya Habiburaman El Syirazy, yang saat ini sedang menanjak pamornya, dapat dijadikan sebagai bahan
Berkaitan dengan pembelajaran yang ditekankan pada keterampilan berbahasa mengacu pada KTSP dapat dikemukakan dua temuan penting, yaitu (1) pembelajaran dapat berlangsung dengan baik dan siswa mencapai hasil yang diharapkan. Hal itu antara lain disebabkan: (a) guru memiliki kemampuan yang baik dan sering memotivasi siswa; (b) guru melakukan penilaian atas kemahiran berbahasa yang ditunjukkan siswa; (c) raw input siswa memang baik. (2) kegiatan pembelajaran kurang efektif. Hal itu diduga karena (a) kemahiran yang ditunjukkan siswa tidak dinilai dan (b) guru kurang memberikan motivasi kepada siswa (Diknas 2006:45).
Dipilihnya novel AAC sebagai sumber penelitian adalah didasarkan atas kemunculan dan kesuksesan novel AAC karya Habiburraman El Shirazy. Beberapa pandangan yang digunakan peneliti sebagai pendukung sumber ini antara lain pandangan menarik itu diungkapkan doktor Ilmu Sastra Unnes, Teguh Supriyanto (Wawasan,2008) bahwa, “Dari aspek sastra, novel ini biasa-biasa saja, tema tetap hitam-putih, yang baik menang dan yang buruk kalah, tidak ada kejutan-kejutan sastrawi. Tetapi novel ini memang diuntungkan faktor momen.
Ustadz H. Abu Ridho, dalam Bedah Ayat-Ayat Cinta di Munas PKS 2005 berpandangan bahwa, “Aya-ayat Cinta merupakan novel yang sangat bagus dan lengkap kandungannya. Ini bukan hanya novel sastra dan novel cinta, tapi juga novel politik, novel budaya, novel religi, novel fikih, novel etika, novel bahasa, dan novel dakwah. Sangat bagus untuk dibaca siapa saja.” (Makalah, 2007) Hal ini juga didukung oleh pandangan Baidan. Dalam Fenomena Ayat-ayat Cinta (2008:24)
“Nuansa Islam yang amat kental mengukuhkan novel ini sebagai media dakwah. Banyak hikmah yang dapat dipetik, terutama mengenai bagaimana berinteraksi dengan sesama manusia, baik muslim maupun nonmuslim, muhrim dan bukan muhrim. Tersusun dalam bahasa yang indah dan halus. Tiap kejadian tersusun secara kompak, satu kejadian akan berhubungan dengan kejadian selanjutnya. Nyaris tidak ada kejadian yang sia-sia. Tiap babnya menghadirkan kejutan-kejutan tersendiri, hingga pembaca dibuat penasaran untuk terus mengikuti kisahnya dari awal hingga akhir….”
Tanggapan yang senada mengagumi novel AAC karya Habiburraman El Shirazy masih banyak lagi. Meledaknya novel karya Habiburrahman El Shirazy itu, tak sempat dikupas tuntas, lantaran film adaptasi dari novelnya juga meledak, dan sempat mengalihkan perhatian masyarakat. Diakui atau tidak, kesuksesan AAC adalah momentum puncak dari sebuah aliran sastra, yakni sastra Islami.Hal lain novel AAC dipilih sebagai sumber penelitian adalah bahasanya mudah dipahami dan mengandung sarat gaya bahasa. Gaya bahasa yang disajikan dalam novel AAC sangat mudah ditemukan.
Masalah yang akan diungkap dalam pembahasan ini adalah (1) Gaya bahasa apa sajakah yang terdapat dalam novel AAC karya Habiburraman El Shirazy? (2) Gaya bahasa apakah yang dominan dalam novel AAC? dan (3) Bagaimana implikasi novel AAC terhadap pengajaran sastra di SMA. Sedangkan tujuannya adalah (1) mengidentifikasi gaya bahasa yang terdapat dalam novel AAC, (2) mendeskripsi gaya bahasa yang dominan dalam novel AAC, dan (3) memaparkan implikasi novel AAC terhadap pengajaran sastra di SMA
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, yaitu bermanfaat secara teoretis dan praktis. Adapun manfaat dalam penelitian ini secara teoretis adalah dapat dijadikan pijakan awal dalam memahmi novel AAC. Dengan pemahaman ini pembaca semakin mudah secara teoretis terhadap perkembangan penelitian stilistika. Pembahasan gaya bahasa dalam novel AAC adalah satu upaya mengungkap dan menambah khasanah bagi studi linguistik. Manfaat lainnya adalah sebagai model analisis stilistika yakni bidang kajian tentang gaya bahasa dan deskripsi sistemis tentang gaya bahasa.
Secara praktis, bagi para guru hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai salah satu arternatif bahan ajar dalam pengajaran sastra di SMA. Hal ini mengingat bahwa bahan ajar yang ada di sekolah kurang mamadai. Oleh karena itu kajian novel AAC tentunya dapat dijadikan sebagai materi tambahan.
Hasil penelitian ini juga dapat bermanfaat bagi guru sebagai referensi pengajaran gaya bahasa sebagai unsur intrinsik dalam novel. Novel AAC terdapat pesan-pesan yang mulia yang harus disampaikan kepada siswa.
- 2. Kerangka Teoretis
Gaya bahasa menurut Pradopo (1997:93) adalah susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang timbul atau hidup dalam hati penulis, yang menimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati pembaca. Tiap pengarang mempunyai gaya sendiri. Hal ini sesuai dengan sifat dan kegemaran masin-masing pengarang.
Menurut Sayuti (2000:173) gaya bahasa merupakan cara pengungkapan seorang yang khas bagi seorang pengarang. Gaya seorang pengarang tidak akan sama bila dibandingkan dengan gaya pengarang lainnya, karena pengarang tertentu selalu menyajikan hal-hal yang berhubungan erat dengan selera pribadinya dan dan kepekaannya terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya.
Gaya bahasa menurut Keraf (2008:113) adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis.. Kekhasan itu dipengaruhi oleh teks yang digunakan oleh penulis/pengarang ketika menghadapi pembaca. Hal itu dilakukan agar materi yang disajikan tidak menimbulkan salah tafsir, karena kesalahan dalam menafsirkan menimbulkan persoalan baru.
Menurut Sudjiman (1993:19-20) gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa dalam konteks tertentu, oleh orang tertentu, dan untuk maksud tertentu, sehingga dapat dipahami bahwa penggunaan gaya bahasa mempertimbangkan ketiga hal tersebut, bahkan penggunaan gaya bahasa itu ditentukan oleh siapa yang dituju. Hal itu menandakan bahwa memahami konteks dan materi adalah hal utama, karena berbekal memahami hal tersebut dapat dijadikan bekal untuk meminimalisasi kesalahpahaman dan menjauhkan dari konflik di balik materi yang tersaji.
Aminuddin (2004:72) mengatakan bahwa gaya bahasa pada dasarnya berhubungan erat dengan cara seseorang pengarang dalam menampilkan gagasannya. Gagasan tersebut dituangkan dalam karya tertulis sehingga tampak tampilan gaya bahasanya. Hal itu dapat dinyatakan bahwa setiap penulis wacana memiliki karakter penulisan, karena setiap orang memiliki gaya yang dilatarbelakangi oleh pengalaman, latar belakang keilmuan, dan target yang dituju pada setiap gaya bahasanya.
Selanjutnya, menurut Suparman (1997:73) gaya bahasa adalah pernyataan dengan pola tertentu, sehingga mempunyai efek tersendiri terhadap pemerhati. Dengan pola materi akan menimbulkan efek lahiriah (efek bentuk), sedangkan dengan pola arti (pola makna) akan menimbulkan efek rohaniah.
Waridah (2008:322) berpendapat bahwa gaya bahasa adalah gaya seseorang pada saat mengungkapkan perasaannya baik secara lisan maupun tulis dan dapat menimbulkan reaksi pembaca berupa tanggapan. Gaya bahasa berdekatakan dengan majas. Majas merupakan bahasa kias, sehingga majas berada dalam gaya bahasa.
Berdasarkan keenam pendapat itu peneliti menyimpulan bahwa gaya bahasa adalah cara pengarang menyampaikan/mengungkapkan pikiran dan maksud dengan menggunakan media bahasa indah. Pengungkapan itu dalam konteks tertentu, oleh orang tertentu, dan untuk maksud tertentu, serta mampu memberikan kesan suasana yang menyentuh daya emosi pembaca. Gaya bahasa akan mendapat reaksi yang berupa tanggapan dari pembaca atau pendengar. Perbedaan keduanya adalah gaya bahasa merupakan gaya seseorang mengungkapkan bahasa baik langsung maupun tidak langsung (kias), sedangkan majas gaya bahasa yang cenderung gaya seseorang yang secara tidak langsung (kias).
2.1 Stilistika
Menurut Aminuddin (1997:21) stilistika merupakan kajian linguistik modern. Kajiannya meliputi hampir semua fenomena kebahasaan hingga makna. Sehingga wacana (teks) dalam novel AAC merupakan bagian dari kajian linguistik modern dan termasuk fenomena bahasa beserta beserta makna yang dikandungnya.
Selanjutnya menurut Leech dalam Aminuddin (1999: 27) stilistika secara sederhana dapat diartikan sebagai kajian linguistik yang objeknya berupa gaya yaitu cara penggunaan bahasa dari seseorang dalam konteks tertentu dan untuk tujuan tertentu.
Sementera itu menurut Wallek (1980: 57) stilistika adalah kajian yang memusatkan perhatian pada hal-hal yang menyimpang dari kebiasaan dari kekhusukan. Kekhususan itu dalam penelitian ini adalah bagaimana pengarang menggunakan gaya bahasa dalam novel AAC.
Menurut Nurgiantoro (2000: 270) stilistika ditandai dengan oleh ciri-ciri formal kebahasaan seperti pilihan kata, struktur kalimat, bentuk bahasa figuratif, penggunaan kohesi dan lain-lain sekaligus untuk mendapatkan keindahan yang menonjol. Keindahan dalam novel AAC bertujuan untuk mengikat pembaca sehingga mereka memahami pesan-pesan dengan baik. Pesan pengarang sangatlah penting bagi pembaca. Tanpa memahami pesan yang disampaikan tentunya tidak akan dapat menikmati dengan baik.
Menurut Kutha (2007: 236) stilistika berasal dari kata style yakni ilmu tentang gaya bahasa yang secara khusus dikaitkan dengan karya sastra. Selanjutnya dalam analisis Kutha stilistika meliputi semua ekspresi dan teknik yang bertujuan memberikan penjelasan yang ada pada semua bahasa. Untuk menganalisis bentuk stilistika dilakukan dengan cara pertama, analisis sistemis sistem sastra/bahasa yang dilanjutkan dengan analisis, dan kedua mengamati perbendaan antara gaya bahasa dengan bahasa yang digunakan secara umum.. Kedua analisis tersebut bertujuan untuk memahami pandangan pengarang dalam menuangkan ide dan memahami teks secara menyeluruh dari aspek kebahasaan.
2.2 Pengajaran Sastra di SMA
Dunia pendidikan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini diramaikan oleh pergantian kurikulum. Kurikulum yang berlaku sampai tahun 2006 adalah Kurikulum 1994. Kurikulum ini mengalami penyempurnaan dan hasil penyempurnaan ini adalah Kurikulum 2004 atau juga dikenal dengan sebutan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Ketika KBK ramai dibicarakan dan muncul buku-buku pelajaran yang disusun berdasarkan kurikulum ini, muncul KTSP atau Kurikulum 2006 merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2004 atau yang juga dikenal dengan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Seperti KBK, KTSP berbasis kompetensi. KTSP memberikan kebebasan yang besar kepada sekolah untuk menyelenggarakan program pendidikan yang sesuai dengan (1) kondisi lingkungan sekolah, (2) kemampuan peserta didik, (3) sumber belajar yang tersedia, dan (4) kekhasan daerah. Dalam program pendidikan ini, orang tua dan masyarakat dapat terlibat secara aktif.
. KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan, dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan dengan memperhatikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Kurikulum ini juga dikenal dengan sebutan Kurikulum 2006 karena kurikulum ini mulai diberlakukan secara berangsur-angsur pada tahun ajaran 2006/2007. Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah harus sudah menerapkan kurikulum ini paling lambat pada tahun ajaran 2009/2010.
Upaya penyempurnaan kurikulum ini guna mewujudkan peningkatan mutu dan relevansi pendidikan yang harus dilakukan secara menyeluruh mencakup pengembangan dimensi manusia Indonesia seutuhnya, yakni aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, pengetahuan, keterampilan, kesehatan, seni dan budaya. Pengembangan aspek-aspek tersebut bermuara pada peningkatan dan pengembangan kecakapan hidup yang diwujudkan melalui pencapaian kompetensi peserta didik untuk bertahan hidup serta menyesuaikan diri dan berhasil dalam kehidupan. Kurikulum ini dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan kebutuhan dan keadaan daerah dan sekolah. Kebutuhan itulah yang dikemas dalam bentuk standar kompetensi.
Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa, bahwa belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tertulis serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia. Standar kompetensi ini dimaksudkan agar siswa siap mengakses situasi multiglobal lokal yang berorientasi pada keterbukaan dan kemasadepanan. Kurikulum ini diarahkan agar siswa terbuka terhadap beraneka ragam informasi yang hadir di sekitar kita dan dapat menyaring yang berguna, belajar menjadi diri sendiri, dan siswa menyadari akan eksistensi budayanya sehingga tidak tercerabut dari lingkungannya.
Standar kompetensi tersebut disiapkan dengan mempertimbangkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara serta sastra Indonesia sebagai hasil cipta intelektual produk budaya, yang berkonsekuensi pada fungsi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai (1) sarana pembinaan kesatuan dan persatuan bangsa, (2) sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya, (3) sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan untuk meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, (4) sarana penyebarluasan pemakaian bahasa Indonesia yang baik untuk berbagai keperluan menyangkut berbagai masalah, (5) sarana pengembangan penalaran, dan (6) sarana pemahaman beraneka ragam budaya Indonesia melalui khazanah kesusasteraan Indonesia.
Secara umum tujuan pengajaran sastra adalah sebagai berikut:
- Siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
- Siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
Kompetensi dasar yang dapat diimplikasikan dalam pembelajaran sastra sebagai berikut.
- Kelas X
- Kelas XI
- Kelas XII
- menganalisis keterkaitan unsur intrinsik suatu cerpen dengan kehidupan sehari-hari
- mengidentifikasi karakteristik dan struktur unsur intrinsik sastra.
- menganalisis unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Indonesia.
- Membandingkan unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Indonesia/ terjemahan dengan hikayat
- menjelaskan unsur-unsur intrinsik cerpen
Mengingat bahasa ajar KTSP dikembangkan dan disusun oleh satuan pendidikan atau sekolah sesuai dengan kondisinya masing-masing, setiap sekolah mempunyai kurikulum yang berbeda. Dengan demikian, bahan ajar yang digunakan juga mempunyai perbedaan. Tidak ada ketentuan tentang buku pelajaran yang dipakai dalam KTSP. Buku yang sudah ada dapat dipakai. Karena pembelajaran didasarkan pada kurikulum yang dikembangkan sekolah, bahan ajar harus disesuaikan dengan kurikulum tersebut. Oleh karena itu, guru dapat menambah isi buku pelajaran yang digunakan.
2.3 Implikasi Gaya Bahasa dalam Novel AAC terhadap Pengajaran Sastra di SMA
Dari kelima Kompetensi Dasar (KD) dapat dikembangkan melalui novel AAC sebagai alternatif bahan ajar novel Indonesia.. Gaya bahasa yang terdapat dalam novel AAC merupakan bagian unsur intrinsik, sehingga gaya bahasa ini berimplikasi terhadap pengajaran sastra di SMA. Berkaitan dengan gaya bahasa dalam novel AAC dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengapresiasi karya sastra untuk mempertajam perasaan, meningkat penalaran,. dan daya imajinasi, serta meningkatkan kepekaan terhadap masyarakat dan lingkungan hidup.
Barkaitan dengan hal itu, guru mempunyai ciri-ciri khas dalam menyampaikan materi pelajaran di depan kelas. Dari ciri tersebut guru mempunyai strategi yang baik dan dapat menggugah gairah siswa untuk mengikuti pelajaran dengan baik. Tuntut inilah yang para guru harus mereposisi bagaiamana mengajara yang baik, khususnya guru BI dalam pengajaran sastra.
Menurut Gani (1998:294) bahwa pengajaran sastra mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi perilkau secara langsung.. Selanjutnya Gani mengatakan bahwa pengajaran sastra terdapat enam wilayah respon siswa dalam proses belajara mengajara sastra yaitu (1) Penilaian sastra, siswa menilai sastra dan kualitas estetiknya.. (2) Penafsiran sastra, siswa berupaya mengungkapkan makna sebuah cerita dan motif perwatakannya. (3) Penyimpulan sastra, siswa menyimpulkan peristiwa-peristiwa yang terkandung dalam sebuah cipta sastra. (4) Pengasosian sastra, siswa menghubungkan pengalaman pribadinya dengan orang-orang, tempat-tempat, dan peristiwa yang terkait dalam sebuah karya sastra. (5) Pelibatan dalam sastra, siswa mengidentifikasi dirinya dengan pengalaman-pengalaman dari emosinya. (6) Penjabaran sastra, siswa menentukan apa yang harus dilakukan. (1998:294).
Pengajaran sastra termasuk dalam tiga kategori yaitu rahah kognitif, ranah, afektif, dan ranah psikomotor. Ranah kognitif terdapat respon yang diberikan siswa berbentuk penafsiran terhadap apa yang yang telah dibaca, sehingga ranah ini paling awal dalam proses belajar mengajar. Guru bisa menilai siswa secara sepintas pengetahuan yang diperoleh dari hasil membaca karya sastra. Ranah afektif terdapat respon yang diberikan siswa atas pelibatan terhadap karya sastra yang dibacanya, sehingga guru dapat mengetahui perubahan apa yang terjadi pada diri siswa setelah membaca karya sastra. Ranah psikomotor terdapat respon yang diberikan siswa bagaimana dapat menerapkan nilai-nilai karya sastra dalam kehiudpan sehari-hari.
Teknik pengajaran sastra di SMA dan implikasinya secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut.
1) Guru membatasi tujuan dalam pengajaran sastra yaitu gaya bahasa. Implikasinya guru membimbing siswa senantiasa mengetahui dengan jelas tujuan yang akan dipelajari. Pembiasaan ini dapat membantu siswa berfikir kritis dan bekerja dengan konsisten dengan pencapaian tujuan-tujuan.
2) Guru memfokuskan pada proses belajar mengajar. Implikasinya guru mendorong siswaagar meningkatkan keterampilan membaca pemahamannya dalam bentuk kegiatan terstruktur dan mandiri, sehingga siswa secara tepat dapat memberikan respon dan analisisnya.
3) Guru menempatkan teks dalam satu fokus yaitu dengan meminta hasil pencarian gaya bahasa. Implikasinya siswa harus terlatih dalam dua hal yaitu terampil membuat catatan kecil dari hasil analisis dan terampil membaca estetik.
4) Dalam rangka peningkatan citarasa sastra siswa, guru perlu senantiasa kreatif meningkatkan proses berpikir siswa. Implikasinya dalam proses diskusi hasil analisis gaya bahasa, guru harus selalu mengikuti dengan cermat jalannya diskusi. Guru hendaknya jangan terlalu berorientasi pada hasil diskusi, akan tetap mengaktifkan diskusi.
5) Sering kali proses pengajaran sastra langsung mengacu pada hal yang abstrak, tanpa melalui tahapan yang konkret. Implikasinya siswa kehilangan persepsi dalam merespon dan mengalaisis gaya bahasa yang disajikan guru
6) Guru harus dengan sabar membimbing siswa menemukan gaya bahasa sesuai dengan tujuan yang telah disampaikan. Implikasinya guru hendaknya membantu siswa dengan memberikan rambu-rambu yang praktis dan menantang
7) Pada akhir kegiatan guru membantu siswa dalam merumuskan simpulan dari pembelajaran. Implikasinya guru mampu mengarahkan agar simpulan yang disailkan siswa lebih baik dan terarah sesuai dengan tujuan pengajaran.
Profesionalisme guru sangat menentukan keberasilan belajar siswa. Menurut Hamalik (1990), profil kemampuan dasar guru mencakupi: (1) kemampuan menguasai bahan, (2) kemampuan mengelola program belajar-mengajar, (3) kemampuan mengelola kelas, (4) kemampuan menggunakan media dan sumber; (5) kemampuan menguasai landasan pendidikan, (6) kemampuan menilai prestasi belajar siswa, (7) kemampuan mengelola interaksi belajar-mengajar, dan sebagainya.
- 3. Metode Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan stilistika. Pendekatan ini digunakan untuk menganalisis tanda dan bentuk kebahasaan yang dipergunakan pengarang sebagai pernyataan lahiriah. Selain itu, pendekatan stilistika digunakan untuk menganalisis penggunaan sistem tanda yang mengandung ide, gagasan dan nilai estetis tertentu, sekaligus untuk memahami makna yang dikandungnya. Menurut Teeuw (1984:76) bahwa mendekati sebuah teks bahasa dapat melalui berbagai sudut pandang, bergantung pada fokus penelitian.
Adapun ciri-ciri stilistika menurut Pradopo (1999:97) mempunyai prinsip yaitu, (1) penggunaan bahasa dalam karya sastra atau teks berbeda dari penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari, (2) pengkajian terpusat pada bahasa sebagai medium komunikasi, (3) menekankan pada apa yang diberikan oleh setiap orang atau setiap zaman, dan (4) tujuan stilistika untuk memberikan pemahaman pada pembacanya.
Pendekatan ini digunakan dengan alasan, data penelitian berupa penggalan-penggalan teks yang diduga berisi kalimat-kalimat bergaya bahasa tertentu dalam novel AAC. Analisis ini bertolak dari simpulan menyangkut cara yang digunakan dalam memaparkan gagasan ideal yang dapat dirujukkan pada gejolak objektif dari sistem tanda yang ada dalam novel sebagai sasaran analisis (Aminuddin 1997:74).
3.1 Data Penelitian
Data penelitian ini berupa data karya sastra dan data pembelajaran. Data karya sastra berupa penggalan teks yang diduga berisi kalimat-kalimat bergaya bahasa tertentu. Data penelitian itu berasal dari novel AAC karya Habiburraman El Shirazy. Sementara penggalan-penggalan teks yang diduga berisi kalimat-kalimat bergaya bahasa tertentu dalam novel AAC berjumlah sekitar 303 penggalan teks dijadikan sebagai data penelitian. Sedangkan data pembelajaran berupa butir-butir kompetensi dasar yang terdapat dalam kurikulum pada masing-masing tingkat kelas yaitu kelas X, XI, dan XII,
3.2 Sumber Data Penelitian
Sumber data penelitian ini berupa novel Ayat-ayat Cinta. Novel ini karya Habiburrahman El Shirazy yang diterbitkan oleh Penerbit Republika. Novel AAC dalam penelitian ini dicetak pada bulan April 2008 merupakan cetakan ke-42.
- 4. Gaya Bahasa dalam Novel Ayat-ayat CintaKarya Habiburahman El Shirazy
Struktur kalimat dapat dijadikan sebagai landasan untuk menciptakan gaya bahasa. Yang dimaksud dengan struktur kalimat di sini adalah kalimat bagaimana tempat sebuah unsur kalimat yang dipentingkan dalam kalimat tersebut. Ada kalimat yang bersifat periodik, bila bagian yang terpenting atau gagasan yang mendapat penekanan ditempatkan pada akhir kalimat.
Berdasarkan ketiga macam struktur kalimat sebagaimana yang dikemukakan dapat diperoleh jenis-jenis gaya bahasa klimaks, antiklimaks, paralelisme, antitesis, dan retoris. Gaya bahasa retoris dibedakan atas anafora, epizeukis dan tautotes. Sedangkan gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna dibagi dua kelompok yaitu gaya bahasa retoris dan gaya bahasa kiasan. Gaya bahasa retoris dibedakan menjadi (1) hiperbola, (2) silepsis, (3) aliterasi, (4) litotes, (5) asonansi, (6) eufemisme, (7) pleonasme, (8) paradoks, dan (9) retoris. Sedangkan gaya bahasa kiasan dibedakan menjadi (1) personifikasi, (2) ironi, (3) sarkasme, (4) metafora, (5) perumpamaan/simile, dan (6) metonimia
4.1 Gaya Bahasa Klimaks
Gaya bahasa ini ditemukan dalam novel AAC seperti dalam penggalan teks berikut.
(1) Meskipun butut, ini adalah tas bersejarah yang setia menemani diriku menuntut ilmu sejak di Madrasah Aliyah sampai saat ini, saat menempuh S.2. di universitas tertua di dunia (hal. 5).
Pada penggalan teks (1) terdapat penggunaan gaya bahasa klimaks yang ditandai kelompok kata seperti sejak di Madrasah Aliyah, saat ini, menempuh S.2. Urutan pikiran yang makin meningkat berdasarkan kepentingan merupakan bentuk klimaks.
4.2 Gaya Bahasa Antiklimaks
Penggunaan kalimat yang bergaya bahasa antiklimaks. Terdapat pada penggalan teks berikut.
(2) Sahabat nabi itu lalu meninggalkan diriku. Semakin lama semakin jauh. Mengecil. Menjadi titik. Dan hilang. Aku merasa kehilangan dan sedih. Mataku basah (hal. 135.)
Pengurutan acuan terdapat dalam penggalan teks (2) yang diawali dengan urutan yang lebih penting. Kelompok kalimat tersebut seperti, meninggalkan diriku, lama semakin jauh, mengecil, menjadi titik, dan hilang.
4.3 Gaya Bahasa Paralelisme
Dalam novel AAC ditemukan penggalan teks yang berisi kalimat yang bergaya bahasa paralelisme. Penggalan teks itu ditandai dengan huruf yang bercetak tebal merupakan bentuk gaya bahasa paralelisme. Gaya bahasa dalam novel AAC terdapat lima yang ditemukan. Seperti pada penggalan teks (3) yang ditandai dengan kelompok kata yang menunjukkan keparalelismean.
(3) Tengah hari ini, kota Cairo seakan membara. Matahari berpijar di tengah petala langit. Seumpama lidah api yang menjulur dan dan menjilat-jilat bumi. Tanah dan pasir menguapkan bau neraka
Penggunaan gaya bahasa paralelisme pada penggalan teks (3) terdapat seakan membara, matahari berpijar. Kata membara sejajar dengan kata berpijar. Sedangkan lidah api yang menjulur, sejajar dengan menjilat-jilat bumi.
4.4 Gaya Bahasa Antitesis
Dalam novel AAC ditemukan penggalan teks yang berisi kalimat yang bergaya bahasa antitesis.
(4) Awal-awal Agustus biasanya pengumuman keluar. Namun sampai hari ini, pengumuman belum juga keluar (hal 5).
Kalimat yang bergaya bahasa antitesis terdapat dalam penggalan teks (4). Hal itu ditandai dengan dengan kata hubung namun. Kata namun tercermin bentuk berlawanan, di mana pada bulan Agustus biasanya pengumuman keluar, tetapi ternyata pada hari ini belum ada pengumuman.
4. 5 Gaya Bahasa Anafora
Anafora adalah gaya bahasa repetisi yang berwujud pengulangan kata pertama pada tiap baris atau kalimat berikutnya. Hal itu ditemukan dalam novel AAC yaitu penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa anafora.
(5) Tak kenal kata absen. Tak kenal cuaca dan musim. (hal 3)
Pengulangan kelompok kata tak kenal terdapat dalam penggalan teks (5). Kelompok kata itu diulang kembali pada kelimat kedua.
4.6 Gaya Bahasa Epizeuksis
Epizeukis termasuk dalam kelompok gaya bahasa repetisi. Epizeuksis adalah repetisi yang bersifat langsung, artinya kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut. Berikut penggalan teks berisi kalimat bergaya bahasa epizeukis yang terdapat dalam novel AAC sebagai berikut:.
(6) Aku satu-satunya orang asing, sekaligus satu-satunya yang dari Indonesia. (hal 3)
Pemakaian gaya bahasa epizeukis dalam penggalan teks (6) berupa penggalan kata satu-satunya yang diulang dua kali. Kata itu dipentingkan dalam kalimat.
4.7 Gaya Bahasa Tautotes
Tautotes termasuk dalam kelompok gaya bahasa repetisi. Tautotes adalah bentuk repitisi atas sepenggalan kata yang berulang-ulang dalam sepenggalan konstruksi. Hal itu ditemukan penggalan teks yang berisi kalimat yang bergaya bahasa tautotes.
(7) Dakwah ya dakwah, ibadah ya ibadah. (hal 69)
Penggunaan gaya bahasa dalam penggalan teks (7) terdapat pengulangan dalam satu konstruksi yaitu kata dakwah dan ibadah.
4.8 Gaya Bahasa Hiperbola
Gaya bahasa hiperbola adalah gaya bahasa yang berisi suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesarkan-besarkan sesuatu hal. Hal itu ditemukan dalam novel AAC sebagaimana penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa hiperbola
(8) Aku cepat-cepat melangkah ke jalan menuju masjid untuk shalat zhuhur. Panasnya bukan main (hal. 8).
Dalam penggalan teks (8) terdapat kelompok kata bukan main, yang terkandung maksud bahwa pada saat zhuhur terlalu panas dan tidak dapat ditentukan berapa derajat suhunya. Kelompok kata itu merupakan pembentuk gaya bahasa hiperbola.
4.9 Gaya Bahasa Silepsis
Dalam novel AAC terdapat penggalan teks yang berisi kalimat bergaya silepsis.sebagai berikut.
(9) Masalah hidayah dan iman adalah masalah misterius (hal 12.)
Penggunaan gaya bahasa silepsis pada penggalan teks (9) terdapat kata hidayah yang dihubungkan dengan masalah misterius. Hal ini dapat diketahui bahwa hidayah tidak dapat dimengerti oleh siapapun karena hidayah milik Allah yang merupakan masalah misterius.
4.1.2.1.3 Aliterasi
Dalam novel AAC ditemukan penggalan tek yang berisi kalimat yang bergaya bahasa aliterasi sebagai berikut.
(10) Lekak–lekuknya jelas. (hal. 20)
(11) Di antara kata – kata kasar yang ku dengar. (hal. 21)
Penggunaan gaya bahasa aliterasu dalam penggalan teks (10) dan (11) terdapat perulangan konsonan k pada kata lekak-lekuknya dan kata-kata kasar. Perulangan konsonan itu bertujuan memberi keindahan nada dalam kalimat. Di samping itu juga agar pembaca tidak mengalami bosan dalam membaca novel AAC.
4.10 Gaya Bahasa Litotes.
Gaya bahasa litotes ditemukan dalam novel AAC penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa litotes.
(12) Peninggalan kakek yang sangat sederhana dan sawah seperempat Bahu (hal 108).
Pada penggalan teks (12) terdapat ungkapan yang bertujuan merendahkan diri yaitu sawah seperempat Bahu..
4.11 Gaya Bahasa Asonansi
Dalam novel AAC ditemakan penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa asonansi sebagai berikut.
(13) Penuh rindu, mata bundaku, yang selaluku rindu (hal 106).
(14) Lampu-lampu telah menyala seperti bintang-bintang (hal 184).
(15) Selalu biasa, datar dan wajar (hal. 286).
Penggunaan gaya bahasa asonansi pada penggalan teks (13) terdapat perulangan vokal u pada kata penuh, rindu, bundaku, selalu, ku, rindu. Pada penggalan (14) terdapat perulangan vokal a pada kata menyala, bintang-bintang. Dan penggalan teks (15) terdapat perulangan vokal a pada kata biasa, datar dan wajar.
4.12 Gaya Bahasa Eufemisme
Gaya bahasa eufemisme ditemukan penggalan teks dalam novel AAC yang berisi kalimat bergaya bahasa eufemisme.
(16) Dan perjuangan seorang muslim sejati kata imam Ahmad bin Hanbal, “Tidak akan berhenti kecuali ketika kedua kakinya telah menginjak pintu surga” (hal 41).
Pada penggalan teks (16) terdapat kalimat tidak akan berhenti kecuali ketika kedua kakinya telah menginjak pintu surga. Kalimat itu terkandung maksud bila kita berjuang tidak tanggung-tanggung atau setengah hati, melainkan dengan sepenuh hati secara totalitas.
4.13 Gaya Bahasa Pleonasme
Berikut penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa pleonasme.
(17) Aku sudah bisa makan sendiri dengan kedua tanganku sendiri (hal. 41)
Penggunaan gaya bahasa pleonasme pada penggalan teks (17) terdapat ungkapan dengan kedua tangan sendiri pada dasarnya terkandung maksud sama dengan makan sendiri sehingga bila dengan kedua tanganku sendiri, tidak dituliskan maka maksudnya tetap utuh.
4.14 Gaya Bahasa Paradoks
Dalam novel AAC ditemukan penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa paradoks.
(18) Meletakan tangan kanannya di pundak kiriku (hal. 15).
Pada penggalan teks (18) terdapat ungkapan tangan kanannya. Ungkapan itu terkandung maksud pertentrangan dengan kata di pundak kiriku.
4.15 Gaya Bahasa Retoris
Gaya bahasa retoris ditemukan dalam novel AAC penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa retoris. Berikur penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa retoris.
(19) Tapi relakan ongkos dakwah dan ibadah dibebankan orang lain? (Hal : 74).
Dalam penggalan teks (19) adalah kalimat yang tidak memerlukan jawaban. Kalimat itu sudah terkandung makna yang utuh sehingga pembaca tanpa menjawab pun sudah tahu maksudnya.
4.16 Gaya Bahasa ersonifikasi
Dalam novel AAC ditemukan penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa personifikasi. Berikut penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa personifikasi.
(20) Seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi. (hal 2)
Gaya bahasa personifikasi terdapat dalam penggalan teks (20) adalah lidah api yang seolah-olah berperilaku seperti manusia (bernyawa) yakni menjulur dan menjilat-jilat. Hal yang dipaparkan dalam penggalan teks itu menandaskan bahwa lidah api atau sinar matahari yang bersinar ke bumi.
4.17Gaya Bahasa Ironi
Dalam novel AAC ditemuakan penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa ironi. Berikut penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa ironi.
(21) Ia telah ditolong tapi memfitnah orang yang dengan tulus hati menolongnya. (hal.296).
Dalam penggalan teks (21) terkandung maksud bahwa ia telah ditolong tetapi malah memfitnah kepada orang yang dengan tulus menolong.
4.18 Gaya Bahasa Sarkasme
Hal itu ditemukan penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa sarkasme dalam novel AAC. Berikut ini penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa sarkasme.
(22) “Ayolah khoemeini benar Amerika itu setan! Setan harus dibunuh (hal, 26)
Gaya bahasa sarkasme yang terdapat dalam penggalan teks (22) adalah Amerika itu setan! Setan harus dibunuh. Ungkapan itu dipaparkan bentuk makian kepada negara Amerika.
4.19 Gaya Bahasa Metafora
Gaya bahasa metafora adalah gaya bahasa yang membandingkan dua hal secara langsung yang memiliki sifat yang sama, tetapi dalam bentuk singkat. Hal itu ditemuakn penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa metafora dalam novel AAC. Berikut penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa metafora.
(23) Matahari berpijar di tengah petala langit. (hal 2)
Pada penggalan teks (23) terdapat ungkapan petala langit yang berarti tingkatan langit yang paling tinggi sehingga kedudukan matahari disamakan dengan petala langit yang tingkatnya tinggi dan jauh.
4.20 Gaya Bahasa Perumpamaan atau Smile
Dalam novel AAC ditemukan penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa perumpaman/simile. Berikut penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa perumpamaan/simile.
(24) Tengah hari ini Kota Cairo seakan membara (hal 2).
Dalam penggalan teks (24) terdapar gaya bahasa perumpamaan/simile. Hal ini ditandai dengan adanya kata hubung seakan. Kata seakan adalah ciri dari gaya bahasa ini.
4.21 Gaya Bahasa Metonimia
Dalam novel AAC ditemukan penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa metonimia. Berikut penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa metonimia.
(25) Sebab dia pernah bilang jika kuliah nanti ingin mengambil Sastra Perancis (hal. 76).
Ciri kalimat yang bergaya bahasa metonimia yang terdapat pada penggalan teks (25) adalah Sastra Prancis yang terkandung maksud bahwa ia kuliah pada jurusan sastra Perancis.
Secara keseluruhan bahwa novel AAC sangat padat dengan gaya bahasa. Jenis gaya bahasa yang dapat ditemukan dengan jumlah penggalan teks seperti dalam tabel berikut.
Tabel 1. Jenis dan Jumlah Gaya Bahasa dalam Novel AAC
|
No |
Jenis Gaya Bahasa |
Jumlah Gaya Bahasa |
Keterangan |
|
1 |
Klimaks |
3 |
Halaman 4, 5, 241 |
|
2 |
Antiklimaks |
3 |
Halaman 135, 141, 284 |
|
3 |
Paralelisme |
7 |
Halaman 135, 139, 149, 153, 277, 304 |
|
4 |
Antitesis |
22 |
Halaman 3, 5, 10, 11, 14, 107, 133, 159, 164, 171, 237, 241, 251, 269, 278, 280, 288, 295 |
|
5 |
Anafora |
11 |
Halaman 3, 6, 67,68, 69, 134, 136, 137, 144, 163, 187, |
|
6 |
Epizeuksis |
6 |
Halaman 3, 5 67, 68, 159, 160 |
|
7 |
Tautotes |
5 |
Halaman 69, 159, 160, 205 |
|
8 |
Hiperbola |
84 |
Halaman 8,, 12, 17, 18, 21, 22, 27, 28, 30, 35, 36, 41, 43, 44, 67, 68, 71, 75, 95, 9, 106, 107, 108, 113, 114, 146, 150, 151, 154, 155, 156, 157, 160, 161, 165, 166, 174, 175, 178, 183, 186, 190, 195, 196, 28, 214, 219, 237, 239, 240, 244, 254, 255, 256, 260, 261, 268, 272, 282, 284, 288, 289, 294, 312, |
|
9 |
Silepsis |
5 |
Halaman 12, 13, 76, 148 |
|
10 |
Aliterasi |
3 |
Halaman 20, 21, 306 |
|
11 |
Litotes |
7 |
Halaman 108, 166, 167, 178, 219, 289 |
|
12 |
Asonansi |
3 |
Halaman 106, 184, 286 |
|
13 |
Eufemisme |
8 |
Halaman 41, 68, 73, 223, 264, 277, 280 |
|
14 |
Pleonasme |
2 |
Halaman 141, 258 |
|
15 |
Paradoks |
7 |
Halaman 15, 24, 26, 43, 45, 47, 294 |
|
16 |
Retoris |
3 |
Halaman 74, 219, 241 |
|
17 |
Personifikasi |
54 |
Halaman 2, 4, 7, 12, 13, 15, 18, 19,24, 31, 32, 35, 36, 38, 41, 44, 50, 67, 71, 73, 75, 78, 93, 95, 97, 99, 106, 113, 115, 117, 144, 150, 151, 152, 153, 162, 165, 169, 267, 302, 304, 307, 308 |
|
18 |
Ironi |
1 |
Halaman 296 |
|
19 |
Sarkasme |
9 |
Halaman 26, 27, 238, 239, 240, 241, 242, 258, 297 |
|
20 |
Metafora |
13 |
Halaman 2, 3, 16, 20, 22, 25, 27, 30, 53, 118 |
|
21 |
Perumpamaan/Simile |
44 |
Halaman 2, 6, 7, 12, 20, 27, 29, 30, 31, 35, 36, 39, 3, 44, 47, 68, 71, 107, 138, 140, 157, 199, 202, 212220, 222, 223, 227, 230, 231, 232, 236, 241, 245, 251, 256, 259, 264, 285 |
|
22 |
Metonimia |
3 |
Halaman 76, 78, 113 |
|
Jumlah sekuruh |
303 |
||
Berdasarkan uraian itu bahwa novel AAC sangat syarat dengan penggunaan gaya bahasa. Hal itu dapat dilihat dalam tabel itu. Sosok pengarang begitu lincahnya menggunakan gaya bahasa dalam mengungkapkan karya novelnya. Bahasa yang digunakan sangat sederhana, sehingga mudah dipahami. Hal itulah yang menyebabkan novel AAC mampu meledak di tengah-tengah minimnya novel religi pada saat ini.
Gaya bahasa novel AAC yang terdapat dalam Tabel 1, dapat dipaparkan bahwa terdapat gaya bahasa yang dominan. Gaya bahasa itu adalah gaya bahasa hiperbola yang berjumlah 84 penggalan. Pengarang novel AAC memperbanyak gaya bahasa seperti hiperbola, dengan tujuan untuk memberikan keindahan dan pengaruh yang kuat kepada pembaca. Dominasi gaya bahasa hiperbola dalam novel ini pun memberikan nuansa yang bombastis sehingga pembaca semakin bermiat untuk terus membaca novel itu
- 5. Implikasi Gaya Bahasa Novel Ayat-ayat Cinta Terhadap Pengajaran Sastra di SMA
Salah satu masalah dalam pengajaran satra adalah kurangnya kemampuan guru dalam memilih bahar ajar yang aktual dan bermanfaat. Hal ini sering terjadi siswa menjadi bosan bila sudah masuk pada ranah pengajaran sastra. Secara umum mempunya tanggung jawab dapat mengubah dan mampu memberikan yang terbaik bagi siswa. Bahan ajar yang disajikan diharapkan dapat menggairahkan dan menyenangkan.
Novel AAC salah satu novel yang dapat memberikan gairah dan rasa senang siswa untuk membacanya. Secara umum novel AAC mempunyai daya tarik tersendiri bagi pembacanya. Hal ini dapat memberikan semangat kepada siswa untuk meningkatkan salah satu kompetensi kamahiran berbahasa.
Dalam belajar bahasa Indonesia dikenal empat macam kemahiran bahasa, yaitu kemahiran mendengar, membaca, berbicara, dan menulis. Kemahiran mendengar dan membaca bersifat reseptif, sedang kemahiran berbicara dan menulis bersifat produktif. Penguasaan bahasa yang ideal mencakup keempat jenis kemahiran tersebut, walaupun kenyataannya masih ada siswa yang malas membaca dan rendah kemampuan menulis. Sehingga dengan novel AAC sebagai salah satu bahan ajar pengajaran sastra dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa.
Bahan ajar novel AAC dapat memberikan solusi bagi guru yang mengalami kesulitan menjangkau novel-novel angkatan 20-an, seperti Belenggu, Siti Nurbaya, Salah Pilih, Salah Asuhan. Karena novel tersebut sekarang ini di samping susah didapat, juga bahasanya sukar dipahami. Kendala inilah yang mengakibatkan siswa enggan membaca novel tersebut. Sehingga novel AAC adalah salah satu novel yang dapat digunakan dalam pembelajarn sastra.
Kompetensi dasar (KD) dapat dikembangkan melalui novel AAC sebagai bahan ajar novel Indonesia.. Gaya bahasa yang terdapat dalam novel AAC merupakan bagian unsur intrinsik, sehingga gaya bahasa ini berimplikasi terhadap pengajaran sastra di SMA.
Untuk menciptakan komunikasi yang baik antara pembelajar dan pengajar, diperlukan materi pelajaran yang fungsional.. Secara fungsional novel AAC sebagai salah satu bahan ajar, novel AAC memberikan gairah baru terhadp pengajaran sastra di SMA yang cenderung terpaku pada silabus. Guru dituntut lebih aktif dan kreatif dalam mengembangkan bahan ajar yang lebih aktual. Kemampuan guru sangatlah penting, agar minat siswa dalam pengajaran sastra makin meningkat.
Tujuan pengajaran sastra secara umum adalah dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengapresiasi karya sastra untuk mempertajam perasaan, meningkatkan penalaran,. dan daya imajinasi, serta meningkatkan kepekaan terhadap masyarakat, budaya, dan lingkungan hidup. Berkaitan dengan tujuan itu maka gaya bahasa dalam novel AAC. akan berdampak positif pada siswa.
Proses pengajaran analisis gaya bahasa dalam novel AAC merupakan bagian belajar membaca dan menghayati isi wacana yang dibacanya. Hal ini berarti, sebelum guru memberikan tugas analisis harus diawali dengan informasi-informasi. Karena tingkat pemahaman masing-masing siswa berbeda satu dengan yang lain. Ada siswa yang mudah mencerna informasin, ada pula yang lambat sehingga guru harus mampu mengondisikan situasi awal.
Teknik pembelajaran ini dilaksanakan dalam tiga tahapan, yaitu tahap prabacaan, bacaan, dan pascabacaan. Setiap tahap harus dilakukan karena tahap yang satu menjadi prasyarat bagi tahap lainnya, dan keberhasilan pelajaran membaca ditentukan oleh ketiga tahapan itu.
1) Prabaca
Pada tahap prabaca yang dilakukan guru sebagai berikut.
(1) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran. Dalam merancang prses belajar mengajar khususnya gaya bahasa, guru dengan cermat menj abarkan tujuan-tujuan yang akan dicapai siswa. Tujuan-tujuan tersebut sebaiknya diketahui siswa dengan tuntas sebelum prose belajar mengajar berlangsung
(2) Guru memperkenalkan tipe naskah dalam novel yang akan dipelajari.
(3) Guru menyampaikan gambaran umum mengenai topik yang akan dibahas.
Tahap prabaca berfungsi sebagai dasar dari keseluruhan pelajaran membaca. Hal ini berarti bahwa siswa akan mengalami kesulitan mengikuti pelajaran ini. Oleh karena itu siswa harus dibekali informasi dan pikiran yang tepat mengenai naskah yang akan mereka baca. Untuk itu sebelum pelajaran membaca dimulai, guru mulai menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan topik yang akan dibahas.
.
2) Baca
Kegiatan membaca dimulai yang dilakukan guru sebagai berikut.
- Guru mendistribusikan naskah kepada para siswa.
- Siswa diminta membaca dan memahami isi naskah. Siswa bisa bertanya kepada guru bila mengalami kesulitan, sepertitidak paham makna kata, maksud kalimat dan lain-lian. Guru memberikan bimbingan dan arahan dengan tujuan agar siswa terampl membaca naskah. Dalam membimbing guru harus sabar membantu siswa menyadari bahwa membaca novel bukanlah proses membaca eferen melainkan proses membaca estetik
- Siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri atas 2 atau 3 orang. Dalam kelompok tersebut siswa berdiskusi dengan temannya mengenai topik dalam naskah.
- Guru mengecek pemahaman siswa dengan bertanya kepada para siswa satu per satu mengenai apa yang dikerjakan dan bagaimana hasilnya. Jika dalam materi pelajaran terdapat bagian yang harus diperankan, maka para pembelajar diminta untuk bermain peran (role play) mengenai hal tertentu.
- Siswa berdiskusi dalam kelompok untuk menemukan gaya bahasa dalam novel AAC. Guru harus dengan sabar membimbing siswa menemukan gaya bahasa sesuai dengan tujuan yang telah disampaikan
3) Pascabaca
Kegiatan pascabaca memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan refleksi pada apa yang telah dilakukan. Kegiatan ini merupakan bentuk perenungan. Guru harus merancang kegiatan seperti :
(1) Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendasar, namun tetap dalam jangkauan kemampuan dasar siswa.
(2) Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya. Dalam kegiatan guru hendanya jangan melayani pertanyaan-pertanyaan siswa yang terlalu sederhana.. Peringatkan siswa hanya mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang pantas ditanyakan. Peringatkan pada siswa untuk mengajukan pertanyaan yang bermutu dan baik.
(3) Berikan penilaian dan penghargaan yang baik kepada siswa yang pertanyaannya bermutu.
(4) Guru meminta hasil analisis gaya bahasa pada masing masing siswa.
(5) Di akhir kegiatan, guru dapat melakukan semacam tes pengelompokan tingkat, sehingga terjaring hingga tiga kelompok besar. Kelompok itu terdiri dari kelompok struktural, kelompok retorikal, dan kelompok simbolik.
Pada bagian pascabaca terdapat tugas yang harus dikerjakan oleh para siswa setelah pelajaran selesai. Siswa diberi pekerjaan rumah yang harus dikumpulkan pada hari berikutnya ketika pelajaran yang sama berlangsung lagi. Pekerjaan rumah siswa dari tahapan pascabaca itu harus diperiksa oleh guru hasilnya dikembalikan kepada siswa. Jika waktu tidak memungkinkan, bagian pascabaca ini tidak perlu dibahas di kelas, akan tetapi guru menyediakan waktu bagi siswa yang ingin menanyakan sesuatu terkait materi yang ada.
- 6. Penutup
Berdasarkan iuraikan pada bab IV dan V, dapat disimpulkan sebagai berikut. (1) Jenis gaya bahasa yang terdapat dalam novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburraman El Shirazy adalah gaya bahasa klimaks, antiklimaks, paralelisme, antitesis, repetisi, hiperbola, silepsis, aliterasi, litotes, asonansi, eufemisme, pleonasme, paradoks, retoris, personifikasi, ironi, sarkasme, metafora, permpamaan/simile dan metonimia. (2) Gaya bahasa yang dominan dalam novel Ayat-ayat Cinta adalah gaya bahasa hiperbola. (3) Implikasi gaya bahasa dalam novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburraman El Shirazy terhadap pengajaran sastra di SMA adalah dititikberatkan pada sumber bahan ajar yang mengacu pada tujuan pengajaran sastsa. Implikasi gaya bahasa novel AAC seperti mempertajam perasaan, meningkatkan penalaran dan daya imajinasi serta meningkatkan kepekaan terhadap masyarakat, budaya dan lingkungan hidup. Sementara dalam pembelajarannya bergantung pada bagaimana guru berkreasi. Guru harus mempunyai ciri-ciri khas dalam menyampaikan materi pelajaran di depan kelas. Dari ciri tersebut guru mempunyai strategi yang baik dan dapat menggugah gairah siswa untuk mengikuti pelajaran dengan baik.
Sesuai dengan simpulan itu dapat dikemukakan saran bahwa novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburraman El Shirazy merupakan penelitian awal gaya bahasa. Hasil penelitian masih belum lengkap sehingga hasil penelitian ini dapat menjadi bahan acuan kepada siapa pun untuk penelitian lajut dan untuk dikaji lebih luas dari penelitian ini. Juga dapat digunakan sebagai sumbangan dalam pengembangan di dunia pendidikan terutama di bidang sastra. Dari hasil analisis gaya bahasa dalam novel Ayat-ayat Cinta sangatlah berguna untuk pengembangan bahan ajar, khususnya terhadap pengajaran sastra SMA.
Daftar Pustaka
Amin. 2006. Pengajaran Bahasa Indonesia di SMA. http://amin.blogsome.com/2006/10/18/p6/trackback/
Aminuddin. 1999. Stilistika: Pengantar Memahami dalam Karya Sastra. IKIP Semarang Press. Semarang.
_________. 2004. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo
Chamamah-Soeratno,Siti.1991.Hikayat Iskandar Zulkarnain: Analisis Resepsi. Jakarta: Balai Pustaka.
Diknas, 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jakarta. Diknas
Gani, Rizanur. 1988. Pengajaran Sastra Indonesia : Respon dan Analisis. Jakarta: Depdikbud, Dirjen Pendidikan Tinggi
Hamalik, Oemar. 1990. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Kusmini. 1998. Diksi dan Gaya Bahasa dalam Iklan Berbahasa Indonesia di Radio. IKIP Semarang. Tidak dipublikasikan.
Keraf, Gorys. 2008. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.
Kutha, Nyoman, 2007. Estetika Sastra dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Lambang, Sri. 2001. Jenis-jenis Diksi dan Gaya Bahasa pada Teks Lagu Karya Ebiet G. Ade. IKIP Semarang. Tidak dipublikasikan
Muslahuddin. 2001. Gaya BahasaRetoris dalam Iklan Berbahasa Indonesia di Televisi. IKIP Semarang. Tidak dipublikasikan
Natawidjaja. P Suparman. 1997. Apresiasi Stilistika. Bandung: Intermasa
Nurgiantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: UGM Press.
Nursilowati. 2001. Gaya BahasaRoman La Barka Karya N.H. Dini. IKIP Semarang. Tidak dipublikasikan
|
Pradopo, Rachmat Djoko.1997. Pengkajian Puisi.Yogyakarta:Gajah Mada University Press.
________. 1999. Teori dan Metode Penelitian Sastra serta Peneraj. Dalam Lembaran sastra No. 17 Semarang: Fakultas Sastra UNDIP.
Rahmanto, B. 1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius
Rohani. 1994. Sajak-sajak Sepatu Tua Karya Rendra: Analisis Stilistika. IKIP Semarang. Tidak dipublikasikan.
Sayuti, Suminto A. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media.
Segers, Rien T. 1978. The Evaluation of Text.Lisse:The Peter de Ridder Perss.
Sudjiman, Panuti. 1993. Bunga Rampai Stilistika. Grafiti: Jakarta.
Supriyanti. 2002. Gaya Bahasa dalam Teks Berita Harian Umum Kompas. IKIP Semarang. Tidak dipublikasikan.
Susilowati. 1993. Karakteristik Novel La Rose. IKIP Semarang. Tidak dipublikasikan.
Supriyanto, Teguh. 1997. Gaya Bahasa Novel Bekisar Merah Karya Ahmad Tohari. IKIP Semarang. Tidak dipublikasikan.
Sutimah. 2000. Gaya Bahasa Novel Saman Karya Ayu Utami. Skripsi IKIP Semarang. Tidak dipublikasikan.
Teeuw, Andries. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar Teori Sastra. Jakarta:Pustaka Jaya
________.1988. Sastra dan Ilmu Sastra Pengantar Teori Sastra. Jakarta Pustaka:Jaya
Wellek dan Austin Warren. 1990. Teori Kesusastraan. Jakarta:PT Gramedia
Windasari. 1999. Gaya Bahasa dalam Roman Burung-Burung Manyar Karya Y.B. Mangunwijaya. IKIP semarang. Tidak dipublikasikan.
Wibowo, Wahyu. 2000. Manajemen Bahasa. Gramedia: Jakarta.
Yuliani. 2001. Gaya Bahasa Kumpulan Cerpen Singgasana Kecantikan Karya Kahlil Gibran. IKIP Semarang. Tidak dipublikasikan.
Zoest, Aart Van. 1993. Semiotika. Jakarta : Yayasan Sumber Agung
Zoest, Aart Van dan Panuti Sudjiman. 1992. Serba-serbi Semiotika. Jakarta : Gramedia Pustaka utama.



jenis2 sing lengkap ???