NOL SATU Weblog

Satu kata dalam perbuatan

KONSEP DASAR KETRAMPILAN MEMBACA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA MUTAKHIR

I. Pendahuluan

Membaca adalah suatu  kegiatan yang sangat penting dilakukan oleh setiap orang yang ingin mengetahui tentang sesuatu. Dengan membaca, seseorang akan dapat mengetahui bermacam – macam informasi penting yang diperlukan dalam berbagai aspek kehidupan. Informasi yang  penting   menyangkut kebutuhan hidup seseorang atau kelompok orang, seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, pencapaian cita-cita, dan estetika. Dalam kebutuhan–kebutuhan hidup tersebut, diperlukan baik secara langsung maupun tidak langsung yang berkaitan erat  dengan kemampuan dan hasil membaca.

Para pakar dari berbagai bidang ilmu pengatahuan misalnya, mustahil akan menguasai dalam bidangnya tanpa membaca. Para teknokrat tidak mungkin menguasai keahhliannya tanpa membaca. Para wartawan, karyawan, bahkan ibu rumah tangga pun tidak mungkin dapat berperan secara baiak dan maksimal dalam melakukan tugasnya tanpa membaca. Karena itu, membaca adalah bagian yang   penting dan vital di dalam kehidupan manusia. Sungguh tepat   seorang nabi dan rasul terakhir yang  bernama Muhammad, menerima wahyu yang pertama adala perintah untuk membaca ( Q.S:96:1)

Pemerintah telah berupaya meningkatkan mutu dan kompetensi membaca siswa sejak usia sekolah dasar. Karena itu, komponen dasar utama yang harus dikuasai siswa SD selama bersekolah di SD adalah kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, yang dikenal dengan istilah 3R ( reading, writing, and arithmetic). Artinya, pemerintah sadar bahwa tanpa penguasaan ketiga kemampuan dasar tersebut, tidak mungkin bangsa kita menjadi maju, untuk mengejar ketinggalan atau menyamakan kedudukan dengan negara lain yang sanngat pesat kemajuan teknologinya dewasa ini. Melihat kenyataan  kehidupan sekarang banyak anak – anak sekolah masih malas untuk membaca. Hal itu dapat kita lihat sekolah – sekolah, terutama sekola di desa – desa. Dengan demikian pemerintah harus menyediakan anggaran yang sangat besar untuk menyelenggarakan kegiatan sarana prasarana bagi sekolah, terutama buku – buku bacaan.

Walaupun demikian, secara realita kemampuan dasar yang dicanangkan pemerintah belum begitu teralisasi secara membanggakan. Karena kemampuan bangsa Indonesia dari ketiga bidang tersebut masih rendah, bahkan masihh sekian perseratus yang belum melek baca, tulis, dan hitung. Adapun penyebabnya sangat kompleks, misalnya kurangnya kemampuan guru, gaji guru belum   memadai untuk memenuhi kebutuan hidup sehari-hari yang layak, imprasktruktur dan fasilitas pendidikan masih kurang, minat belajar siswa belum optimal, orang tua siswa kurang mengerti pentinnya pendidikan, dan ekonomi orang tua siswa tidak sanggup untuk membiayai sekola anak – anak mereka.

Di samping faktor – faktor tersebut, masih banyak faktor lain yang membuat para siswa kurang menguasai kemampuan dasar, terutama membaca, yakni budaya dan lingkungan siswa yang kurang kondusif. Tentang pengaruh buadaya yang tidak suka membaca secara turun temurun, suka menerima informasi melalui mulut ke mulut atau dengar cerita dari orang ke orang. Fenomina menerima informasi hanya mulut ke mulut ini sangnat mengganggu dalam melatih kemahiran membacasiswa / anak. Karena, sejak dijajah selama lebih dari tiga setengah abad di negeri ini, para penjajah sengaja membuat anak bangsa ini jauh dari ilmu pengetahuan dan kemajuan.

Di dalam  era reformasi dan kemajuan teknologi saat ini, sudah saatnya bangsa kita berlomba – lomba meraih kemajuan di segal bidang sebagaimana bangsa – bangsa lainya. Kemajuan itu, tidak  terlepas dari peran para guru yang ada di sekolah – sekolah. Guna untuk peningkatan kemampuan siswa sesuai dengan bidang yang dipercayakan kepada masing – masing guru.

Khusus bagi guru – guru bahasa dan sastra Indonesia  ini harus siap untuk meningkatkan berbagai pengetahuan dan ketrampilan berbahasa Indonesia terutama bagi guru semuanya. Dalam ketrampilan bahasa Indonesia di tuntut siswa bisa membaca dan menulis, maka guru harus siap dengan program pembelajaran membaca sesuai dengan filosofi, pendekatan, teknik yang telah disepakati, pengetahuan tentang membaca, terampil melatih siswa dalam membaca, dan mampu membangkitkan minat serta motivasi siswa untuk suka dan mampu membaca sesuai dengan  tuntutan zaman.

Siswa saat ini perlu dituntut untuk bisa mengembangkan sistem membaca secara tepat dan guna. Perkembangan  ilmu dan arus informasi yang semakin deras akhhir – akhir ini mengharuskan pencari informasi menemukan cara paling jitu atau tepat, agar dengan mudah memahami setiap informasi yang tersaji dalam media tulis.

II. Hakekat Membaca

2.1 Pengertian Membaca

Ada beberapa ahli mencoba mendefinisikan” Membaca”, di anataranya :

  1. Kolker ( 1983: 3 ) membaca merupakan suatu proses komunikasi antara pembaca dan penulis dengan menggunakan bahasa tulis. Dalam pengetian tersebut, terkait tiga hal tersebut, yaitu afektif, kognitif, dan bahasa. Perilaku afektif mengacu pada perasaan, perilaku kognitif mengacu pada pikiran, dan perilaku bahasa mengacu bahasa anak.
  2. Goglass ( dalam Cox, 1993: 6 ) memberikan definisi membaca sebagai suatu proses penciptaan makna terhadap segala sesuatu yang ada dalam lingkungan tempat pembaca mengembangkan suatu kesadaran.
  3. Rosenblatt ( dalam Tompkins, 1991: 267) berpendapat bahwa membaca merupaka suatu proses transaksional. Proses membaca berdasarkan pendapat ini meliputi langka-langkah selama pembaca mengkonstruk makna melalui interaksinya dengan teks bacaan. Makna tersebut dihasilkan melalui proses transaksional. Dengan demikian, makna teks bacaan itu tidak semata-mata terdapat dalam teks bacaan atau pembaca saja.
  4. Frendrick Me Donald ( dalam Bums, 1996:8) mengatakan bahwa membaca merupakan rangkaian respon yang kompleks, di antaranya mencakup respon kognitif sikap dan manipilatif. Membaca tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sub ketrampilan, yang meliputi: sensori,persepsi, sekuensi, pengalaman, berpikir, belajar, asosiasi, afektif, dan konstruktif. Menurutnya aktivitas membaca dapat terjadi jika beberapa sub ketrampilan tersebut dilakukan secara bersama-sama dalam suatu keseluruan yang terpadu.
  5. Syafi’i (1999:7) juga menyatakan bahwa membaca adalah suatu proses yang bersifat fisik atau yang disebut proses psikologis berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi.
  6. Farris (1993:304) mendefinisikan membaca sebagai pemprosesan kata-kata konsep, informasi, dan gagasan – gagasan yang dikemukakan oleh pengarang yang berhubungnan dengan pengetahuan dan pengalaman awal pembaca. Dengan demikian, pemahaman diperoleh bila pembaca mempunyai pengetahuan atau pengalaman yangn tela dimiliki sebelumnya dengan apa yang terdapat di dalam bacaan (konteks bacaan)
  7. Dalam KKBI (2000:62 ), memebaca didefinisikan melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis, yang dibaca secara lisan atau dalam hati.

Dengan beberapa definisi tersebut, penuliss berpendapat bawa membaca adalah merupakan suatu proses untuk pemahaman atau penikmatan terhadap teks bacaan dengan memanfaatkan skemata yang dimiliki oleh pembaca, sesuai dengan tujuan membaca ketika itu, yakni dilakukan secara nyaring atau dalam hari.

2.2 Tujuan Membaca

Dalam membaca perlu kita sepakati, bahwa membaca harus ada tujuan yang jelas. Apabila membaca tidak ada tujuan yang jelas, maka proses dan kegiatan membaca yang dilakukan tidak memiliki makna sama sekali. Artinya, kalau membaca tanpa tujuan, lebih baik tidak membaca saja. Karena itulah, setiap membaca perlu ditetapkan tujuan yang akan dicapainya dalam membaca. Tujuan membaca tersebut, dapat ditetapkan secara eksplisit atau inplisit.

Berdasarkan pengalaman yang dialami, ada beberapa tujuan dalam membaca yang dapat dikemukakan, diantaranya untuk (a) memahami aspek kebahasaan (kata, frasa, kalimat, paragraf, dan wacana) dalam teks, (b) memahami pesan yang ada dalam teks, (c) mencari informasi penting dari teks, (d) mendapatkan petunjuk melakukan sesuatu pekerjaan atau tugas, dan (e) menikmati bacaan, baik secara tekstual maupun konteksatual.

Terkait masalah dengan tujuan membaca, Revers and Temperly (1978, dalam Nunan, 1999:251) menyebutkan ada 7 macam tujuan dalam membaca yakni untuk (a) memperoleh informasi suatu tujuan atau merasa penasaran terhadap suatu topik, (b) memperoleh berbagai petunjuk tentang cara melakukan tugas atau pekerjaan sehari-hari, (c) berakting dalam melakukan sebuah pertunjukan drama atau permainan game, (d) memahami surat – surat yang berhubungan dengan persahabatan atau bisnis, (e) mengetahui kapan, dimana terjadinya suatu kejadian, (f) mengetahui apa yang sedang atau telah terjadi, seperti berita koran atau laporan, dan (g) memperoleh kesenagan atau hiburan.

2.3 Proses Membaca

Menurut beberapa ahli ada beberapa model pemahaman proses membaca, di antaranya model botton – up, top – down, dan model interaktif. Model botton – up menganggap bahwa pemahaman proses membaca sebagai proses decoding yaitu menterjemahkan simbol – simbol tulis menjadi menjadi simbol – simbol bunyi. Pendapat itu menurut Hariasujana (1986:34) sama dengan pendapat Flesch ( 1955) yang mengatakan bahwa membaca berarti mencari makna yang ada dalam kombinasi huruf-huruf tertentu. Begitu juga menurut pendapat Fries ( dalam Harjasujana, 1986 : 34) bahwa membaca sebagai kegiatan yang mengembangkan kebiasaan –kebiasaan merespon pada seperangkat  pola yang terdiri dari lambang – lambang grafis. Pendapat – pendapat di atas ternyata berbeda dengan pandangan Goodman ( dalam Cox, 1998:270) yang menyatakan bahwa membaca sebagai proses interaksi yang menyangkut sebuah transaksi anatar teks dan pembaca. Pembaca yang sudah lancar pada umumnya meramalkannya itu berdasarkan apa yang terdapat dalam bacaan, membaca seperti disebut model top-down.

Kedua pendapat yang menyatakan model botton – up dan model top down akhirnya dipersatukan oleh Rumelhart dengan nama model interaktif. Rumelhart (dalam Harris dan Sipay, 1980:8) menyatukan dua pendapat itu dengan alasan bahwa proses belajar membaca permulaan bergantung pada informasi grafis dan pengetahuan yang berada dalam skemata. Hal itu senada dengan pendapat Wilson dan Peters ( dalam Creary, 1993: 284) bahwa membaca merupakan suatu proses menyususn makna melalui interaksi dinamis di antara pengetahuan pembaca yang telah  ada dan informasi itu telah dinyatakan oleh bahasa tulis dan konteks situasi pembaca.

Burns, at al. (1996:6) menyatakan bahwa aktivitas membaca terdiri atas dua bagian, yaitu proses membaca dan produk membaca. Dalam proses membaca ada sembilan aspek yang jika berpadukan dan interaksi secara harmonis akan menghasilkan komunikasi yang baik antara pembaca dan penulis. Komunikasi antara pembaca dan penulis itu berasal dari pengkontruksian makna yang dituangkan dalam teks dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Lebih lanjut Burns, dkk. (1996:8) mengemukakan sembilan proses membaca yaitu: (1) mengamati simbol – simbol tulisan, (2) menginterpretasikan apa yang diamati,(3) menikuti urutan yang bersifat linier dari kata-kata  yang tertulis, (4) menghubungkan kata-kata (dan  maknanya) dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah dimilikinya, (5) membuat inferensi dan evaluasi materi yang dibaca, (6) mengingat apa yang dipelajari sebelumnya dan memasukkan gagasan – gagasan dan fakta – fakta , (7) membangun asosiasi, (8) menyikapi secara personal kegiatan / tugas membaca sesuai dengnan interesnya, (9) mengumpulkan serta menata semua tanggapan indera untuk memahami materi yang dibaca.

2.4 Periode Membaca

Kegiatan pembelajaran membaca dengan berbagai strategi di kelas perlu dirancang dengan secara cermat, agar setelah membaca siswa memperoleh hasil yang memuaskan dan memahami secara keseluruhan isi bacaan baik tersurat maupun tersirat. Menurut Burns,at,al ( 1996:224) siswa akan terdorong memahami keseluruhan materi jika para guru membiasakan kegiatan membaca dengan aktivitas  prabaca, saat baca, dan pascabaca. Prosedur tahap prabaca berbeda dengnan tahapan saat baca dan prabaca, sebab tahap-tahap itu memerlukan teknik pembelajaran yang berbeda pula.

Aktivitas apada tahap prabaca sangat berguna bagi siswa untuk membangkitkan pengetahuan sebelumnya. Aktivitas tersebut menurut Burns, at, al (1996:224) bisa berupa membuat prediksi tentnag tentang isi bacaan dan menyusun pertanyaan tujuan. Adapun Moore (1991:22) menyarankan  kepada siswa agar pada saat prabaca, siswa menganalisis judul bab, subjudul, gambar, pendahuluan yang dilanjutkan dengan menyusun pertanyaan. Leo (1994:5) mempertegas pendapat Moore bahwa sebelum kegiatan membaca, siswa mensurvai judul bab supaya bisa mengembangkan membaca secara efektif, dan bisa mengatur waktunya secara fleksibel.

Aktivitas saat baca melakukan siswa untuk memperoleh pengetahuan baru dari kegiatan membaca teks bacaan. Dalam membaca tersebut, siswa akan berusaha secara maksimal memahami teks bacaan denngan berbagai strategi. Burns, at, al. (1996:229 – 236) mengemukakan beberapa strategi dan aktivitas yang tepat untuk digunakan pada saat baca. Strategi dan aktivitas yang dimaksud meliputi strategi matakognitif, prosedur close dan pertanyaan penuntun. Sedangkan Leo (1994:8) lebih menekankan pada kegiatan membaca denngan cara menandai bgian – bagian  penting dan / atau membuat ikhtisar bacaan terbut.

Aktivitas pada tahap pasca baca, menurut Burna,at, al. (1996:237) digunakan untuk membantu siswa untuk memadukan informasi baru yang dibacanya ke dalam skemata yang telah dimilikinya sehingga diperoleh tingkat pemahaman yang lebih tinggi. Strategi yang bisa digunakan dalam pascabaca dapat berupa pembelajaran pengayaan, pertanyaan, representasi visual, teater pembaca, penceritaan kembali dan aplikasi.

2.5 Jenis – jenis Membaca

Ada banyak cara para ahli membagi jenis atau macam membaca. Ada yang membagi berdasarkan bentuk umum membaca, yaitu membaca nyaring (oral reading) dan membaca diam atau membaca dalam hati (silent reading), ada pula yang membagi jenis membaca berdasarkan sifat umum membaca,  yaitu membaca dasar dasar (based reading) dan membaca lanjut (advanced reading),  dan ada pula yang membedakan berdasarkan tahapan-tahapan dalam belajar membaca, yakni membaca permulaan dan membaca lanjutan. Beberapa ahli membuat klasifikasi tentang pengajaran membaca atas dua kelompok kemampuan, yaitu kemampuan menguasai mekanisme membaca dan kemampuan memahami bacaan secara komprehensiff. Kemampuan yang pertama termasuk kemampuan (1) mengendalikan gerak mata dalam membaca dengan irama yyang teratur, dengan lompatan – lompatan, dan tanpa lompatan balik, ( 2) menampilkan sikap badan yang baik dalam membaca, (3) membacakan tuturan tertulis secara lisan, dengan volume suara, tekanan, dan lafal yang baik, dan dengan ekspresi yang tepat,(4) mengidentifikasi kata – kata baru dalam bacaan dengan memanfaatkan konteks bacaan, dengan menganalisis strukturnya, dan dengan menggunakan kamus, dan (5) kemampuan membaca diam dengan cepat dan tepat.

Kemampuan yang kedua, yaitu kemampuan memahami bacaan secara komprehensif, meliputi jenis-jenis kemampuan, (1) menguasai kosa kata yang jumlahnya cukup besar, luas, dan akurat, (2) menafsirkan buah pikiran yang diwadahi oleh frasa, kalimat, dan paragraf, (3) menangkap ide pokok bacaan, dan ide – ade penunjang dan penjelasnya, (4) menangkap perimncian isi bacaan (detail), (5) menangkap  urutan peristiwa dalam bacaan, (6) kemampuan menangkap maksud pengarang, (7) menilai dan mengomentari bacaan secara kritis, (8) mengikuti yang digariskan dalam bacaan, (9) mengingat masalah masalah pokok dalam  suatu bacaan, (10) mengatur pemahaman.

Sehubungan dengan bacaan secara komprehensif, terkandung 3 macam kemampuan membaca yaitu : (1) kemampuan membaca literal, (2) kemampuan membaca membaca kritis, (3) kemampuan membaca kreatif. Kemampuan membaca literal adalah kemampuan pembaca mengenal dan menangkap bahan bacaan yang tertera secara tersurat (ekplisit). Artinya, pembaca hanya menangkap isi atau informasi yang tercetak secara literal (tampak jelas) dalam bacaan. Pembaca tidak menangkap makna yang lebih dalam lagi, yaitu makna dibalik baris – baris atau dapat dikatakan sebagai kemampuan membaca tingkat sederhana. Uraian selanjutnya dijelaskan sebagai berikut.

2.5.1 Kemampuan Membaca Literal

Seseorang dapat dikatakan sebagai pembaca literal dapat dikenal melalui karakteristik berikut : (a) informasi yang diserap baru pada tarap, biasanya kemampuan anak belajar membaca permulaan, (b) dalam proses membaca melibatkan aspek berpikir kritis, yang umumnya pembaca hanya berusaha mengingat apa yang tercetak dalam bacaan, tanpa berusaha menganalisis gagasan yang ada dalam teks, (c) pembaca hanya menerima apa adanya yang dikatakan pengarang, tanpa berusaha membandingkannya dengan pengetahuan dan pengalaman diri sendiri atau orang lain, (d) saat berakhir kegiatan membaca, yang dipahami hanya apa yang dikatakan pengarang, (e) pemahaman membaca literal hanya terbatas pada aspek wacana yang tersurat, (f) keberhasilan membaca diukur dari kemampuan seberapa banyak pembaca mengingat kembali apa yang dikatakan pengarang, yaitu menjawab pertanyaan: apa, siapa, kapan, dimana persis seperti apa kata pengarang.

Umumnya yang dimaksud membaca yang bersifat literal adalah pembaca pemula. Hanya kadang – kadang seorang siswa juga masih termasuk sebagai pembaca literal, karena cara membacanya dangkal dan tidak kritis. Jika seorang sisws dalam mengidentifikasi membaca dengan cara menghafal dan keberhasilan membacanya diukur dari beberapa banyak yang ia ingat, bukan yang difahaminya, maka ia dapat dikategorikan sebagai pembaca literal.

