NOL SATU Weblog

Satu kata dalam perbuatan

TEKS DALAM BAHASA NDONESIA

1. Pengertian teks

MK Haliday dan Ruqayah Hassan (1976:1) menyatakan bahwa :

A text is a unit of language in use. It is not a grammatical unit, like a clause or sentence; and it is not defined by its size. A text is sometimes envisaged to be some kind of super-sentence, a grammatical unit that is larger than a sentence but it is related to a sentence in the same way that a sentence is related to a clause, a clause to a group and so on.

Sebuah teks adalah terdiri dari unit-unit bahasa dalam penggunaannya. Unit-unit bahasa tersebut adalah merupakan unit gramatikal seperti klausa atau kalimat namun tidak pula didefenisikan berdasarkan ukuran panjang kalimatnya. Teks terkadang pula digambarkan sebagai sejenis kalimat yang super yaitu sebuah unit gramatikal yang lebih panjang daripada sebuah kalimat yang saling berhubungan satu sama lain. Jadi sebuah teks terdiri dari beberapa kalimat sehingga hal itulah yang membedakannya dengan pengertian kalimat tunggal. Selain itu sebuah teks dianggap sebagai unit semantik yaitu unit bahasa yang berhubungan dengan bentuk maknanya. Dengan demikian teks itu dalam realisasinya berhubungan dengan klausa yaitu satuan bahasa yang terdiri atas subyek dan predikat dan apabila diberi intonasi final akan menjadi sebuah kalimat. 

2. Pengertian Wacana

Dalam hubungan dengan penggunaan kohesi, selain teks dalam konsep pengertian dalam bahasa tertulis, kohesi juga akan berhubungan dengan konsep wacana yaitu sebagai kesinambungan cerita dengan bahasa yang mudah dan kesinambungan ini ditunjang oleh jalinan informasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, wacana didefenisikan sebagai: (1) ucapan, perkataan, tutur; (2) keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan; (3) satuan bahasa terlengkap, realisasinya tampak pada bentuk karangan utuh seperti novel, buku, atau artikel, atau pada pidato, khotbah, dan sebagainya.

JS Badudu (dalam kolom Harian Kompas) menyatakan bahwa kata wacana merupakan kata serapan yang digunakan sebagai pemadan kata dari bahasa Inggris discourse. Oleh kalangan akademisi, terutama di perguruan tinggi, wacana sering digunakan dalam pengertian nomor 2 dan nomor 3 di atas. Kalau dalam surat kabar dikatakan “menurut wacana yang beredar”, pemakaian itu masih dapat diterima dengan pengertian seperti pada nomor 1: perkataan, ucapan, atau tuturan. Dalam arti seperti itu kata wacana dapat dipakai.

Dasar sebuah wacana ialah klausa atau kalimat yang menyatakan keutuhan pikiran. Wacana adalah unsur gramatikal tertinggi yang direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh dan dengan amanat yang lengkap dengan koherensi dan kohesi yang tinggi. Wacana utuh harus dipertimbangkan dari segi isi (informasi) yang koheren sedangkan sifat kohesifnya dipertimbangkan dari keruntutan unsur pendukungnya yaitu bentuk.

Wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan, yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lainnya, membentuk satu kesatuan, sehingga terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat-kalimat itu. Wacana adalah satuan bahasa yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang tinggi yang berkesinambungan, yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata, disampaikan secara lisan atau tertulis.

Para pakar bahasa telah memperkenalkan beberapa definisi wacana, seperti berikut:

i. Harimurti (1984:204)

“Wacana atau dalam Bahasa Inggerisnya ialah ‘Discourse’. Wacana merupakan satuan bahasa yang lengkap, yaitu dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi ataupun terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh seperti novel, buku seri ensiklopedia dan sebagainya, paragraf, kalimat atau kalimat yang membawa amanat yang lengkap.”

ii. Anton M.Moeliono (1995:407):

“Wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan sehingga terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat itu.”

Menurut Asmah (1982:3) bahwa wacana tidak mempunyai satu-satu jenis kalimat yang berdiri secara utuh tanpa dipengaruhi oleh proses-proses kelahiran kalimat. Ini bermaksud bahawa kalimat yang selalu didapati dalam struktur dan sistem secara teratur. Asmah telah membedakan kalimat sistem dari ayat wacana. Kalimat sistem adalah kalimat atau tutur yang dikeluarkan dan diasingkan dari konteks wacana, sedangkan kalimat wacana yang juga disebut kalimat teks adalah kalimat yang betul-betul terdapat dalam wacana teks dan wacana lisan.

Menurut Fokker (1951:4) pula, hubungan kesinambungan cerita itu dapat menunjukkan secara nahuan, iaitu perujukan (verwijzing), kata-kata penghubung (verbindingswoorden) dan pengguguran (ellips). Kesatuan makna dalam wacana seperti yang diterangkan di atas akan dilihat dari segi makna logik dan makna tautan. Makna tautan inilah yang merupakan konsep semantik dan merujuk kepada perkaitan kebahasaan yang didapati pada suatu ujaran yang membentuk wacana.

Setelah dilihat beberapa uraian tentang beberapa definisi mengenai wacana yang diambil daripada berbagai-bagai sumber, dapat dilihat bahawa adanya persamaan dan juga perbedaan pendapat mengenai dengan definisi wacana yang diperolehi dari ahli-ahli linguistik.

Di samping itu juga, wacana letaknya lebih tinggi daripada kalimat pada skala tata tingkat tatabahasa dan mempunyai keteraturan fikiran logik (koherensi) dan juga tautan (kohesi) dalam strukturnya. Wacana dicirikan oleh kesinambungan informasi. Makna kesinambungan di sini diartikan sebagai kesatuan makna.

Unsur-unsur penting dalam wacana adalah seperti, satuan bahasa, terlengkap, mengatasi kalimat atau klausa, teratur atau tersusun rapi, berkesinambungan, kohesi, lisan atau tulisan awal dan juga akhir yang nyata.

3. Kohesi (Cohession)

Kohesi merupakan aspek formal bahasa dalam wacana. Dengan itu kohesi adalah ‘organisasi sintaktik’. Organisasi sintaktik ini adalah merupakan wadah ayat-ayat yang disusun secara padu dan juga padat. Dengan susunan demikian organisasi tersebut adalah untuk menghasilkan tuturan. Ini bermaksud bahawa kohesi adalah hubungan di antara ayat di dalam sebuah wacana, baik dari segi tingkat gramatikal maupun dari segi tingkat leksikal tertentu. Dengan penguasaan dan juga pengetahuan kohesi yang baik, seorang penulis akan dapat menghasilkan wacana yang baik.

Dalam kohesi, kaedah- kaedah yang digunakan adalah berdasarkan penyampaian informasi lama dan informasi baru. Kaedah-kaedah itu adalah seperti kaedah perujukan, kaedah penggantian, kaedah pengguguran, kaedah konjungsi dan kohesi leksikal. Wacana juga dicirikan oleh kesinambungan informasi yang diartikan sebagai kesatuan makna. Kesatuan makna dalam wacana ini pula dapat dilihat dari segi makna logik dan makna kohesi.

Kohesi merupakan konsep semantik yang juga merujuk kepada perkaitan kebahasaan yang didapati pada suatu ujaran yang membentuk wacana. Manakala menurut Halliday dan Hasan (1976:5) bahwa kohesi merupakan satu set kemungkinan yang terdapat dalam bahasa untuk menjadikan suatu ‘teks’ itu memiliki kesatuan. Hal ini berarti bahwa hubungan makna baik makna leksikal maupun makna gramatikal, perlu diwujudkan secara terpadu dalam kesatuan yang membentuk teks. Menurut Halliday dan Hasan lagi:

“Cohesion is expressed through the stratal organization of language. Language can be explained as a multiple coding system comprising three levels of coding or ‘strata’. The semantic (meaning), the lexicogrammatical (forms) and the phonological and orthographic (expression). Meanings are realized (coded) as forms, and the forms are realized in turn (recoded) as expressions. To put this in everyday terminology, meaning is put into wording and wording into sound or writing.”

Halliday dan Hasan (1976:7) telah mencoba melihat kohesi makna itu dari dua sudut, iaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Kedua-dua gramatikal ini terdapat dalam sesuatu kesatuan teks. Kohesi ini juga memperlihatkan jalinan ujaran dalam bentuk kalimat untuk membentuk suatu teks atau konteks dengan cara menghubungkan makna yang terkandung di dalam unsur. Kaedah kohesi ini lebih dikenali dalam istilah perujukan, penggantian, pengguguran, konjungsi dan gramatikal leksikal.

3.1. Perujukan

Perujukan ataupun rujukan ini ialah merujuk kepada unsur sebelum atau selepas yang berkaitan dengan hubungan semantik. Perujukan ini dilihat dari dua sudut, iaitu perujukan eksoforik dan perujukan endoforik.

3.1.1 Perujukan eksoforik

Pengertian eksoforik adalah berasal dari kata “ekso” yaitu “keluar” yang berarti apabila kita tidak dapat menemukan rujukan dalam teks maka kita akan keluar dari teks agar dapat memahami teks tersebut. Selain itu perujukan eksoforik ini digunakan untuk merujuk kepada hal-hal yang mempunyai kaitan dengan situasi yang berkembang di depan penutur ataupun pendengar yang menerima pesan ataupun informasi yang telah disampaikan kepadanya.

Halliday dan Hasan (1976:8) mengatakan bahawa perujukan eksoforik ini menerangkan tentang situasi yang merujuk kepada sesuatu yang telah diidentifikasi dalam sesuatu konteks bagi sebuah situasi. Sedangkan, Harimurti Kridalaksana (1982) memberikan pengertian bahawa perujukan eksoforik ini adalah hal ataupun fungsi yang menunjukkan kembali kepada sesuatu yang ada di luar daripada sebuah situasi. Hal ini berarti bahwa perujukan eksoforik ini adalah merujuk kepada hal-hal yang di luar daripada konteks. Dalam situasi ini kaedah perujukan eksoforik inilah yang akan digunakan bagi menunjuk sesuatu yang telah berlaku pada saat ujaran itu disampaikan.

Menurut Azmi Abdullah, perujukan eksoforik ini mengandungi tiga perkara iaitu, konteks segera, pengetahuan bersama dan pengetahuan dalam satu dunia wacana.

3.1.1.1. Konteks “segera”

Dalam konteks segera atau dikenal sebagai Immediate Context, kita dapat langsung memahami maksud kalimat itu melalui pemahaman yang kita miliki berdasarkan dua hal yaitu:

i.          Pengetahuan dikongsi bersama (shared knowledge) seperti dalam contoh ayat berikut:

“Keadaan ekonomi dunia sekarang adalah gawat. Oleh karena itu, kerajaan telah mengambil beberapa langkah yang praktikal untuk menangani masalah tersebut”.

ii.        Pengetahuan dalam suatu dunia wacana sebagaimana contoh ayat:

“Berikutan dari kelakuannya, Baginda Queen telah murka kepada Puteri Diana. Ini adalah suatu isu hangat yang mamakukan golongan diraja”.

Namun demikian ada kalimat atau wacana yang tidak segera memberikan pemahaman kepada pembaca maksud kalimat atau wacana tersebut. Untuk itu kita harus memerlukan rujukan kepada konteks sebelumnya. Seperti berita tentang sesuatu peristiwa yang dikeluarkan dalam suatu akhbar. Untuk memahami dengan baik peristiwa yang dijelaskan pada bulan September kita mestilah merujuk laporan atau berita yang pernah dimuat pada edisi keluaran sebelumnya yaitu bulan Juli maupun bulan Mei seperti rajah berikut ini:

Untuk memahami informasi pada bulan September kita harus merujuk pada informasi bulan Juli dan bulan Mei. Karena dalam teks tidak disebut sehingga kita harus keluar dari teks untuk memahami makna dalam teks tersebut.

3.1.2 Perujukan endoforik

Perujukan endoforik ini pula merujuk apa yang hanya ada di dalam sesebuah teks. Seperti apa yang telah diterangkan oleh Halliday dan Hasan (1976:9) yang mengatakan bahwa perujukan endoforik ini merujuk hanya kepada teks yaitu merujuk semata-mata hanya kepada teks. Harimurti Kridalaksana (1982) memberikan pendapat bahwa perujukan endoforik ini adalah hal atau fungsi yang menunjukkan kembali pada hal-hal yang ada dalam wacana, mencakupi perujukan anaforik dan perujukan kataforik.

3.1.2.1 Perujukan anaforik

Perbedaan antara perujukan anaforik dan kataforik lebih disebabkan perbedaan letak perujuk dan penganjur. Letak “perujuk” dalam perujukan anaforik adalah dibelakang “penganjur” sebagaimana contoh kutipan kalimat pada novel “Puncak Pertama” karya Muslim Burmat (1988:159) berikut ini:

Ahmad tidak banyak tahu tentang erti bahasa kebangsaan dan sejauh mana sudah perjuangan hendak mendaulatkan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi negara ini. Tetapi yang ia dapat berfikir mengapa bahasa yang sekian lama terpakai itu mau diperjuangkan lagi untuk memakainya.

Kata “ia” pada kalimat kedua merujuk kepada “Ahmad” pada kalimat pertama. Kata “ia” disebut sebagai perujuk sedangkan Ahmad disebut sebagai penganjur. Untuk mengetahui lebih jauh tentang Ahmad maka kita harus keluar dari teks.

3.1.2.2 Perujukan kataforik

Contoh kutipan kalimat pada novel “Puncak Pertama” karya Muslim Burmat (1988:196-197) berikut ini:

Kedua-dua mereka masih terkejut, bagaimana orang tua demikian boleh bekerja dengan askar. Mana tenaganya, mana latihannya. Ahmad tidak pernah berdampingan dengan askar. Malah mereka baru dengan kehidupan askar, apalagi dengan askar bangsa asing. Sepanjang ingatan Rokayah bapanya sering melarang keluarganya supaya tidak melibatkan diri dengan kehidupan askar, tetapi tidak pula pernah diterangkan mengapa ia melarang demikian.

Kata “kedua-dua mereka” pada kalimat pertama merujuk kepada “Ahmad” dan Rokayah pada kalimat berikutnya. Kata “kedua-dua mereka” disebut sebagai perujuk sedangkan Ahmad dan Rokayah disebut penganjur. Kalau diamati kalimat di atas terlihat bahawa kata yang berfungsi sebagai “penganjur” ada di belakang, sedangkan kata yang berfungsi sebagai “perujuk” ada di depan.

3.2. Penggantian

Penggantian ini dikenali sebagai substitution. Penggantian adalah pengambilan alihan atau pertukaran bagi sesuatu segmen kata, frasa atau klausa oleh kata ganti yang lainnya. Penggantian ini juga ada penggantian nomina, penggantian verba dan penggantian klausa.

3.2.1 Penggantian Nomina

Contoh kutipan kalimat pada surat kabar Media Permata edisi 8 April 2005 halaman berikut ini:

Kini “kereta” itu dijumpai semula oleh Polis. Bagaimanapun kereta itu sudah bertukar wajah menjadi “besi buruk”.

3.2.2 Penggantian Verba

Contoh percakapan (Ann M.Martin. 1995:54) sebagaimana berikut ini:

A: Liz says you drink too much.

B: So do you!

3.2.3 Penggantian Klausa

Contoh percakapan (Ann M.Martin. 1995:97) sebagaimana berikut ini:

A: “Oh, here’s what I owe you”

B: “Me, too”.

3.3 Pengguguran

Ada yang mengatakan bahawa pengguguran ini juga sebagai penghilangan dan juga ia lebih dikenali sebagai elipsis. Pengguguran ini mengandungi pengguguran nomina, pengguguran verbal dan pengguguran klausa.

3.3.1 Pengguguran Nomina

Contoh dalam Leman Ahmad (1984: 24) berikut ini:

A: ” Kita ini perlu anak. Tau anak! Adanya anak akan lebih bererti hidup …”

B: “Kenapa diungkit-ungkit juga soal ^ itu?”

3.3.2 Pengguguran Verba

Contoh dalam Tarigan, H.G. (1995:166) berikut ini:

A: “Pernahkah kamu menaiki beca dan basikal?”

B: “ya, pernah ^ ”

3.3.3 Pengguguran Klausa

Contoh dalam Tarigan, H.G.(1995:147) berikut ini:

Guru: “Apakah kamu mahu mendapat biasiswa dari kerajaan?”

Pelajar: “Ya tentu”

3.4 Konjungsi

Konjungsi ini juga dikenali sebagai “conjunction”. Ada konjungsi yang mempunyai kebalikan, tambahan, temporal dan sebab. Contoh penggunaan konjungsi dalam kalimat berikut ini:

Dengan ini kami beritahukan bahwa dalam rangka melaksanakan kegiatan Bulan Bahasa tahun 1996 kami mengadakan penyuluhan kebahasaan (1). Pesertanya adalah para Kepala Tata Usaha (2). Oleh karena itu, kami memberi kesempatan Saudara untuk mengirimkan nama calon peserta selambat-lambatnya pada tangal 30 September 1996 (3).

Penggunaan konjungsi pada teks di atas dapat ditemukan dalam penggunaan bentuk oleh karena itu dalam kalimat (3). Konjungsi ini menghubungkan kalimat (3) dengan kalimat (2). Dalam hal ini, bentuk konjungsi itu adalah konjungsi antar kalimat.

3.4.1 Kebalikan (Adversative)

Contoh kalimat dalam Harun Aminurrashid (2001:25) berikut ini:

Kekuatan Awang Semaun yang luar biasa ini dikatakan kerana ia telah makan sejenis ikan yang bernama ‘sumpit-sumpit’ yang sangat ganjil dan kononnya ikan ini memang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Cerita ini mungkin hanya sebagai suatu dongeng yang diceritakan oleh orang tua-tua kita. Walau bagaimanapun kekuatan Awang Semaun itu memang dari keadaan bentuk badannya yang tegap sasa.

3.4.2 Tambahan (Additive)

Contoh kalimat dalam Leman Ahmad (1984: 31-32) berikut ini:

Aku melangkah ke depan. Sebentar menoleh ke kanan dengan ucapan assalatu lailahaillallah. Dan ke kiri juga.

3.4.3 Temporal

Contoh kalimat dalam Harun Aminurrashid (2001: 28) berikut ini:

Rantai itu terlalu panjang. Pada mulanya rantai itu hendak dibuangnya tetapi ada sesuatu yang menarik hatinya pada rantai itu. Lalu rantai itu dibasuhnya bersih-bersih.

3.4.4 Sebab

Contoh kalimat dalam Harun Aminurrashid (2001: 2 & 7) berikut ini:

Mansor kerap kali datang ke sekolah dengan tidak membawa wang belanja, sebab ayahnya telah meninggal dunia.

Lima orang itu sangat masyhur ceritanya hingga hari ini kerana mereka terkenal sebagai pahlawan Melayu pada zaman Kerajaan Melayu Melaka dahulu.

3.5 Kohesi Leksikal

Kohesi Leksikal diperoleh dengan cara memilih kosa kata yang serasi. Ada dua cara bagi mencapai aspek leksikal kohesi ini, iaitu reiterasi dan kolokasi.

3.5.1 Reiterasi (Pernyataan Semula)

Reiterasi atau pernyataan semula berlaku melalui tiga cara, iaitu pengulangan kata, sinonimi, superordinat dan kata-kata umum.

3.5.1.1 Pengulangan Kata

Pengulangan kata ini dikenali juga sebagai repetition. Kata yang sering kali diulang ini adalah dari ‘kata isi’ (content word). Ini bermakna kata itu adalah kata yang amat penting bagi sesuatu ayat yang dibentuk dan dibina bagi teks ataupun wacana. Kata isi ini boleh dikenal pasti melalui dua cara. Cara yang pertama ialah kata itu atau ‘kata isi’ tersebut akan dijadikan sebagai unsur yang tidak boleh ditinggalkan ataupun tidak digunakan jika diperkatakan di dalam intipati teks. Manakala cara yang kedua ialah jika kata tersebut tidak diulang maka berkemungkinan teks itu akan terganggu sifat kesatuannya.

Contoh penggunaan pengulangan kata seperti pada contoh kalimat surat di bawah ini:

Kami beritahukan kepada Saudara bahwa akhir-akhir ini para tamu perpustakaan Balai Penelitian Bahasa di Yogyakarta banyak yang memesan fotokopi buku-buku kebahasaan dan kesusastraan yang ada (1). Untuk melayani mereka, kami harus memfotokopikan buku-buku di luar lingkungan Balai Penelitian Bahasa (2). Mereka belum dapat kami layani dengan sebaik-baiknya (3).

Pada contoh teks di atas terlihat bahwa hubungan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain sudah terjalin dengan erat. Alat-alat yang digunakan untuk menjalin keeratan hubungan itu ialah penngunaan bentuk kami dalam kalimat (2) dan (3) yaitu penggulangan bentuk kami dalam kalimat (1). Begitu pula bentuk buku-buku dalam kalimat (2) merupakan repetisi bentuk buku-buku dalam kalimat (1).

Dalam bahasa Melayu, kata yang akan diulang itu boleh berubah bentuk dari segi ataupun sudut morfologi. Ini dapat dikategorikan di dalam pengulangan kata ini, jika kelas kata yang diulang itu tidak berubah.

Contoh: … amaran daripada penculik-penculiknya bahawa pasukan Amerika akan cuba membunuhnya datang menghantuinya… (2) ” Saya serta-merta teringatkan apa yang diberitahu oleh penculik-penculik itu…” (3) … ” Saya tidak banyak bercakap dengan penculik-penculik …” (Media Permata. 7 Mac 2005: 1)

3.5.1.2 Sinonim

Sinonim ialah suatu kata yang mempunyai makna yang sama dengan ‘kata searti’. Sinonim ini digunakan kerana ianya untuk mengelakkan kebosanan bagi pengulangan kata yang sama di dalam teks dan juga sinonim ini memberikan variasi kepada sesuatu teks. Sesetengah kata dikatakan sinonim adalah disebabkan kedua-duanya merujuk kepada perkara yang sama.

Contoh : (1) Gambar lukisan memastikan Iwo Jima terus menghidupkan kenangan Amerika, tetapi bagi kebanyakan warga Jepun pertempuran pulau berdarah adalah langkah… (2) … “Peperangan adalah sesuatu yang tidak boleh difahami melainkan ia dialami,” Endo, yang pernah… (3) … “Perjuangan itu menjadi pengajaran kepada belia hari ini.”…

(Media Permata. 7 Mac 2005: 9)

3.5.1.3 Superordinat

Superordinat ialah penggunaan kata yang lebih khusus atau ‘hiponim’ kepada kata yang lebih umum atau dikenali sebagai ‘hiperonim’. Contoh dalam Tarigan, H.G. (1995: 146) berikut ini:

Semua yang ada di desa seperti kambing, biri-biri, kerbau, lembu dan ayam, harus dibuatkan kandangnya secara teratur. Ketua Kampung mengarahkan penduduk desa membuat kandang ternakan masing-masing.

Superordinat bagi contoh di atas ialah kata umum yang merujuk ‘kambing, kerbau, biri-biri, ayam’, iaitu ‘ternakan’. Kata ‘kambing, kerbau, ayam’ adalah kata khusus yang juga dikenali hiponim.

3.5.1.4 Kata-kata Umum

Kata-kata umum ialah kata-kata yang tidak tentu kelasnya sebagaimana contoh dalam Harun Aminurrashid (2001:25) sebagai berikut:

Bagi Awang Semaun, jika ia beroleh sesuatu hasil perburuan atau berkarang, sebelum perolehan itu dibawanya balik ke rumahnya…

3.5.2 Kolokasi

Bagi mengenal kolokasi adalah melihat dari dua sudut, iaitu dari sudut sintaksis dan dari sudut semantik.

3.5.2.1 Dari Sudut Sintaksis

Contoh (1) dalam Harun Aminurrashid (2001:19) sebagai berikut:

Ketika itu nama Brunei dikenali sebagai Puni, kerana ibu kotanya bernama Puni. Pada zaman Sultan Muhyiddin iaitu Sultan Brunei yang ke-XIV baharulah Kerajaan Brunei itu dipindahkan ke tempat yang ada sekarang.

Contoh (2) dalam Tarigan, H.G.(1995: 138) sebagai berikut:

Di perkarangan itu, ditanam keperluan dapur sehari-hari; umpamanya: bayam, tomato, cili, ubi kayu, kacang panjang, lobak, kubis dan lain-lain. Di perkarangan itu, ditanam bahan ubat-ubatan tradisional; misalnya: misai kucing, lengkuas, halia, kunyit dan sebagainya… dijual ke pasar: sebagai contoh: bayam, cili, halia, kunyit dan sirih.

3.5.2.2 Dari Sudut Semantik

Contoh dalam Tarigan, H.G. (1995: 136) sebagai berikut:

Kerajaan berusaha bersungguh-sungguh meningkatkan perhubungan di tanah air kita, iaitu perhubungan darat, laut dan udara. Dalam bidang perhubungan darat telah digalakkan pemanfaatan kereta api dan kenderaan bermotor. Kenderaan ini meliputi kereta, motosikal dan lain-lain.

4. Kesimpulan

Setelah dilihat mengenai dengan kaedah-kaedah tautan atau kohesi yang telah dihuraikan secara ringkas sebelum ini, seperti perujukan, penggantian, pengguguran, konjungsi dan kohesi leksikal. Setiap kaedah-kaedah yang terkandung dalam tautan telah disertakan dengan contoh-contohnya sekali. Ini adalah bagi memudahkan dan juga memperlihatkan hubungan tautan atau kohesi itu dengan kaedah-kaedah yang telah disebutkan sebelum ini.

Unsur tautan ataupun tetenunan ini membentuk satu sifat kesatuan, iaitu di antara satu dengan yang lainnya perlu berperanan bersama. Oleh itu, untuk menganalisa satu-satu teks ataupun konteks kedua-duanya diperlukan perhatian yang penuh.

Rujukan

Ann M. Martin. 1995. The Baby Sitters Club. New York: Scholastic Inc.

Dk Zunainah Pg Aliuddin. 2002. Tautan Dalam Cerpen: Pelabuhan Senja. Latihan Ilmiah. Universiti Brunei Darussalam.

Halliday dan Hasan. 1976. Cohession in English. New York. Longman Group Limited

Harimurti Kridalaksana. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta: P.T. Gramedia.

Harun Aminurrashid. 2001. Sinar Baru. Bandar Seri Begawan: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.1994. Jakarta

Leman Ahmad. 1984. Air Biru Ombak Biru. Bandar Seri Begawan: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Media Permata. 2005. 7 Mac.

November 4, 2008 - Posted by | Bahasa

1 Komentar »

  1. thanks for your information…..
    very helpful and useful…….
    ^_^

    Komentar oleh Bintang Deporte | November 4, 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: