NOL SATU Weblog

Satu kata dalam perbuatan

SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH

Tujuan

Mata pelajaran sastra Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan siswa dalam berbahasa secara tepat dan kreatif, meningkatkan kemampuan berpikir logis dan bernalar, kematangan emosional dan sosial, serta meningkatkan kepekaan perasaan dan kemampuan siswa untuk memahami dan menikmati karya sastra. Mata pelajaran ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan rasa bangga terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional, bahasa Negara, dan bahasa Persatuan.


Hakikat Sastra

Karya sastra adalah hasil usaha manusia untuk berkomunikasi dengan mempergunakan bahasa verbal, untuk berbagai pengalaman dan penghayatan manusia terhadap kehidupan. Dalam kenyataannya, pengalaman dan penghayatan itu tidak ujudnya dan sebagian sangat besar tidak bisa diraba dengan kesadaran kita. Yang kita sadari sebenarnya hanyalah seumpama puncak gunung es, yang tidak kita sadari berada dibawah permukaan

Bahasa diciptakan manusia untuk berkomunikasi, yakni suatu kegiatan yang mensyaratkan pemahaman. Agar pengalaman dan penghayatan yang pada dasarnya tidak jelas ujudnya itu bisa dipahami, diperlukan pemilihan dan penataan, proses yang sangat penting dalam penggunaan bahasa. Karena pengalaman manusia itu begitu luas sehingga tidak bisa dipahami secara penuh, segala sesuatu yang dikomunikasikan itu harus dipilih dan ditata secara tepat dan kreatif agar bisa dipahami.

Karya sastra hanya mampu menmpung sebagian sangat kecil saja dari pengalaman manusia; oleh karenanya pemilihannya harus tepat. Segi kehidupan yang dipilih itu kemudian harus ditata sedemikian rupa sehingga bisa masuk kelogika dan nalar kita. Proses pemilihan dan penataan itulah yang merupakan penunjuk kematangan emosional dan keterlibatan sosial pengarang: dipihak lain, kematangan serupa diperlukan juga oleh pembaca karya sastra. Dengan demikian diperlukan ketrampilan berbahasa yang baik untuk melaksanakan proses itu agar komunikasi bisa berjalan seperti yang diharapkan; tentu saja ketrampilan tersebut juga harus dimiliki pembaca.

Bagi sastrawan, ketrampilan berbahasa berarti penguasaan atas kaidah-kaidah bahasa yang sudah disepakati bersama; namun, ia juga harus memiliki ketrampilan untuk menghianati kaidah-kaidah tersebut. Dalam mencipta, sastrawan mengikuti kesepakatan yang ada dan sekaligus mengkhianati kesepakatan itu. Siapa yang memberinya hak untuk menghianati kesepakatan itu? Masyarakat.

Dimana dan kapan pun, masyarakat memberikan hak tersebut agar kreativitas sastrawan tetap terjaga. Ditangan sastrawan bahasa menjadi semacam lempung yang bisa diujudkan menjadi bentuk apa saja, sesuai dengan apa yang ingin dikomunikasikannya. Hanya jika ada kreativitas itulah bahasa secara keseluruhan tidak menjadi klise; dan kita semua tahu bahwa jika bahasa sudah menjadi klise, komunikasi dalam masyarakat pada dasarnya tidak lagi berjalan sebagai mana mestinya.

Batasan

Apakah sastra itu? Untuk menjawab pertanyaan pertanyaan yang sangat dasar itu, ada dua pendekatan yang bisa dipergunakan, pendekatan bentuk dan isi. Dari segi bentuk, sastra adalah jenis kesenian yang mempergunakan bahasa verbal sebagai cara pengungkapan. Menurut sementara teori, sastra adalah bahasa yang sengaja menghianati kaidah-kaidah yang telah disepakati bersama; jadi, sastra adalah bahasa yang diselewengkan, dirongrong atau dirusak. Kenyataan semacam itu memang bisa kita temukan, terutama dalam puisi. Dalam hal ini, beberapa sajak Sutardji Calzoum Bachri bisa dijadikan contoh.

Ditinjau dari segi isi, sastra adalah karangan yang sepenuhnya merupakan hasil rekaan manusia. Dunia sastra adalah dunia rekaan yang tidak usah dihubungkan dengan segala sesuatu yang pernah terjadi dalam kehidupan ini. Tokoh, peristiwa, dan latar dalam karya sastra adalah rekaan pengarang, semuanya tidak pernah ada sebelumnya. Sitti Nurbaya, misalnya, hanya ada dalam buku Mh. Roesli; ia tidak pernah hidup didunia ini.

Kedua pendekatan itu tentu saja bisa dibantah. Jika kita bersandar pada pendekatan pertama, apakah grafiti yang sering kita dapatkan didinding-dinding dan bangku-bangku itu akan kita golongkan juga kedalam karya sastra? Grafiti sering lebih “rusak” dan “menyeleweng” daripada puisi. Jika kita mengikuti pendekatan kedua, bagimana pandangan kita terhadap novel sejarah, misalnya? Novel sejarah jelas mengandung unsur yang tidak hanya rekaan semata-mata.

Sebaiknya kita tidak usah terlibat dalampertikaian teori semacam itu. Untuk kepentingan pendidikan, sastra kita batasi pada seni kata yang sekarang ini kita anggap sebagai sastra, yakni cerita rekaan, puisi, dan drama. Dalam pengertian kita ini, sastra mungkin saja mempergunakan bahasa yang konvensional atau menyeleweng, mungkin saja sepenuhnya merupakan rekaan atau mengandung fakta.

Bahan

Pertama, apakah kita hanya akan memperkenalkan sastra modern? Sebaiknya tidak. Mantra, pantun, dan berbagai jenis sastra lisan lain sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam pengajaran sastra kita. Demikian juga sastra klasik Melayu seperti yang dihasilkan oleh Adullah bin Abdul Kadir Munsyi dan Raja Ali Haji. Sebaiknya sastra klasik kita dianggap sama pentingnya dengan sastra modern. Sastra klasik adalah kekayaan rohani bangsa kita, dantentunya kekayaan itu perlu kita bagikan juga kepada anak-anak kita. Saya berkeyakinan bahwa bangsa yang tidak memiliki masa lalu akan mengalami kesulitan dalam merencanakan masa depannya. Nilai-nilai yang ada dalam sastra klasik itu, yang merupakan hasil pengendapan pengalaman dan penghayatan bangsa kita terhadap kehidupan, merupakan modal yang sangat berharga bagi kita untuk memecahkan berbagai masalah masa kini. Itulah alasannya mengapa di negara-negara maju sastra klasik merupakan bagian penting dalam pendidikan umum; di Inggris, misalnya, karya-karya Shakespeare – karya klasik yang ditulis ratusan tahun silam – dianggap sebagai kekayaan seluruh bangsa.

Kedua, dalam mengajarkan sastra modern, apa ukuran pemilihan kita? Kita tahu, sangat banyak karya sastra yang sudah ditulis. Kita juga tahu bahwa, berdasarkan berbagai-bagai teori, sastra digolong-golongkan menjadi sastra elit, sastra populer, sastre picisan, dan entah apa lagi. Kita tidak mungkin memberikan semuanya. Disamping itu, sastra bisa saja memiliki fungsi yang berlainan-lainan dalam masyarakat.kita ambil contoh saja pantun; kita mengenal pantun agama, pantun nasihat, pantun jenaka, pantu teka-teki, pantun berkasih-kasihan, dan sebagainya. Jadi, seperti halnya pantun, sastra modern pun bisa memiliki fungsi memberi nasihat, menghibur, menumpahkan perasaan, mengajak bermain-main, dan sebagainya. Jika mungkin, kita berikan berbagai jenis sastra dalam berbagai fungsinya – tentu saja sebatas kemampuan yang ada dan bahan yang tersedia.

Ketiga, bagaimana sikap kita terhadap sastra terjemahan? Kita hidup dalam kebudayaan yang tidak mungkin menghindarkan diri dari singgungan dengan kebudayaan lain. Pengalaman hidup kita akan berkembang dengan wajar hanya jika kita membukakan diri terhadap pengalaman bangsa lain. Itu sebabnya sastra terjemahan harus mendapat tempat dalam pengajaran sastra agar anak-anak kita tidak seperti katak dalam tempurung. Disamping itu, pengalaman kelompok etnis lain bisa juga didapatkan dalam terjemahan sastra daerah. Perlu dicatat, pada hakikatnya sastra yang diterjemahkan itu tidak lagi berkaitan dengan bahasa sumbernya, ia sudah menjadi milik kebudayaan bahasa sasarannya. Sastra asing atau daerah yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia lebih merukan bagian sastra Indonesia daripada sastra asal bahasa asalnya. Sebagai contoh Ramayana dan Mahabharata berasal dari India, tetapi berbagai versi kedua karya sastra asing itu dalam bahasa Melayu dan Jawa tidak lagi menjadi milik bangsa India. Orang Jawa, misalnya, menganggap karya sastra itu miliknya sendiri.

Pengetahuan Sastra

Dalam pengajaran sastra, yang terpenting adalah kontak langsung antarasiswa dan karya sastra. Kontak itu tidak bisa diwakili siapapun, tidak terkecuali guru. Tanpa adanya kesempatan membaca karya sastra sebanyak-banyaknya, sebenarnya pengajaran sastra itu omong kosong saja. Namun, tidak berarti pengetahuan sastra sama sekali tidak ada manfaatnya. Berbagai konsep penting dalam sastra perlu ditanamkan untuk membantu siswa memahami dan menghayati karya sastra. Dan ditingkat akhir, ada baiknya dibekali juga dengan pengetahuan yang menyangkut sejarah dan perkembangan sastra. Pengetahuan itu perlu sebab pada hakikatnya hal itu merupakan bagian penting dari sejarah pemikiran bangsa. Sastrawan adalah anggota masyarakat yang menciptakan karangan untuk menanggapi dan sekaligus menilai kehidupan disekitarnya. Jika rangkaian tanggapan dan penilaian itu kita susun dalam sejarah sastra, kita akan mendapatkan sejarah pemikiran yang merupakan bagian tak terpisahkan dari perkembangan kebudayaan kita secara keseluruhan.

September 27, 2008 - Posted by | Sastra

1 Komentar »

  1. Menurut saya,
    Sastra memang sesuatu menarik dan patut untuk dipelajari. karena sastra merupakan media untuk berkomunikasi secara non verbal. dengan sastra kita dapat menjadi seseorang yang lain sesuai apa yang kita inginkan. di samping itu, kita juga dapat memvisualisasikan imajinasi kita dalam bentuk tulisan.
    Sastra yang baik adalah satra yang mampu memberikan nilai moral di samping keindahan kata-kata yang ditampilkan, artinya sastra harus memberikan amanat kepada pembaca melalui pemahaman pembaca itu sendiri.

    Komentar oleh umi lestari | Desember 13, 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: