<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>NOL SATU Weblog</title>
	<atom:link href="http://khusnin.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://khusnin.wordpress.com</link>
	<description>Satu kata dalam perbuatan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Jan 2012 09:26:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='khusnin.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>NOL SATU Weblog</title>
		<link>http://khusnin.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://khusnin.wordpress.com/osd.xml" title="NOL SATU Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://khusnin.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>NILAI MATA KULIAH BAHASA INDONESIA  MAHASISWA AKPER MUHAMMADIYAH KENDAL TAHUN 2012</title>
		<link>http://khusnin.wordpress.com/2012/01/10/nilai-mata-kuliah-bahasa-indonesia-mahasiswa-akper-muhammadiyah-kendal-tahun-2012/</link>
		<comments>http://khusnin.wordpress.com/2012/01/10/nilai-mata-kuliah-bahasa-indonesia-mahasiswa-akper-muhammadiyah-kendal-tahun-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 21:33:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khusnin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hasil Ulangan]]></category>
		<category><![CDATA[terima kasih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khusnin.wordpress.com/?p=622</guid>
		<description><![CDATA[An da dapat mengakses  nilai Mata Kuliah bahasa Indonesia Bisa lihat pengumuman  di kampus Bagi yang masih ada masalah silakan  menghubungi dosen pengampu mata kuliah Terima kasih<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khusnin.wordpress.com&amp;blog=4690334&amp;post=622&amp;subd=khusnin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>An da dapat mengakses  nilai Mata Kuliah bahasa Indonesia Bisa lihat pengumuman  di kampus</p>
<p>Bagi yang masih ada masalah silakan  menghubungi dosen pengampu mata kuliah</p>
<p>Terima kasih</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khusnin.wordpress.com/622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khusnin.wordpress.com/622/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khusnin.wordpress.com/622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khusnin.wordpress.com/622/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/khusnin.wordpress.com/622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/khusnin.wordpress.com/622/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/khusnin.wordpress.com/622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/khusnin.wordpress.com/622/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khusnin.wordpress.com/622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khusnin.wordpress.com/622/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khusnin.wordpress.com/622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khusnin.wordpress.com/622/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khusnin.wordpress.com/622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khusnin.wordpress.com/622/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khusnin.wordpress.com&amp;blog=4690334&amp;post=622&amp;subd=khusnin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khusnin.wordpress.com/2012/01/10/nilai-mata-kuliah-bahasa-indonesia-mahasiswa-akper-muhammadiyah-kendal-tahun-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c1eb16f42d3c4b04e6d11ae916f4569?s=96&#38;d=retro" medium="image">
			<media:title type="html">khusnin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEDIA INTERAKTIF DALAM PEMBELAJARAN BAHASA</title>
		<link>http://khusnin.wordpress.com/2011/12/05/media-interaktif-dalam-pembelajaran-bahasa/</link>
		<comments>http://khusnin.wordpress.com/2011/12/05/media-interaktif-dalam-pembelajaran-bahasa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 23:26:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khusnin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khusnin.wordpress.com/?p=615</guid>
		<description><![CDATA[Sampai saat ini media pembelajaran interaktif BIPA belum berkembang dengan optimal di Indonesia. Salah satu kendala pengembangan media pembelajaran interaktif adalah kurang dikuasainya teknologi pengembangan media interaktif oleh para pengajar dan pengelola BIPA di Indonesia. Piranti lunak pengembangan materi pembelajaran yang ada saat ini seperti Course Builder, Visual Basic,  atau Dream weaver cukup rumit sehingga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khusnin.wordpress.com&amp;blog=4690334&amp;post=615&amp;subd=khusnin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sampai saat ini media pembelajaran interaktif BIPA belum berkembang dengan optimal di Indonesia. Salah satu kendala pengembangan media pembelajaran interaktif adalah kurang dikuasainya teknologi pengembangan media interaktif oleh para pengajar dan pengelola BIPA di Indonesia.</p>
<p>Piranti lunak pengembangan materi pembelajaran yang ada saat ini seperti Course Builder, Visual Basic,  atau Dream weaver cukup rumit sehingga hanya dikuasai oleh para pemrogram komputer sedangkan pengelola BIPA pada umumnya hanya menguasai  pembelajaran bahasa. Jadi pengembangan materi pembelajaran interaktif dengan komputer kurang optimal.</p>
<p>Pengembangan media pembelajaran BIPA interaktif bisa optimal dengan kerjasama antara programer komputer dengan pengelola program BIPA. Yang lebih ideal adalah seorang pengelaloa BIPA menguasai program komputer.</p>
<p>Tujuan dari lokakarya ini adalah membuat media pembelajaran BIPA secara mudah, bahkan untuk orang yang buta program komputer sekalipun.</p>
<p>Pembuatan media pembelajaran BIPA interaktif ini akan menggunakan piranti lunak presentasi Microsoft Powerpoint 2000, sebuah piranti lunak yang memberikan banyak sekali manfaat bagi pembelajaran bahasa. Dua keuntungan pokok dari piranti lunak ini adalah:</p>
<p><span id="more-615"></span></p>
<p>(a) tersedia di semua komputer berprogram Microsoft Office;</p>
<p>(b) dapat dikembangkan oleh orang yang buta program komputer.</p>
<p>Meskipun piranti lunak ini mudah dan sederhana namun dapat memberikan manfaat yang besar bagi pembelajaran bahasa. Piranti lunak ini dapat menampilkan teks, gambar, suara, dan video. Dengan demikian, piranti lunak ini bisa mengakomodasi semua kegiatan pembelajaran bahasa interaktif seperti mendengarkan, membaca, menulis dan juga bermain <em>language games</em>. Tampilan yang dihasilkan dari piranti lunak ini bisa semenarik program yang dibangun dengan piranti lunak yang canggih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h1>A.     Pembelajaran Bahasa</h1>
<p>Pembelajaran bahasa asing adalah sebuah proses yang kompleks dengan berbagai fenomena yang pelik sehingga tidak mengherankan kalau hal ini bisa mempunyai arti yang berbeda-beda bagi setiap orang (Ellis, 1994). Pembelajaran ini dipengaruhi beberapa faktor. Faktor-faktor utama yang berkaitan erat dengan pemerolehan bahasa asing adalah bahasa pembelajar, faktor eksternal pembelajar, faktor internal pembelajar, dan pembelajar sebagai individu.</p>
<p>Bahasa pembelajar adalah salah satu gejala yang banyak diamati para peneliti untuk melihat pemerolehan bahasa asing. Salah satu gejala dari bahasa pembelajar ini misalnya adalah kesalahan. Dengan mengamati kesalahan yang ada dapat dilihat proses pemerolehan bahasa seseorang yang pada gilirannya pendekatan pembelajaran atau pengajaran tertentu dapat diterapkan.</p>
<p>Faktor di luar ataupun di dalam pembelajr sendiri adalah aspek yang tidak kalah pentingnya untuk dapat memahami pemerolehan bahasa. Faktor di luar pembelajar misalnya adalah lingkungan dan interaksi. Dua faktor ini sangat mempengaruhi perkembangan pemerolehan bahasa asing. Sedangkan faktor internal dari pembelajar diantaranya adalah pengaruh dari bahasa pertama atau bahasa lain. Faktor lain yang tak kalah pentingnya adalah pembelajar sendiri sebagai seorang individu. Setiap pembelajar tentu mempunyai perbedaan dengan pembelajar lain. Mereka mempunyai strategi pembelajaran yang berbeda.</p>
<p>Media pembelajaran interaktif adalah sebuah media yang dibuat guna memenuhi berbagai kebutuhan pembelajar bahasa asing pada waktu salah satu atau semua faktor yang mempengaruhi pemerolehan bahasa kedua ini sulit didapatkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h1>B.     Media Pembelajaran</h1>
<p>Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan (Bovee, 1997). Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar dan bahan ajar. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampai pesan atau media.</p>
<p>Bentuk-bentuk stimulus bisa dipergunakan sebagai media diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia; realia; gambar bergerak atau tidak; tulisan dan suara yang direkam. Kelima bentuk stimulus ini akan membantu pembelajar mempelajari bahasa asing. Namun demikian tidaklah mudah mendapatkan kelima bentuk itu dalam satu waktu atau tempat.</p>
<p>Tehnologi komputer adalah sebuah penemuan yang memungkinkan menghadirkan beberapa atau semua bentuk stimulus di atas sehingga pembelajaran bahasa asing akan lebih optimal. Namun demikian masalah yang timbul tidak semudah yang dibayangkan. Pengajar adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk merealisasikan kelima bentuk stimulus tersebut dalam bentuk pembelajaran. Namun kebanyakan pengajar tidak mempunyai kemampuan untuk menghadirkan kelima stimulus itu dengan program komputer sedangkan pemrogram komputer tidak menguasai pembelajaran bahasa.</p>
<p>Jalan keluarnya adalah merealisasikan stimulus-stimulus itu dalam program komputer dengan menggunakan piranti lunak yang mudah dipelajari sehingga dengan demikian para pengajar akan dengan mudah merealisasikan ide-ide pengajarannya.</p>
<p>Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. Selain itu media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan, umpan balik dan juga mendorong mahasiswa untuk melakukan praktek-praktek dengan benar.</p>
<p>Ada beberapa kriteria untuk menilai keefektifan  sebuah media. Hubbard mengusulkan sembilan kriteria untuk menilainya (Hubbard, 1983). Kreteria pertamanya adalah biaya. Biaya memang harus dinilai dengan hasil yang akan dicapai dengan penggunaan media itu. Kriteria lainnya adalah ketersedian fasilitas pendukung seperti listrik, kecocokan dengan ukuran kelas, keringkasan, kemampuan untuk dirubah, waktu dan tenaga penyiapan, pengaruh yang ditimbulkan, kerumitan dan yang terakhir adalah kegunaan. Semakin banyak tujuan pembelajaran yang bisa dibantu dengan sebuah media semakin baiklah media itu.</p>
<p>Kriteria di atas lebih diperuntukkan bagi media konvensional. Thorn mengajukan enam kriteria untuk menilai multimedia interaktif (Thorn, 1995). Kriteria penilaian yang pertama adalah kemudahan navigasi. Sebuah program harus dirancang sesederhana mungkin sehingga pembelajar bahasa tidak perlu belajar komputer lebih dahulu. Kriteria yang kedua adalah kandungan kognisi, kriteria yang lainnya adalah pengetahuan dan presentasi informasi. Kedua kriteria ini adalah untuk menilai isi dari program itu sendiri, apakah program telah memenuhi kebutuhan pembelajaran si pembelajar atau belum. Kriteria keempat adalah integrasi media di mana media harus mengintegrasikan aspek dan ketrampilan bahasa yang harus dipelajari. Untuk menarik minat pembelajar program harus mempunyai tampilan yang artistik maka estetika juga merupakan sebuah kriteria. Kriteria penilaian yang terakhir adalah fungsi secara keseluruhan. Program yang dikembangkan harus memberikan pembelajaran yang diinginkan oleh pembelajar. Sehingga pada waktu seorang selesai menjalankan sebuah program dia akan merasa telah belajar sesuatu.</p>
<ol>
<li><strong>C.     </strong><strong>Pembelajaran Bahasa dengan Komputer</strong></li>
</ol>
<p>Komputer telah mulai diterapkan dalam pembelajaran bahasa mulai 1960 (Lee, 1996). Dalam 40 tahun pemakaian komputer ini ada berbagai periode kecenderungan yang didasarkan pada teori pembelajaran yang ada. Periode yang pertama adalah pembelajaran dengan komputer dengan pendekatan <em>behaviorist</em>. Periode ini ditandai dengan pembelajaran yang menekankan pengulangan dengan metode <em>drill</em> dan praktek. Periode yang berikutnya adalah periode pembelajaran komukatif sebagai reaksi terhadap <em>behaviorist</em>. Penekanan pembelajaran adalah lebih pada pemakaian bentuk-bentuk tidak pada bentuk itu sendiri seperti pada pendekatan <em>behaviorist</em>.</p>
<p>Periode atau kecenderungan yang terakhir adalah pembelajaran dengan komputer yang integratif. Pembelajaran integratif memberi penekan pada pengintegrasian berbagai ketrampilan berbahasa, mendengarkan, berbicara, menulis dan membaca dan mengintegrasikan tehnologi secara lebih penuh pada pembelajaran.</p>
<p>Lee merumuskan paling sedikit ada delapan alasan pemakaian komputer sebagai media pembelajaran (Lee, 1996) Alasan-alasan itu adalah: pengalaman, motivasi, meningkatkan pembelajaran, materi yang otentik, interaksi yang lebih luas, lebih pribadi, tidak terpaku pada sumber tunggal, dan pemahaman global.</p>
<p>Dengan tersambungnya komputer pada  jaringan internet maka pembelajar akan mendapat pengalaman yang lebih luas. Pembelajar tidak hanya menjadi penerima yang pasif melainkan juga menjadi penentu pembelajaran bagi dirinya sendiri. Pembelajaran dengan komputer akan memberikan motivasi yang lebih tinggi karena komputer selalu dikaitkan dengan kesenangan, permainan dan kreativitas. Dengan demikian pembelajaran itu sendiri akan meningkat.</p>
<p>Pembelajaran dengan komputer akan memberi kesempatan pada pembelajar untuk mendapat materi pembelajaran yang otentik dan dapat berinteraksi secara lebih luas. Pembelajaran pun menjadi lebih bersifat pribadi yang akan memenuhi kebutuhan strategi pembelajaran yang berbeda-beda.</p>
<p>Di samping kelebihan dan keuntungan dari pembelajaran dengan komputer tentu saja ada kekurangan dan kelemahannaya. Hambatan pemakaian komputer sebagai media pembelajaran antara lain adalah: hambatan dana, ketersediaan piranti lunak dan keras komputer, keterbatasan pengetahuan tehnis dan teoris dan penerimaan terhadap tehnologi.</p>
<p>Dana bagi penyediaan komputer dengan jaringannya cukup mahal demikian untuk piranti lunak dan kerasnya. Media pembelajaranpun kurang berkembang karena keterbatasan pengetahuan tehnis dari pengajar atau ahli pengajaran dan keterbatasan pengetahuan teoritis pembelajaran bahasa dari para pemrogram.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h1>D.    Microsoft Powerpoint 2000</h1>
<p>Microsoft Powerpoint 2000 adalah program aplikasi presentasi yang merupakan salah satu program aplikasi di bawah Microsoft Office. Keuntungan terbesar dari program ini adalah tidak perlunya pembelian piranti lunak karena sudah berada di dalam Microsoft Office. Jadi pada waktu penginstalan program Microsoft Office dengan sendirinya program ini akan terinstal. Hal ini akan mengurangi beban hambatan pengembangan pembelajaran dengan komputer seperti dikemukakan oleh Lee.</p>
<p>Keuntungan lain dari program ini adalah sederhananya tampilan ikon-ikon. Ikon-ikon pembuatan presentasi kurang lebih sama dengan ikon-ikon Microsoft Word yang sudah dikenal oleh kebanyakan pemakai komputer. Pemakai tidak harus mempelajari bahasa pemrograman. Dengan ikon yang dikenal dan pengoprasian tanpa bahasa program maka hambatan lain dari pembelajaran dengan komputer dapat dikurangi yaitu hanbatan pengetahuan tehnis dan teori. Pengajar atau ahli bahasa dapat membuat sebuah program pembelajaran bahasa tanpa harus belajar bahasa komputer terlebih dahulu.</p>
<p>Meskipun program aplikasi ini sebenarnya merupakan program untuk membuat presentasi namun fasilitas yang ada dapat dipergunakan untuk membuat program pembelajaran bahasa. Program yang dihasilkanpun akan cukup menarik. Keuntungan lainnya adalah bahwa program ini bisa disambungkan ke jaringan internet.</p>
<p><strong>1. Memasukkan Teks, Gambar, Suara dan Video</strong></p>
<p>Fasilitas yang penting dari program apliokasi ini adalah fasilitas untuk menampilkan teks. Dengan fasilitas ini pembuat program bisa menampilkan berbagai teks untuk berbagai keperluan misalnya untuk pembelajaran menulis, membaca atau pembelajaran yang lain.</p>
<p>Cara memasukan teks ke dalam program aplikasi ini cukuip sederhana. Sesudah pemakai menghidupkan komputer dan masuk program Power point 2000 dan sesudah memilih jenis tampilan layar maka pemakai dapat menekan menu <strong><em>insert</em></strong> sesudah itu akan muncul berbagai pilihan. Salah satu pilihan itu adalah <strong><em>insert textbox</em></strong>. Tekan menu ini dan akan muncul kotak teks di dalam tampilan presentasi. Langkah berikutnya adalah mengkopi teks yang ingin dimasukkan dan kemudian menempelkannya (paste) pada kotak yang tersedia. Apabila tidak ingin mengkopi bisa juga menulis langsung dalan kotak teks yang sudah tersedia.</p>
<p>Untuk memasukan gambar langkahnyapun sama dengan cara memasukkan teks. Pertama tekan menu insert sesudah itu pilih menu <em>insert picture</em>. Sesudah menu ini dipilih akan muncul dua pilihan <em>from file</em> &#8230; dan from <em>clip art.</em>.. Apabila pemrogram ingin memasukkan gambar dari <em>file </em>maka tekan pilihan pertama dan apabila ingin memakai gambar dari <em>clip art</em> yang sudah ada di komputer maka tekan pilihan yang kedua.</p>
<p>Suara dan video merupakan dua fasilitas yang disediakan oleh Microsoft Powerpoint 2000 yang sangat mendukung pemrograman pembelajaran bahasa. Untuk memasukkan video tekan menu <em>insert</em> dan selanjutnya tekan menu <em>movies</em> <em>and</em> <em>sounds</em>. Maka akan muncul dua pilihan untuk masing-masing. Untuk suara (<em>sounds</em>) akan muncul <em>sounds from file</em> dan <em>sounds from Gallery</em> demikian pula untuk movies akan muncul pilihan <em>Movies from file</em> atau <em>Movies from Gallery</em>. Pemrogram tinggal memilih jenis <em>file</em> yang akan dimasukkan.</p>
<p><strong>2. Membuat tampilan menarik</strong></p>
<p>Tampilan yang manarik akan meningkatkan minat dan motivasi pembelajar untuk menjalankan program. Ada beberapa fasilitas yang disediakan untuk membuat tampilan menarik. Fasilitas yang pertama adalah background. Background akan memperindah tampilan program. Ada beberapa jenis background yang ditawarkan, yang pertama adalah dengan memberi warna, yang kedua dengan memberi tekstur dan yang ketiga adalah memasang gambar dari file sendiri.</p>
<p>Langkah pemasangan <em>background</em> adalah dengan menekan menu <em>format</em> dan kemudian menekan menu <em>background</em>. Sesudah itu akan muncul pilihan <em>background</em> <em>fill</em>, <em>more color </em>dan<em> fill effects</em>. Apabila pemrogram ingin memilih warna yang sudah ada maka tekan <em>apply</em>, apabila ingin memilih warna sendiri tekan <em>more color</em>, pilih warna dan tekan <em>apply</em>, dan apabila ingin memberi tekstur atau gambar sendiri maka tekan <em>fill</em> <em>effects</em>, pilih tekstur atau gambar dan tekan <em>apply</em>.</p>
<p>Fasilitas lain yang akan membuat tampilan lebih menarik adalah fasilitas animasi. Dengan fasilitas ini gambar-gambar dan teks akan muncul ke layar dengan cara tampil yang bervariasi. Fasilitas animasi ini memungkinkan gambar atau objek lain tampil dari arah yang berbeda atau dengan cara yang berbeda. Objek bisa melayang dari atas, bawah, kanan, kiri, atau dari sudut. Objek juga bisa muncul dari tengah atau dari pinggir. Dengan sedikit kreatifitas fasilitas ini bisa menghasilkan language games yang menarik.</p>
<p>Pembuatan animasi dimulai dengan memilih objek yang akan dibuat animasi dengan cara mengklik objek itu. Sesudah itu pilih menu <em>Slide Show</em> dan kemudian memilih menu <em>Custom Animation</em>. Sesudah menekan menu itu akan muncul berbagai pilihan diantaranya <em>order and timing</em> untuk mengatur urutan dan waktu tampil ke layar dan juga pilihan <em>effects</em> untuk mengatur efek yang diinginkan.</p>
<p><strong>3. Membuat Hyperlink</strong></p>
<p>Fasilitas ini sangat penting dan sangat mendukung pembelajaran bahasa karena dengan hyperlink program bisa terhubung ke program lain atau ke jaringan internet. Hyperlink atau hubungan dalam satu program akan memungkinkan programer memberikan umpan balik secara langsung terhadap proses pembelajaran. Hubungan dengan program lain akan memperkaya fasilitas yang mendukung pembelajaran dan hubungan dengan internet akan membuka berbagai kemungkinan pembelajaran yang lebih luas, pribadi dan otentik.</p>
<p>Langkah pembuatan hyuperlink adalah dengan memilih objek yang akan kita link ke program lain atau internet. Sesudah kita memilih objek kita mengklik menu insert dan kemudian mengklik menu hyperlink maka akan muncul dialog box dan kemudian kita menuliskan alamat yang dituju misalnya sebuah file atau sebuah situs web dan kemudian mengklik OK maka objek itu akan tersambung ke alamat yang ditulis. Cara yang kedua adalah melalui menu slide show dan kemudian menekan action settings, sesudah itu akan muncul dialog box. Dengan mengisikan alamat dan mengklik OK maka objek akan tersambung ke alamat yang diinginkan.</p>
<p>Fasilitas-fasilitas diatas adalah fasilitas utama dalam pengembangan materi pembelajaran bahasa dengan Microsoft Powerpoint 2000. Fasilitas yang lain adalah fasilitas tambahan untuk membuat tampilan program lebih menarik dan mudah digunakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h1>E.     Mengembangkan Pembelajaran Ketrampilan Berbahasa dengan Microsoft Powerpoint 2000</h1>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pengembangan materi pembelajaran khususnya mendengarkan dan membaca dapat dikembangkan secara mudah dengan program ini. Materi pembelajaran bahasa yang dihasilkan oleh program aplikasi inipun cukup menarik, khususnya materi pembelajaran yang berupa permainan.</p>
<p><strong>1. Membaca</strong></p>
<p>Fasilitas menampilkan teks dalam program aplikasi ini memungkinkan pembuatan materi pembelajaran ketrampilan membaca dengan mudah. Pembuat program bisa memasukan teks dalam slide pertama, kemudian memasukan latihan dlam slide kedua dan umpan balik latihan dalam slide berikutnya. Untuk memperindah tampilan teks-teks bacaan juga bisa dilengkapi dengan berbagai gambar. Apabila pembuat ingin memberikan materi pembelajaran yang lebih otentik maka bisa diberikan satu alamat situs web. Pembelajar akan membaca teks di situs itu kemudian kembali ke program dan mengerjakan latihan yang ada dan kemudian melihat slide umpan balik.</p>
<p><strong>2. Mendengarkan</strong></p>
<p>Dengan adanya fasilitas memasukkan suara dan video maka pembelajaran ketrampilan mendengarkan mempunyai lebih banyak pilihan variasi. Pemrogram bisa membuat bahan pembelajaran dengan video ataupun audio. Seperti halnya pada membaca materi pembelajaran, latihan-latihan dan umpan balik dapat diberikan di slide-slide yang berbeda. Fasilitas hyperlink yang memungkinkan program dihubungkan dengan jaringan internet akan memperkaya penyediaan bahan pembelajaran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3. Menulis dan Berbicara</strong></p>
<p>Keterbatasan program aplikasi ini adalah pada umpan balik yang berupa tulisan. Program ini tidak mempunyai fasilitas yang memungkinkan pembelajar memberikan umpan balik dalam bentuk tulisan atau suara. Namun demikian keterbatasan program dalam menyediakan fasilitas untuk umpan balik suara ini bisa diatasi dengan strategi pembelajaran gabungan, yaitu menggabungkan pembelajaran mandiri dan berpasangan. Sesudah menjalankan program komputer pembelajar diberi tugas untuk berinteraksi dengan pembelajar yang lain.</p>
<p>Sedangkan untuk mengatasi keterbatasan dalam memberika umpan balik berupa tulisan dapat diatasi dengan mempergunakan fasilitas hyperlink. Pada waktu ada tugas menulis pembelajar dihubungan dengan program yang mempunyai fasilitas menulis seperti Microsoft Word misalnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h1>F.      Membuat Permainan</h1>
<p>Fasilitas-fasilitas yang ada diatas juga sangat mendukung pengembangan bahan pembelajaran yang berupa permainan. Permainan yang ketrampilan yang menyerupai hangman atau mine sweep dapat dikembangkan dengan program aplikasi ini demikian pula permainan yang mengandalkan kecepatan.</p>
<p>Tiap-tiap permainan yang dibuat tentu saja harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Permainan penyapu ranjau (mine sweep) misalnya dapat dipakai untuk memfasilitasi pembelajaran kosa kata, sistem verba bahasa Indonesia atau pembelajaran kata depan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h1>G.    Keterbatasan Program</h1>
<p>Selain keunggulan yang telah dikemukakan program aplikasi ini mempunyai beberapa keterbatasan. Keterbatasan utamanya ialah pembelajar tidak bisa berinteraksi langsung untuk menuliskan komentar ataupun menjawab pertanyaan yang ada. Fasilitas yang ada hanya memfasilitasi tanggapan dalam bentuk pilihan.</p>
<h1>            Namun dengan keterbatasan ini program ini tetap menawarkan fasilitas yang cukup untuk membuat sebuah program pembelajaran bahasa dengan mudah dengan hasil yang menarik. Selamat mencoba.</h1>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">References</span></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bovee, Courland. 1997. <em>Business Communication Today</em>, Prentice Hall: New York.</p>
<p>Brown, H. Douglas. 1994. <em>Principles of Language Learning and Teaching</em>, Prentice Hall Regents: New Jersey.</p>
<p>Davis, Ben. 1991. <em>Teaching with Media</em>, a paper presented at Technology and Education Conference in Athens, Greece.</p>
<p>Elliot, Stephen N et al,. 1996. <em>Educational Psychology</em>, Brown and Benchmark: Dubuque, Iowa.</p>
<p>Hubbard, Peter et al. 1983. <em>A Training Course for TEFL</em>, Oxford University Press: Oxford.</p>
<p>Hunter, Lawrence. 1996. <em>CALL: Its Scope and Limits</em>, The Internet TESL Journal, Vol. II, No.6, June 1996, http:/www.aitech.ac.jp/~iteslj/</p>
<p>Idris, Nuny S. 1999. <em>Ragam Media Dalam Pembelajaran BIPA</em>. A Paper presented at KIPBIPA III, Bandung.</p>
<p>Jonassen, David H. 1996. <em>Computer as a Mindtools for Schools</em>. Prentice Hall. New Jersey.</p>
<p>Kemp, Ferrod E. 1980. <em>Planning and Producing Audiovisual Materials</em>. Harper and Row: New York.</p>
<p>Lee, Kwuang-wu. 2000. <em>English Teachers’ Barriers to the Use of Computer-assisted Language Learning.</em> The Internet TESL Journal, Vol. VI, No. 12, December 2000. http:/www.aitech.ac.jp/~iteslj/</p>
<p>Schocolnik, Miriam. 1999. <em>Using Presentation Software to Enhance Language Learning.</em> The Internet TESL Journal, Vol. V, No.3, March 1999, http:/www.aitech.ac.jp/~iteslj/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khusnin.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khusnin.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khusnin.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khusnin.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/khusnin.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/khusnin.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/khusnin.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/khusnin.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khusnin.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khusnin.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khusnin.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khusnin.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khusnin.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khusnin.wordpress.com/615/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khusnin.wordpress.com&amp;blog=4690334&amp;post=615&amp;subd=khusnin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khusnin.wordpress.com/2011/12/05/media-interaktif-dalam-pembelajaran-bahasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c1eb16f42d3c4b04e6d11ae916f4569?s=96&#38;d=retro" medium="image">
			<media:title type="html">khusnin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengumunan Hasil Ulangan Semester 1 Mapel Bahasa Indonesia Kelas XII IA-IS SMA Negeri 1 Cepiring</title>
		<link>http://khusnin.wordpress.com/2011/12/05/pengumunan-hasil-ulangan-semester-1-mapel-bahasa-indonesia-kelas-xii-ia-is-sma-negeri-1-cepiring/</link>
		<comments>http://khusnin.wordpress.com/2011/12/05/pengumunan-hasil-ulangan-semester-1-mapel-bahasa-indonesia-kelas-xii-ia-is-sma-negeri-1-cepiring/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 22:59:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khusnin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hasil Ulangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khusnin.wordpress.com/?p=610</guid>
		<description><![CDATA[Hasil nilai ulangan semester 1 mapel Bahasa Indonesia untuk kelas XII Silakan Anda Klik INFO SMA TERIMA KASIH<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khusnin.wordpress.com&amp;blog=4690334&amp;post=610&amp;subd=khusnin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hasil nilai ulangan semester 1 mapel Bahasa Indonesia untuk kelas XII</p>
<p>Silakan Anda Klik INFO SMA</p>
<p>TERIMA KASIH</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khusnin.wordpress.com/610/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khusnin.wordpress.com/610/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khusnin.wordpress.com/610/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khusnin.wordpress.com/610/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/khusnin.wordpress.com/610/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/khusnin.wordpress.com/610/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/khusnin.wordpress.com/610/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/khusnin.wordpress.com/610/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khusnin.wordpress.com/610/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khusnin.wordpress.com/610/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khusnin.wordpress.com/610/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khusnin.wordpress.com/610/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khusnin.wordpress.com/610/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khusnin.wordpress.com/610/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khusnin.wordpress.com&amp;blog=4690334&amp;post=610&amp;subd=khusnin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khusnin.wordpress.com/2011/12/05/pengumunan-hasil-ulangan-semester-1-mapel-bahasa-indonesia-kelas-xii-ia-is-sma-negeri-1-cepiring/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c1eb16f42d3c4b04e6d11ae916f4569?s=96&#38;d=retro" medium="image">
			<media:title type="html">khusnin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Eksistensi Sastra di SMA</title>
		<link>http://khusnin.wordpress.com/2011/10/08/eksistensi-sastra-di-sma/</link>
		<comments>http://khusnin.wordpress.com/2011/10/08/eksistensi-sastra-di-sma/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Oct 2011 20:31:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khusnin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khusnin.wordpress.com/?p=597</guid>
		<description><![CDATA[Pembelajaran Sastra di SMA Dalam kurikulum tahun 2006 yang dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (KTSP) materi sastra diajarkan di kelas X sampai dengan XII. Untuk kelas X, XI IPA/IPS, XII IPA/IPS diebrikan dalam pelajaran bhasa Indonesia dengan jumlah empat jam perminggu. Untuk kelas XI dan XII program Bahasa materi sastra diberikan di dalam mata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khusnin.wordpress.com&amp;blog=4690334&amp;post=597&amp;subd=khusnin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pembelajaran Sastra di SMA</strong></p>
<p>Dalam kurikulum tahun 2006 yang dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (KTSP) materi sastra diajarkan di kelas X sampai dengan XII. Untuk kelas X, XI IPA/IPS, XII IPA/IPS diebrikan dalam pelajaran bhasa Indonesia dengan jumlah empat jam perminggu. Untuk kelas XI dan XII program Bahasa materi sastra diberikan di dalam mata pelajaran sastra Indonesia dengawn jumlah empat jam perminggu (Departemen PEndidikan Nasional, 2006).</p>
<p>Untuk kelas X, XI IPA/IPS, XII IPA/IPS pelajaran bahasa Indonesia terdiri atas delapan standar kompetensi tiap semester. Standar kompetensi tentang sastra berjumlah empat standar yang dikelompokkan berdasarkan empat keterampilan yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Dari empat standar kompetensi tersebut dijabarkan menjadi delapan kompetensi dasar, dengan demikian selama menempuh tudi di SMA bila masuk program IPA/IPS, seorang siswa akan mempelajari 48 (empat puluh delapan) kompetensi dasar tentang sastra. Sebuah jumlah yang cukup untuk mendalami dan mengapresiasi sastra.</p>
<p><span id="more-597"></span></p>
<p>Untuk krlas XI dan XII program Bahasa, selain memperoleh pelajaran bahasa Indonesia juga memperoleh pelajaran sastra Indonesia. Pelajran Bahasa Indonesia diberikan selama liam jam perminggu. Materi-materi yang dipelajari adalah materi tentang kebahasaan. Sedang mata pelajaran sastra Indonesia, diberikan secara khusus selama empat jam [erminggu. Setiap semester ada lima standar kompetensi yang dipelajari. Lima standar tersebut adalah mendengarkan, berbicara, membaca, menulis dan kesastraan. Dari kelima standar kompetensi tersebut dijabarkan menjadi 10 sampai dengan 14 kokmpetensi dasar. Jadi, selama dua tahun, kelas XI dan kelas XII siswa SMA program bahasa memperoleh materi sebanyak 72 kompetensi dasar. Dengan demikian pembelajaran sastra di SMA  khususnya program bahasa telah memperoleh porsi yang cukup banyak. Dalam pembahasan selanjutnya yang dimaksud pembelajaran sastra di SMA adalah pebelajaran sastra di SMA khususnya program bahasa.</p>
<p>Dalam peraturan Mendiknas No.22 tahun 2006 tentang Standar Isi (Departemen Pendidikan Nasional, 2006) disebutkan bahwa mata pelajaran sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran sastra yang menyatakan bahwa belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya. Oleh karena itu pembelajaran sastra Indonesia diarahkan kepada usaha untuk menimbulkan pemahaman dan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia.</p>
<p>Sastra memungkinkan manusia mampu menjadikan dirinya sebagai manusia yang utuh, mandiri, berperilaku halus, beroleransi dengan sesamanya, dan menghargai orang lain sesuai dengan harkat dan martabatnya. Oleh karena itu, pembelajaran sastra Indoesia diarahkan kepada pembentukan peserta didik yang berpribadi luhur, memiliki pengetahuan kesastraaan, dan bersikap positif dan apresiatif terhadap sastra Indonesia.</p>
<p>Mata Pelajaran Sastra Indonesia di SMA bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Memahami dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta menignkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.</li>
<li>Mengekspresikan dirinya dalam medium sastra.</li>
<li>Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khasanah budaya dan intelektual manusia Indonesia (Departemen Pendidikan Nasional, 2006:735).</li>
</ol>
<p>Untuk mewujudkan tujuan pembelajaran sastra tersebut, perlu upaya-upaya yang serius dalam proses kegeiatan belajar mengajar materi sastra. Pada prinsipnya pembelajaran sastra mengajak siswa menikmati dan mengambil makna yang ada dalam karya sastra (Waluyo 1990:58). Pembelajaran sastra bukanlah pembelajaran tentang sastra, melainkan proses belajar-mengajar sastra yang memberi siswa kemampuan dan keterampilan mengapresiasi sastra melalui proses interaksi dan transaksi antara siswa dengan cipta sastra yang dipelajarinya (Gani 1988:125). Jadi, pembelajaran sastra bukan mengajarkan judul-judul karya sastra, nama-nama pengarang, pelaku-pelaku dalam karya sastra. Namun, pembelajaran sastra lebih ditekankan pada pengenalan dan penghayatan sastra itu secara langsung.</p>
<p>Pembelajaran sastra sangat bermanfaat bagi siswa. Sebab seperti dikatakan oleh Rahmanto bahwa pembelajaran sastra dapat membantu pendidikan secara utuh, dapat juga memberikan sumbangan yang besar untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang cukup sulit untuk dipecahkan dalam masyarakat (1988:15). Pada kenyataannya pembelajaran sastra berperan penting dalam masyarakat sehingga harus diupayakan untuk mencari pendekatan pembelajaran sastra yang tepat.</p>
<p>Rosenblatt (dalam Gani, 1988:1-2) menyarankan beberapa prinsip yang memungkinkan pembelajaran sastra mengemban fungsinya dengan baik, yaitu (1) siswa harus diberi kebebasan untuk menampilkan respon dan reaksinya, (2) siswa harus diberi kesempatan untuk mempribadikan dan mengkristalisasikan rasa pribadina terhadap cipta sastra yang dibaca dan dipelajarinya, (3) guru harus berusaha untuk menemukan butir-butir kontak diantara pendapat para siswa, dan (4) peranan dan pengaruh guru harus merupakan daya dorong terhadap penjelajahan pengaruh vital yang inheren di dalam sastra itu sendiri.</p>
<p>Prinsip-prinsip yang diajukan oleh Rosenblatt tersebut telah dioperasionalkan oleh Wardani. Dia mengatakan, untuk mencapai tujuan pembelajaran sastra yang tidaklah mungkin dilakukan dengan cara mengajar yang hanya bertujuan memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa, tetapi memerlukan bimbingan yang kongkret, yang lebih banyak melibatkan peranan siswa di dalamnya (1981:2). Dalam kaitannya dengan pembelajaran sastra yang dapat merangsang daya kreatif dan daya kritis siswa ini, Herman J. Waluyo berpendapat:</p>
<p>Pengalaman yang ada dalam karya sastra harus dikejar, dicari, dan ditemukan sendiri oleh siswa dan bukannya ditekankan oleh guru. Dalam membaca karya sastra, siswa bergumul dengan sastra secasra langsung. Jika siswa diberi kesempatan untuk memahami secara mendalam karya sastra itu dalam proses pengajaran, maka seterusnya mereka tidak akan mencobanya dan tidak akan turut mengalami pengalaman yang ditancapkan pengarang pada totalitas karya itu. Guru yang hanya mendorong atau membantu siswa untuk menemukan makna karya sastra itu bagi diri mereka sendiri. Namun, guru pun harus siap memberikan saran dan bimbingan jika diperlukan. Tidak seleamanya siswa mampu menemukan sendiri makna karya itu dan dalam suasana demikian guru tidak dibenarkan meninggalkan siswa daslam keputusasaan (1990:90)</p>
<p>Dalam proses penyusunan program pembelajaran, guru hendaknya dengan saksama dapat memilih pendekatan yang tepat. Penampilan sebuah pendekatan bukanhanya sekedar memnuhi tuntutan kurikulum, tetapi untuk memudahkan guru dan siswa mencapai sasaran kurikulum tersebut. Guru seyogyanya memahami dengan baik standar kompetensi dan kompetensi dasar yang teleah ditentukan dengan memperhatikan kondisi siswa dan situasi pembelajaran yang ada. Pendekatan pengajaran sastra banyak dikemukakan oleh para ahli. Gani menyebutkan empat pendekatan, yaitu Pendekatan Cara Belajar SIswa Aktif, Pendekatan Proses, Pendekatan Humanistis, serta Pendekatan Respons dan Analisis (1988:39).</p>
<p>Sementara itu Wirdiyanto (2003) menawarkan pendekatan <em>Student Active Learning (SAL)</em> sebagai salah satu pendekatan yang dapat dipraktikan dalam pembelajaran sasrta di SMA. Aktivitas siswa dalam pendekatan SAL didasarkan pada pengalaman belajar yang diperoleh melalui berbagai bentuk keterlibatan siswa dalam kerja kelompok besar, kerja kelompok kecil, kerja pasangan, dan kerja individual. Dalam kaitannya dengan mata pelajaran sastra Indonesia, keterlibatan dengan sastra dapat berupa aktivitas dalam mendengarkan, berbicara, menulis, membaca, debat, role laying, wawancara, percobaan, dan penelusuran (Widharyanti 2003:8).</p>
<p>Dalam pendekatan SAL terdapat lima metode yang dikembangkan. Kelima metode tersebut adalah (1) metode kooperarif, (2) metode SAVI, (3) metode permainan games, dan (4) metode pembelajaran berbasis perpustakaan. Metode perpustakaan dimaknai sebagai serangkaian aktivitas pembelajaran yang diorganisasikan sedemikian rupa sehingga pembelajaran difokuskan pada pertukaran informasi terstruktur antarsiswa dalam grup yang bersifat sosial dan tiap-tiap siswa bertanggung jawab penuh atas pengajaran yang mereka jalani (Kagan dalam Widharyanto 2003:20). Ada lima prinsip yang perlu diperhatikan dalam penerapan metode kooperatif yaitu (1) saling kebergantungan positif, (2) tanggung jawab perseorangan, (3) tatap muka, (4) komunikasi antaranggota, dan (5) keberagaman pengelompokan.</p>
<p>Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas yang menerapkan metode kooperatif. Ketiga hal tersebut adalah (1) pengelompokan heterogen, (2) penumbuhan semangat dan motivasi kerja sama, dan (3) penataan ruang kelas (Widharyanto 2003:20). Teknik yang digunakan untuk mengembangkan metode kooperatif ini adalah teknik mencari pasangan, bertukar pasangan, jigsaw dan <em>paired storytelling.</em> Teknik mencari pasangan digunakan untuk memahami suatu konsep kebahasaan tertentu atau informasi tertentu yang harus diungkapkan oleh siswa, dengan prosedur sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Guru menyiapkan beberapa kartu yang telah diisi dengan topik atau informasi tertentu.</li>
<li>Guru membagikan kartu-kartu tersebut kepada siswa secara acak.</li>
<li>Siswa mulai mencari pasangan yang memiliki kartu yang sesuai.</li>
<li>Siswa dapat bergabung dengan siswa lain yang memiliki kartu yang sesuai.</li>
<li>Setela semua ingformasi terkumpul mereka harus merangkaikan dan mengembangkan informasi-informasi tersebut secara lisan atau tertulis.</li>
</ol>
<p>Teknik bertukar pasangan digunakan untuk meningkatkan keterampilan berbicara, menulis, dan dapat diterapkan di setiap kelas dan dengan variasi tingkat kesulitan. Teknik ini diterapkan dengan prosedur sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Siswa dibagi dalam kelompok dua-dua (berpasangan)</li>
<li>Siswa mengerjakan tugas yang diberikan guru dengan pasangannya.</li>
<li>Setelah selesai mengerjakan tugas, setiap pasangan akan bergabung dengan pasangan lain untuk bertukar informasi.</li>
<li>Kedua pasangan akan bertukar pasangan, mereka saling menanyakan dan saling mengukuhkan jawaban.</li>
<li>Informasi yang didapat dari pasangan baru disampaikan pada pasangan semula.</li>
</ol>
<p>Teknik Jigsaw diterapkan untuk meningkatkan keterampilan membaca, menulis, menyimak, berbicara dengan menggabungkan berbagai informasi lintas ilmu. Teknik ini diterapkan dengan prosedur sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Siswa dibagi dalam kelompok masing-masing empat orang.</li>
<li>Guru membagi bahan pembelajaran ke dalam empat bagian.</li>
<li>Setiap siswa menerima satu bagian bahan tertentu.</li>
<li>Siswa mengerjakan bagian mereka masing-masing dengan menuliskan isi teks tersebut.</li>
<li>Setelah selesai masing-masing siswa berbagi hasil kerja mereka.</li>
<li>Setelah berbagi hasil kerja, mereka harus berdiskusi untuk menyatukan berbagai informasi itu untuk membantu teks yang utuh.</li>
<li>Hasil akhir kelompok itu disajikan kepada kelompok lain.</li>
</ol>
<p>Teknik <em>paired storytelling </em>menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara. Bahan pengajaran yagn sesuai adalah bahan yang bersifat narasi dan deskripsi. Teknik ini diterapkan dengan prosedurnya sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Siswa bekerja secara berpasangan dan masing-masing anggota mendapat teks bacaan yang berbeda.</li>
<li>Setiap siswa mengerjakan tugas mereka sambil mencatat dan membuat daftar kata-kata kunci dari teks yang dibaca.</li>
<li>Setelah selesai mengerjakan bagian masing-masing, siswa saling menukar kata/frasa kunci yang telah mereka catat dari teks yang dibaca.</li>
<li>Sambil mengingat cerita/isi teks, siswa diminta mengarang bagian lain (yang dibaca pasangannya) berdasarkan kata-kata/frasa kunci yang diberikan kepadanya.</li>
<li>Setelah selesai mereka diminta menyajikan hasil karangan itu dan didiskusikan dengan pasangannya untuk mendapatkan berbagai masukan.</li>
<li>Guru tidak harus mengecek kebenaran isi karangan yang dibuat siswa karena tujuannya adalah agar siswa semakin berprtisipasi dalam pembelajaran.</li>
</ol>
<p>Metode pembelajaran yang kedua dari pendekatan SAL adalah metode SAVI (Somtis, Auditori, Visual, Intelektual). Metode ini ada empat unsur yaitu Somatis Auditori, Visual, dan Intelektual. Unsur somatis maksudnya belajar bahasa dengan memanfaatkan indera peraba dan kinestik yang melibatkan pisik untuk melakukan sesuatu. Unsur kedua, belajar secara auditori lebih menekankan pada aktivitas mendengarkan suara-suara dialog langsung di kelas atau dari alat-alat audio. Unsur ketiga, visual menuntut ketersediaan berbagai bentuk media yang dapat diamati secara langsung oleh siswa untuk kemudian membicarakannya dalam bentuk lisan dan tulis. Unsur keempat, intelektual dimaknai sebagai apa yang dilakukan dalam pikiran siswa secara internal ketika mereka melakukan proses pengajaran. Hal ini tampak dari kemampuan siswa dalam menghubungkan pengalaman mental, fisik, emosional, dan intuitif untuk membuat makna baru (Widharyanto 2003:14-15).</p>
<p>Teknik pembelajaran dengan metode SAVI dapat dilakukan prosedur sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Siswa diminta memperagakan suatu proses, sistem, atau peran tertentu sehingga secara fisik mereka dapat bergerak dan keterampilan berbahasanya dapat dilakukan dalam serangkaian kegiatan.</li>
<li>Siswa diberi tugas melakukan wawancara kemudian mereka membicarakannya di kelas yang diikuti dengan kegiatan mengambil makna dari aktivitas dan hasil yang telah dilakukan.</li>
<li>Siswa diberi sebuah teks bacaan kemudian diminta untuk mencatat hal-hal penting dalam teks tersebut kemudian menguraikannya dengan kata-kata sendiri dalam sebuah rekaman kaset. Siswa diminta memutar kaset itu beberapa kali sehingga mereka semakin jelas dengan apa yang mereka kerjakan.</li>
<li>Siswa diajak ke kantor guru, kantor tata usaha, atau perpustakaan untuk membaca tabel-tabel atau grafik yang ada, lalu perintahlah mereka menuliskan hasil pembacaan mereka dan melaporkannnya di kelas.</li>
<li>Siswa diberi serangkaian cerita yang mengandung permasalahan kemudian mereka memecahkan masalah tersebut.</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khusnin.wordpress.com/597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khusnin.wordpress.com/597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khusnin.wordpress.com/597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khusnin.wordpress.com/597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/khusnin.wordpress.com/597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/khusnin.wordpress.com/597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/khusnin.wordpress.com/597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/khusnin.wordpress.com/597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khusnin.wordpress.com/597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khusnin.wordpress.com/597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khusnin.wordpress.com/597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khusnin.wordpress.com/597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khusnin.wordpress.com/597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khusnin.wordpress.com/597/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khusnin.wordpress.com&amp;blog=4690334&amp;post=597&amp;subd=khusnin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khusnin.wordpress.com/2011/10/08/eksistensi-sastra-di-sma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c1eb16f42d3c4b04e6d11ae916f4569?s=96&#38;d=retro" medium="image">
			<media:title type="html">khusnin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GAYA BAHASA NOVEL AYAT-AYAT CINTA  KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY  DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENGAJARAN SASTRA DI SMA</title>
		<link>http://khusnin.wordpress.com/2011/10/08/gaya-bahasa-novel-ayat-ayat-cinta-karya-habiburrahman-el-shirazy-dan-implikasinya-terhadap-pengajaran-sastra-di-sma/</link>
		<comments>http://khusnin.wordpress.com/2011/10/08/gaya-bahasa-novel-ayat-ayat-cinta-karya-habiburrahman-el-shirazy-dan-implikasinya-terhadap-pengajaran-sastra-di-sma/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Oct 2011 20:16:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khusnin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khusnin.wordpress.com/?p=590</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Mukhamad Khusnin Abstrak Novel merupakan karya seni yang sangat erat berhubungan dengan kehidupan manusia dan berupa gambaran perjalanan hidup manusia. Gaya bahasa dalan novel merupakan  perwujudan  penggunaan bahasa oleh  penulis untuk mengemukakan gambaran, gagasan, pendapat, dan membuahkan efek tertentu bagi pembaca. Penelitian ini merupakan bagian dari langkah untuk memahami gaya bahasa berdasarkan jenis gaya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khusnin.wordpress.com&amp;blog=4690334&amp;post=590&amp;subd=khusnin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Oleh Mukhamad Khusnin</strong></p>
<p><strong>Abstrak</strong></p>
<p>Novel merupakan karya seni yang sangat erat berhubungan dengan kehidupan manusia dan berupa gambaran perjalanan hidup manusia. Gaya bahasa dalan novel merupakan  perwujudan  penggunaan bahasa oleh  penulis untuk mengemukakan gambaran, gagasan, pendapat, dan membuahkan efek tertentu bagi pembaca. Penelitian ini merupakan bagian dari langkah untuk memahami gaya bahasa berdasarkan jenis gaya bahasa, dominasi dan implikasi gaya bahasa terhadap pengajaran sastra di SMA. Novel <em>Ayat-ayat Cinta (AAC)</em> sebagai sumber penelitian adalah didasarkan atas kemunculan dan kesuksesan  novel <em>AAC</em> karya Habiburraman El Shirazy. Novel itu lahir pada saat yang tepat.. Hal lain novel <em>AAC </em> sebagai sumber penelitian adalah bahasanya mudah dipahami dan mengandung sarat gaya bahasa.</p>
<p>Masalah yang diteliti adalah (1) gaya bahasa apa sajakah yang terdapat dalam novel <em>AAC</em> karya Habiburraman El Shirazy, (2) gaya bahasa apakah yang dominan, dan (3) bagaimana implikasi novel <em>AAC </em>terhadap pengajaran sastra di SMA  Sedangkan tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi gaya bahasa yang terdapat dalam novel <em>AAC</em> karya Habiburraman El Shirazy, mendeskripsi gaya bahasa yang dominan, dan memaparkan implikasi novel <em>AAC </em> terhadap pengajaran sastra di SMA</p>
<p>Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan stilistika. Pendekatan stilistika digunakan untuk menganalisis penggunaan sistem tanda yang mengandung ide, gagasan dan nilai estetis tertentu, sekaligus untuk memahami makna yang dikandungnya. Data penelitian ini berupa penggalan teks dalam novel <em>AAC </em>yang diduga berisi kalimat-kalimat  bergaya bahasa tertentu.</p>
<p><span id="more-590"></span></p>
<p>Hasil yang didapat dalam penelitian ini adalah jenis gaya bahasa dalam novel <em>AAC</em> meliputi gaya bahasa klimaks, antiklimaks, paralelisme, antitesis, repetisi, hiperbola, silepsis, aliterasi, litotes, asonansi, eufemisme, pleonasme, paradoks, retoris, personifikasi, ironi, sarkasme, metafora, permpamaan/simile dan metonimia. Gaya bahasa yang dominan dalam novel <em>AAC</em> adalah gaya bahasa hiperbola.  Implikasi gaya bahasa dalam novel <em>AAC </em> terhadap pengajarangan sastra di SMA adalah dititikberatkan pada  sumber bahan ajar.</p>
<p>Penelitian  gaya bahasa dalam novel <em>AAC</em> karya Habiburraman El Shirazy merupakan penelitian awal sehingga perlu penelitian lanjut. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sumbangan  dalam pengembangan di dunia pendidikan terutama di bidang sastra.  Gaya bahasa dalam novel <em>AAC</em> sangatlah berguna untuk pengembangan bahan ajar, khususnya terhadap pengajaran sastra  SMA.</p>
<p><strong>Kata kunci: </strong> gaya bahasa, novel, implikasi, pengajaran<strong></strong></p>
<ol>
<li><strong>1.      </strong><strong>Pendahuluan</strong></li>
</ol>
<p>Novel merupakan karya seni yang sangat erat berhubungan dengan kehidupan manusia dan berupa gambaran perjalanan hidup manusia. Sebagai karya seni, novel terdapat  pelajaran bagi pembaca dan dapat  dinikmati sebagai bahan referensi serta instrospeksi diri.  Melalui bahasa, novel mudah dipahami dan dicerna oleh para pembaca karena gaya bahasanya.</p>
<p>Sebuah novel dapat dijadikan bahan untuk mempelajari kehidupan manusia yang sesungguhnya. Berbagai sifat manusia dan gambaran hidup terekam semua dalam sebuah novel. Gambaran hidup yang terekam dalam sebuah novel acap terwujud dalam bentuk konflik. Konflik tersebut berupa konflik antartokoh yang dipaparkan pengarang melalui gayanya sendiri. Secara umum dapat dijabarkan bahwa problem itu timbul apabila ada perbedaan atau konflik antara keadaan atau konflik antara keadaan satu dengan yang lain dalam rangka mencapai suatu tujuan.  Oleh karena itu, melalui novel terdapat pesan-pesan atau hikmah lewat gaya bahasa yang dipungut dari kenyataan,</p>
<p>Gaya bahasa dalam novel merupakan  perwujudan  penggunaan bahasa oleh  penulis untuk mengemukakan gambaran, gagasan, pendapat, dan membuahkan efek tertentu bagi pembaca (Aminuddin 1997:1). Aktivitas penulisan, keberadaan diksi (pilihan kata) merupakan unsur penting. Persoalan diksi bukan hanya menyangkut pemilihan kata secara tepat dan sesuai, melainkan juga persoalan gaya bahasa dan ungkapan. Hal ini dapat dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Sering dijumpai  banyak orang kurang perbendaharaan kata sehingga mengalami kesulitan dalam mengungkapkan maksud (Wibowo 2001: 25).</p>
<p>Menurut Alwi <em>et al </em>(1991:11) penggunaan diksi harus berdasarkan tiga tolok ukur, yakni ketepatan, kebenaran, dan kelaziman. Memilih kata dengan tepat memungkinkan orang dengan cepat memahami apa yang dimaksudkan. Adapun kebenaran menyangkut pelafalan, pengejaan, atau pembentukan kata, sedangkan kelaziman adalah penggunaan bentuk bahasa tertentu yang terjadi karena pemakaian yang berulang-ulang.</p>
<p>Penelitian ini merupakan bagian dari langkah untuk memahami gaya bahasa berdasarkan jenis gaya bahasa, dominasi dan implikasi gaya bahasa terhadap pengajaran sastra di SMA. Kenyataannya bahan pengajaran yang disajikan guru kurang aktual. Hal ini berakibat siswa bosan, karena guru kurang kreatif dan inovasi dalam pengajaran sastra. Seperti yang dikemukakan oleh Muis bahwa (2007), guru harus mandiri dan kreatif. Guru harus menyeleksi bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran sesuai dengan kurikulum sekolahnya. Guru dapat memanfaatkan bahan ajar dari berbagai sumber (surat kabar, majalah, radio, televisi, internet, dsb.). Bahan ajar dikaitkan dengan isu-isu lokal, regional, nasional, dan global agar peserta didik nantinya mempunyai wawasan yang luas dalam memahami dan menanggapi berbagai macam situasi kehidupan.</p>
<p>Sudah barang tentu bahwa tuntutan kepada guru sebagai aktor di kelas sangat besar. Guru harus mampu mengembangkan <em>Kompetensi Dasar </em>yang terdapat dalam KTSP. Sejumlah kompetensi dalam KTSP tidak boleh dikurangi, akan tetapi dapat ditambah sesuai dengan pengembangan materi, tuntutan lingkungan setempat.</p>
<p>Kenyataannya, masih ada guru dalam mengajarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia khususnya sastra hanya terpaku pada buku-buku yang sudah ada di silabus, padahal banyak materi atau bahan ajar di luar silabus, seperti buku-buku dan novel yang aktual. Bahan ajar yang lebih aktual dapat memberikan daya tarik lebih kuat pada siswa. Apalagi teknik yang digunakan guru dalam menyampaikan materi pelajaran sangat menarik dan invovatif, tentunya siswa dapat terimajinasi yang menyenangkan. Seperti halnya novel  dalam novel <em>Ayat-Ayat Cinta (AAC)</em> karya Habiburaman El Syirazy, yang saat ini sedang menanjak pamornya, dapat dijadikan sebagai bahan</p>
<p>Berkaitan dengan pembelajaran yang ditekankan pada keterampilan berbahasa mengacu pada KTSP dapat dikemukakan dua temuan penting, yaitu (1) pembelajaran dapat berlangsung dengan baik dan siswa mencapai hasil yang diharapkan. Hal itu antara lain disebabkan: (a) guru memiliki kemampuan yang baik dan sering memotivasi siswa; (b) guru melakukan penilaian atas kemahiran berbahasa yang ditunjukkan siswa; (c) <em>raw input</em> siswa memang baik. (2) kegiatan pembelajaran kurang efektif. Hal itu diduga karena (a) kemahiran yang ditunjukkan siswa tidak dinilai dan (b) guru kurang memberikan motivasi kepada siswa (Diknas 2006:45).</p>
<p>Dipilihnya novel <em>AAC</em> sebagai sumber penelitian adalah didasarkan atas kemunculan dan kesuksesan  novel <em>AAC</em> karya Habiburraman El Shirazy. Beberapa pandangan yang digunakan peneliti sebagai pendukung sumber ini antara lain pandangan menarik itu diungkapkan doktor Ilmu Sastra Unnes, Teguh Supriyanto  (Wawasan,2008) bahwa, &#8220;Dari aspek sastra, novel ini biasa-biasa saja, tema tetap hitam-putih, yang baik menang dan yang buruk kalah, tidak ada kejutan-kejutan sas­trawi. Tetapi novel ini memang diuntungkan faktor momen.</p>
<p>Ustadz H. Abu Ridho, dalam Bedah <em>Ayat-Ayat Cinta </em>di Munas PKS 2005 berpandangan bahwa, <em>&#8220;Aya-ayat Cinta</em> merupakan  novel yang sangat bagus dan lengkap kandungannya. Ini bukan hanya novel sastra dan novel cinta, tapi juga novel politik, novel budaya, novel religi, novel fikih, novel etika, novel bahasa, dan novel dakwah. Sangat bagus untuk dibaca siapa saja.&#8221; (Makalah, 2007) Hal ini juga didukung oleh pandangan Baidan. Dalam <em>Fenomena Ayat-ayat Cinta </em>(2008:24)</p>
<p>&#8220;Nuansa Islam yang amat kental mengukuhkan novel ini sebagai media dakwah. Banyak hikmah yang dapat dipetik, terutama mengenai bagaimana berinteraksi dengan sesama manusia, baik muslim maupun nonmuslim, muhrim dan bukan muhrim. Tersusun dalam bahasa yang indah dan halus. Tiap kejadian tersusun secara kompak, satu kejadian akan berhubungan dengan kejadian selanjutnya. Nyaris tidak ada kejadian yang sia-sia. Tiap babnya menghadirkan kejutan-kejutan tersendiri, hingga pembaca dibuat penasaran untuk terus mengikuti kisahnya dari awal hingga akhir….”</p>
<p>Tanggapan yang senada  mengagumi novel <em>AAC</em> karya Habiburraman El Shirazy masih banyak lagi. Meledaknya novel karya Habiburrahman El Shirazy itu, tak sempat dikupas tuntas, lantaran film adaptasi dari novelnya juga meledak, dan sempat mengalihkan perhatian masyarakat. Diakui atau tidak, kesuksesan <em>AAC</em> adalah momentum puncak dari sebuah aliran sastra, yakni sastra Islami.Hal lain novel <em>AAC </em> dipilih sebagai sumber penelitian adalah bahasanya mudah dipahami dan mengandung sarat gaya bahasa. Gaya bahasa yang disajikan dalam novel <em>AAC </em>sangat mudah ditemukan.</p>
<p>Masalah yang akan diungkap dalam pembahasan ini adalah (1) Gaya bahasa apa sajakah  yang  terdapat  dalam  novel  <em>AAC</em> karya Habiburraman El Shirazy? (2) Gaya bahasa apakah yang dominan dalam novel <em>AAC? dan</em> (3) Bagaimana implikasi novel <em>AAC </em>terhadap pengajaran sastra di SMA. Sedangkan tujuannya adalah (1) mengidentifikasi  gaya  bahasa  yang  terdapat   dalam   novel    <em>AAC, (2) </em>mendeskripsi gaya bahasa yang dominan dalam novel <em>AAC, dan (3) </em>memaparkan implikasi novel <em>AAC</em> terhadap pengajaran sastra di SMA</p>
<p>Penelitian  ini diharapkan dapat bermanfaat, yaitu bermanfaat secara teoretis dan praktis. Adapun manfaat dalam penelitian ini secara  teoretis adalah dapat dijadikan pijakan awal dalam memahmi novel <em>AAC. </em>Dengan pemahaman ini pembaca semakin mudah secara teoretis terhadap perkembangan penelitian stilistika. Pembahasan gaya bahasa dalam novel <em>AAC</em> adalah satu upaya mengungkap dan menambah khasanah bagi studi linguistik. Manfaat lainnya  adalah sebagai model analisis stilistika yakni bidang kajian tentang gaya bahasa dan deskripsi sistemis tentang gaya bahasa.</p>
<p>Secara praktis, bagi para guru hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai salah satu arternatif bahan ajar dalam pengajaran sastra di SMA. Hal ini mengingat bahwa bahan ajar yang ada di sekolah kurang mamadai. Oleh karena itu kajian  novel <em>AAC</em> tentunya dapat dijadikan sebagai materi tambahan.</p>
<p>Hasil penelitian ini juga dapat bermanfaat bagi guru sebagai referensi pengajaran gaya bahasa sebagai unsur intrinsik dalam novel.  Novel <em>AAC </em>terdapat pesan-pesan yang mulia yang harus disampaikan kepada siswa.</p>
<ol>
<li><strong>2.      </strong><strong>Kerangka Teoretis</strong></li>
</ol>
<p>Gaya bahasa menurut Pradopo (1997:93) adalah susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang timbul atau hidup dalam hati penulis, yang menimbulkan suatu perasaan tertentu  dalam hati pembaca. Tiap pengarang mempunyai gaya sendiri. Hal ini sesuai dengan sifat dan kegemaran masin-masing pengarang.</p>
<p>Menurut  Sayuti (2000:173) gaya bahasa merupakan cara pengungkapan seorang yang khas bagi seorang pengarang. Gaya seorang pengarang tidak akan sama bila dibandingkan dengan gaya pengarang lainnya, karena pengarang tertentu selalu menyajikan hal-hal yang berhubungan erat dengan selera pribadinya dan dan kepekaannya terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya.</p>
<p>Gaya bahasa menurut Keraf (2008:113) adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis.. Kekhasan itu dipengaruhi oleh teks yang digunakan oleh penulis/pengarang ketika menghadapi pembaca. Hal itu dilakukan agar materi yang disajikan tidak menimbulkan salah tafsir, karena kesalahan dalam menafsirkan menimbulkan persoalan baru.</p>
<p>Menurut Sudjiman (1993:19-20) gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa dalam konteks tertentu, oleh orang tertentu, dan untuk maksud tertentu, sehingga dapat dipahami bahwa penggunaan gaya bahasa mempertimbangkan ketiga hal tersebut, bahkan penggunaan gaya bahasa itu ditentukan oleh siapa yang dituju. Hal itu menandakan bahwa memahami konteks dan materi adalah hal utama, karena berbekal memahami hal tersebut dapat dijadikan bekal untuk meminimalisasi kesalahpahaman dan menjauhkan dari konflik di balik materi yang tersaji.</p>
<p>Aminuddin (2004:72) mengatakan bahwa gaya bahasa pada dasarnya berhubungan erat dengan cara seseorang pengarang dalam menampilkan gagasannya. Gagasan tersebut dituangkan dalam karya tertulis sehingga tampak tampilan gaya bahasanya. Hal itu dapat dinyatakan bahwa setiap penulis wacana memiliki karakter penulisan, karena setiap orang memiliki gaya yang dilatarbelakangi oleh pengalaman, latar belakang keilmuan, dan target yang dituju pada setiap gaya bahasanya.</p>
<p>Selanjutnya, menurut Suparman (1997:73) gaya bahasa adalah pernyataan dengan pola tertentu, sehingga mempunyai efek tersendiri terhadap pemerhati. Dengan pola materi akan menimbulkan efek lahiriah (efek bentuk), sedangkan dengan pola arti (pola makna) akan menimbulkan efek rohaniah.</p>
<p>Waridah (2008:322) berpendapat bahwa gaya bahasa adalah gaya seseorang pada saat mengungkapkan perasaannya baik secara lisan maupun tulis dan dapat menimbulkan reaksi pembaca berupa tanggapan. Gaya bahasa berdekatakan dengan majas. Majas merupakan bahasa kias, sehingga majas berada dalam gaya bahasa.</p>
<p>Berdasarkan keenam pendapat itu peneliti menyimpulan bahwa gaya bahasa adalah cara pengarang  menyampaikan/mengungkapkan pikiran dan maksud dengan menggunakan media bahasa indah. Pengungkapan itu dalam konteks tertentu, oleh orang tertentu, dan untuk maksud tertentu, serta mampu memberikan kesan suasana yang menyentuh daya emosi pembaca. Gaya bahasa akan mendapat reaksi  yang berupa tanggapan dari pembaca atau pendengar. Perbedaan keduanya adalah gaya bahasa merupakan gaya seseorang mengungkapkan bahasa baik langsung maupun tidak langsung (kias), sedangkan majas gaya bahasa yang cenderung gaya seseorang yang secara tidak langsung (kias).</p>
<p><strong>2.1 Stilistika</strong></p>
<p>Menurut Aminuddin (1997:21) stilistika merupakan kajian linguistik modern. Kajiannya meliputi hampir semua fenomena kebahasaan  hingga makna. Sehingga wacana (teks) dalam novel <em>AAC</em> merupakan bagian dari kajian linguistik modern dan termasuk fenomena bahasa beserta  beserta makna yang dikandungnya.</p>
<p>Selanjutnya menurut Leech dalam Aminuddin (1999: 27) stilistika secara sederhana dapat diartikan sebagai kajian linguistik yang objeknya  berupa gaya yaitu cara penggunaan bahasa dari seseorang dalam konteks tertentu dan untuk tujuan tertentu.</p>
<p>Sementera itu menurut Wallek  (1980: 57) stilistika adalah kajian  yang memusatkan perhatian pada hal-hal yang menyimpang dari kebiasaan dari kekhusukan. Kekhususan itu dalam penelitian ini adalah bagaimana pengarang menggunakan gaya bahasa dalam novel <em>AAC</em>.</p>
<p>Menurut Nurgiantoro (2000: 270) stilistika ditandai dengan oleh ciri-ciri formal kebahasaan  seperti pilihan kata, struktur kalimat, bentuk bahasa figuratif, penggunaan kohesi dan lain-lain sekaligus untuk mendapatkan keindahan yang menonjol. Keindahan dalam novel <em>AAC</em> bertujuan untuk mengikat pembaca sehingga mereka memahami pesan-pesan dengan baik. Pesan pengarang sangatlah penting bagi pembaca. Tanpa memahami pesan yang disampaikan tentunya tidak akan dapat menikmati dengan baik.</p>
<p>Menurut Kutha (2007: 236) stilistika berasal dari kata style yakni ilmu tentang gaya bahasa yang secara khusus dikaitkan dengan karya sastra. Selanjutnya dalam analisis Kutha  stilistika meliputi semua ekspresi dan teknik yang bertujuan memberikan penjelasan yang ada pada semua bahasa. Untuk menganalisis bentuk stilistika  dilakukan dengan cara <em>pertama,</em> analisis sistemis sistem sastra/bahasa yang dilanjutkan dengan analisis, dan <em>kedua </em> mengamati perbendaan antara gaya bahasa dengan bahasa yang digunakan secara umum.. Kedua analisis tersebut bertujuan  untuk memahami pandangan pengarang  dalam menuangkan ide dan memahami teks secara menyeluruh  dari aspek kebahasaan.</p>
<p><strong>2.2 Pengajaran Sastra  di SMA</strong></p>
<p>Dunia pendidikan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini diramaikan oleh pergantian kurikulum. Kurikulum yang berlaku sampai tahun 2006 adalah Kurikulum 1994. Kurikulum ini mengalami penyempurnaan dan hasil penyempurnaan ini adalah Kurikulum 2004 atau juga dikenal dengan sebutan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Ketika KBK ramai dibicarakan dan muncul buku-buku pelajaran yang disusun berdasarkan kurikulum ini, muncul KTSP atau Kurikulum 2006 merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2004 atau yang juga dikenal dengan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Seperti KBK, KTSP berbasis kompetensi. KTSP memberikan kebebasan yang besar kepada sekolah untuk menyelenggarakan program pendidikan yang sesuai dengan (1) kondisi lingkungan sekolah, (2) kemampuan peserta didik, (3) sumber belajar yang tersedia, dan (4) kekhasan daerah. Dalam program pendidikan ini, orang tua dan masyarakat dapat terlibat secara aktif.</p>
<p>.           KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan, dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan dengan memperhatikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Kurikulum ini juga dikenal dengan sebutan Kurikulum 2006 karena kurikulum ini mulai diberlakukan secara berangsur-angsur pada tahun ajaran 2006/2007. Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah harus sudah menerapkan kurikulum ini paling lambat pada tahun ajaran 2009/2010.</p>
<p>Upaya penyempurnaan kurikulum ini guna mewujudkan peningkatan mutu dan relevansi pendidikan yang harus dilakukan secara menyeluruh mencakup pengembangan dimensi manusia Indonesia seutuhnya, yakni aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, pengetahuan, keterampilan, kesehatan, seni dan budaya. Pengembangan aspek-aspek tersebut bermuara pada peningkatan dan pengembangan kecakapan hidup yang diwujudkan melalui pencapaian kompetensi peserta didik untuk bertahan hidup serta menyesuaikan diri dan berhasil dalam kehidupan. Kurikulum ini dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan kebutuhan dan keadaan daerah dan sekolah. Kebutuhan itulah yang dikemas dalam bentuk standar kompetensi.</p>
<p>Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa, bahwa belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tertulis serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia. Standar kompetensi ini dimaksudkan agar siswa siap mengakses situasi multiglobal lokal yang berorientasi pada keterbukaan dan kemasadepanan. Kurikulum ini diarahkan agar siswa terbuka terhadap beraneka ragam informasi yang hadir di sekitar kita dan dapat menyaring yang berguna, belajar menjadi diri sendiri, dan siswa menyadari akan eksistensi budayanya sehingga tidak tercerabut dari lingkungannya.</p>
<p>Standar kompetensi tersebut disiapkan dengan mempertimbangkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara serta sastra Indonesia sebagai hasil cipta intelektual produk budaya, yang berkonsekuensi pada fungsi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai (1) sarana pembinaan kesatuan dan persatuan bangsa, (2) sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya, (3) sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan untuk meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, (4) sarana penyebarluasan pemakaian bahasa Indonesia yang baik untuk berbagai keperluan menyangkut berbagai masalah, (5) sarana pengembangan penalaran, dan (6) sarana pemahaman beraneka ragam budaya Indonesia melalui khazanah kesusasteraan Indonesia.</p>
<p>Secara umum tujuan pengajaran sastra adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.</li>
<li>Siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.</li>
</ol>
<p>Kompetensi dasar yang dapat diimplikasikan dalam pembelajaran sastra sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Kelas X</li>
<li>Kelas XI</li>
<li>Kelas XII</li>
</ol>
<ul>
<li>menganalisis keterkaitan unsur intrinsik suatu cerpen dengan kehidupan sehari-hari</li>
<li>mengidentifikasi karakteristik dan   struktur unsur intrinsik sastra.</li>
</ul>
<ul>
<li>menganalisis unsur-unsur intrinsik  dan ekstrinsik novel Indonesia.</li>
<li>Membandingkan unsur intrinsik  dan ekstrinsik novel Indonesia/ terjemahan dengan hikayat</li>
</ul>
<ul>
<li>menjelaskan unsur-unsur intrinsik cerpen</li>
</ul>
<p>Mengingat bahasa ajar KTSP dikembangkan dan disusun oleh satuan pendidikan atau sekolah sesuai dengan kondisinya masing-masing, setiap sekolah mempunyai kurikulum yang berbeda. Dengan demikian, bahan ajar yang digunakan juga mempunyai perbedaan. Tidak ada ketentuan tentang buku pelajaran yang dipakai dalam KTSP. Buku yang sudah ada dapat dipakai. Karena pembelajaran didasarkan pada kurikulum yang dikembangkan sekolah, bahan ajar harus disesuaikan dengan kurikulum tersebut. Oleh karena itu, guru dapat menambah isi buku pelajaran yang digunakan.</p>
<p><strong>2.3 Implikasi Gaya Bahasa dalam Novel <em>AAC</em> terhadap Pengajaran Sastra di SMA</strong></p>
<p>Dari kelima <em>Kompetensi Dasar</em> (KD) dapat dikembangkan melalui novel <em>AAC</em> sebagai alternatif bahan ajar novel Indonesia.. Gaya bahasa yang terdapat dalam novel <em>AAC</em> merupakan bagian unsur intrinsik, sehingga gaya bahasa ini berimplikasi terhadap pengajaran sastra di SMA. Berkaitan dengan gaya bahasa dalam novel <em>AAC</em> dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengapresiasi karya sastra untuk mempertajam perasaan, meningkat penalaran,. dan daya imajinasi, serta meningkatkan kepekaan terhadap masyarakat dan lingkungan hidup.</p>
<p>Barkaitan dengan hal itu, guru mempunyai ciri-ciri khas dalam menyampaikan materi pelajaran di depan kelas. Dari ciri tersebut guru mempunyai strategi yang baik dan dapat menggugah gairah siswa untuk mengikuti pelajaran dengan baik.  Tuntut inilah yang para guru harus mereposisi bagaiamana mengajara yang baik, khususnya  guru BI dalam pengajaran sastra.</p>
<p>Menurut Gani (1998:294) bahwa pengajaran sastra mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi perilkau secara langsung.. Selanjutnya Gani mengatakan bahwa pengajaran sastra terdapat enam wilayah  respon siswa dalam proses belajara mengajara sastra yaitu (1) Penilaian sastra, siswa  menilai sastra dan kualitas estetiknya.. (2) Penafsiran sastra, siswa berupaya mengungkapkan makna sebuah cerita dan motif perwatakannya. (3) Penyimpulan sastra, siswa menyimpulkan peristiwa-peristiwa yang terkandung dalam sebuah cipta sastra. (4) Pengasosian sastra, siswa menghubungkan pengalaman pribadinya dengan orang-orang, tempat-tempat, dan peristiwa yang terkait dalam sebuah karya sastra. (5)  Pelibatan dalam sastra, siswa mengidentifikasi dirinya dengan pengalaman-pengalaman dari emosinya. (6) Penjabaran sastra, siswa menentukan apa yang harus dilakukan. (1998:294).</p>
<p>Pengajaran sastra termasuk dalam tiga kategori yaitu rahah kognitif, ranah, afektif, dan ranah psikomotor. Ranah kognitif terdapat respon yang diberikan siswa berbentuk penafsiran terhadap apa yang yang telah dibaca, sehingga ranah ini paling awal dalam proses belajar mengajar. Guru bisa menilai siswa secara sepintas pengetahuan yang diperoleh dari hasil membaca karya sastra. Ranah afektif  terdapat respon yang diberikan siswa atas pelibatan terhadap karya sastra yang dibacanya, sehingga guru dapat mengetahui perubahan apa yang terjadi pada diri siswa setelah membaca karya sastra. Ranah psikomotor terdapat respon yang diberikan siswa bagaimana  dapat menerapkan nilai-nilai karya sastra dalam kehiudpan sehari-hari.</p>
<p>Teknik pengajaran sastra di SMA dan implikasinya secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut.</p>
<p>1)      Guru membatasi tujuan dalam pengajaran sastra yaitu gaya bahasa. Implikasinya guru membimbing siswa senantiasa mengetahui dengan jelas tujuan yang akan dipelajari. Pembiasaan ini dapat membantu siswa berfikir kritis dan bekerja dengan konsisten dengan pencapaian tujuan-tujuan.</p>
<p>2)      Guru memfokuskan  pada proses belajar mengajar. Implikasinya guru mendorong siswaagar meningkatkan keterampilan membaca pemahamannya dalam bentuk kegiatan terstruktur dan mandiri, sehingga siswa secara tepat dapat memberikan respon dan analisisnya.</p>
<p>3)      Guru menempatkan teks dalam satu fokus yaitu  dengan meminta hasil pencarian gaya bahasa. Implikasinya siswa harus terlatih dalam dua hal yaitu  terampil membuat catatan kecil dari hasil analisis dan terampil membaca estetik.</p>
<p>4)      Dalam rangka peningkatan citarasa sastra siswa, guru perlu senantiasa kreatif meningkatkan  proses berpikir siswa. Implikasinya dalam proses diskusi  hasil analisis gaya bahasa, guru harus selalu mengikuti dengan cermat jalannya diskusi. Guru hendaknya jangan terlalu berorientasi pada hasil diskusi, akan tetap mengaktifkan diskusi.</p>
<p>5)      Sering kali proses pengajaran sastra langsung mengacu pada hal yang abstrak, tanpa melalui tahapan yang konkret. Implikasinya siswa kehilangan persepsi dalam merespon dan mengalaisis gaya bahasa  yang disajikan guru</p>
<p>6)      Guru harus dengan sabar membimbing siswa menemukan gaya bahasa sesuai dengan tujuan yang telah disampaikan. Implikasinya guru hendaknya membantu siswa dengan memberikan rambu-rambu yang praktis dan menantang</p>
<p>7)      Pada akhir kegiatan guru membantu siswa dalam merumuskan simpulan dari pembelajaran. Implikasinya guru mampu mengarahkan agar simpulan yang disailkan siswa lebih baik dan terarah sesuai dengan tujuan pengajaran.</p>
<p>Profesionalisme guru sangat menentukan keberasilan belajar siswa. Menurut Hamalik (1990), profil kemampuan dasar guru mencakupi: (1) kemampuan menguasai bahan, (2) kemampuan mengelola program belajar-mengajar, (3) kemampuan mengelola kelas, (4) kemampuan menggunakan media dan sumber; (5) kemampuan menguasai landasan pendidikan, (6) kemampuan menilai prestasi belajar siswa, (7) kemampuan mengelola interaksi belajar-mengajar, dan sebagainya.</p>
<ol>
<li><strong>3.       </strong><strong>Metode Penelitian</strong></li>
</ol>
<p>Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan stilistika. Pendekatan ini digunakan untuk menganalisis tanda dan bentuk kebahasaan yang dipergunakan pengarang sebagai pernyataan lahiriah. Selain itu, pendekatan stilistika digunakan untuk menganalisis penggunaan sistem tanda yang mengandung ide, gagasan dan nilai estetis tertentu, sekaligus untuk memahami makna yang dikandungnya. Menurut Teeuw (1984:76) bahwa mendekati sebuah teks bahasa dapat melalui berbagai  sudut pandang, bergantung pada fokus penelitian.</p>
<p>Adapun ciri-ciri stilistika menurut Pradopo (1999:97) mempunyai prinsip yaitu, (1) penggunaan bahasa dalam karya sastra atau teks berbeda dari penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari, (2) pengkajian  terpusat pada bahasa sebagai medium komunikasi, (3) menekankan pada apa yang diberikan oleh setiap orang atau setiap zaman, dan (4) tujuan stilistika untuk memberikan pemahaman pada pembacanya.</p>
<p>Pendekatan ini digunakan dengan alasan, data penelitian berupa penggalan-penggalan teks yang diduga berisi kalimat-kalimat bergaya bahasa tertentu dalam novel <em>AAC. </em> Analisis ini bertolak dari simpulan  menyangkut cara yang digunakan dalam memaparkan gagasan ideal yang dapat dirujukkan pada gejolak objektif dari sistem tanda yang ada dalam novel sebagai sasaran analisis (Aminuddin 1997:74).</p>
<p><strong>3.1  Data Penelitian</strong></p>
<p>Data penelitian ini berupa data karya sastra dan data pembelajaran. Data karya sastra berupa penggalan teks yang diduga berisi kalimat-kalimat  bergaya bahasa tertentu. Data penelitian itu berasal dari novel <em>AAC </em>karya Habiburraman El Shirazy. Sementara penggalan-penggalan teks yang diduga berisi kalimat-kalimat bergaya bahasa tertentu dalam novel <em>AAC </em> berjumlah sekitar 303 penggalan teks dijadikan sebagai data penelitian. Sedangkan data pembelajaran berupa butir-butir kompetensi dasar yang terdapat dalam kurikulum pada masing-masing tingkat kelas yaitu kelas X, XI, dan XII,</p>
<p><strong>3.2  Sumber Data Penelitian</strong></p>
<p>Sumber data penelitian ini berupa  novel <em>Ayat-ayat Cinta.</em> Novel ini karya Habiburrahman El Shirazy<em> </em>yang diterbitkan oleh Penerbit Republika. Novel <em>AAC</em> dalam penelitian ini dicetak pada bulan April 2008 merupakan cetakan ke-42.</p>
<ol>
<li><strong>4.       </strong><strong>Gaya</strong><strong> Bahasa dalam Novel <em>Ayat-ayat Cinta</em>Karya Habiburahman El Shirazy</strong></li>
</ol>
<p>Struktur kalimat dapat dijadikan  sebagai landasan  untuk menciptakan gaya bahasa. Yang dimaksud dengan struktur kalimat di sini adalah  kalimat bagaimana tempat sebuah unsur  kalimat yang dipentingkan dalam kalimat tersebut. Ada kalimat  yang bersifat periodik, bila bagian yang terpenting atau gagasan yang mendapat penekanan ditempatkan pada akhir kalimat.</p>
<p>Berdasarkan ketiga macam struktur kalimat sebagaimana yang dikemukakan dapat diperoleh jenis-jenis gaya bahasa klimaks,  antiklimaks, paralelisme, antitesis, dan retoris. Gaya bahasa retoris dibedakan atas anafora, epizeukis  dan tautotes. Sedangkan gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna  dibagi dua kelompok yaitu gaya bahasa retoris dan gaya bahasa  kiasan. Gaya bahasa retoris dibedakan menjadi (1) hiperbola, (2) silepsis, (3) aliterasi, (4) litotes, (5) asonansi, (6) eufemisme, (7) pleonasme, (8) paradoks, dan (9) retoris. Sedangkan gaya bahasa kiasan dibedakan menjadi (1) personifikasi, (2) ironi, (3) sarkasme, (4) metafora, (5) perumpamaan/simile, dan (6) metonimia</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>4.1 Gaya Bahasa Klimaks</strong></p>
<p>Gaya bahasa  ini ditemukan dalam novel <em>AAC </em>seperti dalam penggalan teks berikut.</p>
<p><em>(1)                  </em><em>Meskipun   butut,   ini   adalah   tas   bersejarah   yang   setia   menemani diriku  menuntut  ilmu  <strong>sejak di Madrasah Aliyah</strong>  sampai  <strong>saat  ini</strong>,  saat <strong>men</strong><strong>empuh S.2</strong>.  di universitas tertua di dunia (hal. 5).</em></p>
<p>Pada penggalan teks (1) terdapat penggunaan gaya bahasa klimaks yang ditandai kelompok kata seperti <strong><em>sejak di Madrasah Aliyah</em></strong><em>, <strong>saat  ini,</strong> <strong>men</strong><strong>empuh S.2.</strong></em><strong> </strong> Urutan pikiran yang makin meningkat berdasarkan kepentingan merupakan bentuk klimaks.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>4.2 Gaya Bahasa Antiklimaks</strong></p>
<p>Penggunaan kalimat yang bergaya bahasa antiklimaks. Terdapat pada penggalan teks berikut.</p>
<p><em>(2)                  </em><em>Sa</em><em>h</em><em>a</em><em>b</em><em>a</em><em>t</em><em>  nabi  itu  lalu  <strong>meninggalkan  diriku</strong>. Semakin  <strong>lama  semakin  jauh.</strong>  <strong>Mengecil</strong>.  <strong>Menjadi  titik.</strong>  Dan <strong> hilang</strong>.  Aku  merasa kehilangan dan sedih. Mataku basah  (hal. 135.)</em></p>
<p>Pengurutan acuan terdapat dalam penggalan teks (2) yang diawali dengan urutan yang lebih penting. Kelompok kalimat tersebut seperti,  <strong><em>meninggalkan  diriku, lama  semakin  jauh, mengecil</em></strong><em>,  <strong>menjadi  titik,</strong>  dan <strong> hilang. </strong></em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>4.3 Gaya Bahasa Paralelisme</strong></p>
<p>Dalam novel <em>AAC</em> ditemukan penggalan teks yang berisi  kalimat yang bergaya bahasa paralelisme. Penggalan teks itu ditandai dengan huruf yang bercetak tebal merupakan bentuk gaya bahasa paralelisme. Gaya bahasa dalam novel <em>AAC</em>  terdapat  lima yang ditemukan. Seperti pada penggalan teks (3) yang ditandai dengan kelompok kata yang menunjukkan keparalelismean.</p>
<p><em>(3)                  </em><em>Tenga</em><em>h</em><em> </em><em>h</em><em>a</em><em>r</em><em>i</em><em> </em><em>in</em><em>i</em><em>,</em><em> </em><em>k</em><em>ot</em><em>a</em><em> </em><em>C</em><em>a</em><em>i</em><em>r</em><em>o</em><em> </em><strong><em>seaka</em></strong><strong><em>n</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>memb</em></strong><strong><em>a</em></strong><strong><em>r</em></strong><strong><em>a</em></strong><em>.</em><em> </em><strong><em>M</em></strong><strong><em>a</em></strong><strong><em>ta</em></strong><strong><em>h</em></strong><strong><em>a</em></strong><strong><em>r</em></strong><strong><em>i</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>b</em></strong><strong><em>er</em></strong><strong><em>p</em></strong><strong><em>ij</em></strong><strong><em>a</em></strong><strong><em>r</em></strong><em> </em><em>d</em><em>i</em><em> </em><em>teng</em><em>a</em><em>h </em><em>petala</em><em> </em><em>langit.</em><em> </em><em>Seumpama</em><em> </em><strong><em>lidah</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>api</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>y</em></strong><strong><em>a</em></strong><strong><em>ng</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>menjulur</em></strong><em> </em><em>dan</em><em> </em><em>dan</em><em> </em><strong><em>m</em></strong><strong><em>enjilat-jilat</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>bumi</em></strong><em>.</em><em> </em><em>Tanah dan</em><em>  pasir  menguapkan  bau  neraka</em></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>Penggunaan gaya bahasa paralelisme pada penggalan teks (3) terdapat <strong><em>seakan membara</em></strong><em>, <strong>matahari berpijar. </strong></em>Kata <em>membara </em>sejajar dengan kata <em>berpijar. </em>Sedangkan<strong>  <em> lidah</em></strong><strong><em> api yang menjulur,</em></strong><em> </em>sejajar dengan<em> <strong>menjilat-jilat bumi. </strong></em></p>
<p><strong>4.4 Gaya Bahasa Antitesis</strong></p>
<p>Dalam novel <em>AAC </em>ditemukan penggalan teks yang berisi kalimat yang bergaya bahasa antitesis.</p>
<p><em>(4)                  </em><em>Awal-awal Agustus biasanya pengumuman keluar. <strong>Namun</strong> sampai hari ini, pengumuman belum juga keluar  (hal 5).</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Kalimat yang bergaya bahasa antitesis terdapat dalam  penggalan teks (4). Hal itu ditandai dengan dengan kata hubung <strong><em>namun</em>. </strong>Kata <strong><em>namun</em> </strong>tercermin bentuk berlawanan, di mana pada bulan Agustus biasanya pengumuman keluar, tetapi ternyata pada hari ini belum ada pengumuman. <em></em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>4. 5 Gaya Bahasa Anafora</strong></p>
<p>Anafora adalah gaya bahasa repetisi yang berwujud pengulangan kata pertama pada tiap baris atau kalimat berikutnya. Hal itu ditemukan dalam novel <em>AAC</em> yaitu penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa anafora.</p>
<p><em>(5)                  </em><strong><em>Tak kenal</em></strong><em> kata absen. <strong>Tak kenal</strong> cuaca dan musim. (hal 3)</em></p>
<p>Pengulangan kelompok kata <em>tak kenal</em> terdapat dalam  penggalan teks (5)<em>.</em> Kelompok kata itu diulang kembali pada kelimat kedua.</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>4.6  </strong><strong>Gaya</strong><strong> Bahasa Epizeuksis</strong></p>
<p>Epizeukis termasuk dalam kelompok gaya bahasa repetisi. Epizeuksis adalah repetisi yang bersifat langsung,  artinya kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut. Berikut penggalan teks berisi kalimat bergaya bahasa epizeukis yang terdapat dalam novel <em>AAC</em> sebagai berikut:.</p>
<p><em>(6)                  </em><em>Aku <strong>satu-satunya</strong> orang asing, sekaligus <strong>satu-satunya</strong> yang dari Indonesia. (hal 3)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Pemakaian gaya bahasa epizeukis dalam penggalan teks (6) berupa penggalan kata <em>satu-satunya</em> yang diulang dua kali. Kata itu dipentingkan dalam kalimat.</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>4.7  </strong><strong>Gaya</strong><strong> Bahasa Tautotes</strong></p>
<p>Tautotes termasuk dalam kelompok gaya bahasa repetisi. Tautotes adalah bentuk repitisi  atas sepenggalan kata yang berulang-ulang dalam sepenggalan konstruksi. Hal itu ditemukan penggalan teks yang berisi kalimat yang bergaya bahasa tautotes.</p>
<p><em>(7)                  </em><strong><em>Dakwah</em></strong><em> ya <strong>dakwah,</strong> <strong>ibadah</strong> ya <strong>ibadah.</strong> (hal 69)</em></p>
<p>Penggunaan gaya bahasa dalam penggalan teks (7) terdapat pengulangan dalam satu konstruksi yaitu kata <em>dakwah</em> dan <em>ibadah.</em></p>
<p><strong>4.8 Gaya Bahasa  Hiperbola</strong></p>
<p>Gaya bahasa hiperbola adalah gaya bahasa yang berisi suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesarkan-besarkan sesuatu hal. Hal itu ditemukan dalam novel <em>AAC </em> sebagaimana  penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa hiperbola</p>
<p><em>(8)                  </em><em>Aku  cepat-cepat  melangkah ke  jalan menuju  masjid  untuk  shalat  zhuhur. Panasnya <strong>bukan main</strong></em> <em>(hal. 8).</em><em></em></p>
<p>Dalam penggalan teks (8) terdapat kelompok kata <em>bukan main, </em>yang terkandung maksud bahwa pada saat zhuhur terlalu panas dan tidak dapat ditentukan berapa derajat suhunya. Kelompok kata itu merupakan pembentuk gaya bahasa hiperbola.</p>
<p><strong>4.9 Gaya Bahasa  Silepsis</strong></p>
<p>Dalam novel <em>AAC </em>terdapat penggalan teks yang berisi kalimat bergaya silepsis.sebagai berikut.</p>
<p><em>(9)                  </em><em>Masalah <strong>hidayah</strong> dan iman adalah <strong>masalah misterius</strong> (hal 12.)</em></p>
<p>Penggunaan gaya bahasa silepsis pada penggalan teks (9) terdapat kata <em>hidayah</em> yang dihubungkan  dengan <em>masalah misterius. </em>Hal ini dapat diketahui bahwa <em>hidayah </em> tidak dapat dimengerti oleh siapapun karena hidayah milik Allah yang merupakan masalah misterius.</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>4.1.2.1.3 Aliterasi</strong></p>
<p>Dalam novel <em>AAC </em>ditemukan penggalan tek yang berisi kalimat yang bergaya bahasa aliterasi sebagai berikut.</p>
<p><em>(10)              </em><em> Lekak–lekuknya jelas. (hal. 20)</em></p>
<p><em>(11)              </em><em>Di antara kata – kata kasar yang ku dengar. (hal. 21)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Penggunaan gaya bahasa aliterasu dalam penggalan teks (10) dan (11) terdapat perulangan konsonan <em>k</em> pada kata <em>lekak-lekuknya </em>dan <em>kata-kata kasar. </em> Perulangan konsonan itu bertujuan memberi keindahan nada dalam kalimat. Di samping itu juga agar pembaca tidak mengalami bosan dalam membaca novel <em>AAC. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>4.10 Gaya Bahasa  Litotes</strong><em>.</em><strong></strong></p>
<p><em> </em>           Gaya bahasa litotes ditemukan dalam novel <em>AAC</em> penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa litotes.</p>
<p><em>(12)              </em><em>Peninggalan kakek yang sangat sederhana dan sawah seperempat Bahu  (hal 108).</em></p>
<p>Pada penggalan teks (12) terdapat ungkapan yang bertujuan merendahkan diri yaitu <em>sawah seperempat Bahu.</em>.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>4.11 Gaya Bahasa Asonansi</strong></p>
<p>Dalam novel <em>AAC </em> ditemakan penggalan teks  yang berisi kalimat bergaya bahasa asonansi sebagai berikut.</p>
<p><em>(13)              </em><em>Penuh  rindu,  mata bundaku, yang   selaluku   rindu   (hal 106).</em></p>
<p><em>(14)              </em><em>Lampu-lampu  telah menyala seperti bintang-bintang (hal 184).</em></p>
<p><em>(15)              </em><em>Selalu biasa, datar dan wajar (hal. 286).</em></p>
<p>Penggunaan gaya bahasa asonansi pada penggalan teks (13) terdapat perulangan vokal <em>u</em> pada kata <em>penuh, rindu, bundaku, selalu, ku, rindu.</em> Pada penggalan (14) terdapat perulangan vokal <em>a</em> pada kata <em>menyala, bintang-bintang.</em> Dan penggalan teks (15) terdapat perulangan vokal <em>a</em> pada kata <em>biasa, datar dan wajar.</em></p>
<p><strong>4.12 Gaya Bahasa Eufemisme</strong></p>
<p>Gaya bahasa eufemisme ditemukan penggalan teks dalam  novel <em>AAC</em> yang  berisi kalimat bergaya bahasa eufemisme.</p>
<p><em>(16)              </em><em>Dan perjuangan seorang muslim sejati kata imam Ahmad bin Hanbal, “Tidak akan berhenti kecuali ketika kedua kakinya telah menginjak pintu surga”  (hal 41).</em></p>
<p>Pada penggalan teks (16) terdapat kalimat <em>tidak akan berhenti kecuali ketika kedua kakinya telah menginjak pintu surga.</em> Kalimat itu terkandung maksud bila kita berjuang tidak tanggung-tanggung atau setengah hati, melainkan dengan sepenuh hati secara totalitas.<em> </em></p>
<p><strong>4.13 Gaya Bahasa Pleonasme</strong></p>
<p>Berikut penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa pleonasme.</p>
<p><em>(17)              </em><em>Aku sudah bisa makan sendiri <strong>dengan kedua tanganku</strong> sendiri (hal. 41)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Penggunaan gaya bahasa pleonasme pada penggalan teks (17) terdapat ungkapan <em>dengan kedua tangan sendiri</em> pada dasarnya terkandung maksud sama dengan <em>makan sendiri </em>sehingga bila <em>dengan kedua tanganku sendiri, </em>tidak dituliskan maka maksudnya tetap utuh.</p>
<p><strong>4.14 Gaya Bahasa  Paradoks</strong></p>
<p>Dalam novel <em>AAC</em> ditemukan penggalan teks yang  berisi kalimat bergaya bahasa paradoks.</p>
<p><em>(18)              </em><em>Meletakan <strong>tangan kanannya</strong> <strong>di pundak kiriku</strong> (hal. 15).</em></p>
<p>Pada penggalan teks (18) terdapat ungkapan <em>tangan kanannya. Ungkapan itu </em> terkandung maksud pertentrangan  dengan kata <em>di pundak kiriku. </em></p>
<p><strong>4.15 Gaya Bahasa  Retoris</strong></p>
<p>Gaya bahasa retoris ditemukan dalam novel <em>AAC</em> penggalan teks yang  berisi kalimat bergaya bahasa retoris. Berikur penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa retoris.</p>
<p><em>(19)              </em><em>Tapi relakan ongkos dakwah dan ibadah dibebankan orang lain? (Hal : 74).</em></p>
<p>Dalam penggalan teks (19) adalah  kalimat yang tidak memerlukan jawaban. Kalimat itu sudah terkandung makna yang utuh sehingga pembaca tanpa menjawab pun sudah tahu maksudnya.</p>
<p><strong>4.16</strong><strong> Gaya Bahasa ersonifikasi</strong></p>
<p>Dalam novel <em>AAC</em> ditemukan penggalan teks yang  berisi kalimat bergaya bahasa personifikasi. Berikut penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa personifikasi.</p>
<p><em>(20)              </em><em>Seumpama lidah api <strong>yang menjulur</strong> dan <strong>menjilat-jilat</strong> bumi. (hal 2)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Gaya bahasa personifikasi terdapat dalam penggalan teks (20)  adalah <strong><em>lidah api </em></strong> yang seolah-olah berperilaku seperti manusia (bernyawa) yakni <strong><em>menjulur</em></strong><em> dan <strong>menjilat-jilat</strong>. </em><strong> </strong> Hal yang dipaparkan dalam penggalan teks itu menandaskan bahwa lidah api atau sinar matahari yang bersinar ke bumi.</p>
<p><strong>4.17</strong><strong>Gaya</strong><strong> Bahasa Ironi</strong></p>
<p>Dalam novel <em>AAC</em> ditemuakan penggalan teks yang  berisi kalimat bergaya bahasa ironi. Berikut penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa ironi.</p>
<p><em>(21)              </em><em>Ia telah ditolong tapi memfitnah orang yang dengan tulus hati menolongnya. (hal.296).</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dalam penggalan teks (21) terkandung maksud bahwa ia telah ditolong tetapi malah memfitnah kepada orang yang dengan tulus menolong.</p>
<p><strong>4.18 Gaya Bahasa  Sarkasme</strong></p>
<p>Hal itu ditemukan penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa sarkasme dalam novel <em>AAC. </em> Berikut ini penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa sarkasme.</p>
<p><em>(22)              </em>“<em>Ayolah khoemeini benar <strong>Amerika itu setan</strong>! Setan harus dibunuh (hal, 26)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Gaya bahasa sarkasme yang terdapat dalam penggalan teks (22) adalah <strong><em>Amerika itu setan</em></strong><em>! </em><strong><em>Setan harus dibunuh</em></strong><em>.</em> Ungkapan itu dipaparkan bentuk makian kepada  negara Amerika.</p>
<p><strong>4.19 Gaya Bahasa  Metafora</strong></p>
<p>Gaya bahasa metafora adalah gaya  bahasa yang membandingkan dua hal secara langsung yang memiliki sifat yang sama, tetapi dalam bentuk singkat. Hal itu ditemuakn penggalan teks yang  berisi kalimat bergaya bahasa metafora dalam novel <em>AAC</em>. Berikut penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa metafora.</p>
<p><em>(23)              </em><em>Matahari berpijar di tengah <strong>petala langit</strong>. (hal 2)</em></p>
<p>Pada penggalan teks (23) terdapat ungkapan <em>petala langit </em> yang berarti tingkatan langit yang paling tinggi sehingga kedudukan matahari disamakan dengan petala langit yang tingkatnya tinggi dan jauh.</p>
<p><strong><em><br />
</em> 4.20 Gaya Bahasa Perumpamaan atau Smile</strong></p>
<p>Dalam novel <em>AAC</em>  ditemukan penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa perumpaman/simile. Berikut penggalan  teks yang berisi kalimat bergaya bahasa perumpamaan/simile.</p>
<p><em>(24)              </em><em>Tengah  hari   ini Kota Cairo <strong>seakan</strong> membara  (hal 2).</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dalam penggalan teks (24) terdapar gaya bahasa  perumpamaan/simile. Hal ini ditandai dengan adanya kata hubung <em>seakan. </em> Kata <em>seakan </em> adalah ciri dari gaya bahasa ini.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>4.21 Gaya Bahasa  Metonimia</strong></p>
<p>Dalam novel <em>AAC</em>  ditemukan penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa metonimia. Berikut penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa metonimia.</p>
<p><em>(25)              </em><em>Sebab dia pernah bilang jika kuliah nanti ingin mengambil <strong>Sastra Perancis  </strong>(hal. 76). </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Ciri kalimat yang bergaya bahasa  metonimia  yang terdapat pada penggalan teks (25)  adalah  <em>Sastra Prancis</em> yang terkandung maksud bahwa ia kuliah pada jurusan sastra Perancis.</p>
<p>Secara keseluruhan bahwa novel <em>AAC</em> sangat padat dengan gaya bahasa. Jenis gaya bahasa yang dapat ditemukan dengan jumlah penggalan teks seperti dalam tabel berikut.</p>
<p align="center"><strong>Tabel 1. Jenis dan Jumlah Gaya Bahasa dalam Novel <em>AAC</em></strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="36">
<p align="center">No</p>
</td>
<td width="112">
<p align="center">Jenis Gaya Bahasa</p>
</td>
<td width="56">
<p align="center">Jumlah Gaya Bahasa</p>
</td>
<td width="288">
<p align="center"> Keterangan</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="36">
<p align="center">1</p>
</td>
<td valign="top" width="112">Klimaks</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">3</p>
</td>
<td valign="top" width="288">Halaman 4, 5, 241</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="36">
<p align="center">2</p>
</td>
<td valign="top" width="112">Antiklimaks</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">3</p>
</td>
<td valign="top" width="288">Halaman 135, 141, 284</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="36">
<p align="center">3</p>
</td>
<td valign="top" width="112">Paralelisme</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">7</p>
</td>
<td valign="top" width="288">Halaman  135, 139, 149, 153, 277, 304</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="36">
<p align="center">4</p>
</td>
<td valign="top" width="112">Antitesis</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">22</p>
</td>
<td valign="top" width="288">Halaman 3, 5, 10, 11, 14,  107, 133, 159, 164, 171, 237, 241,  251, 269, 278, 280, 288, 295</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="36">
<p align="center">5</p>
</td>
<td valign="top" width="112">Anafora</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">11</p>
</td>
<td valign="top" width="288">Halaman 3, 6, 67,68, 69, 134, 136, 137, 144, 163, 187,</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="36">
<p align="center">6</p>
</td>
<td valign="top" width="112">Epizeuksis</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">6</p>
</td>
<td valign="top" width="288">Halaman 3, 5 67, 68,  159, 160</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="36">
<p align="center">7</p>
</td>
<td valign="top" width="112">Tautotes</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">5</p>
</td>
<td valign="top" width="288">Halaman 69, 159, 160, 205</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="36">
<p align="center">8</p>
</td>
<td valign="top" width="112">Hiperbola</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">84</p>
</td>
<td valign="top" width="288">Halaman 8,, 12, 17, 18, 21, 22, 27, 28,  30, 35, 36, 41, 43, 44, 67, 68, 71, 75, 95, 9, 106, 107, 108, 113, 114, 146, 150, 151, 154, 155, 156, 157, 160, 161, 165, 166, 174, 175, 178, 183, 186, 190, 195, 196, 28, 214, 219, 237, 239, 240, 244, 254, 255, 256, 260, 261, 268, 272, 282, 284, 288, 289,  294, 312,</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="36">
<p align="center">9</p>
</td>
<td valign="top" width="112">Silepsis</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">5</p>
</td>
<td valign="top" width="288">Halaman 12, 13, 76, 148</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="36">
<p align="center">10</p>
</td>
<td valign="top" width="112">Aliterasi</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">3</p>
</td>
<td valign="top" width="288">Halaman 20, 21, 306</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="36">
<p align="center">11</p>
</td>
<td valign="top" width="112">Litotes</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">7</p>
</td>
<td valign="top" width="288">Halaman 108, 166, 167, 178, 219, 289</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="36">
<p align="center">12</p>
</td>
<td valign="top" width="112">Asonansi</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">3</p>
</td>
<td valign="top" width="288">Halaman 106, 184, 286</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="36">
<p align="center">13</p>
</td>
<td valign="top" width="112">Eufemisme</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">8</p>
</td>
<td valign="top" width="288">Halaman 41, 68, 73, 223, 264, 277, 280</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="36">
<p align="center">14</p>
</td>
<td valign="top" width="112">Pleonasme</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">2</p>
</td>
<td valign="top" width="288">Halaman 141, 258</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="36">
<p align="center">15</p>
</td>
<td valign="top" width="112">Paradoks</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">7</p>
</td>
<td valign="top" width="288">Halaman 15, 24, 26, 43, 45, 47, 294</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="36">
<p align="center">16</p>
</td>
<td valign="top" width="112">Retoris</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">3</p>
</td>
<td valign="top" width="288">Halaman 74, 219, 241</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="36">
<p align="center">17</p>
</td>
<td valign="top" width="112">Personifikasi</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">54</p>
</td>
<td valign="top" width="288">Halaman 2, 4, 7, 12, 13, 15, 18, 19,24, 31, 32, 35, 36, 38, 41, 44, 50, 67, 71, 73, 75, 78, 93, 95, 97, 99, 106, 113, 115, 117, 144, 150, 151, 152, 153, 162, 165, 169, 267, 302, 304, 307, 308</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="36">
<p align="center">18</p>
</td>
<td valign="top" width="112">Ironi</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">1</p>
</td>
<td valign="top" width="288">Halaman 296</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="36">
<p align="center">19</p>
</td>
<td valign="top" width="112">Sarkasme</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">9</p>
</td>
<td valign="top" width="288">Halaman 26, 27, 238, 239, 240, 241, 242, 258, 297</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="36">
<p align="center">20</p>
</td>
<td valign="top" width="112">Metafora</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">13</p>
</td>
<td valign="top" width="288">Halaman 2, 3, 16, 20, 22, 25, 27, 30, 53, 118</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="36">
<p align="center">21</p>
</td>
<td valign="top" width="112">Perumpamaan/Simile</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">44</p>
</td>
<td valign="top" width="288">Halaman 2, 6, 7, 12, 20, 27, 29, 30, 31, 35, 36, 39, 3, 44, 47, 68, 71, 107,  138, 140, 157, 199, 202, 212220, 222, 223, 227, 230, 231, 232, 236, 241, 245, 251, 256, 259, 264, 285</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="36">
<p align="center">22</p>
</td>
<td valign="top" width="112">Metonimia</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">3</p>
</td>
<td valign="top" width="288">Halaman 76, 78, 113</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" valign="top" width="148">
<p align="center">Jumlah sekuruh</p>
</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">303</p>
</td>
<td valign="top" width="288"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Berdasarkan uraian itu bahwa novel <em>AAC</em> sangat syarat dengan penggunaan gaya bahasa. Hal itu dapat dilihat dalam tabel itu. Sosok pengarang begitu lincahnya menggunakan gaya bahasa dalam mengungkapkan karya novelnya. Bahasa yang digunakan sangat sederhana, sehingga mudah dipahami. Hal itulah yang menyebabkan novel <em>AAC</em> mampu meledak di tengah-tengah  minimnya novel religi pada saat ini.</p>
<p>Gaya bahasa novel <em>AAC</em> yang terdapat dalam Tabel 1, dapat dipaparkan bahwa terdapat gaya bahasa yang dominan. Gaya bahasa itu adalah gaya bahasa <em>hiperbola</em> yang berjumlah 84 penggalan. Pengarang novel <em>AAC</em> memperbanyak gaya bahasa seperti hiperbola, dengan tujuan untuk memberikan keindahan dan pengaruh yang kuat kepada pembaca.  Dominasi gaya bahasa hiperbola dalam novel ini pun memberikan nuansa yang bombastis sehingga pembaca semakin bermiat untuk terus membaca novel itu</p>
<ol>
<li><strong>5.       </strong><strong>Implikasi Gaya Bahasa Novel <em>Ayat-ayat Cinta </em>Terhadap Pengajaran Sastra di SMA</strong></li>
</ol>
<p>Salah satu masalah dalam pengajaran satra adalah kurangnya kemampuan guru dalam memilih bahar ajar yang aktual dan bermanfaat. Hal ini sering terjadi siswa menjadi bosan bila sudah masuk pada ranah pengajaran sastra. Secara umum mempunya tanggung jawab dapat mengubah dan mampu memberikan yang terbaik bagi siswa. Bahan ajar yang disajikan diharapkan dapat menggairahkan dan menyenangkan.</p>
<p>Novel <em>AAC</em> salah satu novel yang dapat memberikan gairah dan rasa senang siswa untuk membacanya. Secara umum novel <em>AAC</em> mempunyai daya tarik tersendiri bagi pembacanya. Hal ini dapat memberikan semangat kepada siswa untuk meningkatkan salah satu kompetensi kamahiran berbahasa.</p>
<p>Dalam belajar bahasa Indonesia dikenal empat macam kemahiran bahasa, yaitu kemahiran mendengar, membaca, berbicara, dan menulis. Kemahiran mendengar dan membaca bersifat reseptif, sedang kemahiran berbicara dan menulis bersifat produktif. Penguasaan bahasa yang ideal mencakup keempat jenis kemahiran tersebut, walaupun kenyataannya masih ada siswa yang malas membaca dan rendah kemampuan menulis. Sehingga dengan novel <em>AAC</em> sebagai salah satu bahan ajar pengajaran sastra dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa.</p>
<p>Bahan ajar novel <em>AAC</em> dapat memberikan solusi bagi guru yang mengalami kesulitan menjangkau novel-novel angkatan 20-an, seperti <em>Belenggu, Siti Nurbaya, Salah Pilih, Salah Asuhan. </em> Karena novel  tersebut sekarang ini di samping susah didapat, juga bahasanya sukar dipahami. Kendala inilah yang mengakibatkan siswa enggan membaca novel tersebut. Sehingga novel <em>AAC</em> adalah salah satu novel yang dapat digunakan dalam pembelajarn sastra.</p>
<p>Kompetensi dasar (KD) dapat dikembangkan melalui novel <em>AAC</em> sebagai  bahan ajar novel Indonesia.. Gaya bahasa yang terdapat dalam novel <em>AAC</em> merupakan bagian unsur intrinsik, sehingga gaya bahasa ini berimplikasi terhadap pengajaran sastra di SMA.</p>
<p>Untuk menciptakan komunikasi yang baik antara pembelajar dan pengajar, diperlukan materi pelajaran yang fungsional.. Secara fungsional novel <em>AAC</em> sebagai salah satu bahan ajar, novel <em>AAC</em> memberikan gairah baru terhadp pengajaran sastra di SMA yang cenderung terpaku pada silabus. Guru dituntut lebih aktif dan kreatif dalam mengembangkan bahan ajar yang lebih aktual. Kemampuan guru sangatlah penting, agar minat siswa dalam pengajaran sastra makin meningkat.</p>
<p>Tujuan pengajaran sastra secara umum adalah dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengapresiasi karya sastra untuk mempertajam perasaan, meningkatkan penalaran,. dan daya imajinasi, serta meningkatkan kepekaan terhadap masyarakat, budaya, dan lingkungan hidup. Berkaitan dengan tujuan itu maka gaya bahasa dalam novel <em>AAC</em>. akan berdampak positif pada siswa.</p>
<p>Proses pengajaran analisis gaya bahasa dalam novel <em>AAC</em>  merupakan bagian belajar membaca dan menghayati isi wacana yang dibacanya. Hal ini berarti, sebelum guru memberikan tugas analisis harus diawali dengan informasi-informasi. Karena tingkat pemahaman masing-masing siswa berbeda satu dengan yang lain. Ada siswa yang mudah mencerna informasin, ada pula yang lambat sehingga guru harus mampu mengondisikan situasi awal.</p>
<p>Teknik pembelajaran ini  dilaksanakan dalam tiga tahapan, yaitu tahap prabacaan, bacaan, dan pascabacaan. Setiap tahap harus dilakukan karena tahap yang satu menjadi prasyarat bagi tahap lainnya, dan keberhasilan pelajaran membaca ditentukan oleh ketiga tahapan itu.</p>
<p><strong>1)  Prabaca</strong></p>
<p>Pada tahap prabaca yang dilakukan guru sebagai berikut.</p>
<p>(1)    Guru menyampaikan tujuan pembelajaran. Dalam merancang prses belajar mengajar khususnya gaya bahasa, guru dengan cermat menj abarkan tujuan-tujuan yang akan dicapai siswa. Tujuan-tujuan tersebut sebaiknya diketahui siswa dengan tuntas sebelum prose belajar mengajar berlangsung</p>
<p>(2)    Guru memperkenalkan tipe naskah dalam novel  yang akan dipelajari.</p>
<p>(3)    Guru menyampaikan gambaran umum mengenai topik yang akan dibahas.</p>
<p>Tahap prabaca berfungsi sebagai dasar dari keseluruhan pelajaran membaca. Hal ini berarti bahwa siswa akan mengalami kesulitan mengikuti pelajaran ini. Oleh karena itu siswa harus dibekali informasi dan pikiran yang tepat mengenai naskah yang akan mereka baca. Untuk itu sebelum pelajaran membaca dimulai, guru mulai menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan topik yang akan dibahas.</p>
<p>.</p>
<p><strong>2) Baca</strong></p>
<p>Kegiatan membaca dimulai yang dilakukan guru sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Guru mendistribusikan naskah  kepada para siswa.</li>
<li>Siswa diminta membaca dan memahami isi naskah. Siswa  bisa bertanya kepada guru bila mengalami kesulitan, sepertitidak paham makna kata, maksud kalimat dan lain-lian.  Guru memberikan bimbingan dan arahan dengan tujuan agar siswa terampl membaca naskah. Dalam membimbing guru harus sabar membantu siswa menyadari bahwa membaca novel bukanlah proses membaca eferen  melainkan proses membaca estetik</li>
<li>Siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri atas 2 atau 3 orang. Dalam kelompok tersebut siswa berdiskusi dengan temannya mengenai topik dalam naskah.</li>
<li>Guru mengecek pemahaman siswa dengan bertanya kepada para siswa satu per satu mengenai apa yang dikerjakan dan bagaimana hasilnya. Jika dalam materi pelajaran terdapat bagian yang harus diperankan, maka para pembelajar diminta untuk bermain peran (<em>role play</em>) mengenai hal tertentu.</li>
<li>Siswa berdiskusi dalam kelompok untuk menemukan gaya bahasa dalam novel <em>AAC.</em> Guru harus dengan sabar membimbing siswa menemukan gaya bahasa sesuai dengan tujuan yang telah disampaikan</li>
</ol>
<p><strong>3) Pascabaca</strong></p>
<p>Kegiatan pascabaca memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan refleksi pada apa yang telah dilakukan. Kegiatan ini merupakan bentuk perenungan. Guru harus merancang kegiatan seperti :</p>
<p>(1)     Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendasar, namun tetap dalam jangkauan kemampuan dasar siswa.</p>
<p>(2)     Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya. Dalam kegiatan guru hendanya jangan melayani pertanyaan-pertanyaan siswa yang  terlalu sederhana.. Peringatkan siswa hanya mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang pantas ditanyakan. Peringatkan pada siswa untuk mengajukan pertanyaan yang bermutu dan baik.</p>
<p>(3)     Berikan penilaian dan penghargaan yang baik kepada siswa yang pertanyaannya bermutu.</p>
<p>(4)     Guru meminta hasil analisis gaya bahasa pada masing masing siswa.</p>
<p>(5)     Di akhir kegiatan, guru dapat melakukan semacam tes pengelompokan tingkat, sehingga terjaring hingga tiga kelompok besar. Kelompok itu terdiri dari kelompok struktural, kelompok retorikal, dan kelompok simbolik.</p>
<p>Pada bagian pascabaca terdapat tugas yang harus dikerjakan oleh para siswa setelah pelajaran selesai. Siswa diberi pekerjaan rumah yang harus dikumpulkan pada hari berikutnya ketika pelajaran yang sama berlangsung lagi. Pekerjaan rumah siswa dari tahapan pascabaca itu harus diperiksa oleh guru hasilnya dikembalikan kepada siswa. Jika waktu tidak memungkinkan, bagian pascabaca ini tidak perlu dibahas di kelas, akan tetapi guru menyediakan waktu bagi siswa yang ingin menanyakan sesuatu terkait materi yang ada.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>6.       </strong><strong>Penutup</strong></li>
</ol>
<p>Berdasarkan iuraikan pada bab IV  dan V,  dapat disimpulkan sebagai berikut. (1) Jenis gaya bahasa yang terdapat dalam novel <em>Ayat-ayat Cinta</em> karya Habiburraman El Shirazy adalah gaya bahasa klimaks, antiklimaks, paralelisme, antitesis, repetisi, hiperbola, silepsis, aliterasi, litotes, asonansi, eufemisme, pleonasme, paradoks, retoris, personifikasi, ironi, sarkasme, metafora, permpamaan/simile dan metonimia. (2) Gaya bahasa yang dominan dalam novel <em>Ayat-ayat Cinta</em> adalah gaya bahasa hiperbola.  (3) Implikasi gaya bahasa dalam novel <em>Ayat-ayat Cinta </em> karya Habiburraman El Shirazy terhadap pengajaran sastra di SMA adalah dititikberatkan pada  sumber bahan ajar yang mengacu pada tujuan pengajaran sastsa. Implikasi gaya bahasa novel <em>AAC</em> seperti mempertajam perasaan, meningkatkan penalaran dan daya imajinasi serta  meningkatkan kepekaan terhadap masyarakat, budaya dan lingkungan hidup. Sementara dalam pembelajarannya bergantung pada bagaimana guru berkreasi. Guru harus mempunyai ciri-ciri khas dalam menyampaikan materi pelajaran di depan kelas. Dari ciri tersebut guru mempunyai strategi yang baik dan dapat menggugah gairah siswa untuk mengikuti pelajaran dengan baik.</p>
<p>Sesuai dengan simpulan itu dapat dikemukakan saran bahwa novel <em>Ayat-ayat Cinta</em> karya Habiburraman El Shirazy merupakan penelitian awal gaya bahasa. Hasil penelitian masih belum lengkap sehingga hasil penelitian ini dapat menjadi bahan acuan kepada siapa pun untuk penelitian lajut dan untuk dikaji lebih luas dari penelitian ini. Juga dapat digunakan sebagai sumbangan  dalam pengembangan di dunia pendidikan terutama di bidang sastra.  Dari hasil analisis  gaya bahasa dalam novel <em>Ayat-ayat Cinta</em> sangatlah berguna untuk pengembangan bahan ajar, khususnya terhadap pengajaran sastra  SMA.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Amin. 2006.  <em>Pengajaran Bahasa Indonesia di SMA. </em><a href="http://amin.blogsome.com/2006/10/18/p6/trackback/">http://amin.blogsome.com/2006/10/18/p6/trackback/</a></p>
<p>Aminuddin.  1999. <em>Stilistika: Pengantar Memahami dalam Karya Sastra. </em>IKIP Semarang Press. Semarang.</p>
<p>_________. 2004. <em>Pengantar Apresiasi Karya Sastra.</em> Bandung: Sinar Baru Algesindo</p>
<p>Chamamah-Soeratno,Siti.1991.<em>Hikayat Iskandar Zulkarnain: Analisis Resepsi</em>. Jakarta: Balai Pustaka.</p>
<p>Diknas, 2006. <em>Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan</em> Jakarta. Diknas</p>
<p>Gani, Rizanur. 1988. <em>Pengajaran Sastra Indonesia : Respon dan Analisis. </em>Jakarta: Depdikbud, Dirjen Pendidikan Tinggi</p>
<p>Hamalik, Oemar. 1990. <em>Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem</em>. Bandung: Citra Aditya Bakti.</p>
<p>Kusmini.  1998. <em>Diksi dan Gaya Bahasa dalam Iklan Berbahasa Indonesia di Radio. </em>IKIP Semarang. Tidak dipublikasikan.</p>
<p>Keraf, Gorys. 2008. <em>Diksi dan Gaya Bahasa. </em>Jakarta: Gramedia.</p>
<p>Kutha, Nyoman, 2007. <em>Estetika Sastra dan Budaya. </em>Yogyakarta: Pustaka Pelajar</p>
<p>Lambang, Sri. 2001. <em>Jenis-jenis Diksi dan Gaya Bahasa pada Teks Lagu Karya Ebiet G. Ade. </em>IKIP Semarang. Tidak dipublikasikan</p>
<p>Muslahuddin. 2001. <em>Gaya</em><em> BahasaRetoris dalam Iklan Berbahasa Indonesia di Televisi. </em>IKIP Semarang. Tidak dipublikasikan</p>
<p>Natawidjaja. P Suparman. 1997. <em>Apresiasi Stilistika.</em> Bandung: Intermasa</p>
<p>Nurgiantoro, Burhan. 2005. <em>Teori Pengkajian Fiksi.</em> Yogyakarta: UGM Press.</p>
<p>Nursilowati. 2001. <em>Gaya</em><em> BahasaRoman La Barka Karya N.H. Dini.</em> IKIP Semarang. Tidak dipublikasikan</p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td bgcolor="white" width="52" height="40">
<table width="100%" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<p>95</p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Pradopo, Rachmat Djoko.1997. <em>Pengkajian Puisi</em>.Yogyakarta:Gajah Mada University Press.</p>
<p>________.  1999. <em>Teori dan Metode Penelitian Sastra serta Peneraj. </em>Dalam Lembaran sastra No. 17 Semarang: Fakultas Sastra UNDIP.</p>
<p>Rahmanto, B. 1988. <em>Metode Pengajaran Sastra. </em>Yogyakarta: Kanisius</p>
<p>Rohani. 1994. <em>Sajak-sajak Sepatu Tua Karya Rendra: Analisis Stilistika.</em> IKIP Semarang. Tidak dipublikasikan.</p>
<p>Sayuti, Suminto A. 2000. <em>Berkenalan dengan Prosa Fiksi.</em> Yogyakarta: Gama Media.</p>
<p>Segers, Rien T. 1978. <em>Th</em><em>e Evaluation of Text</em>.Lisse:The Peter de Ridder Perss.</p>
<p>Sudjiman, Panuti. 1993. <em>Bunga Rampai Stilistika. </em>Grafiti: Jakarta.</p>
<p>Supriyanti. 2002. <em>Gaya</em><em> Bahasa dalam Teks Berita Harian Umum Kompas. </em>IKIP Semarang. Tidak dipublikasikan.</p>
<p>Susilowati.  1993. <em>Karakteristik Novel La Rose. </em>IKIP Semarang. Tidak dipublikasikan.</p>
<p>Supriyanto, Teguh.  1997. <em>Gaya</em><em> Bahasa Novel Bekisar Merah Karya Ahmad Tohari.</em> IKIP Semarang. Tidak dipublikasikan.</p>
<p>Sutimah. 2000. <em>Gaya</em><em> Bahasa Novel Saman Karya Ayu Utami. </em>Skripsi IKIP Semarang. Tidak dipublikasikan.</p>
<p>Teeuw, Andries. 1984. <em>Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar Teori Sastra</em>. Jakarta:Pustaka Jaya</p>
<p>________.1988.<em> Sastra dan Ilmu Sastra Pengantar Teori Sastra</em>. Jakarta Pustaka:Jaya</p>
<p>Wellek dan Austin Warren. 1990. <em>Teori Kesusastraan</em>. Jakarta:PT Gramedia</p>
<p>Windasari. 1999. <em>Gaya</em><em> Bahasa dalam Roman Burung-Burung Manyar Karya Y.B. Mangunwijaya. </em>IKIP semarang. Tidak dipublikasikan.</p>
<p>Wibowo, Wahyu. 2000. <em>Manajemen Bahasa. </em>Gramedia: Jakarta.</p>
<p>Yuliani. 2001. <em>Gaya</em><em> Bahasa Kumpulan Cerpen Singgasana Kecantikan Karya Kahlil Gibran. </em>IKIP Semarang. Tidak dipublikasikan.</p>
<p>Zoest, Aart Van. 1993. <em>Semiotika.</em> Jakarta : Yayasan Sumber Agung</p>
<p>Zoest, Aart Van dan Panuti Sudjiman. 1992. <em>Serba-serbi Semiotika.</em> Jakarta : Gramedia Pustaka utama.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khusnin.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khusnin.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khusnin.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khusnin.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/khusnin.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/khusnin.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/khusnin.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/khusnin.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khusnin.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khusnin.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khusnin.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khusnin.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khusnin.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khusnin.wordpress.com/590/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khusnin.wordpress.com&amp;blog=4690334&amp;post=590&amp;subd=khusnin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khusnin.wordpress.com/2011/10/08/gaya-bahasa-novel-ayat-ayat-cinta-karya-habiburrahman-el-shirazy-dan-implikasinya-terhadap-pengajaran-sastra-di-sma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c1eb16f42d3c4b04e6d11ae916f4569?s=96&#38;d=retro" medium="image">
			<media:title type="html">khusnin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RINGKASAN MATERI BAHASA INDONESIA (Materi-materi yang wajib dipelajari)</title>
		<link>http://khusnin.wordpress.com/2010/09/29/ringkasan-materi-bahasa-indonesia-materi-materi-yang-wajib-dipelajari/</link>
		<comments>http://khusnin.wordpress.com/2010/09/29/ringkasan-materi-bahasa-indonesia-materi-materi-yang-wajib-dipelajari/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Sep 2010 22:57:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khusnin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khusnin.wordpress.com/?p=476</guid>
		<description><![CDATA[PEMBINAAN BAHASA INDONESIA Peristiwa penting yang menyangkut kehidupan bangsa kita, baik yang menyangkut kepentingan masyarakat Indonesai masa kini maupun masa depan adalah peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Peristiwa itu selalu diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda yang sejak tahun 1978 sekaligs dijadikan Hari Pemuda. Dalam peringatan itu dibacakan naskah Sumpah Pemuda 1928 yang merupakan kutipan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khusnin.wordpress.com&amp;blog=4690334&amp;post=476&amp;subd=khusnin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PEMBINAAN BAHASA </strong><strong>INDONESIA</strong><strong> </strong></p>
<p>Peristiwa penting yang menyangkut kehidupan bangsa kita, baik yang menyangkut kepentingan masyarakat Indonesai masa kini maupun masa depan adalah peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Peristiwa itu selalu diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda yang sejak tahun 1978 sekaligs dijadikan Hari Pemuda. Dalam peringatan itu dibacakan naskah Sumpah Pemuda 1928 yang merupakan kutipan Putusan Kongres Pemuda-pemuda Indonesia tahun 1928 sebagai berikut :</p>
<p><span id="more-476"></span></p>
<p>Pertama         :     Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.</p>
<p>Kedua            :     Kami putra dan putri Indonseia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonsia.</p>
<p>Ketiga            :     Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.</p>
<p>Sumpah pemuda merupakan pernyataan kebulatan tekad yang dijalin oleh tiga unsur yang saling berkaitan. Unsur pertama dan kedua merupakan pengakuan terhadap tanah air Indosia yang satu, yang didukung oleh satu kesatuan bangsa Indonesia. Unsur yang ketiga merupakan pernyataan tekad bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia.</p>
<p>Pada tahun 1928 itulah bahasa Indonesia dikukuhkan kedudukannya sebagai bahasa nasional dan pada tahun 1945 secara konstitusional, seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945, Bab XV, Pasal 36 dikukuhkan sebagai bahasa Negara.</p>
<p>Di dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai</p>
<p>(1)     lambang kebanggaan nasional,</p>
<p>(2)     Lambang jati diri (identitas) nasional</p>
<p>(3)     Alat pemersatu berbagai masyarakat yang berbeda-beda latar belakng sosial budaya dan bahasanya dan</p>
<p>(4)     Alat perhubungan antar budaya antar daerah.</p>
<p><strong>EJAAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Secara umum, orang menganggap bahwa ejaan berhubungan dengan melisankan bahasa. Hal itu terjadi karena orang terikat pada kata atau nama itu. Di dalam bahasa, sebetulnya ejaan berhubungan dengan ragam bahasa tulis. Ejaan adalah cara <em>menuliskan bahasa (kata atau kalimat) dengan menggunakan huruf dan tanda baca.</em></p>
<p>Di dalam perkembangannya, bahasa Indonesia pernah menggunakan beberapa macam ejaan. Mulai tahun 1901, penulisan bahasa Indonesia (waktu itu masih bernama bahasa Melayu) dengan abjad Latin mengikuti aturan ejaan yang disebut Ejaan<em> van Ophusyen. </em>Peraturan ejaan itu digunakan sampai bulan Maret 1947, yaitu ketika dikeluarkan peraturan ejaan yang baru oleh Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan, Mr. Soewandi- dengan Surat Keputusan No. 264/Bhg. A. tanggal 19 Maret 1947 (kemudian diperbaharui dengan lampiran pada Surat Keputusan tanggal 1 April 1947, No. 345/Bhg. A). Peraturan ejaan yang baru itu disebut Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi.</p>
<p>Pada saat ini bahasa Indonesia menggunakan ejaan yang disebut Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan mulai Agustus 1972, setelah diresmikan di dalam pidato kenegaraan Presiden Suharto pada tanggal 16 Agustus 1972. Penjelasan lebih lanjut mengenai aturan ejaan itu dimuat dalam (Pedoman Umum) <em>Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan</em> dan dilampirkan pada Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0196?U/1975, tanggal 27 Agustus 1975. Di dalam pedoman itu diatur hal-hal mengenai</p>
<p><em>(1) </em><em>Pemakaian huruf,</em></p>
<p><em>(2) </em><em>Penulisan huruf,</em></p>
<p><em>(3) </em><em>Penulisan kata,</em></p>
<p><em>(4) </em><em>Penulisan unsur serapan dan,</em></p>
<p><em>(5) </em><em>Tanda baca.</em></p>
<p>Berikut ini disajikan beberapa segi yang dirasakan belum mantap mengenai penerapan aturan ejaan seperti yang dikemukakan di dalam pedoman itu, yaitu beberapa hal yang menyangkut pemakaian huruf, penulisan huruf, penulisan kata dan penulisan unsur serapan.</p>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>Pemakaian Huruf</strong>
<ol>
<li>Abdjad</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Di dalam Abjad bahasa Indonesia ada 26 huruf yang digunakan, yaitu sebagai berikut :</p>
<p><em>Huruf                          Dibaca                  Huruf                          Dibaca</em></p>
<p>A                                a                          B                                be</p>
<p>O                                o                          C                                ce</p>
<p>P                                pe                         D                                de</p>
<p>Q                                ki                          E                                e</p>
<p>R                                er                         F                                ef</p>
<p>S                                es                         G                                ge</p>
<p>T                                te                         H                                ha</p>
<p>U                                u                          I                                 i</p>
<p>V                                fe                          J                                 je</p>
<p>W                               we                        K                                ka</p>
<p>X                                eks                       L                                el</p>
<p>Y                                ye                         M                               em</p>
<p>Z                                zet                        N                                en</p>
<p>Singkatan kata (termasuk singkatan kata asing) yang dibaca huruf demi huruf dilafalkan menurut bahasa Indonesia. Seperti :</p>
<p><em>Singkatan                   Dibaca             Bukan Dibaca</em></p>
<p>ABC                           a-be-ce            e-bi-ci</p>
<p>BBC                           be-be-ce           bi-bi-ci</p>
<p>ICCU                           i-ce-ce-u           a-si-si-yu</p>
<p>IGGI                            i-ge-ge-I            ai-ji-ji-ai</p>
<p>IUD                             i-u-de               ai-yu-di</p>
<p>LCC                            el-ce-ce            el-si-si</p>
<p>LPG                            el-pe-ge            el-pi-ji</p>
<p>YMCA                         ye-em-ce-a       way-em-si-e</p>
<p>MTQ                           em-te-ki           em-te-kyu</p>
<p>TV                              te-fe                 ti-fi</p>
<p><em>Pemenggalan Kata pada Kata Dasar</em></p>
<p>Hal yang terpenting dalam pemenggalan kata pada kata dasar adalah sebagai berikut :</p>
<p>1)       Kalau di tengah kata ada dua buah konsonan yang berurutan, pemenggalannya dilakukan di antara kedua konsonan itu.</p>
<p>Contoh :            <em>pan-dai              cap-lok</em></p>
<p><em> swas-ta             Ap-ril</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>2)       Kalau di tengah kata ada tiga buah konsonan atau lebih, pemenggalannya dilakukan di antara konsonan yang pertama (termasuk ng) dengan yang kedua.</p>
<p>Contoh :            <em>in-stru-men                    bang-krut                      in-tra</em></p>
<p><em> ul-tra                             ben-trok</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>3)       Imbuhan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk, dipenggal serta partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian baris.</p>
<p>Contoh :            <em>la-pang-an                     pel-a-jar</em></p>
<p><em> pe-nuh-i             per-gi-lah</em></p>
<p><em> </em></p>
<ol>
<li><em>b. </em><em>Penulisan Nama Diri</em></li>
</ol>
<p><em> </em></p>
<p>Penulisan nama diri (nama sungai, gunung, jalan, dan sebagainya) disesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, kecuali jika ada pertimbangan khusus. Pertimbangan khusus itu menyangkut segi adat, hukum, atau kesejarahan.</p>
<p>Contoh :            <em>Universitas Padjadjaran</em></p>
<p><em> Universitas Gadjah Mada</em></p>
<p><em> Dji Sam Su</em></p>
<p><em> CV Oemar bakrie</em></p>
<p><em> Soetomo Poedjosoeparmo</em></p>
<ol>
<li><strong>2. </strong><strong>Penulisan Huruf</strong></li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><em>a. </em><em>Penulisan Huruf Besar atau Huruf Kapital</em></li>
</ol>
<p>Dalam Pedoman Umum Ejaan bahasa Indonesia yang Disempurnakan terdapat tiga belas penuisan huruf kapital. Berikut ini disajikan beberapa hal yang masih perlu diperhatikan :</p>
<p>1)        Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam menuliskan ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci termasuk kata ganti untuk Tuhan.</p>
<p>Misalnya :   <em>Allah</em></p>
<p><em> Yang Mahakuasa</em></p>
<p><em> Bimbinglah hamba-Mu</em></p>
<p><em>Quran</em></p>
<p><em>Injil</em></p>
<p>atas rahmat-Mu       (bukan atas rahmatMu)</p>
<p>dengan kuasa-Nya   (bukan dengan kuasaNya)</p>
<p>dengan izin_ku        (bukan dengan izinKu)</p>
<p>Akan tetapi, huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama untuk menuliskan kata-kata, seperti imam, makmum, doa, puasa, dan misa.</p>
<p>Misalnya :   <em>Saya akan mengikuti misa di gereja itu.</em></p>
<p><em> Ia diangkat menjadi imam mesjid di kampungnya.</em></p>
<p>2)        Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.</p>
<p>Misalnya :   <em>Haji Agus Salim                         Imam Hanafi</em></p>
<p><em> Sultan Hasanuddin                     Nabi Ibrahim</em></p>
<p>Akan tetapi, huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.</p>
<p><em>Benar </em></p>
<p>Ayahnya menunaikan <em>ibadah haji.</em></p>
<p>Sebagai seorang <em>sultan, </em> ia tidak bertindak sewenang-wenang.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Salah</em></p>
<p>Ayahnya menunaikan <em>ibadah Haji.</em></p>
<p>Sebagai seorang <em>Sultan, </em>tidak bertindak sewenang-wenang.</p>
<p><em> </em></p>
<p>3)        Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat.</p>
<p>Misalnya :   <em> Gubernur Asnawi Mangku Alam</em></p>
<p><em> Letnan Kolonel Saladin</em></p>
<p><em>Presiden Carazon Aquino</em></p>
<p><em>Gubernur Irian Jaya</em></p>
<p><em>Rektor Universitas Indonesia</em></p>
<p>Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat.</p>
<p>Misalnya :</p>
<p>Sebagai seorang <em>gubernur</em> yang baru, ia berkelilinag di daerahnya untuk berkenalan dengan masyarakat yang dipimpinnya.</p>
<p>(bukan : Sebagai seorang <strong>Gubernur</strong> yang baru, ia berkelilinag di daerahnya untuk berkenalan dengan masyarakat yang dipimpinnya.)</p>
<p>Hari Senin yang lalu Lenan Kolonel Saladin dilantik menjadi kolonel.</p>
<p>(bukan : Hari Senin yang lalu Lenan Kolonel Saladin dilantik menjadi Kolonel.)</p>
<p>4)        Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa.</p>
<p>Misalnya :   bangsa Indonesia</p>
<p>suku Sunda</p>
<p>bahasa Inggris</p>
<p>Perhatikan pelulisan yang berikut.</p>
<p>mengindonesiakan kata-kata asing</p>
<p>keinggris-inggrisan</p>
<p>kebelanda-belandaan</p>
<p>Perlu kita ingat bahwa yang dituliskan dengan huruf kapital hanya <em>nama bangsa</em>; <em>nama suku</em>, dan <em>nama bahasa</em>, sedangkan kata <em>bangsa</em>, <em>suku</em>, dan <em>bahasa</em> ditulis dengan huruf kecil.</p>
<p>Misalnya :</p>
<p><em>Benar                                                          Salah</em></p>
<p>bangsa Indonesia                                         Bangsa Indonesia</p>
<p>suku Melayu                                                Suku Melayu</p>
<p>bahasa Spanyol                                           Bahasa Spanyol</p>
<p>5)        Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.</p>
<p>Misalnya :</p>
<p><em>Benar                                                          Salah</em></p>
<p>tahun Masehi                                               Tahun Masehi</p>
<p>bulan Agustus                                             Bulan Agustus</p>
<p>hari Natal                                                    Hari Natal</p>
<p>Perang Candu                                              perang Candu</p>
<p>Proklamasi Kemerdekaan                             proklamasi kemerdekaan</p>
<p>Republik Indonesia                                       Republik Indonesia</p>
<p>6)        Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama khas dalam geografi.</p>
<p>Misalnya :</p>
<p><em>Benar                                                          Salah</em></p>
<p>Teluk Jakarta                                               teluk Jakarta</p>
<p>Bukit Barisan                                               bukit Barisan</p>
<p>Danau Toba                                     danau Toba</p>
<p>Selat Karimata                                             selat Karimata</p>
<p>Sungai Mahakam                                         sungai Mahakam</p>
<p>Asia Tenggara                                             Asia tenggara</p>
<p>Akan tetapi, perhatikan penulisan berikut.</p>
<p>Berlayar sampai ke <em>teluk.</em></p>
<p>Jangan m,andi di <em>danau </em> yang kotor.</p>
<p>Mereka menyeberangi <em>selat</em> yang dangkal.</p>
<p>7)        Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama resmi badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi.</p>
<p>Misalnya :</p>
<p>Departemen Pendidikan dan Kebudayaan</p>
<p>Majelis Permusyawaratan Rakyat</p>
<p>Undang-undang Dasar 1945</p>
<p>Perhatikan penulisan berikut :</p>
<p><em>Benar</em></p>
<p>Dia menjadi pegawai di salah sebuah <em>departemen.</em></p>
<p>Menurut <em>undang-undang, </em>perbuatan itu dapat dijatuhi hukuman setinggi-tingginya lima tahun.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Salah</em></p>
<p>Dia menjadi pegawai di salah sebuah D<em>epartemen.</em></p>
<p>Menurut <em>Undang-Undang, </em>perbuatan itu dapat dijatuhi hukuman setinggi-tingginya lima tahun.</p>
<p>8)        Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti <em>bapak, ibu, saudara, kakak, adik, </em>dan<em> paman</em> yang dipakai sebagai kata ganti atau sapaan.</p>
<p>Misalnya :</p>
<p>Kapan Bapak berangkat ?</p>
<p>Apakah itu, Bu?</p>
<p>Surat Saudara sudah saya terima.</p>
<p>Saya akan disuntik, Dok?</p>
<p>Di mana rumah Bu Katarina?</p>
<p>Perhatikan penulisan yang berikut .</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Benar</em></p>
<p>Kita harus menghormati <em>ayah </em>dan <em>ibu </em>kita.</p>
<p>Semua <em>adik</em> dan <em>kakak</em> saya akan berkeluarga.</p>
<p>Kami sendang menunggu <em>Pak Guru</em>.</p>
<p>Rumah <em>Pak Lurah</em> terletak di tengah-tengah desa.</p>
<p>Menurut keterangan <em>Bu Dokter</em> penyakit saya tidak parah.</p>
<p><em>Salah</em></p>
<p>Kita harus menghormati A<em>yah </em>dan I<em>bu </em>kita.</p>
<p>Semua A<em>dik</em> dan K<em>akak</em> saya akan berkeluarga.</p>
<p>Kami sendang menunggu p<em>ak guru</em>.</p>
<p>Rumah p<em>ak lurah</em> terletak di tengah-tengah desa.</p>
<p>Menurut keterangan b<em>u dokter</em> penyakit saya tidak parah.</p>
<p>9)        Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti <em>Anda.</em></p>
<p>Misalnya :</p>
<p><em>Benar</em></p>
<p>Tahukan <em>Anda</em> bahwa gaji pegawai negeri dinaikkan?</p>
<p>Apakah kegemaran <em>Anda?</em></p>
<p><em>Salah</em></p>
<p>Tahukan a<em>nda</em> bahwa gaji pegawai negeri dinaikkan?</p>
<p>Apakah kegemaran a<em>nda?</em></p>
<p><em> </em></p>
<ol>
<li><em>b. </em><em>Penulisan Huruf Miring</em></li>
</ol>
<p>Huruf miring dalam cetakan, yang dalam tulisan tangan atau ketikan dinyatakan dengan tanda garis bawah, dipakai untuk</p>
<p>(1)                                         menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam karangan,</p>
<p>(2)                                         menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata, dan</p>
<p>(3)                                         menuliskan kata nama-nama ilmiah, atau ungkapan asing, kecuali kata yang telah disesuaikan ejaannya.</p>
<p>Misalnya :</p>
<p>Majalah <em>bahan</em> dan <em>Sarana</em> sangat digemari para pengusaha.</p>
<p>Sudahkan Anda membaca buku <em>Negara Kertagama</em> karangan Prapanca?</p>
<p>Surat kabar <em><span style="text-decoration:underline;">Suara</span></em> dan majalah <em>Massa</em> dapat merebut hari pembacanya.</p>
<p>Nama Latin untuk buah manggis adalah <em>Garcinia Mangostana</em>.</p>
<p>Sebenarnya, <em>bukan</em> saya yang harus mengerjakan hal itu, <em>melainkan</em> dia.</p>
<p>Huruf pertama kata <em>tempe</em> adalah t</p>
<ol>
<li><strong>3. </strong><strong>Penulisan Kata</strong></li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p>Mengenai penulisan kata, yang masih perlu kita perhatikan adalah sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Awalan <em>di-</em> dan <em>ke-</em> ditulis serangkai dengan kata dasarnya.</li>
</ol>
<p><em>Benar                                                          Salah</em></p>
<p>dikelola                                                       di kelola</p>
<p>ketujuh                                                        ke tujuh</p>
<ol>
<li>Gabungan kata yang salah satu unsurnya merupakan unsur terikat ditulis serangkai.</li>
</ol>
<p><em>Benar                                                          Salah</em></p>
<p>saptakrida                                                   sapta krida</p>
<p>sapta-krida</p>
<p>subseksi                                                     sub seksi</p>
<p>sub-seksi</p>
<p>nonkolaborasi                                              nonkolaborasi</p>
<p>non-kolaborasi</p>
<ol>
<li>Bentuk dasar berupa gabungan kata yang mendapat awalan atau akhiran ditulis serangkaian atau ditulis dengan membubuhkan tanda hubung (-) di antara unsur gabungan kata itu.</li>
</ol>
<p><em>Benar                                                          Salah</em></p>
<p>bertolak belakang                                         bertolakbelakang</p>
<p>Bertolak-belakang</p>
<p>tanda tangani                                               tandatangani</p>
<p>tanda-tangani</p>
<p>mendarah daging                                         mendarahdaging</p>
<p>mendarah-daging</p>
<ol>
<li>Bentuk dasar berupa gabungan kata yang sekaligus mendapat awalan dan akhiran sekaligus ditulis serangkai.</li>
</ol>
<p><em>Benar                                                          Salah</em></p>
<p>melatarbelakangi                                          melatar belakangi</p>
<p>melatar-belakangi</p>
<p>menghancurleburkan                                    menghancur leburkan</p>
<p>menghancur-leburkan</p>
<p>penyebarluasan                                           penyebar luasan</p>
<p>penyebar-luasan</p>
<p>dibumihanguskan                                         dibumi hanguskan</p>
<p>dibumi-hanguskan</p>
<ol>
<li>Bentuk terikat yang diikuti oleh kata yang huruf awalnya huruf kapital, di antara kedua unsur itu dibubuhkan tanda hubung (-).</li>
</ol>
<p><em> </em></p>
<p><em>Bentuk                                                        Salah</em></p>
<p>non-Indonesia                                              nonIndonesia</p>
<p>non Indonesia</p>
<p>non-Afrikanisme                                           nonAfrikanisme</p>
<p>non Afrikanisme</p>
<ol>
<li>Kata ulang dituliskan dengan menggunakan tanda hubung di antara kedua unsurnya.</li>
</ol>
<p><em>Benar                                                          Salah</em></p>
<p>anak-anak                                                   anak anak</p>
<p>undang-undang                                            undang undang</p>
<p>terus-menerus                                             terus menerus</p>
<ol>
<li>Kata depan di dan ke ditulis terpisah dri kata yang mengikutinya.</li>
</ol>
<p><em>Benar                                                          Salah</em></p>
<p>di rumah                                                      dirumah</p>
<p>ke mana                                                      kemana</p>
<ol>
<li>Kata sandang <em>si</em> ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya.</li>
</ol>
<p><em> </em></p>
<p><em>Benar                                                          Salah</em></p>
<p>si pengirim                                                  sipengirim</p>
<p>si penerima                                                 sipenerima</p>
<p>si pemalu                                                    sipemalu</p>
<p>si pencuri                                                    sipencuri</p>
<ol>
<li>Partikel <em>per</em> yang berarti ‘tiap’ dan ‘mulai’ ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului dan mengikutinya. Sebaliknya, <em>per</em> pada bilangan pecahan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.</li>
</ol>
<p><em> </em></p>
<p><em>Benar                                                          Salah</em></p>
<p>satu per satu turun                                       satu persatu turun</p>
<p>dua pertiga                                                  dua per tiga</p>
<ol>
<li>Singkatan nama gelar sarjana kesehatan, dokter, seringkali dipermasalahkan. Di dalam lingkungan masyarakat muncul singkatan <em>Dr. </em> untuk <em>dokter</em> (kesehatan) dan <em>DR </em>untuk <em>doktor</em> (purnasarjana). Hal ini tentu saja bertentangan dengan kaidah karena singkatan <em>Dr. </em>diperuntukkan bagi gelar <em>Doktor</em>, sedangkan <em>DR</em> seolah-olah merupakan singkatan kata atau nama yang sama halnya dengan <em>PT (p</em>erseroan terbatas), SD (sekolah dasar).</li>
</ol>
<ol>
<li>Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf kapital, tidak diikuti tanda titik.</li>
</ol>
<p><em>Benar                                                       Salah</em></p>
<p>DPR                                                        D.P.R</p>
<p>PT                                                           P.T.</p>
<p>SMP                                                        S.M.P</p>
<p>SD                                                           S.D.</p>
<ol>
<li>Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.</li>
</ol>
<p><em>Benar                                                       Salah</em></p>
<p>sda.                                                         s.d.a.</p>
<p>ttd.                                                          t.t.d.</p>
<p>yad.                                                         y.a.d.</p>
<ol>
<li>Lambang kimia, singkatan satuan ukuran timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.</li>
</ol>
<p><em> </em></p>
<p><em>Benar</em> Salah</p>
<p>cm                                                           cm.</p>
<p>Rp                                                           Rp.</p>
<p>km                                                           km.</p>
<ol>
<li>Akronim nama diri, yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.</li>
</ol>
<p><em>Benar                                                       Salah</em></p>
<p>Golkar                                                      GOLKAR</p>
<p>Kowani                                                     KOWANI</p>
<p>Bappenas                                     BAPPENAS</p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>4. </strong><strong>Penulisan Unsur Serapan</strong></li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bahasa Indonesia telah menyerap berbagai unsur dari bahasa lain, baik bahasa daerah maupun dari bahasai asing Sansekerta, Arab, Pertugis, Belanda, Inggris, dan bahasa asing lain.</p>
<p>Berdasarkan cara masuknya, unsur pinjaman dalam bahasa Indonesia dibagi menjadi dua golongan, yaitu (1)  unsur asing yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia dan (2) unsur asing yang pengucapan dan penulisannyadisesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Untuk keperluan itu telah diusahakan ejaan asing hanya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesia masih dpat dibandingkan dengan bentuk asalnya. Di dalam <em>Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan</em> dicantumkan aturan penyesuaian itu. Dapat ditambahkan bahwa hal ini terutama dikenakan kepada kata dan istilah yang baru masuk ke dalam bahasa Indonesia, serapan lama yang sudah dianggap umum tidak selalu harus mengikuti aturan penyesuaian tadi.</p>
<p>Berikut ini contoh unsur serapan itu.</p>
<p><strong><em>Baku</em></strong> <strong><em>Tidak Bak</em></strong><em>u</em></p>
<p>apotek                                                       apotik</p>
<p>atlet                                                           atlit</p>
<p>atmosfer                                                    atmosfir</p>
<p>aktif                                                            aktip</p>
<p>aktivitas                                                     aktifitas</p>
<p>arkais                                                        arkhais</p>
<p>arkeologi                                                    arkheologi</p>
<p>akhir                                                          ahir ; akir</p>
<p>akhlak                                                        ahlak</p>
<p>advis                                                          adpis</p>
<p>advokat                                                      adpokat</p>
<p>adjektif                                                       ajektif</p>
<p>asas                                                          azas</p>
<p>asasi                                                         azasi</p>
<p>analisis                                                      analisa</p>
<p>menganalisis                                             menganalisa</p>
<p>penganalisisan                                          penganalisaan</p>
<p>ambulans                                                  ambulan</p>
<p>anggota                                                     anggauta</p>
<p>beranggotakan                                          beranggautakan</p>
<p>keanggotaan                                             keanggautaan</p>
<p>balans                                                       balan</p>
<p>definisi                                                       difinisi</p>
<p>depot                                                         depo</p>
<p>diferensial                                                  differensial</p>
<p>ekspor                                                       eksport</p>
<p>ekstrover                                                   ekstrovert</p>
<p>ekuivalen                                                   ekwivalen</p>
<p>esai                                                           esei</p>
<p>formal                                                        formil</p>
<p>Februari                                                     Pebruari</p>
<p>filologi                                                        philologi</p>
<p>fisik                                                            phisik</p>
<p>Foto                                                           photo</p>
<p>frekuensi                                                   frekwensi</p>
<p>film                                                            filem</p>
<p>hakikat                                                       hakekat</p>
<p>hierarki                                                      hirarki</p>
<p>hipotesis                                                    hipotesa</p>
<p>intensif                                                       intensip</p>
<p>insaf                                                          insyaf</p>
<p>ikhlas                                                         ihlas</p>
<p>ikhtiar                                                         ihtiar</p>
<p>impor                                                         import</p>
<p>intriver                                                       introvert</p>
<p>istri                                                            isteri</p>
<p>iktikad                                                        itikad</p>
<p>ijazah                                                         ijasah</p>
<p>izin                                                             ijin</p>
<p>ilustrasi                                                      illustrasi</p>
<p>jenderal                                                     jendral</p>
<p>jadwal                                                        jadual</p>
<p>kartotek                                                     kartotik</p>
<p>komedi                                                      komidi</p>
<p>konkret                                                      konkrit</p>
<p>karier                                                         karir</p>
<p>kaidah                                                        kaedah</p>
<p>khotbah                                                     khutbah</p>
<p>berkhotbah                                                berkhutbah</p>
<p>konsepsional                                             konsepsionil</p>
<p>konferensi                                                 konperensi</p>
<p>kreativitas                                                  kreatifitas</p>
<p>kongres                                                     konggres</p>
<p>kompleks                                                   komplek</p>
<p>katalitas                                                     katalisa</p>
<p>kuantum                                                    kwantum</p>
<p>konsekuensi                                              konsekuwensi</p>
<p>kualifikasi                                                   kwalifikasi</p>
<p>kualitas                                                      kwalitas</p>
<p>kuarsa                                                       kwarsa</p>
<p>kuitansi                                                      kwitansi</p>
<p>kuorum                                                      kworum</p>
<p>kuota                                                         kwota</p>
<p>konfrontasi                                                konfrontir</p>
<p>dikonfrontasi                                              dikonfrontir</p>
<p>konsinyasi                                                 konsinyir</p>
<p>dikonsinyasi                                              dikonsinyir</p>
<p>koordinasi                                                  koodinir, kordinir</p>
<p>dikoordinasi                                               dikoordinir</p>
<p>konduite                                                     kondite</p>
<p>kategori                                                     katagori</p>
<p>dikategorikan                                             dikatagorikan</p>
<p>konsesi                                                      konsessi</p>
<p>kelas                                                          klas</p>
<p>klasifikasi                                                   kelasifikasi</p>
<p>linguistik                                                    lingguistik</p>
<p>lazim                                                         lajim</p>
<p>likuidasi                                                     likwidasi</p>
<p>metode                                                      metoda</p>
<p>motif                                                          motip</p>
<p>motivasi                                                     motifasi</p>
<p>masyarakat                                               masarakat</p>
<p>mantra                                                       mantera</p>
<p>manajemen                                               managemen</p>
<p>manajer                                                     manager</p>
<p>massa                                                       masa (orang banyak)</p>
<p>masalah                                                    masaalah</p>
<p>masal                                                        massal</p>
<p>misi                                                           missi</p>
<p>November                                                 Nopember</p>
<p>nasihat                                                      nasehat</p>
<p>penasihat                                                  penasehat</p>
<p>nasionalisasi                                             nasionalisir</p>
<p>dinasionalisasikan                                     dinasionalisir</p>
<p>operasional                                               operasionil</p>
<p>objek                                                          obyek</p>
<p>ons                                                            on</p>
<p>organisasi                                                 organisir</p>
<p>problem                                                     problim</p>
<p>problematik                                               problimatik</p>
<p>positif                                                         positip</p>
<p>produktif                                                    produktip</p>
<p>produktivitas                                              produktifitas</p>
<p>psikis                                                         psikhis</p>
<p>psikologi                                                    psikhologi</p>
<p>paspor                                                       pasport</p>
<p>putra                                                          putera</p>
<p>putri                                                           puteri</p>
<p>produksi                                                    produsir</p>
<p>memproduksi                                            memprodusir</p>
<p>proklamasi                                                praklamir</p>
<p>diproklamasikan                                        diproklamirkan</p>
<p>profesi                                                       professi</p>
<p>keprofesian                                               keprofessian</p>
<p>profesor                                                     professir</p>
<p>rasional                                                     rasionil</p>
<p>resistans                                                   resistan</p>
<p>rezeki                                                        rejeki</p>
<p>risiko                                                          resiko</p>
<p>sistem                                                       sistim</p>
<p>sistematika                                                sistimatika</p>
<p>sistematis                                                 sistimatis</p>
<p>spesies                                                     spesis</p>
<p>sintetis                                                       sintesa</p>
<p>spiritual                                                      spirituil</p>
<p>subjek                                                        subyek</p>
<p>sintesis                                                      sintesa ; sintese</p>
<p>syakwasangka                                          sakwasangka</p>
<p>syukur                                                       sukur</p>
<p>mensyukuri                                               mensukuri</p>
<p>sah                                                            syah</p>
<p>sahih                                                         syahih</p>
<p>saraf                                                          syaraf</p>
<p>sutera                                                        sutra</p>
<p>standar                                                      standard</p>
<p>standardisas                                             standarisasi</p>
<p>survai                                                        survei</p>
<p>sukses                                                      sakses</p>
<p>teori                                                           tiori</p>
<p>teoretis                                                      teoritis</p>
<p>telegram                                                    tilgram</p>
<p>telepon                                                      tilpun</p>
<p>tradisional                                                  tradisionil</p>
<p>tafsiran                                                      tapsiran</p>
<p>tarif                                                            tarip</p>
<p>teknik                                                         tehnik</p>
<p>teknisi                                                        tehnisi</p>
<p>teknologi                                                    tehnologi</p>
<p>teleks                                                         telek</p>
<p>tripleks                                                       triplek</p>
<p>terampil                                                     trampil</p>
<p>keterampilan                                             ketrampilan</p>
<p>terap                                                          trap</p>
<p>penerapan                                                 penetrapan</p>
<p>transpor                                                     transport</p>
<p>transportasi                                               transportir</p>
<p>teladan                                                      tauladan</p>
<p>keteladanan                                               ketauladanan</p>
<p>diteladani                                                   ditauladani</p>
<p>tim                                                             team</p>
<p>terjemah                                                    terjamah</p>
<p>varietas                                                     varitas</p>
<p>wujud                                                         ujud</p>
<p>berwujud                                                   berujud</p>
<p>perwuudan                                                perujudan</p>
<p>zaman                                                       jamah</p>
<p><strong>PEMAKAIAN KALIMAT</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>Pengertian Kalimat</strong></li>
</ol>
<p>Orang berbahasa tidak menggunakan kata-kata secara lepas, tetapi dengan merangkaikannya menjadi bentukuntaian kata yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Untaian kata yang mengungkapkan pikiran secara utuh itu disebut kalimat. Dalam sebuah karangan tertulis atau surat, kalimat itu merupakan bagian terkecil sebagai unsur pembentuknya. Paling tidak, kalimat itu merupakan titik tolah ataubagian awal sebuah karangan. Agar dapat dipahami lebih jelas mengenai kalimat itu, perhatikanlah contoh petikan karangan beriktu ini.</p>
<p>Ujian telah lama berakhir. Bahkan, sudah diumumkan hasilnya. Fernando sudah meraih tanda tamat belajar SMA jurusan ilmu pengetahuan sosial dengan nilai baik sekali. Ia tidak berhasil menjadi juara umum di sekolahnya, tetapi hanya nomor tiga. Walaupun demikian, ini pun sudah merupakan prestasi yang gemilang, mengingat bahwa disamping belajar ia harus melakukan kegiatan lain yang tidak ringan, yaitu mengurusai pemasangan pompa sumur untuk para petani di desanya.</p>
<p>Pada contoh di atas, kita dapat menemukan lima buahkalimat yang membangun bagian karangan itu, yaitu</p>
<p><em>(1) </em><em>Ujian telah lama berakhir.</em></p>
<p><em>(2) </em><em>Bahkan, sudah diumumkan hasilnya. </em></p>
<p><em>(3) </em><em>Fernando sudah meraih tanda tamat belajar SMA jurusan ilmu pengetahuan sosial dengan nilai baik sekali. </em></p>
<p><em>(4) </em><em>Ia tidak berhasil menjadi juara umum di sekolahnya, tetapi hanya nomor tiga. </em></p>
<p><em>(5) </em><em>Walaupun demikian, ini pun sudah merupakan prestasi yang gemilang, mengingat bahwa disamping belajar ia harus melakukan kegiatan lain yang tidak ringan, yaitu mengurusai pemasangan pompa sumur untuk para petani di desanya</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Kalimat sebagai unsur dasar pembentuk karangan dalam wujud tulisan mempunyai ciri-ciri berikut :</p>
<ol>
<li>Kalimat diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.) atau mungkin juga dengan tanda tanya (?) atau tanda seru (!).</li>
<li>Di tengahnya dipakai spasi san tand baca seperti koma (,), titik dua (:), titik koma (;), tanda hubung (-).</li>
</ol>
<p>Contoh kalimat (1) sampai dengan (5) adalah kalimat yang utuh. Untuk mengetahui keutuhan sebuah kalimat, kita dapat mengamati contoh kalimat (1) <em>Ujian telah lama berakhir.</em> Misalnya. Kata <em>Ujian </em>dan <em>berakhir</em> dalam kalimat itu merupakan kata-kata yang diperlukan. Jika salah satu di antaranya kita hilangkan sehingga kalimat itu menjadi (a) <em>Ujian telah lama </em> atau <em>(b) telah lama berakhir, </em> pernyataan (a) dan (b) merupakan bentuk pengungkapan pikiran yang tidak utuh lagi. Dengan perkataan lain, bentuk pengungkapan pikiran itu merupakan kalimat yang tidak benar.</p>
<p>Kebenaran sebuah kalimat, selain ditentukan oleh keutuhan unsur-unsur pikiran, ditentukan juga oleh</p>
<ol>
<li>Kelugasan penyusunannya (tidak rancu);</li>
<li>Urutan kata-katanya;</li>
<li>Ketepatan pemakaian kata-kata penghubungnya atau perangkainya;</li>
<li>Kecermatan memilih kata-katanya;</li>
<li>Kebenaran menggunakan bentuk kata-katanya.</li>
</ol>
<p>Berikut ini dikemukakan beberapa kesalahan kalimat yang disebabkan ileh (1) penulisan kalimat yang tidak utuh, (2) pemakaian bentuk kata yang rancu, (3) pemakaian keterangan yang tidak lengkap, (4) urutan kata yang menyalahi aturan berbahasa Indonesia, (5) pemakaian kata atau ungkapan penghubung yang tidak tepat, dan (6) pemakaian bentuk dan pilihan kata yang tidak cermat.</p>
<ol>
<li><strong>Penulisan Kalimat yang Tidak Utuh</strong></li>
</ol>
<p>Yang tergolong ke dalam jenis kesalahan seperti ini adalah kalimat yang menghilangkan salah satu atau beberapa bagian kalimat yang kehadirannya wajib atau menentukan kelengkapan kalimat itu.</p>
<p>Contoh :</p>
<p>(1)         <em>Dalam musyawarah itu menghasilkan lima ketetapan yang harus dipatuhi bersama.</em></p>
<p>(2)         <em>Kegagalan proyek itu karena perancangan yang tidak mantap.</em></p>
<p>(3)         <em>Yaitu tenun ikat yang khas Timor Timur.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Ketidakbenaran kalimat (1) adalah bahwa kalimat itu tidak menampilkan <em>apa </em>atau<em> siapa yang menghasilakan lima ketetapan yang harus dipatuhi bersama</em>. Bagian itu dalam kalimat (1) dihilangkan sehingga pikiran yang diungkapkan kalimat tersebut menjadi tidak utuh lagi.</p>
<p>Dalam kalimat (2) kita tidak melihat bagian kalimat yang menyatakan <em>perbuatan apa atau dalam keadaan apa</em> yang dilakukan atau dialami oleh <em>kegagalan proyek <strong>itu</strong></em> sehingga dengan hilangnya bagian itu, kalimat menjadi tidak utuh lagi. Lebih-lebih lagi, dalam kalimat (3) ada beberapa bagian yang dihilangkan, yaitu bagian yang menyatakan <em>siapa yang berbuat </em> dan jenis <em> perbuatan apa </em> yang dilakukannya yang diterangkan oleh <em> tenun ikat yang khas Timor Timur itu.</em></p>
<p><em> </em>Jika kalimat (1), (2), dan (3) kita betulkan menjadi kalimat yang utuh, kalimat-kalimat itu kita ubah menjadi</p>
<p>(1)                 <em>Dalam musyawarah itu mereka menghasilkan lima ketetapan yang harus dipatuhi bersama.</em></p>
<p>(2)                 <em>Kegagalan proyek itu terjadi karena perancangan yang tidak mantap.</em></p>
<p>(3)                 <em>Tenun ikat yang dipakai oleh Raja Los Palos tergolong ke dalam tenun ikat yang khas, yaitu tenun ikat yang khas Timor Timur.</em></p>
<p>Kalimat (1) dapat juga kita betulkan dengan tidak menambahkan bagian lain ke dalam kalimat, tetapi dengan mengubah bentuk <em>menghasilkan </em> menjadi <em> dihasilkan</em> sehingga kalimat itu menjadi</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Dalam musyawarah itu dihasilkan lima ketetapan yang harus dipatuhi bersama.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Atau dapat juga dibetulkan dengan cara menghilangkan kata <em>dalam</em> sehingga kalimat menjadi</p>
<p><em>Musyawarah itu menghasilkan lima ketetapan yang harus dipatuhi bersama.</em></p>
<ol>
<li><strong>Pemakaian Bentuk Kata yang Rancu</strong></li>
</ol>
<p>Kesalahan kalimat seperti itu dimungkinkan karena penulis (pemakai bahasa) mengacaukan dua macam pengungkapan kalimat atau lebih. Misalnya :</p>
<p>(4)                 <em>Meskipun negara itu merupakan penghasil kapas nomor satu di dunia, tetapi harga tekstil untuk keperluan rakyatnya sangat tinggi.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Yang dirancukan dalam kalimat (4) itu adalah</p>
<p><em>Meskipun negara itu merupakan penghasil kapas nomor satu di dunia, tetapi harga tekstil untuk keperluan rakyatnya sangat tinggi.</em></p>
<p><em> </em>Dan</p>
<p><em>Negara itu merupakan penghasil kapas nomor satu di dunia, tetapi harga tekstil untuk keperluan rakyatnya sangat tinggi.</em></p>
<p>Jadi, kerancuan yang tampak pada kalimat (a) itu adalah pemakaian sekaligus kata <em>meskipun</em> dan <em> tetapi </em>dalam sebuat kalimat.<em> </em></p>
<ol>
<li><strong>Pemakaian Keterangan yang Tidak      Lengkap</strong></li>
</ol>
<p>Jenis kesalahan seperti ini pada umumnya terdapat dalam penulisan surat resmi (surat dinas dan surat niaga). Misalnya :</p>
<p><em>Memenuhi permintaan Saudara, bersama ini kami kirimkan sebuah daftar harga terbitan kami.</em></p>
<p>Kalimat di atas terasa janggal jika urutan bagian-bagiannya diubah menjadi</p>
<p><em> (5a) Bersama ini kami kirimkan sebuah daftar harga terbitan kami  memenuhi permintaan Saudara.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Kalimat (5a) itu akan terasa lebih lancar jika bagian <em>memenuhi permintaan Saudara </em> itu didahului dengan kata <em> untuk </em> sehingga kalimat itu menjadi</p>
<p>(5b) <em>Bersama ini kami kirimkan sebuah daftar harga terbitan kami  untuk memenuhi permintaan Saudara.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Apabila dikembalikan posisinya ke posisi semula, kalimat itu menjadi</p>
<p>(5c) <em>) Untuk memenuhi permintaan Saudara, bersama ini kami kirimkan sebuah daftar harga terbitan kami </em></p>
<ol>
<li><strong>Urutan      Kata yang Menyalahi Aturan Berbahasa Indonesia</strong></li>
</ol>
<p>Kesalahan penulisan kalimat juga terjadi karena urutan katanya tidak sesuai dengan kaidah kalimat bahasa Indonesia. Kesalahan seperti itu dapat dilihat pada contoh berikut.</p>
<p><em> (6) Saya telah umumkan bahwa pada hari ini juga panggung itu kita bangun untuk merayakan hari ulang tahun negara kita yang ke-45.</em></p>
<p>Kesalahan urutan kata pada kalimat (6) tampak pada bagian <em>saya telah umumkan pada hari ini, </em> dan <em> ulang tahun negara kita yang ke-45. </em> Menurut kaidah penulisan kalimat bahasa Indonesia, urutan kata pada bagian-bagian itu hendaklah diubah menjadi <em> telah saya umumkan, pada hari ini, </em> dan <em> ulang tahun ke-45 negara kita.</em></p>
<p>Dengan perubahan urutan kata seperti yang telah dilakukan itu, kalimat berikut ini menjadi kalimat yang benar.</p>
<p>(6a)<em> Telah saya umumkan bahwa pada hari ini juga panggung itu kita bangun untuk merayakan hari ulang tahun ke-45 negara kita.</em></p>
<ol>
<li><strong>Pemakaian      Kata atau Ungkapan Penghubung yang Tidak Tepat</strong></li>
</ol>
<p>Yang dimaksud dengan kata atau ungkapan penghubung dalam pembicaraan ini ialalah semua kata atau ungkapan yang dipergunakan oleh penulis (pemakai bahasa) untuk menghubungkan bagian-bagian kalimat atau menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain. Kata penghubung antarbagian kalimat yang lazim dipakai dalam penulisan kalimat antara lain kata <em> dan, atau, tetapi, ketika, jika, asalkan, agar, supaya, meskipun, sebagai, sebab, karena, dan bahwa.</em></p>
<p>Pemakaian kata penghubung antarbagian kalimat dapat dilihat pada contoh berikut.</p>
<p>(1)                 Bu Siska adalah seorang guru teladan <em> dan </em>anak-anaknya pun pandai-pandai pula.</p>
<p>(2)                 Fernadez ingin menjadi juara umum di sekolahnya <em> tetapi</em> ia hanya berhasil menjadi juara tiga.</p>
<p>(3)                 Pa Mario tidak masuk kantor hari ini <em> karena</em> sakit.</p>
<p>(4)                 Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Irian Jaya berusaha keras <em> untuk </em> meningkatkan kesejahteraan masyarakat.</p>
<p>(5)                 Gubernur mengumumkan <em> bahwa</em> kota Mataram, tahun depan akan menjadi kota wisata.</p>
<p>(6)                 Pembangunan di bidang pariwisata Propinsi Nusa Tenggara Timur terus ditingkatkan <em> agar</em> kehadiran para wisatawan asing terus meningkat.</p>
<p>(7)                 Di kampung kami dipasang dua puluh sumur pompa <em> ketika </em> musim kemarau <em> sangat panjang.</em></p>
<p>Menurut kenyataannya, dalam pemakaian bahasa Indonesia sehari-hari sering ditemukan beberapa kesalahan, yaitu makin kaburnya batas pemakaian penghubung antarbagian kalimat dan penghubung antarkalimat.</p>
<p>Contoh :</p>
<p>(a)                 Pak Carlos menghadapi persolalan yang berat di kantornya. <em>Tapi</em> ia pun dengan sabar dapat menyelesaikannya.</p>
<p>(b)                 Kabupaten Los Palos dikenal dengan kain tenun ikatnya. <em>Yaitu</em> tenun ikat khas Timor Timur yang dahulu hanya dipakai raja-raja.</p>
<p>Kata <em>tapi </em>dan<em> yaitu </em>yang seharusnya berfungsi sebagai penghubung antarbagian kalimat, dipakai juga sebagai penghubung antarkalimat. Bandingkan dengan kalimat di bawah ini.</p>
<p>(c)                 Pak Carlos menghadapi persoalan yang berat di kantornya, <em>tetapi</em> ia pun dengan sabar dapat menyelesaikannya.</p>
<p>(d)                 Kabupaten Los Palos dikenal dengan kain tenun ikatnya, <em> yaitu</em> tenun ikat yang khas Timor Timur yang dahulu dipakai oleh raja-raja.</p>
<p>Ungkapan penghubung yang berfungsi menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain tidak banyak jumlahnya.</p>
<p>Yang lazim dipakai dalam bahasa Indonesia antara lain (<em>oleh) karena itu, namun, kemudian, setelah itu, bahkan, selain itu, sementara itu, walaupun demikian, sehubungan dengan itu.</em></p>
<p>Contoh pemakaiannya dapat dilihat seperti di bawah ini.</p>
<p>(e)                 Pembangunan di bidang pariwisata terus ditngkatkan. <em>Oleh karena itu, </em>kehadiran wisatawan asing di Indonesia setiap tahun terus bertambah.</p>
<p>(f)                   Musim kemarau tahun ini di desa kami sangat lama. <em> </em><em>Walaupun demikian, </em>berkat pemasangan sumur pompa bahasa kekeringan dapat diatasi.</p>
<p>Kesalahan pemakaian ungkapan penghubung antarkalimat sama halnya dengan kesalahan pemakaian kata penghubung antar bagian kalimat yaitu pemakaian kedua jenis penghubung itu dikaburkan seperti contoh berikut ini.</p>
<p>(g)                 Saya tidak sependapat dengan mereka, <em> namun demikian </em> saya tidak akan menentangnya.</p>
<p>(h)                 Fernadez anak yang tergolong pandai di sekolahnya <em>bahkan</em> ia pernah menjadi juara ketiga.</p>
<p>Jika ungkapan penghubung antarkalimat digunakan dengan benar, kalimat itu seharusnya ditulis sebagai berikut.</p>
<p>(g1) Saya tidak sependapat dengan mereka. <em> Namun, </em> saya tidak akan menentangnya.</p>
<p>(g2) Fernandez anak yang tergolong pandai di sekolahnya. <em> Bahkan</em>, ia pernah menjadi juara ketiga.</p>
<p><strong>KALIMAT DAN PENGEMBANGANNYA</strong></p>
<p><strong>A. Paragraf</strong></p>
<p>Paragraf/alinea merupakan bagian dari wacana yang merupakan satu kesatuan kalimat-kalimatpenjelas. Paragraf yang baik harus memenuhi kriteria yaitu memiliki satu ide pokok atau satu pikiran utama dan beberapa pikiran penjelas antarkalimat saling berkaitan/berkoherensi sehingga merupakan satu kesatuan. Kalimat yang memuat ide pokok/pikiran utama disebut kalimat utama. Kalimat yang mengandung pikiran penjelas disebut kalimat penjelas. Paragraf yang kalimat utamanya terletak pada awal paragraf disebut paragraf deduktif. Paragraf yang kalimat utamanya terletak di akhir paragraf disebut paragraf induktif.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>B. Jenis karangan</strong></p>
<p>Jenis karangan ada lima, yaitu:</p>
<ol>
<li>Eksposisi      adalah karangan yang berisi uraian/penjelasan tentang suatu topik dengan      tujuan memberi informasi. Tidak jarang eksposisi berisi tentang langkah/cara/proses      kerja. Eksposisi demikian disebut paparan proses.</li>
<li>Argumentasi      adalah karangan yang bertujuan membuktikan kebenaran suatu      pendapat/kesimpulan dengan data/fakta konsep sebagai alasan/bukti.</li>
<li>Deskripsi      adalah karangan yang berisi gambaran mengenai suatu hal/keadaan sehingga      pembaca seolah-olah melihat, merasa atau mendengar hal tersebut.</li>
</ol>
<ol>
<li>Persuasi adalah karangan yang bertujuan untuk mempengaruhi emosi  pembaca untuk berbuat sesuatu.</li>
</ol>
<ol>
<li>Narasi      adalah karangan yang berisi rangkaian peristiwa yang susul menyusul      sehingga membentuk alur cerita. Karangan jenis ini sebagian besar      berdasarkan imajinasi.</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>C. Ide pokok/pikiran utama/gagasan utama</strong></p>
<p>Ide pokok/pikiran utama/gagasan utama adalah gagasan yang menjiwai paragraf. Cara menentukan gagasan utama dalam paragraf adalah: merupakan pernyataan yang paling umum, paling penting atau penyataan yang merupakan kesimpulan, dan terdapat bagianbagian yang diulang pada kalimat-kalimat yang lain.</p>
<p><strong>D. Makna Istilah/kata/gabungan kata</strong></p>
<p>Istilah ialah kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan suatu konsep, keadaan atau sifat yang khas dalam bidang tertentu. Istilah ada yang berupa kata, ada pula yang berupa idiom atau ungkapan. Idiom adalah gabungan kata yang membentuk kesatuan arti baru sehingga sering tidak dapat ditelusuri artinya berdasarkan arti unsur pembentuknya.</p>
<p><strong>E. Pendapat/komentar/tanggapan</strong></p>
<p>Dalam mengemukakan pendapat/komentar/memberi tanggapan harus memperhatikan hal sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Didasari      pengetahuan yang cukup mengenai masalah yang dibicarakan.</li>
<li>Sopan      dan tidak emosional.</li>
<li>Pendapat      harus logis, sistematis, berdasarkan fakta.</li>
<li>Kalau      komentar bersifat positif hendaknya mengungkap pada/dari aspek makna      dukungan, persetujuan atau optimisme diberikan.</li>
<li>Kalau      komentar bersifat negatif (berisi penolakan) gunakan kalimat yang sifatnya      tidak langsung, berilah alasan yang logis dan kuat serta solusinya.</li>
</ol>
<p><strong>F.  Menarik Kesimpulan</strong></p>
<p>Dalam menyusun pendapat untuk menarik kesimpulan yang benar, kita harus menggunakan pola berpikir/penalaran yang benar pula. Pola penalaran dibagi menjadi dua, yaitu deduktif dan induktif.</p>
<ol>
<li>Penalaran      deduktif yaitu; dimulai dengan mengemukakan pernyataan yang umum (premis      umum/mayor) diikuti pernyataan khusus (premis khusus/minor) menarik      kesimpulan terhadap hal yang khusus. Penalaran demikian disebut juga      silogisme.</li>
<li>Penalaran      induktif dimulai dengan mengemukakan peristiwa-peristiwa khusus menuju      kepada kesimpulan umum berdasarkan hal-hal yang khusus tersebut. Macam-macam penalaran induktif:</li>
</ol>
<ul>
<li>Generalisasi: perumusan kesimpulan umum berdasarkan data/kejadian-kejadian yang bersifat khusus.</li>
<li>Sebab-akibat: dimulai dengan fakta-fakta yang menjadi sebab menuju kesimpulan yang menjadi akibat.</li>
<li>Akibat-sebab: dimulai pada fakta-fakta yang menjadi akibat lalu kita analisis untuk mencari sebabnya.</li>
<li>Analogi adalah pengambilan kesimpulan dengan asumsi bahwa jika dua atau beberapa hal memiliki banyak kesamaan, maka aspek lain pun memiliki kesamaan.</li>
</ul>
<p><strong>LAPORAN DAN KARYA ILMIAH</strong></p>
<p><strong>A.  Laporan</strong></p>
<p>Laporan merupakan salah satu alat untuk menyampaikan informasi baik formal maupun nonformal. Laporan juga berfungsi sebagai:</p>
<p>- pertanggungjawaban bagi orang yang diberi tugas</p>
<p>- landasan pimpinan dalam mengambil kebijakan/keputusan</p>
<p>- alat untuk melakukan pengawasan</p>
<p>- dokumen sebagai bahan studi dan pengalaman bagi orang lain.</p>
<p><strong>Macam-macam laporan menurut bentuknya:</strong></p>
<p>- laporan berbentuk formulir</p>
<p>- laporan berbentuk surat</p>
<p>- laporan berbentuk memorandum (memo)</p>
<p>- laporan berbentuk naskah</p>
<p>- laporan berbentuk buku</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>B.  Proposal</strong></p>
<p>Proposal adalah suatu usulan kegiatan perlu dukungan atau persetujuan pihak lain. Hal-hal yang perlu dimuat dalam proposal antara lain:</p>
<p>1. nama proposal</p>
<p>2. pendahuluan</p>
<p>3. tujuan</p>
<p>4. bentuk/jenis kegiatan</p>
<p>5. pelaksanaan</p>
<p>6. panitia pelaksana (terlampir)</p>
<p>7. biaya/dana (rincian terlampir)</p>
<p>8. harapan</p>
<p>9. lampiran</p>
<p><em>Panduan Materi Bahasa dan Sastra Indonesia </em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>C.  Karya Tulis</strong></p>
<p>Karya tulis ilmiah ialah tulisan atau karangan yang penyusunannya didasarkan pada kajian ilmu pengetahuan. Kajian tersebut biasanya dilakukan melalui kegiatan penelitian di laboratorium, di lapangan, atau penelitian kepustakaan.</p>
<p><strong>Ciri-ciri karya tulis ilmiah:</strong></p>
<p>1. menarik (masalah yang dibahas harus menarik)</p>
<p>2. objektif (harus sesuai dengan fakta yang ada)</p>
<p>3. sistematis (mudah dipahami/dimengerti pembaca)</p>
<p>4. argumentatif (dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya)</p>
<p>5. lugas (bahasa yang digunakan efektif dan logis)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Karya tulis ilmiah terbagi atas tiga bagian, yaitu&#8230;</strong></p>
<p>1.      Bagian pendahuluan, berisi tentang halaman judul; halaman kata pengantar, halaman daftar isi; halaman daftar tabel; halaman daftar grafik; diagram/gambar.</p>
<p>2.      Bagian pokok/inti, bagian ini berisi tentang bab pendahuluan; bab-bab pembahasan masalah; bab penutup.</p>
<p>3.      agian akhir/penutup adalah bagian yang memuat bahan-bahan yang tidak bersifat wajib. Dalam bagian ini tercantum daftar pustaka; lampiran; indeks; daftar istilah; riwayat penulis.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>D.  Kutipan</strong></p>
<p>Kutipan adalah pencatatan sumber-sumber tertulis untuk menyusun sebuah karya tulis. Pencatatan sumber-sumber tertulis itu dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu kutipan, ringkasan, dan parafrase.</p>
<p>Menurut jenisnya, kutipan dapat dibedakan menjadi kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Kutipan langsung yang banyak barisnya tidak lebih dari empat baris ketikan dimasukkan ke dalam teks karya tulis dengan cara sebagai berikut:</p>
<p>1.  kutipan itu diintegrasikan langsung dengan teks</p>
<p>2.  jarak baris dengan baris sama dengan teks, yaitu dua spasi</p>
<p>3.  kutipan itu diapit dengan tanda kutip</p>
<p>4. sesudah kutipan selesai, berilah nomor urut penunjuk catatan kaki yang diketika setengah spasi ke atas</p>
<p>Sedangkan kutipan tidak langsung berisi intisari pendapat yang dikemukakan kembali dengan kata-kata sendiri. Oleh karena itu kutipan tidak langsung tidak boleh menggunakan tanda kutip.</p>
<p>Catatan kaki/<em>footnote </em>merupakan penjelasan sumber semua kutipan, baik kutipan langsung maupun kutipan tidak langsung diletakkan di kaki. Fungsi catatan kaki/<em>footnote </em>adalah sebagai berikut:</p>
<p>1. pembuktian atas sumber informasi</p>
<p>2. penghargaan kepada pengarang yang pendapatnya dikutip</p>
<p>3. pemberian keterangan tambahan untuk memperjelas pembahasan</p>
<p>4. penunjukan bagian lain dlam naskah</p>
<p>Catatan kaki berisi tentang nama pengarang, judul buku, (kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), halaman.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>E.  Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Daftar pustaka merupakan daftar sumber tertulis yang dijadikan acuan dalam pembahasan karya tulis.</p>
<p><strong>Cara menulis daftar pustaka yaitu&#8230;</strong></p>
<p>1. Nama pengarang ditulis dengan mendahulukan nama akhir. Nama akhir (keluarga) ditulis lebih dahulu dipisahkan dengan tanda koma dari nama pertama yang ditulis kemudian.</p>
<p>2.  Tahun penerbitan (.)</p>
<p>3.  Judul buku (.)</p>
<p>4.  Kota penerbit (:)</p>
<p>5.  Nama penerbit (.)</p>
<p><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khusnin.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khusnin.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khusnin.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khusnin.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/khusnin.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/khusnin.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/khusnin.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/khusnin.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khusnin.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khusnin.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khusnin.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khusnin.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khusnin.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khusnin.wordpress.com/476/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khusnin.wordpress.com&amp;blog=4690334&amp;post=476&amp;subd=khusnin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khusnin.wordpress.com/2010/09/29/ringkasan-materi-bahasa-indonesia-materi-materi-yang-wajib-dipelajari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c1eb16f42d3c4b04e6d11ae916f4569?s=96&#38;d=retro" medium="image">
			<media:title type="html">khusnin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KATEGORI MORFOLOGI KELAS KATA DALAM BAHASA INDONESIA</title>
		<link>http://khusnin.wordpress.com/2010/09/29/kategori-morfologi-kelas-kata-dalam-bahasa-indonesia-2/</link>
		<comments>http://khusnin.wordpress.com/2010/09/29/kategori-morfologi-kelas-kata-dalam-bahasa-indonesia-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Sep 2010 22:19:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khusnin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khusnin.wordpress.com/?p=470</guid>
		<description><![CDATA[Bahasa Indonesia mengenal  pengelompokan kosa dalam bentuk kelas kata. Tata bahasa Indonesia banyak pendapat para mengenai jumlah dan jenis kelas kata. Kelas kata terdiri dari seperangkat kategori morfologis yang tersusun dalam kerangka sistem tertentu yang berbeda dan sistem kategori morfologis kelas kata lain. Kategori morfologis adalah sederetan kata yang memiliki bentuk gramatikal dan makna gramatikal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khusnin.wordpress.com&amp;blog=4690334&amp;post=470&amp;subd=khusnin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bahasa Indonesia mengenal  pengelompokan kosa dalam bentuk kelas kata. Tata bahasa Indonesia banyak pendapat para mengenai jumlah dan jenis kelas kata. Kelas kata terdiri dari seperangkat kategori morfologis yang tersusun dalam kerangka sistem tertentu yang berbeda dan sistem kategori morfologis kelas kata lain. Kategori morfologis adalah sederetan kata yang memiliki bentuk gramatikal dan makna gramatikal yang sama. Setiap kategori morfologis itu terbentuk oleh prosede morfologis tertentu. Prosede morfologis adalah pembentukan kata secara sinkronis. Prosede morfologis itu ada dua macam yaitu derivasi dan intleksi. Derivasi adalah prosede morfologis yang menghasilkan kata-kata yang makna leksikalnya berbeda dari kata pangkal pembentuknya. Sebaliknya, infleksi menghasilkan kata-kata yang bentuk gramatikalnya berbeda-beda, tetapi leksemnya tetap seperti pada kata pangkalnya.</p>
<p><span id="more-470"></span></p>
<p>Kategori Morfologi Kelas Kata Bahasa Indonesia dapat dibedakan atas:</p>
<p><strong>1.   Kelas Nomina</strong></p>
<p>Untuk menentukan suatu kata termasuk nomina, digunakan penanda valensi sintaktis karena perangkat kategori morfologis pembangun kerangka sistem morfologi nomina itu ditandai oleh valensi sintaktis yang sama, yaitu (1) mempunyai potensi berkombinasi dengan kata <em>bukan, </em>(2) mempunyai potensi didahului oleh kata <em>di, ke, dari, pada.</em></p>
<p>Kelas nomina yang ditemukan dan data terdiri dan: (1) nomina murni, yakni nomina yang tidak berasal dari kelas kata lain, (2) nomina deverbal, yakni nomina yang terbentuk dari verba.</p>
<ol>
<li><strong>a. </strong><strong>Nomina Murni</strong></li>
</ol>
<p>Nomina murni terdiri dari nomina dasar (monomorfemis) dan nomina turunan (polimorfemis).  Nomina turunan yang terbentuk dari  kata-kata nomina disebut nomina denominal.</p>
<ul>
<li>Nomina Dasar</li>
</ul>
<p>Nomina murni berbentuk dasar yang ditemukan pada data ada lima macam yaitu:</p>
<p>Contoh: <em>anak,baju, kepala, orang, nasi rumah, pakaian, pasar, perut, piring, plastik, rejeki,  salak, logam lengan, lantai, lekaki, kursi, kota, panggung, kilometer, kelas, kaos, jalan, huja, gerimis, gelas, gambar, buah, ujung, uang, tempat, televisi,teh, tangan, tamu, tali, sisi, sepatu, wong, bulan, mata,</em></p>
<ul>
<li>Nomina Denominal</li>
</ul>
<p>Nominal denominal yang d.temukan pada data, terdin dari beberapa kategori morfologis. Semuanya terbentuk dengan denvasi, berpangkal pada nomina dasar, yakni:</p>
<ul>
<li>Kategori D-an.&#8217;</li>
</ul>
<p>Kategori ini menyatakan makna &#8216;daerah/wilayah/komplek/kurnpulan sesuatu yang tersebut pada pangkal pembentukan&#8217;. Contoh: <em>pakaian</em>,</p>
<ul>
<li>Kategori D-an&#8221;</li>
</ul>
<p>Kategori ini menyatakan makna &#8216;hasil&#8217;. Contoh: <em>ikatan</em>, <em>sebutan</em></p>
<ul>
<li>Kategori se-D</li>
</ul>
<p>Kategori ini menyatakan makna &#8216;satu&#8221;. Contoh: <em>sebatangkara</em></p>
<ul>
<li>Kategori D-D<sup>1</sup>-an</li>
</ul>
<p>Kategori ini menyatakan makna &#8216;seperti&#8217;. Contoh: <em>orang-orang</em>an</p>
<ul>
<li>Kategori per-D-an&#8217;</li>
</ul>
<p>Kategori ini menyatakan makna &#8220;hal’ . Contoh: <em>perhatian</em></p>
<ul>
<li>Kategori ke-D-an&#8217;</li>
</ul>
<p>Kategori ini menyatakan makna &#8220;hal’ . Contoh:<em>kesempatan</em></p>
<ul>
<li>Kategori pcng-D-an</li>
</ul>
<p>Kategori ini menyatakan makna &#8216;proses&#8217;. Contoh: <em>pengalaman</em></p>
<p><strong> b.   Nomina Transposisi</strong></p>
<p><strong>Dari </strong>data nomina transposisi tidak ditemukan dalam kartu kata</p>
<p><strong>2.   Kelas Verba</strong></p>
<p>Untuk menentukan suatu kata termasuk verba, digunakan valensi sintaktis karena perangkat kategori  pembangun kerangka sisteni morfologi verba itu ditandai oleh valensi sintaktis yang sama, yaitu mempunya; potensi berkomhinasi dengan kata: <em>tidak, sudah, sedang, akan, baru, telah, belum, mau, hendak, </em></p>
<p>Kelas verba yang ditemukan pada data terdiri dari (1) verba murni, yakni verba yang tidak berasal dari kelas kata lain, (2) verba denominal, yakni verba yang terbentuk dari nomina, (3) verba deadjektival, yakni verba yang terbentuk dan adjektiva, (4) verba denuineral, yakni verba yang terbentuk dari numeralia, dan (5) verba depronominal, yakni verba yang terbentuk dari pronomina.</p>
<p><strong>a.   Verba Murni</strong></p>
<p>Verba murni terdiri dari verba dasar (monomorfemis) dan verba tur. (polimorfemis). Verba turunan yang terbentuk dan kata-kata verba disebut verba diverbal.</p>
<ul>
<li>Verba Dasar</li>
</ul>
<p>Verba murni, berbentuk dasar yang ditemukan pada data ada yaitu: <em>ada, bangkit, pergi, puasa, pulang, balik, makan, mampir, datang, ucap, ubah, turun, tinggal, terima, singgah ,aman , </em></p>
<ul>
<li>Verba Deverbal</li>
</ul>
<p>Verba deverbal yang ditemukan pada data, terdiri dari beberapa kategori morfologis, yaitu:</p>
<p>1)   Kategori di-D</p>
<p>Kategori ini menyatakan makna &#8216;tindakan disengaja berfokus sasaran&#8221;. Contoh: <em>diangkat, </em><em>à</em> verba 1</p>
<p>2)   Kategori ter-D&#8221;</p>
<p>Kategori ini menyatakan makna &#8220;dapat di’.</p>
<p>Contoh: <em>tersenyum </em>à verb 1</p>
<p>3)   Kategori meng-D</p>
<p>Kategori ini menyatakan makna &#8216;tindakan yang disengaja berfokus pelaku&#8217;.</p>
<p>Contoh:  <em>menyeret, menempel, menukar,</em> <em>mengangguk,memakai, menuju, meniru, mengangkat, memakai </em><em>à</em> verba 1</p>
<p>4)   Kategori meng-(D-i)</p>
<p>Kategori ini menyatakan makna &#8216;lokatif.</p>
<p>Contoh: <em>menyikapi, mempunyai </em><em>à</em> verba 2</p>
<p>5)   Kategori meng-(D-kan)</p>
<p>Kategori ini menyatakan makna &#8216;benefaktif/direktif</p>
<p>Contoh: <em>meneruskan, menyilakan, menyebabkan </em><em>à</em><em> </em>verba 1</p>
<p>6)   Kategori ber-D-an</p>
<p>Kategori ini menyatakan makna &#8216;malakukan perbuatan berlangsung lama, bisa sendiri atau dengan orang lain&#8217;.</p>
<p>Contoh: <em>berpandangan </em> à  verba 2</p>
<p>7)   Kategori ber-D</p>
<p>Kategoii ini menyatakan makna &#8216;tindakan bcrlangsung lama&#8217;.</p>
<p>Contoh: <em>berakhir, berada, berteduh </em> à verba 2,</p>
<p>8)   Kategori meng-D</p>
<p>Kategori ini menyatakan makna &#8216;proses/keadaan&#8217;.</p>
<p>Contoh: <em>melompat</em><em>à</em><em> </em> verba 2</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>b.  Verba Transposisi</strong></p>
<p>Verba Denominal</p>
<p>Verba   denominal   yang   ditemukan   pada   data   meliputi   enam   kategori morfologis, yaitu.</p>
<p>1)         Kategori meng-D</p>
<p>Kategori ini diderivasikan dari nomina kategori D melalui derivasi zero sehingga terbentuk verba kategori D yang menyatakan makna &#8216;tindakan yang disengaja berfokus pelaku&#8217;.</p>
<p>Contoh: <em>menutup, meningkat </em> à verba I</p>
<p>2)         Kategori meng-(D-i)</p>
<p>Kategori ini berasal dari nomina kategon D kemudian dMenvasikan verba kategori D-i yang maknanya &#8216;lokatif. Contoh. <em>menangani </em>à verba 2</p>
<p>3)         Kategori di-(D-i)</p>
<p>Kategori ini berasal dari nomina kategori D kemudiun diderivasikan menjadi verba kategori D-i yang mempunyai makna &#8216;kausatif.</p>
<p>Contoh: <em>ditandatangani </em><em>à</em><em> </em>verba 2</p>
<p>4)         Kategori meng-(D-kan)</p>
<p>Kategori ini berasal dari nomina kategori D kemudian diderivasikan menjadi verba kategori D-kan yang menyatakan makna &#8216;kausatif.</p>
<p>Contoh: <em>rnerupakan </em>à verba 2</p>
<p>5).        Kategori di-(D-kan)</p>
<p>Kategori berasal dari nomina kategori D kemudian diderivasikan menjadi verba kategori D-kan yang menyatakan makna &#8216;kausatif.</p>
<p>Contoh: <em>disebutkan, dimanfaatkan, disimpulkan, dilaksanakan, dilakukan </em><em>à </em> verba 2</p>
<p>6)         Kategori ber-D</p>
<p>Kategori ini diderivasikan dari nomina kategori D dan menyatakan makna &#8216;tindakan berlangsung lama&#8217;.</p>
<p>Contoh: <em>bertekad </em> àverba 2</p>
<ul>
<li><strong>Verba Deadjektival</strong></li>
</ul>
<p>Verba deadjektival yang ditemukan pada data, meliputi dim macam kategori morfologis, yaitu:</p>
<p>1)   Kategori meng-(D-i)</p>
<p>Kategori ini berasal dari adjektiva kategori D kemudian diderivasikan menjadi verba kategori D-i yang menyatakan makna &#8216;kausatif.</p>
<p>Contoh: <em>menjiwai,</em> <em>menghargai, menanggapi </em><em>à</em> verba 2</p>
<p>2)   Kategori meng-(D-kan)</p>
<p>Kategori ini berasal dari adjektiva kategori D kemuadian diderivasikan menjadi verba kategori D-kan, yang menyatakan makna &#8216;kausatif.</p>
<p>Contoh: <em>melaksanakan menyenangkan, melanjutkan</em> à verba 2</p>
<ul>
<li><strong>Verba Demimeral</strong></li>
</ul>
<p>Dari data hanya ditemukan salu kalegori morfologis verba denumeral, yaitu kategori meng-D, yang diderivasikan dari numeralia bentuk dasar yang menyatakan makna &#8216;proses/keadaan&#8217;.</p>
<p>Contoh: <em>menyeluruh </em>-» verba 2</p>
<ul>
<li><strong>Verba Depronominal</strong></li>
</ul>
<p>Dari data hanya ditemukan satu kategori morfologis verba depronominal, yaitu kategori meng-(D-i), yang berasal dari pronomina bentuk dasar kemudian diderivasikan menjadi verba kategori D-i yang menyatakan makna &#8216;repetitif. Contoh: <em>mengakui </em>—&gt;• verba 1</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>3.</strong> <strong>Kelas Adjektiva</strong></p>
<p>Untuk menentukan suatu kata termasuk adjektiva, digunakan valensi sintaktis karena perangkat kategori morfologis pembangun kerangka sistem morfologi adjektiva itu ditandai oleh valensi sintaktis yang sama yaitu mempunyai potensi berkombinasi dengan kata: <em>sangat, agak, paling, amat, sekali,</em></p>
<p>Kelas adjektiva yang ditemukan pada data hanya satu kategori morfologis, yaitu berupa adjektiva bentuk dasar yang terdiri dari:</p>
<p>Contoh: <em>apes,  aman, akrab, takut, basah, banyak, baik, bodoh, cukup, kerdil, salam, suka, sudah, tersinggung, berwibawa, terlalu, spona, serius, sering, cantik, tenang, </em><em> </em></p>
<p><strong>4.</strong> <strong>Kelas Numeralia</strong></p>
<p>Untuk menentukan suatu kata lermasuk numeralia, digunakan valensi sintaktis karena perangkat kategori morfologis pembangun kerangka sistem morfologis numeralia itu ditandai oleh valensi: sintaktis yang sama yaitu dapat bergabung dengan nomina.</p>
<p>Kelas numeralia yang ditemukan pada data hanya ada satu macam yaitu nrmeralia murni. Adapun yang dimaksud numeralia murni adalah numeralia yang tidak berasal dari kelas kata lain. Numeralia murni ini terdiri dari numeralia dasar</p>
<p>monomorfemis) dan numeralia tunman (polimortemis). Numeralia turunan yang terbentuk dari kata-kata numeralia disebut niimeralia denumeral.</p>
<p><strong>a.</strong> <strong>Numeralia Dasar</strong></p>
<p>Numeralia murni berbentuk dasar yang ditemukan pada data ada dua macam, yaitu:</p>
<p>Contoh: <em>sebuah,  sederet, dua, tujuh, sembilan, setiap, seorang, </em></p>
<p><strong>b.   Numeralia Denumeral</strong></p>
<p>Numeralia denumeral tidak ditemuka pada data kartu kata,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>5.   Kelas Adverbia</strong></p>
<p>Untuk menentukan suatu kata termasuk adverbia, digunakan valensi sintaktis karena perangkat kategori morfologis pembangun kerangka sistem morfologi adverbia itu ditandai oleh valensi sintaktis yang sama yaitu dapat bergabung dengan verba.</p>
<p>Kelas adverbia yang ditemukan pada data hanya ada satu kategori morfologis, yaitu berupa adverbia bentuk dasar yang terdiri dari:</p>
<p>Contoh: <em> tak, telah, akan, baru, sudah, sedang, saja, juga, </em></p>
<p><strong>6.   Kelas Pronomina</strong></p>
<p>Pronomina yang ditemukan pada data meliputi tiga macam, yaitu:</p>
<p>a.   Pronomina persona: <em> </em></p>
<p>Contoh <em>aku, suya,, anda, mereka.</em></p>
<p>b<em>. </em>Pronomina penunjuk:</p>
<p>Contoh:  <em>itu</em>, <em>adalah</em></p>
<p>c.   Pronomina penanya:</p>
<p>Contoh: <em>bila, kapan.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>7.</strong> <strong>KataTugas</strong></p>
<p>Dari data yang ada ditemukan kata tugas yang meliputi:</p>
<p>1.    Preposisi:</p>
<p>Contoh:  <em>pada</em>, <em>kepada, di, terhadap, olch karena.</em></p>
<ol>
<li>Konjungsi:</li>
</ol>
<p>Contoh: <em>lalu, serta, yang, bahkan,</em> <em>sebelum,   kulau,   karena,   tetapi,   muku,   ketika.   kemudian, scakan-akan.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khusnin.wordpress.com/470/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khusnin.wordpress.com/470/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khusnin.wordpress.com/470/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khusnin.wordpress.com/470/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/khusnin.wordpress.com/470/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/khusnin.wordpress.com/470/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/khusnin.wordpress.com/470/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/khusnin.wordpress.com/470/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khusnin.wordpress.com/470/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khusnin.wordpress.com/470/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khusnin.wordpress.com/470/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khusnin.wordpress.com/470/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khusnin.wordpress.com/470/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khusnin.wordpress.com/470/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khusnin.wordpress.com&amp;blog=4690334&amp;post=470&amp;subd=khusnin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khusnin.wordpress.com/2010/09/29/kategori-morfologi-kelas-kata-dalam-bahasa-indonesia-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c1eb16f42d3c4b04e6d11ae916f4569?s=96&#38;d=retro" medium="image">
			<media:title type="html">khusnin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KATA ULANG</title>
		<link>http://khusnin.wordpress.com/2010/09/27/kata-ulang/</link>
		<comments>http://khusnin.wordpress.com/2010/09/27/kata-ulang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Sep 2010 10:37:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khusnin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khusnin.wordpress.com/?p=459</guid>
		<description><![CDATA[Kata ulang adalah kata yang mengalami proses pengulangan, baik sebagaian maupun seluruhnya. Berdasarkan sifatnya, kata ulang terbagi atas: Kata ulang murni Kata ulang semu Berdasarkan bentuknya, kata ulang dibagi atas: kata ulang kata dasar (dwilingga) kata ulang sebagian (dwipurwa) kata ulang berubah bunyi (dwilinga salin suara) kata ulang berimbuhan KATA ULANG KATA DASAR yaitu perulangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khusnin.wordpress.com&amp;blog=4690334&amp;post=459&amp;subd=khusnin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kata ulang adalah kata yang mengalami proses pengulangan, baik sebagaian maupun seluruhnya.</p>
<p>Berdasarkan sifatnya, kata ulang terbagi atas:</p>
<p>Kata ulang murni</p>
<p>Kata ulang semu</p>
<p><span id="more-459"></span></p>
<p>Berdasarkan bentuknya, kata ulang dibagi atas:</p>
<p>kata ulang kata dasar (dwilingga)</p>
<p>kata ulang sebagian (dwipurwa)</p>
<p>kata ulang berubah bunyi (dwilinga salin suara)</p>
<p>kata ulang berimbuhan</p>
<p>KATA ULANG KATA DASAR</p>
<ul>
<li>yaitu      perulangan yang terjadi seluruh bentuk kata dasar</li>
</ul>
<p>CONTOH</p>
<p>obat                  à obat-obat</p>
<p>dokter               à dokter-dokter</p>
<p>bidan                à bidan-bidan</p>
<p>petugas à petugas-petugas</p>
<p>KATA ULANG SEBAGIAN</p>
<ul>
<li>yaitu      perulangan yang terjadi suku awal kata.</li>
</ul>
<p><em>contoh</em></p>
<p><em>rumput </em><em>à</em><em> ru-rumput </em><em>à</em><em> rerumput</em></p>
<p><em>sama </em><em>à</em><em> sa-sama </em><em>à</em><em> sesama</em></p>
<p><em>luhur </em><em>à</em><em> lu-luhur </em><em>à</em><em> leluhur</em></p>
<p><em>rata </em><em>à</em><em> ra-rata </em><em>à</em><em> rerata </em></p>
<p>KATA ULANG  BERUBAH BUNYI</p>
<ul>
<li>yaitu      perulangan yang terjadi akibat perubahan bunyi vokal atau konsonan</li>
<li>ciri-ciri      perulangan ini ditandai salah satu dari katanya adalah kata dasar</li>
<li>perubahan      bunyi atas
<ul>
<li>perubahan       vokal</li>
<li>perubahan       konsonan</li>
</ul>
</li>
<li>perubahan      bunyi vokal adalah perluangan yang terjadi akibat berubah bunyi vokalnya.</li>
<li>Contoh:</li>
</ul>
<p>gerak    à gerak-gerik</p>
<p>warna    à warna-warni  dll</p>
<p>Perubahan bunyi konsonan adalah perluangan yang terjadi akibat berubah bunyi konsonannya.</p>
<ul>
<li>Contoh:</li>
</ul>
<p>ramah   à ramah-tamah</p>
<p>lauk      à lauk-pauk  dll</p>
<p>KATA ULANG BERIMBUHAN</p>
<ul>
<li>yaitu perulangan yang terjadi penambahan imbuhan</li>
<li>Contoh:</li>
</ul>
<p>obat                  à obat-obatan</p>
<p>tusuk                à tertusuk-tusuk</p>
<p>getar                 à getar-gemetar</p>
<p>MAKNA KATA ULANG</p>
<ul>
<li>Menyatakan      kumpulan (KBil+KBil)
<ul>
<li><em>Para</em><em> perawat memasuki ruangan dua-dua.</em></li>
<li><em>Bidan       itu memberi tiga-tiga tablet pada ibu yang baru melahirkan</em></li>
</ul>
</li>
<li>Menyatakan      bermacam-macam (KB+KB+an) diakhir kalimat
<ul>
<li><em>Dokter       muda itu membawa obat-obatan ke ruang praktik.</em></li>
<li><em>Akhirnya       ia mencari daun-daunan demi kesembuhan anaknya.</em></li>
</ul>
</li>
<li>Menyatakan      paling (se+KUKS+nya)
<ul>
<li><em>Mahasiswa       itu melompat setinggi-tingginya.</em></li>
<li><em>Timbunlah       barang itu sedalam-dalamnya.</em></li>
</ul>
</li>
<li>Menyatakan      makin (KUKS)
<ul>
<li><em>Camkan       dalam-dalam  penjelasan dari dosen.</em></li>
<li><em>Tutuplah       rapat-rapat bajumu agar tidak masuk angin.</em></li>
</ul>
</li>
<li>Menyatakan      sifat (ke+KUKB+an)
<ul>
<li><em>Mahasiswa       itu kekanak-kanakan saja melompat pagar.</em></li>
<li><em>Sejak       dari luar negeri kelakuannya kebarat-baratan saja.</em></li>
</ul>
</li>
<li>Menyatakan      menyerupai (KUKB+an)
<ul>
<li><em>Orang       itu memasang orang-orangan di kebuhnya.</em></li>
<li><em>Mobil-mobilan       adik terbawa ayah ke kantor</em></li>
</ul>
</li>
<li>Menyatakan      tak disengaja
<ul>
<li><em>Ia batuk-batuk       setiap aku melewati rumahnya</em></li>
<li><em>Mengapa       kamu kedip-kedip saat melihatku</em><em></em></li>
</ul>
</li>
<li>Menyatakan saling (ber+KUKK+an)
<ul>
<li>Setalah <em>bersalam-salaman</em> mereka pergi       ke ruangan lobi</li>
<li>Mereka <em>berpeluk-pelukan </em>saat perpisahan       terjadi</li>
</ul>
</li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khusnin.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khusnin.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khusnin.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khusnin.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/khusnin.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/khusnin.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/khusnin.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/khusnin.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khusnin.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khusnin.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khusnin.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khusnin.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khusnin.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khusnin.wordpress.com/459/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khusnin.wordpress.com&amp;blog=4690334&amp;post=459&amp;subd=khusnin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khusnin.wordpress.com/2010/09/27/kata-ulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c1eb16f42d3c4b04e6d11ae916f4569?s=96&#38;d=retro" medium="image">
			<media:title type="html">khusnin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BAHASA INDONESIA DAN EJAAN</title>
		<link>http://khusnin.wordpress.com/2010/09/27/bahasa-indonesia-dan-ejaan/</link>
		<comments>http://khusnin.wordpress.com/2010/09/27/bahasa-indonesia-dan-ejaan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Sep 2010 10:11:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khusnin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khusnin.wordpress.com/?p=456</guid>
		<description><![CDATA[Kita masih ingat pada masa kerajaan Sriwijaya, Ada beberapa prasasti yang bertuliskan bahasa Melayu Kuno dengan memakai huruf Pallawa (India) yang banyak dipengaruhi bahasa Sanskerta, seperti juga halnya bahasa Jawa Kuno. Jadi bahasa pada waktu itu belum menggunakan huruf Latin. Bahasa Melayu Kuno ini kemudian berkembang pada berbagai tempat di Indonesia, terutama pada masa Hindu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khusnin.wordpress.com&amp;blog=4690334&amp;post=456&amp;subd=khusnin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita masih ingat pada masa kerajaan Sriwijaya, Ada beberapa prasasti yang bertuliskan bahasa Melayu Kuno dengan memakai huruf Pallawa (India) yang banyak dipengaruhi bahasa Sanskerta, seperti juga halnya bahasa Jawa Kuno. Jadi bahasa pada waktu itu belum menggunakan huruf Latin. Bahasa Melayu Kuno ini kemudian berkembang pada berbagai tempat di Indonesia, terutama pada masa Hindu dan masa awal kedatangan Islam (abad ke-13). Pedagang-pedagang Melayu yang berkekeliling di Indonesia memakai bahasa Melayu sebagai lingua franca , yakni bahasa komunikasi dalam perdagangan, pengajaran agama, serta hubungan antarnegara dalam bidang ekonomi dan politik.</p>
<p><span id="more-456"></span></p>
<p>Lingua franca ini secara merata berkembang di kota-kota pelabuhan yang menjadi pusat lalu lintas perdagangan. Banyak pedagang asing yang berusaha untuk mengetahui bahasa Melayu untuk kepentingan mereka. Bahasa Melayu ini mengalami pula penulisannya dengan huruf Arab yang juga berkembang menjadi huruf Arab-Melayu. Banyak karya sastra dan buku agama yang ditulis dengan huruf Arab-Melayu. Huruf ini juga dijadikan sebagai ejaan resmi bahasa Melayu sebelum mulai digunakannya huruf Latin atau huruf Romawi untuk penulisan bahasa Melayu, walaupun masih secara sangat terbatas.<br />
Ejaan latin untuk bahasa Melayu mulai ditulis oleh Pigafetta, selanjutnya oleh de Houtman, Casper Wiltens, Sebastianus Dancaert, dan Joannes Roman. Setelah tiga abad kemudian ejaan ini baru mendapat perhatian dengan ditetapkannya Ejaan Van Ophuijsen pada tahun 1901.</p>
<p>Keinginan untuk menyempurnakan ejaan Van Ophuijsen terdengar dalam Kongres Bahasa Indonesia I, tahun 1938 di Solo, yang sembilan tahun kemudian terwujud dalam sebuah Putusan Menteri Pengadjaran Pendidikan dan Kebudajaan, 15 April 1947, tentang perubahan ejaan baru. Perubahan tersebut terlihat, antara lain, seperti di bawah ini.</p>
<p><em>Van Ophuijsen 1901 : boekoe, ma’lum, ’adil, mulai, masalah, tida’, pende’</em></p>
<p><em>Soewandi 1947 : buku, maklum, adil, mulai, masalah, tidak, pendek</em></p>
<p>Perubahan Ejaan bahasa Indonesia ini berlaku sejak ditetapkan pada tahun 1947. Waktu perubahan ejaan itu ditetapkan rakyat Indonesia sedang berjuang menentang kembalinya penjajahan Belanda. Penggunaan Ejaan 1947 ini yang lebih dikenal sebagai Ejaan Soewandi atau Ejaan Republik, sebenarnya memancing reaksi yang muncul setelah pemulihan kedaulatan (1949). Reaksi ini kemudian melahirkan ide untuk mengadakan perubahan ejaan lagi dengan berbagai pertimbangan mengenai sejumlah kekurangan.</p>
<p>Gagasan mengenai perubahan ejaan itu muncul dengan nyata dalam Kongres Bahasa Indonesia II di Medan (1954). Waktu itu Menteri Pendidikan dan Kebudajaan adalah Mr. Muh. Yamin. Dalam kongres itu dihasilkan keputusan mengenai ejaan sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>Ejaan sedapat-dapatnya menggambarkan satu fonem dengan satu huruf.</li>
<li>Penetapan ejaan hendaknya dilakukan oleh satu badan yang kompeten.</li>
<li>Ejaan itu hendaknya praktis tetapi ilmiah.</li>
</ol>
<p>Keputusan kongres ini kemudian ditindaklanjuti oleh pemerintah, yang menghasilkan konsep sistem ejaan yang disebut Ejaan Pembaharuan. Namun Ejaan ini tidak dapat dilaksanakan karena adanya beberapa huruf baru yang tidak praktis,yang dapat memengaruhi perkembangan ejaan bahasa Indonesia.</p>
<p>Terilhami oleh Kongres Bahasa Indonesia II di Medan (1954), diadakan pula kongres bahasa Indonesia di Singapura (1956) yang menghasilkan suatu resolusi untuk menyatukan ejaan bahasa Melayu di Semenanjung Melayu dengan ejaan bahasa Indonesia di Indonesia. Perkembangan selanjutnya dihasilkan suatu konsep ejaan bersama yang diberi nama Ejaan Melindo (Ejaan Melayu-Indonesia). Namun, rencana untuk meresmikan ejaan ini pada tahun 1962 mengalami kegagalan karena adanya konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia beberapa tahun kemudian.</p>
<p>Pada tahun 1966 Lembaga Bahasa dan Kesusastraan (LBK) membentuk sebuah panitia yang diketuai oleh Anton M. Moeliono dan mengusulkan konsep baru sebagai ganti konsep Melindo.<br />
Pada tahun 1972, setelah melalui beberapa kali seminar, akhirnya konsep LBK menjadi konsep bersama Indonesia-Malaysia yang seterusnya menjadi Sistem Ejaan Baru yang disebut Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Kalau kita beranalogi dengan Ejaan Van Ophuijsen dan Ejaan Soewandi, EYD dapat disebut Ejaan Mashuri, karena pada waktu itu Mashuri sebagai Mnteri Kebudayaan memperjuangkan EYD sampai diresmikan oleh presiden.</p>
<p>Ada empat ejaan yang sudah diresmikan pemakaiannya yaitu</p>
<ol>
<li>Ejaan Van Ophuijsen (1901)</li>
<li>Ejaan Soewandi (1947)</li>
<li>Ejaan Yang Disempurnakan (1972)</li>
<li>Pedoman Umum Ejaan Yang Disempurnakan (1975\</li>
</ol>
<p>Sistem ejaan yang belum atau tidak sempat diresmikan oleh pemerintah adalah :</p>
<ol>
<li>Ejaan Pembaharuan (1957)</li>
<li>Ejaan Melindo (1959)</li>
<li>Ejaan LBK (1966)</li>
</ol>
<p>Ejaan-ejaan untuk bahasa Melayu/Indonesia mengalami beberapa tahapan sebagai berikut:</p>
<p><em><a title="Ejaan van Ophuijsen" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ejaan_van_Ophuijsen">Ejaan van Ophuijsen</a></em></p>
<p>Ejaan ini merupakan ejaan <a title="Bahasa Melayu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Melayu">bahasa Melayu</a> dengan huruf Latin. <a title="Charles Adriaan van Ophuijsen" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Charles_Adriaan_van_Ophuijsen">Charles Van Ophuijsen</a> yang dibantu oleh <a title="Nawawi Soetan Ma’moer (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Nawawi_Soetan_Ma%E2%80%99moer&amp;action=edit&amp;redlink=1">Nawawi Soetan Ma’moer</a> dan <a title="Moehammad Taib Soetan Ibrahim (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Moehammad_Taib_Soetan_Ibrahim&amp;action=edit&amp;redlink=1">Moehammad Taib Soetan Ibrahim</a> menyusun ejaan baru ini pada tahun 1896. Pedoman tata bahasa yang kemudian dikenal dengan nama ejaan van Ophuijsen itu resmi diakui pemerintah kolonial pada tahun 1901. Ciri-ciri dari ejaan ini yaitu:</p>
<ol>
<li>Huruf <em>ï</em> untuk membedakan      antara huruf <em>i</em> sebagai akhiran dan karenanya harus disuarakan      tersendiri dengan <a title="Diftong" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Diftong">diftong</a> seperti <em>mulaï</em> dengan <em>ramai</em>.      Juga digunakan untuk menulis huruf <em>y</em> seperti dalam <em>Soerabaïa</em>.</li>
<li>Huruf <em>j</em> untuk menuliskan      kata-kata <em>jang</em>, <em>pajah</em>, <em>sajang</em>, dsb.</li>
<li>Huruf <em>oe</em> untuk      menuliskan kata-kata <em>goeroe</em>, <em>itoe</em>, <em>oemoer</em>, dsb.</li>
<li>Tanda <a title="Diakritik (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Diakritik&amp;action=edit&amp;redlink=1">diakritik</a>, seperti      koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata <em>ma’moer</em>, <em>’akal</em>,      <em>ta’</em>, <em>pa’</em>, dsb.</li>
</ol>
<h3><em><a title="Ejaan Republik" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ejaan_Republik">Ejaan Republik</a></em><em> </em></h3>
<p>Ejaan ini diresmikan pada tanggal 19 Maret 1947 menggantikan ejaan sebelumnya. Ejaan ini juga dikenal dengan nama <a title="Ejaan Soewandi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ejaan_Soewandi">ejaan Soewandi</a>. Ciri-ciri ejaan ini yaitu:</p>
<ol>
<li>Huruf <em>oe</em> diganti dengan <em>u</em> pada kata-kata <em>guru</em>, <em>itu</em>, <em>umur</em>, dsb.</li>
<li>Bunyi hamzah dan bunyi sentak      ditulis dengan <em>k</em> pada kata-kata <em>tak</em>, <em>pak</em>, <em>rakjat</em>,      dsb.</li>
<li>Kata ulang boleh ditulis dengan      angka 2 seperti pada <em>kanak2</em>, <em>ber-jalan2</em>, <em>ke-barat2-an</em>.</li>
<li>Awalan <em>di</em>- dan kata      depan <em>di</em> kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang      mendampinginya.</li>
</ol>
<h3><em><a title="Ejaan Melindo" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ejaan_Melindo">Ejaan Melindo (Melayu Indonesia)</a></em><em> </em></h3>
<p>Konsep ejaan ini dikenal pada akhir tahun 1959. Karena perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya, diurungkanlah peresmian ejaan ini.</p>
<h3><em><a title="EYD" href="http://id.wikipedia.org/wiki/EYD">Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD)</a></em><em> </em></h3>
<p>Pada tanggal 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia meresmikan Pemakaian Ejaan Bahasa Indonesia. Ejaan baru itu berdasarkan Kepres No. 57 tahun 1972. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebabkan buku kecil berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia. Yang disempurnakan sebagai Patokan Pemakaian Ejaan itu.</p>
<p>Tanggal 12 Oktober 1972 No. 156/P/1972 (Amran Halim Ketua) menyusun buku Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan berupa pemaparan Kaidah Ejan yang lebih luas.</p>
<p>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khusnin.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khusnin.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khusnin.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khusnin.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/khusnin.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/khusnin.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/khusnin.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/khusnin.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khusnin.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khusnin.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khusnin.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khusnin.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khusnin.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khusnin.wordpress.com/456/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khusnin.wordpress.com&amp;blog=4690334&amp;post=456&amp;subd=khusnin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khusnin.wordpress.com/2010/09/27/bahasa-indonesia-dan-ejaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c1eb16f42d3c4b04e6d11ae916f4569?s=96&#38;d=retro" medium="image">
			<media:title type="html">khusnin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BAHASA INDONESIA : Sejarah dan Perkembangannya</title>
		<link>http://khusnin.wordpress.com/2010/09/27/bahasa-indonesia-sejarah-dan-perkembangannya/</link>
		<comments>http://khusnin.wordpress.com/2010/09/27/bahasa-indonesia-sejarah-dan-perkembangannya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Sep 2010 09:45:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khusnin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khusnin.wordpress.com/?p=453</guid>
		<description><![CDATA[Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesiadan bahasa persatuan bangsa Indonesia . Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di Timor Leste, Bahasa Indonesia berposisi sebagai bahasa kerja. Dari sudut pandang linguistik, bahasa Indonesia adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu . Dasar yang dipakai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khusnin.wordpress.com&amp;blog=4690334&amp;post=453&amp;subd=khusnin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#000000;">Bahasa Indonesia adalah <a title="Bahasa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa">bahasa</a> <a title="Bahasa resmi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_resmi">resmi</a> <a title="Republik Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Republik_Indonesia">Republik Indonesia</a>dan bahasa persatuan <a title="Orang Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Orang_Indonesia">bangsa Indonesia</a><sup> </sup>. Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah <a title="Proklamasi Kemerdekaan Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Proklamasi_Kemerdekaan_Indonesia">Proklamasi Kemerdekaan Indonesia</a>, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya <a title="UUD 1945" href="http://id.wikipedia.org/wiki/UUD_1945">konstitusi</a>. Di <a title="Timor Leste" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Timor_Leste">Timor Leste</a>, Bahasa Indonesia berposisi sebagai <a title="Bahasa kerja" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_kerja">bahasa kerja</a>.</span></p>
<p><span id="more-453"></span></p>
<p>Dari sudut pandang <a title="Linguistik" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Linguistik">linguistik</a>, bahasa Indonesia adalah salah satu dari banyak <a title="Ragam bahasa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ragam_bahasa">ragam</a> <a title="Bahasa Melayu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Melayu">bahasa Melayu</a><sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia#cite_note-2"></a> </sup>. Dasar yang dipakai adalah <a title="Bahasa Melayu Riau (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bahasa_Melayu_Riau&amp;action=edit&amp;redlink=1">bahasa Melayu Riau</a><sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia#cite_note-3"></a> </sup>dari abad ke-19. Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan &#8220;Bahasa Indonesia&#8221; diawali sejak dicanangkannya <a title="Sumpah Pemuda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Pemuda">Sumpah Pemuda</a>, 28 Oktober 1928, untuk menghindari kesan &#8220;imperialisme bahasa&#8221; apabila nama bahasa Melayu tetap digunakan. Proses ini menyebabkan berbedanya Bahasa Indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang digunakan di Riau maupun <a title="Semenanjung Malaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Semenanjung_Malaya">Semenanjung Malaya</a>. Hingga saat ini, Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari <a title="Bahasa daerah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_daerah">bahasa daerah</a> dan <a title="Bahasa asing" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_asing">bahasa asing</a>.</p>
<p>Meskipun dipahami dan dituturkan oleh lebih dari 90% warga Indonesia, Bahasa Indonesia bukanlah <a title="Bahasa ibu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_ibu">bahasa ibu</a> bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar warga Indonesia menggunakan salah satu dari 748 bahasa yang ada di Indonesia sebagai <a title="Bahasa ibu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_ibu">bahasa ibu</a>.<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia#cite_note-5"></a> </sup> Penutur Bahasa Indonesia kerap kali menggunakan versi sehari-hari (kolokial) dan/atau mencampuradukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa ibunya. Meskipun demikian, Bahasa Indonesia digunakan sangat luas di perguruan-perguruan, di media massa, sastra, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya,<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia#cite_note-6"></a></sup> sehingga dapatlah dikatakan bahwa Bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia.</p>
<p><a title="Fonologi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fonologi">Fonologi</a> dan <a title="Tata bahasa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tata_bahasa">tata bahasa</a> Bahasa Indonesia dianggap relatif mudah. Dasar-dasar yang penting untuk komunikasi dasar dapat dipelajari hanya dalam kurun waktu beberapa minggu.</p>
<p>AKAR BAHASA INDONESIA</p>
<p>Bahasa Indonesia adalah varian bahasa Melayu, sebuah bahasa <a title="Austronesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Austronesia">Austronesia</a> dari cabang <a title="Bahasa-bahasa Sunda-Sulawesi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa-bahasa_Sunda-Sulawesi">bahasa-bahasa Sunda-Sulawesi</a>, yang digunakan sebagai <em><a title="Lingua franca" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lingua_franca">lingua franca</a></em> di <a title="Nusantara" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nusantara">Nusantara</a> kemungkinan sejak abad-abad awal <a title="Kalender Masehi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Masehi">penanggalan modern</a>.</p>
<p><a title="Kerajaan Sriwijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Sriwijaya">Kerajaan Sriwijaya</a> dari abad ke-7 Masehi diketahui memakai bahasa Melayu (sebagai <a title="Bahasa Melayu Kuna" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Melayu_Kuna">bahasa Melayu Kuna</a>) sebagai bahasa kenegaraan. Lima <a title="Prasasti" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti">prasasti</a> kuna yang ditemukan di Sumatera bagian selatan peninggalan kerajaan itu menggunakan bahasa Melayu yang bertaburan kata-kata pinjaman dari <a title="Bahasa Sanskerta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sanskerta">bahasa Sanskerta</a>, suatu <a title="Rumpun bahasa Indo-Eropa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rumpun_bahasa_Indo-Eropa">bahasa Indo-Eropa</a> dari cabang Indo-Iran. Jangkauan penggunaan bahasa ini diketahui cukup luas, karena ditemukan pula dokumen-dokumen dari abad berikutnya di <a title="Pulau Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Jawa">Pulau Jawa</a><sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia#cite_note-9">[10]</a></sup> dan <a title="Pulau Luzon" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Luzon">Pulau Luzon</a>.<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia#cite_note-10"></a> </sup> Kata-kata seperti <em>samudra, istri, raja, putra, kepala, kawin</em>, dan <em>kaca</em> masuk pada periode hingga abad ke-15 Masehi.</p>
<p>Pada abad ke-15 berkembang bentuk yang dianggap sebagai bahasa Melayu Klasik (<em>classical Malay</em> atau <em>medieval Malay</em>). Bentuk ini dipakai oleh <a title="Kesultanan Melaka" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Melaka">Kesultanan Melaka</a>, yang perkembangannya kelak disebut sebagai <em><a title="Bahasa Melayu Tinggi (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bahasa_Melayu_Tinggi&amp;action=edit&amp;redlink=1">bahasa Melayu Tinggi</a></em>. Penggunaannya terbatas di kalangan keluarga kerajaan di sekitar <a title="Sumatera" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera">Sumatera</a>, <a title="Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa">Jawa</a>, dan <a title="Semenanjung Malaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Semenanjung_Malaya">Semenanjung Malaya</a>. Laporan <a title="Portugal" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Portugal">Portugis</a>, misalnya oleh <a title="Tome Pires" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tome_Pires">Tome Pires</a>, menyebutkan adanya bahasa yang dipahami oleh semua pedagang di wilayah Sumatera dan Jawa. <a title="Magellan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Magellan">Magellan</a> dilaporkan memiliki budak dari Nusantara yang menjadi juru bahasa di wilayah itu. Ciri paling menonjol dalam ragam sejarah ini adalah mulai masuknya kata-kata pinjaman dari <a title="Bahasa Arab" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Arab">bahasa Arab</a> dan <a title="Bahasa Parsi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Parsi">bahasa Parsi</a>, sebagai akibat dari penyebaran agama Islam yang mulai masuk sejak abad ke-12. Kata-kata bahasa Arab seperti masjid, kalbu, kitab, kursi, selamat, dan kertas, serta kata-kata Parsi seperti anggur, cambuk, dewan, saudagar, tamasya, dan tembakau masuk pada periode ini. Proses penyerapan dari bahasa Arab terus berlangsung hingga sekarang.</p>
<p>Kedatangan pedagang Portugis, diikuti oleh Belanda, Spanyol, dan Inggris meningkatkan informasi dan mengubah kebiasaan masyarakat pengguna bahasa Melayu. Bahasa Portugis banyak memperkaya kata-kata untuk kebiasaan Eropa dalam kehidupan sehari-hari, seperti gereja, sepatu, sabun, meja, bola, bolu, dan jendela. Bahasa Belanda terutama banyak memberi pengayaan di bidang administrasi, kegiatan resmi (misalnya dalam upacara dan kemiliteran), dan teknologi hingga awal abad ke-20. Kata-kata seperti asbak, polisi, kulkas, knalpot, dan stempel adalah pinjaman dari bahasa ini.</p>
<p>Bahasa yang dipakai pendatang dari Cina juga lambat laun dipakai oleh penutur bahasa Melayu, akibat kontak di antara mereka yang mulai intensif di bawah penjajahan Belanda. Sudah dapat diduga, kata-kata Tionghoa yang masuk biasanya berkaitan dengan perniagaan dan keperluan sehari-hari, seperti pisau, tauge, tahu, loteng, teko, tauke, dan cukong.</p>
<p><a title="Jan Huyghen van Linschoten" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jan_Huyghen_van_Linschoten">Jan Huyghen van Linschoten</a> pada abad ke-17 dan <a title="Alfred Russel Wallace" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Alfred_Russel_Wallace">Alfred Russel Wallace</a> pada abad ke-19 menyatakan bahwa bahasa orang Melayu/Melaka dianggap sebagai bahasa yang paling penting di &#8220;dunia timur&#8221; Luasnya penggunaan bahasa Melayu ini melahirkan berbagai varian lokal dan temporal. Bahasa perdagangan menggunakan bahasa Melayu di berbagai pelabuhan Nusantara bercampur dengan <a title="Bahasa Portugis" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Portugis">bahasa Portugis</a>, <a title="Bahasa Tionghoa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Tionghoa">bahasa Tionghoa</a>, maupun bahasa setempat. Terjadi proses pidginisasi di beberapa kota pelabuhan di kawasan timur Nusantara, misalnya di <a title="Manado" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Manado">Manado</a>, <a title="Kota Ambon" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Ambon">Ambon</a>, dan <a title="Kupang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kupang">Kupang</a>. Orang-orang Tionghoa di Semarang dan Surabaya juga menggunakan varian bahasa Melayu pidgin. Terdapat pula <a title="Bahasa Melayu Tionghoa (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bahasa_Melayu_Tionghoa&amp;action=edit&amp;redlink=1">bahasa Melayu Tionghoa</a> di <a title="Batavia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Batavia">Batavia</a>. Varian yang terakhir ini malah dipakai sebagai bahasa pengantar bagi beberapa surat kabar pertama berbahasa Melayu (sejak akhir abad ke-19).<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia#cite_note-12"></a> </sup> Varian-varian lokal ini secara umum dinamakan <em><a title="Bahasa Melayu Pasar (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bahasa_Melayu_Pasar&amp;action=edit&amp;redlink=1">bahasa Melayu Pasar</a></em> oleh para peneliti bahasa.</p>
<p>Terobosan penting terjadi ketika pada pertengahan abad ke-19 <a title="Raja Ali Haji" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raja_Ali_Haji">Raja Ali Haji</a> dari istana <a title="Kesultanan Riau-Johor" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Riau-Johor">Riau-Johor</a> (pecahan Kesultanan Melaka) menulis <a title="Kamus" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kamus">kamus</a> ekabahasa untuk bahasa Melayu. Sejak saat itu dapat dikatakan bahwa bahasa ini adalah bahasa yang <em>full-fledged</em>, sama tinggi dengan bahasa-bahasa internasional di masa itu, karena memiliki kaidah dan dokumentasi kata yang terdefinisi dengan jelas.</p>
<p>Hingga akhir abad ke-19 dapat dikatakan terdapat paling sedikit dua kelompok bahasa Melayu yang dikenal masyarakat Nusantara: bahasa Melayu Pasar yang kolokial dan tidak baku serta bahasa Melayu Tinggi yang terbatas pemakaiannya tetapi memiliki standar. Bahasa ini dapat dikatakan sebagai <em><a title="Lingua franca" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lingua_franca">lingua franca</a></em>, tetapi kebanyakan berstatus sebagai bahasa kedua atau ketiga. Kata-kata pinjaman</p>
<h3>BAHASA INDONESIA</h3>
<p>Pemerintah <a title="Kolonial (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kolonial&amp;action=edit&amp;redlink=1">kolonial</a> Hindia-Belanda menyadari bahwa bahasa Melayu dapat dipakai untuk membantu administrasi bagi kalangan pegawai pribumi karena penguasaan bahasa Belanda para pegawai pribumi dinilai lemah. Dengan menyandarkan diri pada bahasa Melayu Tinggi (karena telah memiliki kitab-kitab rujukan) sejumlah sarjana Belanda mulai terlibat dalam standardisasi bahasa. Promosi bahasa Melayu pun dilakukan di sekolah-sekolah dan didukung dengan penerbitan karya sastra dalam bahasa Melayu. Akibat pilihan ini terbentuklah &#8220;embrio&#8221; bahasa Indonesia yang secara perlahan mulai terpisah dari bentuk semula bahasa Melayu Riau-Johor.</p>
<p>Pada awal abad ke-20 perpecahan dalam bentuk baku tulisan bahasa Melayu mulai terlihat. Di tahun 1901, Indonesia (sebagai <a title="Hindia-Belanda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hindia-Belanda">Hindia-Belanda</a>) mengadopsi <a title="Ejaan Van Ophuijsen" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ejaan_Van_Ophuijsen">ejaan Van Ophuijsen</a> dan pada tahun 1904 <a title="Persekutuan Tanah Melayu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Persekutuan_Tanah_Melayu">Persekutuan Tanah Melayu</a> (kelak menjadi bagian dari Malaysia) di bawah <a title="Inggris" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Inggris">Inggris</a> mengadopsi <a title="Ejaan Wilkinson (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ejaan_Wilkinson&amp;action=edit&amp;redlink=1">ejaan Wilkinson</a>.<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia#cite_note-indodic-11"></a> </sup> Ejaan Van Ophuysen diawali dari penyusunan <a title="Kitab Logat Melayu (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kitab_Logat_Melayu&amp;action=edit&amp;redlink=1">Kitab Logat Melayu</a> (dimulai tahun 1896) <a title="Van Ophuijsen" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Van_Ophuijsen">van Ophuijsen</a>, dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim.</p>
<p>Intervensi pemerintah semakin kuat dengan dibentuknya <em>Commissie voor de Volkslectuur</em> (&#8220;Komisi Bacaan Rakyat&#8221; &#8211; KBR) pada tahun 1908. Kelak lembaga ini menjadi <a title="Balai Poestaka" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Balai_Poestaka">Balai Poestaka</a>. Pada tahun 1910 komisi ini, di bawah pimpinan <a title="D.A. Rinkes (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=D.A._Rinkes&amp;action=edit&amp;redlink=1">D.A. Rinkes</a>, melancarkan program <a title="Taman Poestaka (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Taman_Poestaka&amp;action=edit&amp;redlink=1">Taman Poestaka</a> dengan membentuk <a title="Perpustakaan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perpustakaan">perpustakaan</a> kecil di berbagai sekolah pribumi dan beberapa instansi milik pemerintah. Perkembangan program ini sangat pesat, dalam dua tahun telah terbentuk sekitar 700 perpustakaan.<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia#cite_note-13"></a> </sup> Bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai &#8220;bahasa persatuan bangsa&#8221; pada saat <a title="Sumpah Pemuda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Pemuda">Sumpah Pemuda</a> tanggal <a title="28 Oktober" href="http://id.wikipedia.org/wiki/28_Oktober">28 Oktober</a> <a title="1928" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1928">1928</a>. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional atas usulan <a title="Muhammad Yamin" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Yamin">Muhammad Yamin</a>, seorang politikus, sastrawan, dan ahli sejarah. Dalam pidatonya pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, Yamin mengatakan,</p>
<p>&#8220;Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa dan Melayu. Tapi dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan atau bahasa persatuan.&#8221;</p>
<p>Selanjutnya perkembangan bahasa dan kesusastraan Indonesia banyak dipengaruhi oleh sastrawan <a title="Minangkabau" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Minangkabau">Minangkabau</a>, seperti <a title="Marah Rusli" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Marah_Rusli">Marah Rusli</a>, <a title="Abdul Muis" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abdul_Muis">Abdul Muis</a>, <a title="Nur Sutan Iskandar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nur_Sutan_Iskandar">Nur Sutan Iskandar</a>, <a title="Sutan Takdir Alisyahbana" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sutan_Takdir_Alisyahbana">Sutan Takdir Alisyahbana</a>, <a title="Hamka" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hamka">Hamka</a>, <a title="Roestam Effendi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Roestam_Effendi">Roestam Effendi</a>, <a title="Idrus" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Idrus">Idrus</a>, dan <a title="Chairil Anwar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Chairil_Anwar">Chairil Anwar</a>. Sastrawan tersebut banyak mengisi dan menambah perbendaharaan kata, <a title="Sintaksis" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sintaksis">sintaksis</a>, maupun morfologi bahasa Indonesia.</p>
<h2>PERISTIWA-PERISTIWA PENTING YANG BERKAITAN DENGAN PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA</h2>
<p>Perinciannya sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Tahun      1908 pemerintah kolonial mendirikan sebuah badan penerbit buku-buku bacaan      yang diberi nama <a title="Commissie voor de Volkslectuur (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Commissie_voor_de_Volkslectuur&amp;action=edit&amp;redlink=1">Commissie      voor de Volkslectuur</a> (Taman Bacaan Rakyat), yang kemudian pada      tahun 1917 diubah menjadi <a title="Balai Pustaka" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Balai_Pustaka">Balai      Pustaka</a>. Badan penerbit ini menerbitkan novel-novel, seperti <a title="Siti Nurbaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Siti_Nurbaya">Siti      Nurbaya</a> dan <a title="Salah Asuhan (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Salah_Asuhan&amp;action=edit&amp;redlink=1">Salah Asuhan</a>,      buku-buku penuntun bercocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, yang      tidak sedikit membantu penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat      luas.</li>
<li>Tanggal      16 Juni 1927 <a title="Jahja Datoek Kajo" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jahja_Datoek_Kajo">Jahja Datoek Kajo</a> menggunakan bahasa      Indonesia dalam pidatonya. Hal ini untuk pertamakalinya dalam sidang <a title="Volksraad" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Volksraad">Volksraad</a>,      seseorang berpidato menggunakan bahasa Indonesia.<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia#cite_note-16">[17]</a></sup></li>
<li>Tanggal      28 Oktober 1928 secara resmi <a title="Muhammad Yamin" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Yamin">Muhammad      Yamin</a> mengusulkan agar bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan Indonesia.</li>
<li>Tahun      1933 berdiri sebuah angkatan sastrawan muda yang menamakan dirinya sebagai      <a title="Pujangga Baru" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pujangga_Baru">Pujangga      Baru</a> yang dipimpin oleh <a title="Sutan Takdir Alisyahbana" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sutan_Takdir_Alisyahbana">Sutan Takdir Alisyahbana</a>.</li>
<li>Tahun      1936 Sutan Takdir Alisyahbana menyusun Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia.</li>
<li>Tanggal      25-28 Juni 1938 dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia I di <a title="Solo" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Solo">Solo</a>.      Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan      pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh      cendekiawan dan budayawan Indonesia      saat itu.</li>
<li>Tanggal      18 Agustus 1945 ditandatanganilah <a title="Undang-Undang Dasar 1945" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Undang-Undang_Dasar_1945">Undang-Undang Dasar 1945</a>, yang salah      satu pasalnya (Pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa      negara.</li>
<li>Tanggal      19 Maret 1947 diresmikan penggunaan <a title="Ejaan Republik" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ejaan_Republik">ejaan      Republik</a> sebagai pengganti ejaan Van Ophuijsen yang berlaku      sebelumnya.</li>
<li>Tanggal      28 Oktober s.d 2 November 1954 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia II      di <a title="Medan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Medan">Medan</a>.      Kongres ini merupakan perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus      menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan      dan ditetapkan sebagai bahasa negara.</li>
<li>Tanggal      16 Agustus 1972 <a title="Soeharto" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Soeharto">H. M. Soeharto</a>, Presiden Republik      Indonesia, meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan      (EYD) melalui pidato kenegaraan di hadapan sidang DPR yang dikuatkan pula      dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972.</li>
<li>Tanggal      31 Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman Umum      Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan      Istilah resmi berlaku di seluruh wilayah Indonesia (Wawasan Nusantara).</li>
<li>Tanggal      28 Oktober s.d 2 November 1978 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia      III di Jakarta. Kongres yang diadakan dalam rangka memperingati Sumpah      Pemuda yang ke-50 ini selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan      perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantapkan      kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.</li>
<li>Tanggal      21-26 November 1983 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia IV di      Jakarta. Kongres ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah      Pemuda yang ke-55. Dalam putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan      pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan sehingga amanat      yang tercantum di dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara, yang mewajibkan      kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia      dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal mungkin.</li>
<li>Tanggal      28 Oktober s.d 3 November 1988 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V      di Jakarta. Kongres ini dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa      Indonesia dari seluruh Indonesia dan peserta tamu dari negara sahabat      seperti <a title="Brunei Darussalam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Brunei_Darussalam">Brunei Darussalam</a>, <a title="Malaysia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Malaysia">Malaysia</a>,      <a title="Singapura" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Singapura">Singapura</a>,      <a title="Belanda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda">Belanda</a>,      <a title="Jerman" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jerman">Jerman</a>,      dan <a title="Australia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Australia">Australia</a>.      Kongres itu ditandatangani dengan dipersembahkannya karya besar Pusat      Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pencinta bahasa di Nusantara,      yakni <a title="Kamus Besar Bahasa Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kamus_Besar_Bahasa_Indonesia">Kamus Besar Bahasa Indonesia</a> dan <a title="Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tata_Bahasa_Baku_Bahasa_Indonesia&amp;action=edit&amp;redlink=1">Tata      Bahasa Baku Bahasa Indonesia</a>.</li>
<li>Tanggal      28 Oktober s.d 2 November 1993 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI      di Jakarta. Pesertanya sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53      peserta tamu dari mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam,      Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepang, Rusia, Singapura, Korea Selatan,      dan Amerika Serikat. Kongres mengusulkan agar Pusat Pembinaan dan      Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa      Indonesia, serta mengusulkan disusunnya Undang-Undang Bahasa Indonesia.</li>
<li>Tanggal      26-30 Oktober 1998 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VII di <a title="Hotel Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hotel_Indonesia">Hotel      Indonesia</a>, Jakarta.      Kongres itu mengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa.</li>
</ol>
<p>Dari hasil pemikiran para tokoh pergerakan dan Dewan Rakyat, akhirnya dipilih bahasa Melayu dengan pertimbangan bahwa bahasa telah dipakai hampir sebagian rakyat Indonesia pada waktu itu.</p>
<p>Tokoh pergerakan yang senantiasa memperkenalkan bahasa Melayu kepada seluruh rakyat dengan pertimbangan bahasa Melayu telah mempunyai ejaan resmi yang ditulis dalam Kitab Logat Melayu yang disusun oleh Ch. A. Van Ophuysen.</p>
<p>Sejarah telah mencatat bahwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah titik kulminasi bagi penentuan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, karena pada waktu itu pertama kali kita mengikrarkan sumpah yang berbunyi:</p>
<ol>
<li>Kami putra-putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu yaitu Tanah Air Indonesia</li>
<li>Kami putra-putri Indonesia mengaku berbangsa satu yaitu bangsa Indonesia</li>
<li>Kami putra-putri Indonesia mengaku menjunjung persatuan yaitu bahasa Indonesia.</li>
</ol>
<p><span style="color:#000000;"><br />
</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khusnin.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khusnin.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khusnin.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khusnin.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/khusnin.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/khusnin.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/khusnin.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/khusnin.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khusnin.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khusnin.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khusnin.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khusnin.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khusnin.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khusnin.wordpress.com/453/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khusnin.wordpress.com&amp;blog=4690334&amp;post=453&amp;subd=khusnin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khusnin.wordpress.com/2010/09/27/bahasa-indonesia-sejarah-dan-perkembangannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c1eb16f42d3c4b04e6d11ae916f4569?s=96&#38;d=retro" medium="image">
			<media:title type="html">khusnin</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