2.5.2 Kemampuan Membaca Kritis

Membaca kritis merupakan salah satu tingkatan membaca pemahaman yang mempunyai kedudukan strategis dalam pembelajaran membaca. Membaca kritis seperti ini perlu diajarkan kepada siswa, karena siswa tidak hanya ingin mengetahui apa yang dibaca, melainkan ingin pula mengetahui kebenaran informasi yang ada dalam teks bacaan itui. Membaca kritis termasuk salah satu tingkatan dalam membaca pemahaman. Oleh karena itu, sebelum membahas membaca kritis terlebih dulu diuraikan tentang membaca pemahaman.

Banyak definisi membaca pemahaman yang disampaikan oleh para ahli. Definisi itu secara umum mempunyai arti yang hampir sama, yaitu memahami informasi secara langsung yang ada dalam teks bacaan itu dan memahami informasi yang tidak secara langsung dalam teks. Pendapat – pendapat yang mendukung definisi itu diantaranya adala : Rubin (1993:184) mendefinisikan bahwa membaca pemahaman adalah suatu proses pemikiran yang kompleks untuk membangaun sejumlah pengetahuan. Membangun sejumlah pengetahuan itu menurut Nola Banton Smith dalam Rubin (1993:195) bisa berupa  kemapuan pemahaman literal, interpretatif, kritis, dan kratif. Hal itu diperkuat oleh Bums (1996:255) bahwa membaca pemahaman terdiri empat tingkatan, yaitu pemahaman literal ( literal comprehension), pemahaman interpretatif ( interpretative comprehension), pemahaman kritis (critical comprehension) dan pemahaman kreatif (creative comprehension)

Syafi’ie (1999:31) mengatakan bahwa pemahaman literal adala pemahaman terhadap apa yang dikatakan atau disebutkan penulis dalam teks bacaan. Pemahaman ini diperole dengan memahami arti kata, kalimat dan paragraf dalam konteks bacaan itu seperti apa adanya. Dalam pemahaman literal itu tidak terjadi pendalaman pemahaman terhadap isi informasi bacaan. Yang terjadi hanya mengenal dengan mengingat apa yang tertulis dalam bacaan. Untuk membangun pemahaman literal, pembaca dapat menggunakan kata  tanya apa siapa, kapan, bagaimana, mengapa.

Membaca interpretatif merupakan kegiatan membaca yang berusaha memhami apa yang dimaksudkan oleh penulis dalam teks bacaan. Kegiatan ini lebih dalam lagi bila dibandingkan dengan membaca literal, karena dalam membaca interpretatif, pembaca ingimn juga mengetahui apa yang disampaikan penuliss secara tersirat. Menurut Syafi’i (1999:36) pemahaman interpretati harus didahului dengan pemahaman membaca literal, dan aktivitas interpretatif selnjutnya adalah berupa menarik kesimpilan, membuat generalisasi, memahami hubungnan sebab akibat, membuat perbanadingan – perbandingan, dan menemukan hubungan baru antara antara fakta – fakta yang disebutkan dalam bacan.

Membaca kreati merupakan tingkatan membaca pemahaman pada level yang paling tinggi. Pembaca dalam level ini harus berpikir kritis dan harus menggunakan imajinasinya. Dalam membaca kreatif, pembaca memanfaatkan hhasil membacanya untuk mengembangkan kemampuan inteletual dan emosionalnya. Kemampuan itu akan bisa untuk memperkaya pengetahuan, pengalaman, dan meningkatkan ketajaman daya nalarnya, sehingga pembaca bisa menghasilkan  gagasan – gagasan baru. Proses membaca kreatif ini menurut Syafi’ie (1999:36) dimulai dari memahami bacaan secara literal kemudian menginterpretasikan dan memberikan reaksinya berupa penilaian terhadap apa yang dikatakan penulis, dilanjutkan dengan mengembangkan pemikiran – pemikiran sendiri untuk membentuk gagasan, wawasan, pendekatan, dan pola –pola pikiran baru.

Membaca kritis merupakan membaca yang bertujuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu teks bacaan dengan jalan melibatkan diri sebaik-baiknya ke dalam teks bacaan itu. Oleh karena itu para ahli membaca kritis ini dipandang sebagai jenis membaca tersendiri sehingga para ahli membuat definisi yang redaksinya yang berbeda-beda. Menurut Bums (1996:278) membaca  kritis adalah mengevaluasi materi secara tertulis, yakni membandingkan gagasan yang tercakup dalam materi dengan standar yang diketaui dan menarik kesimpulan tentang keakuratan, dan kesesuaian. Pembaca kritis harus bisa menjadi pembaca yang aktif, bertanya, meneliti fakta-fakta, dan menggantungkan penilaian/keputusan sampai ia meampertimbangkan semua materi.

Sejalan dengan Bums, Harris dan Smith (1986:302) menyatakan bahwa membaca kritis merupakan kegiatan yang dimulai dari menganalisis, mensintesis, kemudian mengevaluasi. Lebih lanjut, mereka mengatakan bahwa membaca kritis lebih tepat dikatakan sebagai membaca analisis dan evaluasi. Adapun Leo (1994:8) mengemukakan bahwa membaca kritis selalu memusatkan perhatian pada pertanyaan mengapa, dan bagaimana. Dalam membaca kritis ini pembaca harus mempuyai pikiran yang  tajam terhadap apa yangn ada dalam teks bacaan itu. Pembaca yang berpikir tajam mempunyai ciri – ciri berikut : (1) mempunyai tujuan jelas, (2) tertarik kepada apa yang mereka baca, (3) membaca untuk menjawab pertanyaan sendiri, merka selalu bertanya ” Mengapa?”

Menurut Hayasujana (1988:11) membaca kritis, harus memnuhi syarat berupa: (1) pembaca harus mempunyai pengetahuan tentang bidang ilmu yang disajikan dalam bahan yang sedang dibaca, (2) sikap bertanya dan menilai yang tidak tergesa-gesa, (3) penerapan berbagai metode analisis, dan (4) tindakan yang diambil berdasarkan analisis atau pemikiran tersebut.

Nurhadi (1987:84) merumuskan sub komponen yang terlibat dalam proses membaca kritis, yaitu kemampuan  : (1) memahami seacara kritis, (2) menerapkan secara kritis, (3) menganalisis secara kritis, (4) menyintesis secara kritis, dan (5) mengevaluasi secara kritis. Kelima sub kemampuan itu diarahkan untuk mendapatkan pemahaman yang menyeluruh tentnag komponen wacana yang meliputi aspek isi, aspek bahasa, dan aspek organisasi. Dengan adanya pendapat itu, pembaca kritis bisa mengevaluasi aspek isi, aspek bahasa, dan aspek organisasi yang ada dalam teks bacaan itu.

Di samping beberapa jenis membaca berdasarkan kecepatan  membaca, yaitu reguler (santai/ringan), skimming (melihat dengan cepat), scanning (melihat sekilas), warp speed (membaca dengnan kecepatan tinggi), dan skipping ( membaca denngan melompat – lompat). Membaca reguler dilakukan seseorang dengan santai baris demi baris, yang dalam kegiatan membaca itu tidak ada target. Membaca skimming (melihat denngan cepat), biasanya pembaca melakukan sedikit lebih cepat daripada membaca reguler, misalnya mencari sesuatu yangn khusus dalam sebuah teks atau wacana seperti membaca nomor telepon atau kata sulit  dalam kamus. Membaca scanning (melihat sekilas), biasanya membaca untuk melihat isi buku atau seperti cara seseorang mencari berita dalam koran. Membaca warp speed (membaca dengan kecepatan tinggi), adala kegiatan membaca yang supercepat dan pemahaman yang super tinggi, misalnya kebiasaan membaca seseorang melihat rumus medis ketika dibutuhkan untuk mengobati pasien yang sedang gawat, atau bagi seseorang yang suka mencuri jawaban ketika ujian. Sedangkan membaca skipping adalah pola membaca yang mirip dengan membaca scanning, tetapi kegiatannya dilakukan melompat-lompat dari satu bagian ke bagian yang lain.

2.6 Faktor – faktor yang Mempengaruhi Pembaca

Apabila disimpulkan dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan membaca dapat disarikan menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Dari kedua faktor tersebut, faktor internal seseorang lebih dominan mempengaruhi keberhasilan membaca daripada faktor internal.

Faktor internal yang mempengaruhi keberhasilan membaca adalah sesuatu yang ada pada diri si pembaca, seperti kesehatan fisik, dan terutama kesehatan mata, minat dan motivasi membaca, niat dan tujuan membaca, kebiasaan dalam membaca, dan skemata pembaca terdapat bacaan yang tersedia. Adapun faktor eksternal yang mempengaruhi hasil membaca adala seperti bacaan yang digemari, keterbacaan wacana yang dibaca, dan lingkungan tempat membaca, yakni seperti keberhasilan, kenyamanan, ketersediaan alat pelengkap rungan tempat membaca, dan cahaya matahari atau lampu dalam ruangan.

III. Hakekat Pengajaran Membaca

Pengajaran membaca pada hakekatnya adalah perangkat usaha formal yang dilakukan secara sadar berencana untuk membina siswa dalam membaca. Rumusan ini menggambarkan banyak hal. Pertama, pengajaran membaca mencakup berbagai macam usaha yang bertalian antara satu dengnan lainnya, sehingga merupakan suatu perangkat usaha. Kedua, pengajaran membaca merupakan usaha formal, yaitu usaha resmi yang melembaga sifatnya dalam bidang pendidikan.  Selain formal, pengajaran membaca juga merupakan usaha konvensional, yaitu usaha yang selama ini biasa serta umum ditempuh dalam bidang pendidikan untuk membina siswa dalam membaca. Ketiga, pengajaran membaca dilakukan secara sadar dalam arti ada tujuan yang ingin dicapai. Dan dalam rangka mencapai tujuan ini ada keberencanaan yang dilakukan, baik dalam mempersiapkannya maupun dalam melaksanakannya.

Gambaran tentang hakekakat pengajaran membaca seperti di muka secara langsung menempatkan pengajaran membaca itu dalam konteks pendidikan. Kedudukannya dalam pendidikan, disatu pihak sebagai integral, yaitu bagian yang tak dapat dipisahkan dari keutuhan pendidikan. Di pihak lain, pengajaran membaca kedudukan sebagai alat dan media yang fungsional, yaitu alat dan media yang mempunyai tersendiri dalam keseluruhan kegiatan pendidikan. Dalam konteks yang lebih operasional di lingkungan pendidikan kedudukan pengajaran membaca biasanya dilihat dalam konteks pengajaran bahasa.

3.1 Fungsi Pengajaran Membaca

Sejalan dengan kedudukannya, maka fungsi uatama pengajaran membaca menjaga keutuhan kehadiran pendidikan dan pengajaran bahasa dan membina siswa dalam bidang membaca. Fungsinya ini sering pula disebut fungsi edukatif dari pengajaran membaca. Di samping fungsi edukatif, pengajaran membaca juga memiliki atau mengemban fungsi tambahan atau fungsi pelengkap. Termasuk ke dalam fungsi yang terakhir ini adalahh fungsi sosial dan fungsi instrumental pengajaran membaca. Fungsi sosial pengajaran membaca dapat diamati pada perannya ikut mempertahankan kehadiran (eksistensi) membaca dalam kehidupan manusia, dan menyebarluaskan membaca, baik secara horisental ke lingkungan masyarakat yang belum menguasainya, maupun secara vertikal, yaitu kepada generasi mendatang yang belum menguasainya. Sedangkan fungsi instrumental pengajaran membaca dapat diamati pada pemanfaatan pengajaran membaca sebagai ajang penerapan hasil – hasil studi/penelitian membaca di satu pihak, dan merangsang berkembangnya pengkajian dan peneliti terhadap masalah membaca di pihak lain.

3.2 Tugas Pokok Pengajaran Membaca

Sejalan dengan hakekat, kedudukan dan fungsi pengajaran membaca seperti yang telah dipaparkan di muka, maka tugas pokok pengajaran membaca ialah:

a). Membina siswa agar mereka memiliki kemampuan dan ketrampilan yangn baik  dalam membaca, seperti: kemampuan (1) memberikan respon komunikatif terhadap kata-kata dan urutan kalimat yang diamatinya pada permukaan bacaan, (2) memberikan respon interpretatif terhadap hal – hal yang tersimpan di sela-sela di balik permukaan bacaan, dan (3) kemampuan memberikan respon evaluatif – imajinatif terhadap keseluruhan bacaan. Kemampuan yang pertama umumnya dikenal sebagai kemampuan membaca yang tersirat (reading on the lines), yang kedua sebagai kemampuan membaca yang tersirat ( reading between the lines), dan yang ketiga sebagai kemampuan membaca yang tersorot (reading beyyond the lines).

b)  Membina pengetahuan siswa tentang membaca, yaitu yanng meliputi pengetahuan (1) tentnag nilai serta fungsi membaca, baik sebagai alat komunikasi, maupun sebagai alat belajar untuk mengembangkan pengetahuan, pengertian, kecerdasan, wawasan, kepribadian, dan kekreatifan, dan (2) tentang cara – cara membaca untuk sauatu tujuan tertentu.

c) Membina siswa agar memiliki sikap positif terhadap belajaran membaca di satu pihak, dan terhadap membaca di pihak lain. Dalam hubungan ini, pengajaran membaca pada dasarnya bertugas membangkitkan, mengembangkan, dan mengarahkan minat, perhatian, motivasi, dan  selera baca para siswsa sehingga membaca dirasakan sebagai bagian dari kehidupan dan kebutuhan hidupnya.

3.3 Tujuan Umum Pengajaran Membaca

Tujuan umum pengajaran membaca ialah membina siswa  agar mereka memiliki : (a) kemampuan/ketrampilan yang baik dalam membaca yang tersurat, tersirat, dan tersorot dari macam-macam tuturan tertulis yang dibacanya; (b) pengetahuan yang sahih tentang nilai dan fungsi membaca dan teknik membaca untuk mencapai tujuan tertentu; (c) sikap yang positiff terhadap membaca dan belajar membaca. Jika tujuan pokok ini tercapai, maka pengajaran membaca mewujudkan apa yang belakangan ini sering diungkapkan dengan seamboyang ” belajar untuk dapat membaca” (learning to read), dan ”membaca untuk belajar” ( reading to learn).

Menurut hasil penelitian, hubungan anatara tujuan membaca denngan kemampuan membaca sangat signifikan. Inilah yang mendorong para ahli menyepakati bahwa tujuan membaca merupakan modal utama membaca. Sebab ada kecurigaan bahwa tujuan pembaca dalam menelusuri baris-baris bacaan (membaca) dapat mempengaruhi hasil membacanya. Sebagai ilustrasi, bayangkan misalnya bila Anda melihat seseorang berjalan tanpa tujuan berbeda dengan orang yang berjalan dengan tujuan yang jelas.

Berangkat dari  kenyataan tersebut para ahli membaca mencoba meneliti aspek tujuan membaca dalam kaitannya dengan proses dan meneliti aspek tujuan membaca dalam kaitannya dengan proses dan kemampuan membaca. Kesimpulan yang telah dibuat oleh para ahli  dari beberapa penelitian yang telah dilaksanakan menunjukkan bahwa: (1) gerakan bola mata waktu membaca berubah kecepatannya sejalan dengan perubahan tujuan membacanya, (2) kemampuan seseorang dalam memahami bahan bacaan secara nyata dipengaruhi oleh tujuan membacanya, (3) tujuan membaca yang terumuskan secara jelas akan mempengaruhi pemerolehan pemahaman bacaan , (4) seseorang yang mempunyai daya bacaan tinggi, mampu memanfaatkan tehnik membaca yang bervariasi sejalan dengan tujuan membaca yang akan dicapainya ( Downing and Leong (1982: 33,254,255).

IV. Penutup

Membaca dan pengajaran membaca sangat terkait erat. Kemampuan seseorang dalam membaca sangat bergantung pada bagaimana ia berhasil dalam belajar membaca sangat bergantung pada bagaaimana ia berhasil dalam belajar membaca, secara langsung atau tidak langsung. Kemampuan dan kaepandaian membaca akan mendorong oarang suka  membaca merupakan kunci untuk dapat meraih kesuksesan dalam berbagai fenomena dalam kehidupan, yang akan dinikmati kapan dan dimana saja ia berada.

Oleh karena itu, kedudukan membaca dan pembelajaran membaca sangat diperiotaskan bagi siswa sejak sekolah dasar sampai ke sekolah menengah. Sebab, apabila  siswa gagal, akan mempengaruhi berbagai kemampuan di bidang lain. Untuk itu, tugas guru bahasa indonesia teradap pembelajaran membaca di sekolah tidak dipandang sebelah mata, karena kemampuan membaca akan mempengaruhi prestasi belajar siswa pada bidang-bidang pelajaran yang lain.

Semoga melalui berbagai kegiatan penelitian pembelakaran bahasa Indonesia, khusunya pada  pelatihan ketrampilan membaca seperti sekarang akan dapat meningkatkan kepedulian, kemampuan dan peran serta guru dalam mencerdaskan anak bangsa Indonesia, yang dewasa ini sangat tertinggal jauh dari perkembangan teknologi dunia yang menglobal.

Dan akhirnya, semoga Allah yang maha kuasa memberi berkah berupa petunjuk kepada kita untuk dapat berbuat lebih baik untuk dapat mendidik generasi penerus bangsa indonesia yang tercinta ini.

Sumber Bacaan:

Burn, Paul C, Betty D Roe, dan Elinor P Ross. 1996. Teaching Reading I

Elementary Schools. New Jersey: Houngton Mfflin.

Depdikbud. 2000. Kamus Besar Bahhasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

De Porter, Bobbi, dan Hernacki Mike. 1992. Terjemahan Quantum Learning oleh

Alwiyah Abdurrahman. Bandung:Mizan Media Utama

Farris, Pamela J. 1993. Language Arts. A process Appproach. Wisconsin: Brown

& Bencmark Publisers.

Hernowo (Edit). 2003. Quantum Reading. Bandung MizanMedia Utama

Nunan, David. 1999. Second Language Teaching and Learning. Boston: Heinle

Publishers.

Nurhadi, at al. 2003 Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK,

Malang : UM Press.

Nurhadi. 1989. Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca. Bandung:

Sinar Baru.

Syafi’ie, Imam. 1999. Pengajaran Membaca di Kelas – kelas Awal Sekolah

Dasar. Pidato Pengukuhan Guru Besar dan Ilmu Pengajaran Bahasa

Indonesia pada Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni yang Disampaikan pada sidang Terbuka Senat Universitas Negeri malang, tanggal 17 Desember 1999.

Sujak. 2002. Peningkatan Kemampuan Membaca Kritis dengan Strategis SQ3R

dalam Pembelajaran Membaca di Kelas III SLTP Negeri Ngimgang Lamongan. Tesisi tidak dipublikasikan. Malang : Universitas Negeri Malang.

Susilowati. 2003. Pemanfaatan Majalah sebagai Sumber Belajar pada

Pembelajaran Matakuliah Membaca di Jurusan Bahasa dan sastra Indonesia FS. Tesis tidak dipublikasikan.  Malang : Universitas Negeri Malang.

Slamet Harjasujana, dan Mulyati Yeti. 1977. Membaca 2. Jakarta: Dirjen

Dikdasmen

Tampubolon, DP. 1987. Kemmapuan Membaca Teknik Membaca Efektiff dan

Efisien. Bandung: Penerbit Angkasa.

Daimun, 2006. Ketrampilan Membaca, dalam Worksop. Jakarta

Hernowo (ed). 2002. Mengikat Makna. Bandung : Kaifa

Tarigan, HG. 1994. Membaca Ekspresif. Bandung : Angkasa

Soedarso. 1994. Sitem Membaca Cepat. Jakarta: Gramedia

Saliwangi, Basennang. 1989. Pengantar Strategi Belajar Bahasa Indonesia.

Malang IKIP Malang

Tamam, Hanafi, dkk. 2005. Al Quran Terjemahan Indonesia. Jakarta: Sari Agung

September 3, 2012 - Posted by | Umum

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: