NOL SATU Weblog

Satu kata dalam perbuatan

Eksistensi Sastra di SMA

Pembelajaran Sastra di SMA

Dalam kurikulum tahun 2006 yang dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (KTSP) materi sastra diajarkan di kelas X sampai dengan XII. Untuk kelas X, XI IPA/IPS, XII IPA/IPS diebrikan dalam pelajaran bhasa Indonesia dengan jumlah empat jam perminggu. Untuk kelas XI dan XII program Bahasa materi sastra diberikan di dalam mata pelajaran sastra Indonesia dengawn jumlah empat jam perminggu (Departemen PEndidikan Nasional, 2006).

Untuk kelas X, XI IPA/IPS, XII IPA/IPS pelajaran bahasa Indonesia terdiri atas delapan standar kompetensi tiap semester. Standar kompetensi tentang sastra berjumlah empat standar yang dikelompokkan berdasarkan empat keterampilan yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Dari empat standar kompetensi tersebut dijabarkan menjadi delapan kompetensi dasar, dengan demikian selama menempuh tudi di SMA bila masuk program IPA/IPS, seorang siswa akan mempelajari 48 (empat puluh delapan) kompetensi dasar tentang sastra. Sebuah jumlah yang cukup untuk mendalami dan mengapresiasi sastra.

Untuk krlas XI dan XII program Bahasa, selain memperoleh pelajaran bahasa Indonesia juga memperoleh pelajaran sastra Indonesia. Pelajran Bahasa Indonesia diberikan selama liam jam perminggu. Materi-materi yang dipelajari adalah materi tentang kebahasaan. Sedang mata pelajaran sastra Indonesia, diberikan secara khusus selama empat jam [erminggu. Setiap semester ada lima standar kompetensi yang dipelajari. Lima standar tersebut adalah mendengarkan, berbicara, membaca, menulis dan kesastraan. Dari kelima standar kompetensi tersebut dijabarkan menjadi 10 sampai dengan 14 kokmpetensi dasar. Jadi, selama dua tahun, kelas XI dan kelas XII siswa SMA program bahasa memperoleh materi sebanyak 72 kompetensi dasar. Dengan demikian pembelajaran sastra di SMA  khususnya program bahasa telah memperoleh porsi yang cukup banyak. Dalam pembahasan selanjutnya yang dimaksud pembelajaran sastra di SMA adalah pebelajaran sastra di SMA khususnya program bahasa.

Dalam peraturan Mendiknas No.22 tahun 2006 tentang Standar Isi (Departemen Pendidikan Nasional, 2006) disebutkan bahwa mata pelajaran sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran sastra yang menyatakan bahwa belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya. Oleh karena itu pembelajaran sastra Indonesia diarahkan kepada usaha untuk menimbulkan pemahaman dan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia.

Sastra memungkinkan manusia mampu menjadikan dirinya sebagai manusia yang utuh, mandiri, berperilaku halus, beroleransi dengan sesamanya, dan menghargai orang lain sesuai dengan harkat dan martabatnya. Oleh karena itu, pembelajaran sastra Indoesia diarahkan kepada pembentukan peserta didik yang berpribadi luhur, memiliki pengetahuan kesastraaan, dan bersikap positif dan apresiatif terhadap sastra Indonesia.

Mata Pelajaran Sastra Indonesia di SMA bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:

  1. Memahami dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta menignkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
  2. Mengekspresikan dirinya dalam medium sastra.
  3. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khasanah budaya dan intelektual manusia Indonesia (Departemen Pendidikan Nasional, 2006:735).

Untuk mewujudkan tujuan pembelajaran sastra tersebut, perlu upaya-upaya yang serius dalam proses kegeiatan belajar mengajar materi sastra. Pada prinsipnya pembelajaran sastra mengajak siswa menikmati dan mengambil makna yang ada dalam karya sastra (Waluyo 1990:58). Pembelajaran sastra bukanlah pembelajaran tentang sastra, melainkan proses belajar-mengajar sastra yang memberi siswa kemampuan dan keterampilan mengapresiasi sastra melalui proses interaksi dan transaksi antara siswa dengan cipta sastra yang dipelajarinya (Gani 1988:125). Jadi, pembelajaran sastra bukan mengajarkan judul-judul karya sastra, nama-nama pengarang, pelaku-pelaku dalam karya sastra. Namun, pembelajaran sastra lebih ditekankan pada pengenalan dan penghayatan sastra itu secara langsung.

Pembelajaran sastra sangat bermanfaat bagi siswa. Sebab seperti dikatakan oleh Rahmanto bahwa pembelajaran sastra dapat membantu pendidikan secara utuh, dapat juga memberikan sumbangan yang besar untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang cukup sulit untuk dipecahkan dalam masyarakat (1988:15). Pada kenyataannya pembelajaran sastra berperan penting dalam masyarakat sehingga harus diupayakan untuk mencari pendekatan pembelajaran sastra yang tepat.

Rosenblatt (dalam Gani, 1988:1-2) menyarankan beberapa prinsip yang memungkinkan pembelajaran sastra mengemban fungsinya dengan baik, yaitu (1) siswa harus diberi kebebasan untuk menampilkan respon dan reaksinya, (2) siswa harus diberi kesempatan untuk mempribadikan dan mengkristalisasikan rasa pribadina terhadap cipta sastra yang dibaca dan dipelajarinya, (3) guru harus berusaha untuk menemukan butir-butir kontak diantara pendapat para siswa, dan (4) peranan dan pengaruh guru harus merupakan daya dorong terhadap penjelajahan pengaruh vital yang inheren di dalam sastra itu sendiri.

Prinsip-prinsip yang diajukan oleh Rosenblatt tersebut telah dioperasionalkan oleh Wardani. Dia mengatakan, untuk mencapai tujuan pembelajaran sastra yang tidaklah mungkin dilakukan dengan cara mengajar yang hanya bertujuan memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa, tetapi memerlukan bimbingan yang kongkret, yang lebih banyak melibatkan peranan siswa di dalamnya (1981:2). Dalam kaitannya dengan pembelajaran sastra yang dapat merangsang daya kreatif dan daya kritis siswa ini, Herman J. Waluyo berpendapat:

Pengalaman yang ada dalam karya sastra harus dikejar, dicari, dan ditemukan sendiri oleh siswa dan bukannya ditekankan oleh guru. Dalam membaca karya sastra, siswa bergumul dengan sastra secasra langsung. Jika siswa diberi kesempatan untuk memahami secara mendalam karya sastra itu dalam proses pengajaran, maka seterusnya mereka tidak akan mencobanya dan tidak akan turut mengalami pengalaman yang ditancapkan pengarang pada totalitas karya itu. Guru yang hanya mendorong atau membantu siswa untuk menemukan makna karya sastra itu bagi diri mereka sendiri. Namun, guru pun harus siap memberikan saran dan bimbingan jika diperlukan. Tidak seleamanya siswa mampu menemukan sendiri makna karya itu dan dalam suasana demikian guru tidak dibenarkan meninggalkan siswa daslam keputusasaan (1990:90)

Dalam proses penyusunan program pembelajaran, guru hendaknya dengan saksama dapat memilih pendekatan yang tepat. Penampilan sebuah pendekatan bukanhanya sekedar memnuhi tuntutan kurikulum, tetapi untuk memudahkan guru dan siswa mencapai sasaran kurikulum tersebut. Guru seyogyanya memahami dengan baik standar kompetensi dan kompetensi dasar yang teleah ditentukan dengan memperhatikan kondisi siswa dan situasi pembelajaran yang ada. Pendekatan pengajaran sastra banyak dikemukakan oleh para ahli. Gani menyebutkan empat pendekatan, yaitu Pendekatan Cara Belajar SIswa Aktif, Pendekatan Proses, Pendekatan Humanistis, serta Pendekatan Respons dan Analisis (1988:39).

Sementara itu Wirdiyanto (2003) menawarkan pendekatan Student Active Learning (SAL) sebagai salah satu pendekatan yang dapat dipraktikan dalam pembelajaran sasrta di SMA. Aktivitas siswa dalam pendekatan SAL didasarkan pada pengalaman belajar yang diperoleh melalui berbagai bentuk keterlibatan siswa dalam kerja kelompok besar, kerja kelompok kecil, kerja pasangan, dan kerja individual. Dalam kaitannya dengan mata pelajaran sastra Indonesia, keterlibatan dengan sastra dapat berupa aktivitas dalam mendengarkan, berbicara, menulis, membaca, debat, role laying, wawancara, percobaan, dan penelusuran (Widharyanti 2003:8).

Dalam pendekatan SAL terdapat lima metode yang dikembangkan. Kelima metode tersebut adalah (1) metode kooperarif, (2) metode SAVI, (3) metode permainan games, dan (4) metode pembelajaran berbasis perpustakaan. Metode perpustakaan dimaknai sebagai serangkaian aktivitas pembelajaran yang diorganisasikan sedemikian rupa sehingga pembelajaran difokuskan pada pertukaran informasi terstruktur antarsiswa dalam grup yang bersifat sosial dan tiap-tiap siswa bertanggung jawab penuh atas pengajaran yang mereka jalani (Kagan dalam Widharyanto 2003:20). Ada lima prinsip yang perlu diperhatikan dalam penerapan metode kooperatif yaitu (1) saling kebergantungan positif, (2) tanggung jawab perseorangan, (3) tatap muka, (4) komunikasi antaranggota, dan (5) keberagaman pengelompokan.

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas yang menerapkan metode kooperatif. Ketiga hal tersebut adalah (1) pengelompokan heterogen, (2) penumbuhan semangat dan motivasi kerja sama, dan (3) penataan ruang kelas (Widharyanto 2003:20). Teknik yang digunakan untuk mengembangkan metode kooperatif ini adalah teknik mencari pasangan, bertukar pasangan, jigsaw dan paired storytelling. Teknik mencari pasangan digunakan untuk memahami suatu konsep kebahasaan tertentu atau informasi tertentu yang harus diungkapkan oleh siswa, dengan prosedur sebagai berikut.

  1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang telah diisi dengan topik atau informasi tertentu.
  2. Guru membagikan kartu-kartu tersebut kepada siswa secara acak.
  3. Siswa mulai mencari pasangan yang memiliki kartu yang sesuai.
  4. Siswa dapat bergabung dengan siswa lain yang memiliki kartu yang sesuai.
  5. Setela semua ingformasi terkumpul mereka harus merangkaikan dan mengembangkan informasi-informasi tersebut secara lisan atau tertulis.

Teknik bertukar pasangan digunakan untuk meningkatkan keterampilan berbicara, menulis, dan dapat diterapkan di setiap kelas dan dengan variasi tingkat kesulitan. Teknik ini diterapkan dengan prosedur sebagai berikut.

  1. Siswa dibagi dalam kelompok dua-dua (berpasangan)
  2. Siswa mengerjakan tugas yang diberikan guru dengan pasangannya.
  3. Setelah selesai mengerjakan tugas, setiap pasangan akan bergabung dengan pasangan lain untuk bertukar informasi.
  4. Kedua pasangan akan bertukar pasangan, mereka saling menanyakan dan saling mengukuhkan jawaban.
  5. Informasi yang didapat dari pasangan baru disampaikan pada pasangan semula.

Teknik Jigsaw diterapkan untuk meningkatkan keterampilan membaca, menulis, menyimak, berbicara dengan menggabungkan berbagai informasi lintas ilmu. Teknik ini diterapkan dengan prosedur sebagai berikut.

  1. Siswa dibagi dalam kelompok masing-masing empat orang.
  2. Guru membagi bahan pembelajaran ke dalam empat bagian.
  3. Setiap siswa menerima satu bagian bahan tertentu.
  4. Siswa mengerjakan bagian mereka masing-masing dengan menuliskan isi teks tersebut.
  5. Setelah selesai masing-masing siswa berbagi hasil kerja mereka.
  6. Setelah berbagi hasil kerja, mereka harus berdiskusi untuk menyatukan berbagai informasi itu untuk membantu teks yang utuh.
  7. Hasil akhir kelompok itu disajikan kepada kelompok lain.

Teknik paired storytelling menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara. Bahan pengajaran yagn sesuai adalah bahan yang bersifat narasi dan deskripsi. Teknik ini diterapkan dengan prosedurnya sebagai berikut.

  1. Siswa bekerja secara berpasangan dan masing-masing anggota mendapat teks bacaan yang berbeda.
  2. Setiap siswa mengerjakan tugas mereka sambil mencatat dan membuat daftar kata-kata kunci dari teks yang dibaca.
  3. Setelah selesai mengerjakan bagian masing-masing, siswa saling menukar kata/frasa kunci yang telah mereka catat dari teks yang dibaca.
  4. Sambil mengingat cerita/isi teks, siswa diminta mengarang bagian lain (yang dibaca pasangannya) berdasarkan kata-kata/frasa kunci yang diberikan kepadanya.
  5. Setelah selesai mereka diminta menyajikan hasil karangan itu dan didiskusikan dengan pasangannya untuk mendapatkan berbagai masukan.
  6. Guru tidak harus mengecek kebenaran isi karangan yang dibuat siswa karena tujuannya adalah agar siswa semakin berprtisipasi dalam pembelajaran.

Metode pembelajaran yang kedua dari pendekatan SAL adalah metode SAVI (Somtis, Auditori, Visual, Intelektual). Metode ini ada empat unsur yaitu Somatis Auditori, Visual, dan Intelektual. Unsur somatis maksudnya belajar bahasa dengan memanfaatkan indera peraba dan kinestik yang melibatkan pisik untuk melakukan sesuatu. Unsur kedua, belajar secara auditori lebih menekankan pada aktivitas mendengarkan suara-suara dialog langsung di kelas atau dari alat-alat audio. Unsur ketiga, visual menuntut ketersediaan berbagai bentuk media yang dapat diamati secara langsung oleh siswa untuk kemudian membicarakannya dalam bentuk lisan dan tulis. Unsur keempat, intelektual dimaknai sebagai apa yang dilakukan dalam pikiran siswa secara internal ketika mereka melakukan proses pengajaran. Hal ini tampak dari kemampuan siswa dalam menghubungkan pengalaman mental, fisik, emosional, dan intuitif untuk membuat makna baru (Widharyanto 2003:14-15).

Teknik pembelajaran dengan metode SAVI dapat dilakukan prosedur sebagai berikut.

  1. Siswa diminta memperagakan suatu proses, sistem, atau peran tertentu sehingga secara fisik mereka dapat bergerak dan keterampilan berbahasanya dapat dilakukan dalam serangkaian kegiatan.
  2. Siswa diberi tugas melakukan wawancara kemudian mereka membicarakannya di kelas yang diikuti dengan kegiatan mengambil makna dari aktivitas dan hasil yang telah dilakukan.
  3. Siswa diberi sebuah teks bacaan kemudian diminta untuk mencatat hal-hal penting dalam teks tersebut kemudian menguraikannya dengan kata-kata sendiri dalam sebuah rekaman kaset. Siswa diminta memutar kaset itu beberapa kali sehingga mereka semakin jelas dengan apa yang mereka kerjakan.
  4. Siswa diajak ke kantor guru, kantor tata usaha, atau perpustakaan untuk membaca tabel-tabel atau grafik yang ada, lalu perintahlah mereka menuliskan hasil pembacaan mereka dan melaporkannnya di kelas.
  5. Siswa diberi serangkaian cerita yang mengandung permasalahan kemudian mereka memecahkan masalah tersebut.

Oktober 8, 2011 - Posted by | Sastra

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: